
Azzura benar-benar pulang setelah mendapat perlakuan tidak mengenakan dari Bara. Rasanya tidak menyangka bila kekasihnya tidak menyerah untuk mencari kesempatan yang ada.
Lagi-lagi orang yang dilihatnya ketika masuk Rumah adalah Emier. Ia baru teringat jika hari ini jadwal praktek kakak tirinya itu masih libur hingga esok.
"Zurra," panggil Emier membuat Azzura menghentikan langkahnya.
Azzura memberanikan menatap mata Emier. "Ya," jawabnya dingin.
"Jangan marah lagi. Abang minta maaf," kata Emier sungguh-sungguh. Hampir satu Minggu tidak bertegur sapa bahkan tidak bertemu dengan Azzura membuatnya uring-uringan.
"Ya," jawab Azzura kemudian berlalu begitu saja.
Melihat Azzura masih saja bersikap acuh tak acuh membuat Emier tak dapat melakukan apapun.
Berhari-hari berlalu telah mereka lewati, tetapi sikap Azzura masih sama seperti kala itu. Emier yang sudah tak tahan mendatangi Azzura di dalam kamar.
"Kalau mau masuk ketuk pintu dulu," gerutu Azzura membalikkan badan kemudian segera mengancing baju tidur yang baru saja dikenakan nya.
Begitu juga Emier membalikkan badan memunggungi Azzura. Matanya terpejam sejenak merutuki kebodohan nya.
__ADS_1
"Maaf. Abang nggak tahu kalau kamu sedang pakai baju," tutur Emier jujur dan benar-benar menyesali perbuatan lancang nya.
Azzura mencebik tanpa menjawab lagi. Setelah itu mengambil sisir dan menyisir rambut panjang nya.
"Ada perlu apa sampai masuk tanpa izin begitu?" pertanyaan Azzura sangat menandakan ketidak sukaan apalagi terdengar ketus.
"Mas minta maaf, ya. Kita baikan."
Kedua pasang mata itu saling bertatapan. Azzura langsung memutuskan tatapan itu. "Kelakukan Abang kelewatan. Aku nggak suka itu," ungkap nya mengungkapkan apa yang dirasakan nya selama ini.
Merasa bersalah tentu saja ada. Tetapi bukan berarti membiarkan kesalahan Emier begitu saja.
Emosi Azzura terselut sehingga membuatnya mengambil bantal guling lalu memukulkan benda itu ke tubuh Emier.
"Sudah tahu salah kenapa gak mau ngaku salah, sih?!" sungut Azzura seraya tetap memukul punggung Emier hingga mengaduh sakit.
"Sa-sakit, Zurra. Ampun," cicit Emier. Sebenarnya tidak terlalu sakit, tetapi jika dipukul berulang kali terasa sakit juga.
"Biarin. Lebih sakit lagi yang dirasakan Bara, bang. Kamu itu kelewat batas, tahu gak!" sungut Azzura lagi tetapi mimik wajah Emier berubah datar mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Aku sudah berulang kali meminta maaf, apa sangat sulit memaafkan kesalahanku, Zurra?" tanya Emier menatap Azzura dengan intens.
Azzura ditatap seperti itu menjadi salah tingkah. Ia memang kerap kesal dengan sikap posesif Emier. Tetapi, tidak pernah sekalipun pria itu menyakitinya. Hanya sekali inilah Emier melakukan kesalahan padanya.
"Kalian ngapain di kamar berduaan?" tanya mami Nasya yang ingin memanggil Azzura untuk membantu memasak makan malam.
Emier dan Azzura langsung menoleh ke arah pintu dimana mami Nasya berada kemudian saling pandang.
"Kalian, kan sudah mami ingatkan untuk tidak berada di ruang pribadi jika sedang berdua!" Mami Nasya tampak berang mendapati kedua anaknya itu. Bukan tanpa alasan ia melarang, hal itu karena takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
Emier dan Azzura serempak mendekati mami Nasya dan menuntun wanita terhebat mereka itu untuk duduk di tepi tempat tidur Azzura.
"Mami salah paham. Emier masuk ke kamar Zurra karena ingin meminta maaf atas kesalahan tempo hari. Emier gak mau kamu diam-diaman begini terus, mi."
Mami Nasya menoleh menatap Emier kemudian beralih menatap Azzura yang mengangguk.
"Ingat pesan mami."
❤️
__ADS_1