My Soulmate My Stepbrother

My Soulmate My Stepbrother
Bab 27.


__ADS_3

"Apa Abang kamu sudah kasih izin pergi?" tanya mami Nasya kepada Azzura.


"Su-sudah, mi." Rasanya sangat sulit membohongi mami Nasya karena sedari kecil tak pernah diajarkan untuk berbohong.


Mami Nasya mengangguk mengerti. Memang tidak ada yang salah jika Azzura ingin liburan ke Jerman. Dimana disanalah mereka dibesarkan. Senyuman nya terukir menatap Azzura.


"Jangan lupa mampir ke makam papi dan Oma kamu, ya?" kata mami Nasya mengingat mendiang suami keduanya


Pria yang begitu mencintai beliau. Pria yang menjadi obat dari luka hati yang didapat dari perlakuan suaminya saat ini. Dan sekarang, untuk mengobati rindu nya terhadap mendiang suaminya itu ialah sang anak.


"Mami titip salam pada Azzam. Katakan, berkunjunglah sesekali kesini. Mami kangen," pinta mami Nasya kepada Azzura.


Azzura tersenyum dan menggenggam tangan mami Nasya. "Mami, oke?" tanya nya melihat wajah sang mami berubah menjadi sendu.


"Mami hanya sedih memikirkan kamu nanti menikah, bukan papi kamu yang menjadi wali nikah."


Azzura menelan saliva dengan kasar mendengar mami Nasya membahas pernikahan. "Zzura masih muda, mi. Kenapa bahas pernikahan? lagian Zzura jomblo," katanya berkilah agar tidak lagi membahas pernikahan.


Mami Nasya menoleh menatap Azzura. "Bara, gimana? kok putus?"


Azzura menghela nafas panjang. Rasanya sudah enggan menceritakan pria yang hampir merenggut kesucian nya. Ah, mengingat itu membuatnya merasa sangat berdosa kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Sudah enggak cocok. Dia punya pacar lain," kata Azzura tidak sepenuhnya berbohong.


Mami Nasya menghela nafas panjang. Beliau mengelus punggung tangan Azzura dengan lembut. "Jangan sedih. Mungkin enggak jodoh," terang beliau membuat Azzura memaksakan senyum.


Bahkan Azzura sama sekali tidak mengharapkan Bara sebagai jodohnya. Ia sangat marah dan kecewa telah ditipu begitu dalam oleh pria itu.


Pria yang tampak baik dan selalu bersikap lemah lembut dihadapan nya ternyata hanya sebagai sampul untuk menyembunyikan kebejatan yang menjijikkan.


Azzura sangat menyesal telah membuang waktu selama dua tahun dengan sia-sia. Andai waktu bisa diulang kembali, ia akan menjadi gadis yang penurut dan tidak akan membohongi Emier lagi.


Memikirkan Emier, entah mengapa hanya mengingat nama kakak tirinya itu membuat jantung Azzura berdegup kencang. Darahnya berdesir ketika mengingat bagaimana perlakuan pria itu kepadanya.


*


*


"Iya, Pi. Aku akan pergi bersama Reza. Seminar ini bisa membuat jabatan kami meningkat," jawab Emier terpaksa berbohong. Keinginan dan keyakinan untuk menikahi Azzura sudah teramat dalam.


Rasanya sudah tak akan kuat menahan cinta yang menggebu. Biarlah, untuk sementara waktu mereka akan menyembunyikan lnya dari orang tua. Ini dilakukan seiring mereka berusaha meminta restu kepada papi Gadhing dan mami Nasya.


Papi Gadhing menghela nafas panjang. Sebagai mantan Dokter, tentu saja beliau mengerti. "Baiklah. Hati-hati."

__ADS_1


Emier tersenyum disertai anggukan lalu pamit masuk ke dalam kamar. Ia segera menghubungi pujaan hatinya.


"Apa kamu sudah selesai bersiap-siap?" tanya Emier tersenyum.


"Sudah, bang. Aku deg-degan. Aku takut!"


Emier terkekeh pelan mendengar ucapan Azzura dari seberang telepon. "Abang juga begitu. Cepatlah bersiap, Abang akan mengantarmu."


"Iya. Sudah siap, bang."


"Sudah siap jadi istri Abang?" goda Emier membayangkan wajah Azzura akan berubah merah lantaran menahan malu.


"Iiihh... Abang!"


Emier tertawa bahagia mendengar suara rengekan Azzura. Suara yang tak pernah ditunjukkan nya selama ini. "Abang sudah enggak sabar untuk peluk kamu. Abang kangen," katanya jujur.


"*Gombal!!"


❤️*


*

__ADS_1


*


__ADS_2