My Soulmate My Stepbrother

My Soulmate My Stepbrother
Bab 12.


__ADS_3

Semenjak Azzura meminta Emier untuk meminta maaf kepada Bara. Sikap pria itu tidak lagi posesif ataupun seperhatian dulu.


Emier juga tidak lagi bertanya apa saja kegiatan hari ini ataupun kemana saja pergi hari ini. Rasanya masih sangat kecewa telah dibohongi selama dua tahun ini.


Tetapi tetap saja, dari lubuk hati paling dalam Emier tidak bisa mengabaikan pujaan hatinya itu. Hanya saja, pria itu seperti membuat jarak kepada Azzura.


"Bang. Nanti aku ingin ke Toko buku yang biasa, ya!" Azzura meminta izin seperti biasa karena selama ini jika menyangkut menambah ilmu Emier tidak pernah melarang.


Emier yang sedang memakai sepatu langsung mendongak menatap Azzura sejenak kemudian mengangguk. "Terserah kamu, Ra. Aku gak mau melarang mu lagi karena gak ingin kita berdebat lagi dan itu bisa membuat papi marah," katanya menipiskan bibir lalu mengambil tas kerja, kunci mobi, dan ponselnya kemudian pergi begitu saja. Sebelumnya ia sudah berpamitan kepada orang tuanya.


Rasanya ingin melarang juga percuma karena selama dua tahun ini Azzura bisa membohonginya padahal ia sudah terlalu posesif terhadap adik tirinya itu.


Azzura sendiri terpaku mendengar ucapan Emier yang tidak seperti biasanya. Ada rasa kehilangan yang tak dapat dilukiskan.


Azzura menghela nafas panjang kemudian segera kembali ke dapur untuk memasak makan siang.


"Kamu masak apa?" tanya mami Nasya pada Azzura.


"Pepes ikan, mi. Mami kok kesini? kan lagi gak enak badan," kata Azzura karena tahu mami Nasya sedang kurang sehat beberapa hari ini.

__ADS_1


"Mami hanya duduk saja, Ra. Jangan terlalu khawatir!" elak mami Nasya dan tak dapat dibantah oleh Azzura.


Gadis itu sangat lihai memasak karena ilmu memasak mami Nasya menurun padanya.


Setelah sudah selesai memasak, Azzura membuatkan teh hangat buat mami Nasya kemudian menuju kamar mengambil pakaian ganti lalu mandi di kamar mandi yang ada di dapur.


*


*


Sudah waktunya makan siang namun Emier tak kunjung pulang seperti biasa. Pria itu selalu menyempatkan pulang karena ingin makan bersama keluarga dan khusus nya menikmati masakan sang pujaan hati.


Lagi-lagi Azzura merasa ada sesuatu yang kurang. Bukankah ini yang aku inginkan, Zurra? bebas dari bang Emier, gumam Azzura dalam hati.


"Kamu kenapa, Ra?" tanya mami Nasya menyadari Azzura seperti tidak berselera makan.


Azzura menatap mami Nasya disertai gelengan. "Enggak apa-apa, mi. Tumben bang Emier gak pulang," kata Azzura.


"Oh.. Abang kamu tadi telepon mami, katanya makan diluar bareng teman-teman nya."

__ADS_1


Azzura mengangguk mengerti. Sekali lagi ia merasa sedih saat mengetahui Emier mengabari mami Nasya tetapi tidak dengan nya.


Apalagi seharian ini Emier belum ada mengirim pesan padanya.


Selesai makan siang bersama, Azzura segera bersiap untuk pergi ke Toko buku yang biasa ia kunjungi.


Sebenarnya mami Nasya sudah memberi izin Azzura untuk menggunakan mobil sendiri. Namun, Azzura lebih menyukai naik angkutan umum saja.


Ketika sudah berada di Toko Buku, Azzura mencari novel romantis yang akan menjadi teman nya ketika bosan di kamar.


"Akhirnya aku punya novel ini," gumamnya kemudian menuju kasir untuk melakukan transaksi jual beli.


Senyuman nyabterus tercetak manis hingga di luar toko. Matanya menangkap sebuah kafe yang berada di seberang toko.


Azzura pun menuju ke tempat itu dan memasukinya. Matanya mengelilingi ruangan untuk mencari tempat duduk kosong.


Matanya memicing ketika melihat seseorang yang dikenalnya sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita. Seketika itu pula tangan nya terkepal menahan amarah dan kecemburuan yang terpadu menjadi satu.


Tega!!!

__ADS_1


❤️


__ADS_2