
"Apa kamu gila, Em? Gimana selanjutnya jika hubungan kalian ketahuan?" kata Reza tampak tak setuju dengan ide yang diajukan Emier kepadanya.
Setelah waktu istirahat, Emier menemui Reza dan meminta bantuan kepada sahabatnya ini. Tetapi, agaknya Reza tidak menyetujui nya.
"Ayolah, Za." Emier terus membujuk dengan memohon.
Reza berdecak. "Bagaimana dengan papi Gadhing dan mami Nasya? aku gak akan sanggup berbohong pada mereka," kata nya masih keukeh menolak untuk membantu Emier.
Emier juga merasa tidak akan sanggup berbohong kepada orang tuanya. Namun, tidak mungkin dirinya terus seperti ini dengan Azzura.
"Aku yang akan bertanggung jawab, Za. Tolong," kata Emier mencoba membujuk Reza lagi.
Reza tampak menghela nafas panjang. Rasanya serba salah berada diposisinya sekarang. "Tapi aku gak bertanggung jawab kalau sampai ketahuan," katanya langsung membuat Emier tersenyum senang.
"Iya. Aku enggak akan menyebut nama kamu," kata Emier membuat Reza pasrah.
"Tapi bagaimana dengan Anita, Em?" tanya Reza merasa sedih memikirkan perasaan Anita jika mengetahui hubungan Emier dan Azzura.
"Aku tahu kamu menyukai Anita, sudah saatnya kamu mengejar cintamu!" kata Emier seraya menepuk bahu Reza. "Terima kasih," imbuhnya lagi.
__ADS_1
Reza menatap Emir beberapa saat. "Apa kamu tahu?" tanyanya dan diangguki oleh Emier.
"Aku selalu melihat kamu memandang Anita penuh kasih bahkan kamu selalu menuruti apa yang diinginkan Anita, aku juga tahu kamu selalu mengusulkan aku membuka hati untuk Anita atas permintaan dia kan?" terang Emier beberkan apa yang diketahuinya selama ini.
Wajah Reza memerah, ia sedang menahan malu karena ketahuan telah diam-diam suka dengan Anita.
"Ya. Aku menyukai Anita sejak lama dan setelah membantumu ini maka aku akan mengejar cintaku," ucap Reza semangat dan Emier juga menyemangati nya.
*
*
Emier tersenyum dan tangan nya terulur menggenggam tangan Azzura yang berada di atas meja. "Bukankah semua akan baik-baik saja setelah ini, sayang? Abang gak ingin menunda nya lagi."
Azzura hanya mengangguk pasrah. Rasanya ia juga menginginkan apa yang direncanakan Emier. Tetapi, ia juga takut bila semua yang sudah di rencanakan akan ketahuan oleh kedua orang tua mereka.
"Ayo ikut Abang," ajak Emier setelah minuman yang mereka pesan telah habis.
Keduanya pergi ke suatu tempat di tengah kota dan memasuki perumahan disana. Azzura yang melihat itu hanya diam saja meski dalam hati memiliki banyak pertanyaan yang hendak ditanyakan.
__ADS_1
Emier masih dengan senyuman yang terukir di wajah tampan nya, ia keluar mobil lalu membukakan pintu bagi Azzura.
"Kita mau ke rumah siapa, bang?" tanya Azzura tak dapat menyembunyikan rasa penasaran nya.
"Rumah kita, sayang. Rumah ini Abang hadiahkan untuk kamu. Maaf enggak sebagus Mansion," kata Emier sadar diri.
Azzura terperanjat mendengar Emier mengatakan barusan.Tatapan nya lurus memandangi rumah bercat putih, berlantai dua, dengan nuansa Eropa.
"Bang," katanya menatap Emier dengan mata yang berkaca-kaca.
Emier mengangguk. "Setiap bulan Abang selalu menabung demi bisa membeli rumah ini. Maaf enggak sebagus Mansion mami," katanya merendah diri.
Azzura menggeleng cepat. Air matanya luruh karena bahagia mendapat perlakuan manis dari Emier.
"Makasih banyak, bang. Kamu selalu bersikap baik padaku. Padahal aku selalu saja ketus sama Abang."
"Itu karena aku mencintaimu,"
❤️
__ADS_1