My Soulmate My Stepbrother

My Soulmate My Stepbrother
Bab 29.


__ADS_3

Azzura diam saja menatap Emier dengan tatapan yang sulit diartikan. Degub jantung yang tak dapat disembunyikan membuat ketar ketir. Ia merasa heran pada diri sendiri seakan berubah setelah kejadian malam itu. Seperti sudah bergantung pada kakak tirinya.


"Kenapa hanya diam saling pandang begitu? Astaga!!! biarkan kami masuk dulu," gerutu Reza merasa sangat lelah.


Azzura tersadar gegas menggeser memberi jalan bagi Reza yang hendak masuk lebih dahulu karena ingin beristirahat. Sementara Emier masih berdiri melihat pujaan hatinya yang sedang salah tingkah karenanya.


"Jangan menatapku begitu, bang." Tegur Azzura tak tahan dipandang begitu oleh Emier.


"Abang ingin melihat senyum manis dari calon istri. Apa dilarang?" tanya Emier maju satu langkah mengikis jarak antara keduanya.


"Mundur, ih. Ngapain dekat-dekat?" tanya Azzura mendorong tubuh Emier pelan tetapi suaranya lebih mirip sedang merengek.


Astaga.


Emier sangan gemas dengan tingkah Azzura. Ia pun langsung memeluk gadi pujaan hatinya itu begitu erat. Memang pelukan itu tak dibalas oleh Azzura, tetapi percayalah keduanya begitu menikmati pelukan karena merasa sangat rindu.


"Masuklah. Enggak baik berdiri di tengah pintu begitu," tegur Azzam ketika hendak keluar.

__ADS_1


Pelukan itu langsung terurai. Emier dan Azzura merasa malu karena itu. Apalagi Emier yang sedari dulu merasa sungkan pada Azzam karena pembawaan diri adik tirinya yang satu ini sangat tegas.


Azzam memang terkenal irit bicara.a Bukan pria dingin, hanya memang irit dalam mengeluarkan suara. Apalagi hanya untuk sekedar basa-basi.


"Masuklah. Bawa calon suami kamu istirahat, Zzura. Aku harus ke Kantor setelah itu melihat persiapan acara kalian esok," kata Azzam kemudian pergi tanpa mendengar ucapan dari Emier atas Azzura.


Azzura kembali salah tingkah setelah mendengar perkataan Azzam. Bahkan sampai kini dirinya masih tak percaya akhirnya akan menikah dengan kakak nya sendiri.


"Ayo, bang. Masuk," kata Azzura dan diangguki oleh Emier.


Emier duduk di sofa, Azzura pergi ke dapur membuatkan teh hangat baginya. Reza sendiri sudah berada di kamar tamu buat beristirahat.


Senyuman terukir indah diwajah keduanya. Tidak ada yang mengatakan apapun, tapi tatapan mereka menyiratkan kerinduan. "Abang sudah kabari papi dan mami?" tanya Azzura kepada Emier.


"Sudah tadis Aat di Bandara. Kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja."


"Apa Abang bisa untuk besok?" tanya Azzura karena setahunya, calon pengantin pria akan gugup ketika hendak melakukan ijab kabul.

__ADS_1


Emier memaksakan senyum disertai anggukan. "Kamu tenang saja. Abang bisa mengatasinya," ucapnya menenangkan Azzura padahal hati dan jantung nya sudah ketar-ketir.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Emier kepada Azzura.


"Insyaallah, bang. Aku juga gak mau melakukan yang haram lagi. Aku takut kita kelewat batas lagi, bang."


Emier menatap Azzura begitu intens. Sangat sulit diartikan karena hanya dirinya yang tahu arti tatapan tersebut. "Abang akan menunggu kamu sudah menjadi istri Abang," katanya tegas.


****


Azzam meletakkan sebuket bunga di atas makam papi Jimmy. Matanya memerah setiap kali mengunjungi tempat peristirahatan terakhir bagi papi Jimmy.


"Papi apa kabar?" gumamnya menggigit bibir bagian bawahnya. Rasa sakitnya masih terasa dimana papi Jimmy telah meninggal dunia.


"Besok aku akan menjadi wali nikah Zzura. Ini tugas papi. Aku gak kuat melihat nya, Pi. Pernikahan yang disembunyikan, pernikahan yang dirahasiakan dari mereka-mereka yang mengenal kedua orang itu. Ingin sekali aku melarangnya. Tapi bagaimana bisa aku membiarkan adik ku melakukan sesuatu diluar batas norma dan agama."


❤️

__ADS_1


__ADS_2