My Soulmate My Stepbrother

My Soulmate My Stepbrother
Bab 8. Bara mencari kesempatan


__ADS_3

Azzura pulang ke rumah saat semua orang sudah tidur, selain Emier karena selalu berharap adik tirinya itu pulang ke rumah.


Semarah apapun Azzura kepada Emier, tetap saja masih ada rasa takut dan membuat jantung nya hampir copot jika berhadapan dengan sang kakak tirinya itu.


"Kenapa pulang malam? kenapa gak telepon Abang?" tanya Emier tampak khawatir. Selalu seperti ini jika Azzura terlambat pulang apalagi sampai tidak pulang selama berhari-hari.


Jangan tanya bagaimana keadaan Emier ketika mengetahui Azzura tidak pulang. Tentu saja dirinya berusaha keras menyembunyikan perasaan nya yang kalang kabut karena pikiran nya terlalu jauh menilai apa yang akan terjadi.


Sementara Azzura tahu bila Emier mengkhawatirkan nya, tetapi mengingat bagaimana kelakuan sang kakak telah melewati batas membuatnya kembali kesal.


"Jangan sok perhatian. Aku bisa menjaga diriku sendiri," kata Azzura kemudian meninggalkan Emier yang berdiri mematung menuju kamarnya.


Emier hanya dapat menghela nafas panjang mendapati Azzura masih marah kepadanya. Rasanya lebih sakit diperlakukan seperti ini oleh Azzura daripada memendam rasa cintanya selama ini.


Keesokan hari...


Pagi-pagi sekali Azzura sudah bersiap untuk pergi ke Apartemen Bara. Ia sudah berpamitan kepada papi Gadhing dan mami Nasya.


"Kamu mau kemana?" tanya Emier saat dirinya hendak masuk ke rumah setelah selesai lari pagi melihat Azzura seperti akan pergi.

__ADS_1


Azzura menatap Emier kemudian memutar bola mata malas disertai decakan sebal karena selalu seperti ini jika akan pergi.


"Mau ke apartemen Bara," jawab Azzura ketus semakin membuat hati Emier sakit.


"Abang antar, ya?" tawar Emier walau hatinya menjadi kacau balau, ia mencoba menjadi seorang Abang yang baik.


"Gak perlu," jawab Azzura segera pergi karena belum ingin berbicara lebih lama dengan Emier.


Lagi-lagi Emier hanya dapat pasrah atas sikap Azzura kepadanya dan membiarkan adik tirinya itu pergi dan berharap baik-baik saja.


Azzura menaiki taksi yang telah dipesan nya secara online menuju apartemen Bara. Ada rasa sesal telah beerlaku seperti itu kepada Emier, namun ia harus tegas agar tak lagi mengatur hidupnya.


Beberapa saat kemudian, taksi yang ditumpangi nya telah sampai kemudian Azzura langsung masuk ke dalam lift menuju ke lantai 5 dimana apartemen Bara berada.


Ia juga menaruh makanan yang telah dibeli di tengah jalan sebelum sampai ke sini.


"Hai.. Kamu sudah datang. Aku baru saja akan menelepon mu," tutur Bara yang baru saja keluar kamar dan sudah tampak segar walau masih terdapat bekas luka lebam.


Azzura tersenyum mendengar penuturan Bara kemudian memberikan semangkuk kelontong kepada Bara yang telah duduk di meja mini bar.

__ADS_1


"Makasih," kata Bara dan diangguki oleh Azzura.


Keduanya makan dengan hikmat. Tidak ada yang membahas kejadian yang lalu karena tidak ingin ada pertengkaran diantara kedua belah pihak.


Seusai sarapan, Azzura membawa dua mangkuk dan dua gelas kotor yang telah mereka pakai untuk sarapan ke wastafel.


Azzura mencuci piring dan gelas itu. Ia terperanjat kala merasakan sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang.


Tentu saja tahu bila pemilik sepasang tangan itu adalah Bara. "Tolong jangan begini, Bar."


"Kenapa, Ra? kita sudah dua tahun berhubungan, tapi kenapa kamu selalu menolaknya?" Bara terus mencoba membujuk, merayu agar Azzura luluh.


Azzura memejamkan mata sejenak, ia mencuci tangannya lalu sekuat tenaga melepas pelukan Bara. Setelah terlepas, ia segera membuat jarak.


"Aku nggak mau kita salah jalan, Bar. Jika memang kamu menginginkan ku, datanglah ke orang tuaku dan nikahi aku!" kata Azzura yang memang selalu menolak jika Bara hendak menyentuhnya. Azzura berjalan mengambil tas selempang nya hendak meninggalkan apartemen tetapi Bara segera menghalanginya.


"Oke, aku minta maaf. Jangan marah, ya. Aku sedang mengumpulkan uang untuk melamarmu," ucap Bara lembut dengan memegang kedua bahu Azzura.


Azzura menatap Bara, mencari keseriusan disana.

__ADS_1


"Maaf, ya. Jangan marah lagi. Aku janji gak akan lakukan itu sebelum kita menikah," Bara sangat meyakinkan Azzura sehingga gadis itu percaya.


❤️


__ADS_2