
Setelah melihat Bara yang sedang melakukan hal menjijikkan itu, Azzura langsung pergi dan kembali menaiki taksi yang sebelumnya sudah diminta agar menunggunya. Ia meminta agar di antarkan ke Rumah Sakit dimana Emier bekerja.
Sesampainya di parkiran Rumah Sakit, Azzura menghapus air matanya dan membayar ongkos kemudian keluar dari taksi tersebut. Ia langsung menuju ruangan Emier dan masuk ke dalam sana.
Azzura tidak menemukan Emier di ruangan nya karena pria itu sedang di ruang praktik nya. Mengingat ini masih jam kerja Emier.
Yang dilakukan nya bukan menangis melainkan pergi ke kamar pribadi Emier dan tidur disana.
*
*
Emier mengucap syukur setelah pekerjaan nya telah usai. Kalimat syukur yang selalu terucap setelah melakukan operasi karena baginya, keberhasilan yang telah dicapai selalu atas izin Sang Maha Kuasa.
"Mau makan siang bareng?" tanya Anita kepada Emier.
__ADS_1
Emier yang masih berjalan menoleh ke arah Anita yang juga berjalan beriringan dengan nya. "Maaf, Nit. Aku makan di rumah. Mami dan Zzura sudah memasak," tolah Emier secara halus dan di angguki oleh Anita seakan mengerti dirinya.
"Aku duluan, ya!" kata Anita kemudian menuju arah yang berbeda.
Sementara Emier terus menyusuri lorong menuju ruangan nya yang tidak terlalu jauh dari posisinya saat ini. Ia merasa sudah tidak sabar ingin pulang ke Mansion bertemu dengan Azzura yang saat ini sudah menjadi kekasihnya, walau secara terpaksa.
Tetapi dari rasa terpaksa itu akan ia usahakan berubah menjadi kebiasaan atas kehadiran dirinya.
Pintu ruangan nya ia buka, masih terlihat aman dan tidak ada tanda-tanda bila ruangan nya telah dimasuki seseorang.
"Astaghfirullah," cicitnya ketika melihat seorang gadis dengan rambut panjang terurai dan selimut membungkus tubuh itu.
Mata Emier mendelik melihat gadis tersebut adalah Azzura. "Ra," panggilnya pelan seraya menggoncang tubunya.
Azzura menggeliat dan tak lama menggerakkan matanya hingga terbangun. "Abang," katanya dengan suara serak khas bangun tidur. Ia juga duduk bersandar pada headboard.
__ADS_1
"Abang butuh penjelasan, Ra. Kenapa bisa kamu tidur di ruangan Abang?" tanya nya bingung karena tidak seperti biasa gadis itu mendatanginya.
Azzura menghela nafas panjang kemudian menceritakan semua yang dilihatnya pagi tadi ketika di apartemen Bara.
Emier sendiri hanya diam tanpa berkomentar karena sedang mendengarkan cerita dari Azzura. Ia harus bagaimana menanggapinya karena memiliki 2 sisi berbeda dari kasus ini.
Sisi pertama, ia senang dengan Azzura melihat keberengsekan Bara, maka gadis itu akan percaya padanya. Sisi kedua, ia sangat sedih melihat Azzura patah hati.
Emier duduk di tepi tempat tidur menghadap ke arah Azzura. Masih dengan tatapan penuh cinta yang sama, ia menarik gadis itu agar bisa mendekapnya. "Jangan sedih dan menangis lagi. Enggak ada artinya jika kamu menangisi pria seperti dia."
Azzura memejamkan mata menikmati hangatnya dekapan Emier. Bahkan sakit dihianati oleh Bara seperti sudah sirna. Elusan di rambutnya, benar-benar membuatnya tenang.
"Aku cuma gak nyangka dia adalah pria berengsek, bang. Aku sangat jijik melihat nya," kata Azzura masih dalam dekapan Emier.
"Sudah-sudah. Jangan dipikirkan lagi. Sekarang kita pulang ke Mansion dan makan siang," ungkap Emier dan diangguki oleh Azzura. Keduanya berlalu dari kamar Emier.
__ADS_1
"Ngapain kalian berdua disini?"
❤️