My Soulmate My Stepbrother

My Soulmate My Stepbrother
Bab 38


__ADS_3

"MasyaAllah, sayang. Kamu sangat cantik," puji mami Nasya melihat Azzura mengenakan hijab. "Pi. Lihat putriku sudah pakai hijab," tutur beliau memberi tahu kepada papi Gadhing.


"Putri kita, sayang. Zurra juga anak, mas."


Mami Nasya menyengir kuda karena mengaku salah. "Iya, putri kita. Ayo kita sarapan bersama. Kemana Abang kamu?" tanya beliau melihat anak sulung mereka belum tiba di meja makan.


"Emier disini, mi." Emier menyahut karena akan memasuki ruang makan. Ia melirik sekilas kearah Azzura yang benar-benar tampak cantik dengan hijab nya. Sementara yang dilirik menunduk malu di tatap seperti itu.


"Lihat, bang. Adik kamu cantik, kan?" tanya mami Nasya tampak sangat bahagia Azzura sudah mengenakan hijab.


Emier menatap mami Nasya lalu menatap Azzura. Sekuat tenaga dirinya menahan agar tidak di curigai. "Ya. Sangat cantik," pujinya menatap Azzura yang terus menunduk tersipu malu.


Tatapan Emier benar-benar membuat Azzura ketar-ketir. Bagaimana tidak? Tatapan penuh kasih yang dilayangkan suaminya itu membuatnya gugup. Ia terus meremas jemarinya demi menetralkan diri sendiri.


"Mami boleh tahu kenapa kamu tiba-tiba berhijab?" tanya mami Nasya penasaran karena selama ini putri nya ini masih mengulur waktu bila di suruh berhijab.


Azzura sempat melirik ke arah Emier sekilas yang duduk di seberang meja berhadapan dengan nya. "Itu..."

__ADS_1


"Apa kamu sudah calon suami?" Lanjut mami Nasya sebelum Azzura menjawab pertanyaan sebelum nya.


Pertanyaan Mami Nasya membuat Azzura dan Emier tercengang. "Kenapa mami berpikir begitu?" tanya Azzura kepada mami Nasya.


"Ya.. Mami kan menebak saja. Siapa tahu calon suami kamu lebih bagus agama nya dari Bara," terang mami Ivy membuat Azzura menghela nafas panjang. Emier berdecak saja karena merasa cemburu tapi tak dapat melakukan apapun. Sementara papi Gadhing menggeleng melihat mereka.


"Apaan, mi. Gak ada kok," sahut Azzura pelan.


Keluarga itu sarapan bersama dalam diam. Sudah menjadi kebiasaan bagi mereka sarapan bila sudah berkumpul di rumah.


****


Anita menatap Reza sekilas lalu memalingkan wajah. Ingatan dimana berada dalam pelukan sahabatnya dalam keadaan hampir polos membuat pipi nya memerah.


"Ya," singkat sekali jawab nya membuat Reza heran.


"Kamu kenapa?" tanya Reza lagi membuat Anita menggeleng.

__ADS_1


Kemudian Anita tersenyum ketika melihat Emier berjalan ke arah mereka. Pria itu selalu tampak lebih menonjol dari Dokter lain nya. Meski Reza juga tak kalah tampan, tapi Emier lebih di atas sahabatnya itu.


"Pagi, Em." Sapa Anita kepada Emier membuat pria itu menghentikan langkah di hadapan mereka.


Emier menatap Reza yang tampak murung menatap Anita dari belakang. Sementara Anita sedang menatapnya dengan senyum merekah dan tatapan penuh kagum.


Emier menghela nafas panjang. "Pagi. An, makan siang sama siapa?" tanya nya.


Ditanya begitu oleh Emier membuat Anita merasa senang. Rasanya sangat langkah mendapat pertanyaan dari Emier seperti ini. "Sen-diri. Ya, sendiri." Anita merutuki dirinya karena sangat kentara sedang gugup di hadapan Emier.


Emier mengangguk-anggukkan kepala. Ia kembali melirik Reza yang juga tengah menatapnya. "Makan siang bersamaku, bisa?" tanya nya membuat Reza mendelik. Anita sendiri merasakan betapa beruntungnya hari ini diajak makan siang bersama dengan Emier.


"Bisa. Sangat bisa," sahut Anita antusias.


Emier mengangguk lagi. "Oke. Sampai ketemu nanti," setelah mengucapkan itu ia berlalu begitu saja.


Anita langsung memutar tubuh nya menghadap Reza. Dengan perasaan senang, wanita itu memeluk sahabatnya.

__ADS_1


"Emier mengajak ku makan siang, Za. Aku sangat bahagia hari ini."


❤️


__ADS_2