
Karena rindu tidak dapat dibendung Emier memutuskan untuk melihat Azzura di Rumah Sakit yang sedang merawat Bara.
Selepas pulang kerja, ia mendatangi Rumah Sakit berbeda dimana Bara di rawat. Tanpa membersihkan diri bahkan tanpa makan malam lebih dulu.
Emier juga tahu dimana ruang rawat inap Bara karena sudah menanyakan pada pihak resepsionis sebelumnya.
Setelah berada di depan pintu ruang rawat inap Bara, ia melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu melalui kaca yang ada di pintu sehingga dapat melihat sepasang kekasih tersebut.
Hati Emier teriris ketika melihat Azzura sedang menyuapi Bara dengan telaten dan penuh kasih sayang. "Kenapa kamu tega, Zzura?" tanya Emier sendiri dengan mata yang masih menyaksikan kemesraan mereka.
Emier menggeleng ketika menyadari bahwa dirinyalah yang membuat sakit hatinya sendiri. "Apa aku harus menyerah? Ya. Aku akan menyerah jika kamu benar-benar bahagia dan Bara nggak akan duakan kamu," gumam nya lalu meninggalkan tempat itu dengan gontai.
Emier masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke apartemen Reza.
"Em," pekik Reza karena merasa kesal bel yang terus berbunyi ternyata pelakunya adalah sahabatnya.
Emier tidak mengatakan apapun dan tidak perduli dengan wajah kesal Reza. Ia masuk ke dalam apartemen tanpa permisi.
__ADS_1
Melihat bungkus rokok ada di atas meja, Emier mengambil sebatang dan menghidupkan nya dengan pematik api.
Reza duduk di hadapan Emier yang sedang menghisap rokok. Sebagai seorang yang mengenal Emier sejak kecil tentu saja mengerti apa yang dirasakan pria itu.
"Ada apa?" tanya Reza yang terus memerhatikan Emier.
"Aku baru saja lihat Zzurra di rumah sakit," jawab Emier kemudian menghisap benda bernikotin itu.
Reza mengerutkan dahi mendengar jawaban Emier yang menggantung. "Terus?"
"Dia sangat perhatian kepada Bara, Za. Hatiku sakit," ungkap Emier yang selalu mengungkapkan keluh kesahnya dengan Reza.
Sementara Emier terus menghisap benda berzat nikotin tersebut hingga beberapa batang. Pikiran nya kalut disertai hati yang terasa perih.
Bayangan dimana ia melihat Azzura tengah menyuapi dan tersenyum manis menatap Bara membuatnya tak rela.
"Jangan sampai kamu terpuruk, Em. Ingat pekerjaan mu membutuhkan mu yang sedang baik-baik saja. Jangan sampai berimbas kepada pekerjaan dan berakibat fatal bagi pasien kita," Reza menasihati Emier sangat tulus karena tidak mudah mencapai hingga ke titik sesukses sekarang ini.
__ADS_1
Emier mengangguk disertai tangan nya terulur mengambil asbak rokok kemudian mematikan batang rokok yang telah habis.
Tangan Emier dicekal oleh Reza. "Cukup, Em! kamu sudah terlalu banyak merokok hari ini. Sakit hati boleh, tapi jangan menyakiti diri sendiri!"
Emier melengos mendengar ucapan Reza. Andai sahabatnya tahu bagaimana sakit melihat orang yang dicintai justru mencintai pria lain.
Tetapi, Emier tetap menurut dan menghentikan untuk tidak merokok malam ini.
"Pulang sana."
Emier melirik sinis setelah mendengar dua kata yang terlontar dari bibir Reza. "Nanti," ungkapnya.
Reza berdecak kemudian bangkit dan melangkahkan kaki menuju kamar mengambil handuk bersih yang akan diberikan nya untuk Emier.
Reza melempar handuk bersih itu kepada Emier. "Mandi sana. Jangan berubah menjadi buruk walau patah hati!"
Emier yang mendengar itu hanya melengos kemudian bangkit dan bergegas mandi.
__ADS_1
❤️