
BUG
BUG
BUG
"Sialan!!"
"Berani nya kau menyentuh Zurra!!" sentak Reza kepada Bara yang sudah terjungkal ke lantai.
Ya, Reza lah yang menyelamatkan Azzura dari tawanan Bara. Pria itu lewat dari kamar penginapan Azzura dan tak sengaja mendengar suara tangisan dan jeritan tertahan dari dalam kamar. Ketepatan pintu kamar sedikit terbuka membuat suara itu terdengar.
Reza bersama dengan Humairah langsung masuk ke dalam ketika menyadari suara itu adalah suara Azzura.
"Aku akan membalas perbuatan kalian," ancam Bara lalu pergi dari kamar hotel itu.
__ADS_1
Humairah menutup tubuh Azzura dengan selimut dan Reza menelepon Emier. Azzura menangis tersedu-sedu dalam pelukan Humairah, hampir saja tubuhnya dilecehkan oleh Bara jika itu terjadi, mungkin ia tak dapat hidup dalam tenang bahkan bertekad bunuh diri.
****
Emier baru saja masuk ke dalam ruangan nya setelah memimpin operasi salah satu pasien. Ia menggantungkan jas putih kedokteran itu, mendekati dispenser dan menuangkan air mineral ke dalam gelas yang telah di pegangnya.
Ia melihat ke arah ponsel di atas meja yang bergetar. Gegas di dekati dan dilihat nama Reza dan langsung di angkatnya. Matanya melotot ketika mendengar ucapan Reza. Ia pun segera pergi dari Rumah Sakit menuju Hotel dimana pagi tadi menghabiskan waktu bersama Citra sebelum berangkat bekerja.
Sebelum sampai ke Hotel, Emier mendatangi Kantor Polisi membuat laporan penangkapan Bara atas percobaan pemerkosaan terhadap Azzura. Cukup lama ia berada disana dan usai itu langsung menemui istrinya.
Emier juga membelikan pakaian ganti buat Azzura.
"Sayang," pekik Emier ketika masuk ke dalam kamar dan melihat Azzura masih menangis dalam pelukan Humairah.
Azzura mengurai pelukan setelah mendengar suara Emier. Tangisnya kembali pecah dan semakin kencang kala suaminya itu memeluknya. "Aku takut, bang. Dia paksa aku, sakit," ia mengadu apapun yang telah dilakukan Bara.
__ADS_1
"Apa kamu jijik padaku sekarang?" tanya Azzura setelah tangisnya mulai meredah.
Emier mengurai pelukan ditanya seperti itu pada Azzura. Ia pun menggeleng disertai tangan yang terulur mengusap pipi istrinya yang basah karena air mata. "Jangan menangis. Nanti jadi jelek, lihat mata kamu. Sudah bengkak," terang Emier dan meminta Reza juga Humairah untuk keluar sebentar karena akan mengganti pakaian bagi Azzura.
Reza dan Humairah keluar dari kamar hotel itu dengan perasaan yang tidak dapat mereka ungkapkan. (Coming soon cerita mereka ya tapi tunggu tamat semuaš¤)
Emier membantu membuka kemeja Azzura secara perlahan. Sekuat tenaga menahan amarah ketika melihat tubuh istrinya itu banyak bekas cengkraman dan tanda merah di bagian bahu nya.
"Maafkan, aku." Azzura seakan tahu arti dari tatapan Emier. "Maaf, aku gak bisa jaga diri, bang. Andai aku bangun lebih cepat," ungkap nya kembali menangis.
Emier mendekap Azzura dengan lembut. Ia sama terluka nya melihat istrinya seperti ini. "Maafin aku yang gagal melindungi kamu, Ra. Maaf."
Dering ponsel Azzura terdengar di lantai karena berada dalam tas selempang. Emier yang baru saja selesai membantu memakai kan pakaian ganti bagi istrinya gegas turun dari tempat tidur mengambil ponsel tersebut.
Emier melihat siapa yang menghubungi Azzura yang tak lain adalah papi Gadhing. Seketika itu pula tubuh Emier menegang.
__ADS_1
Emier menekan icon gagang telepon berwarna hijau.
"PULANG SEKARANG!!!"