
"Hei.. Kamu mau kemana, sayang?" Bara mencekal pergelangan tangan Azzura ketika henda pergi dari hadapan nya. Di dorong kecil tubuh mantan kekasihnya itu ke dinding dan mengikis jarak antara keduanya.
"Ma-mau apa kamu, Bar?!" Sekuat tenaga Azzura menenangkan diri agar terlihat baik-baik saja di hadapan Bara. Ia tidak menyangka akan bertemu mantan kekasihnya di tempat seperti ini, terlebih sudah tidak ada Emier. Seketika rasa sesal karena tidak ikut bersama suaminya hadir.
Azzura memalingkan wajah ketika jemari Bara membelai pipi nya. Rasa jijik itu masih sama mengingat mantan kekasihnya bercinta tanpa menikahi wanita itu.
Bara tersenyum miring mendapati reaksi Azzura seperti itu. "Jangan jadi orang munafik. Aku hampir setiap hari kesini dan selalu melihat mu keluar kamar yang sama dengan kakak kamu," tekan nya kemudian tersenyum miring melihat Azzura terkejut.
"Ternyata kita sama, Zzura. Kita sama kotor nya, jadi ini alasan kamu selalu menolak setiap kali ingin melakukan lebih? Pantas saja Emier sangat marah saat kamu memperkenalkan aku di hadapan keluargamu," cecar Bara sekali lagi.
Azzura mencoba melepaskan diri dari Bara meakinrasa takut kian menghantam dirinya. "Kamu gak akan mengerti, Bar. Lepaskan aku," sentak nya namun Bara menangkup wajahnya dengan satu tangan hingga tatapan keduanya bertemu.
Bara tetap menampilkan senyuman jahat di hadapan Azzura. "Sepertinya kita harus menghabiskan waktu berdua untuk beberapa jam ke depan," bisiknya lalu tertawa membuat Azzura berontak mencoba melepas diri.
__ADS_1
"Diam!!!" sentak Bara tak ingin dibantah. Ia menghapus air mata Azzura karena tidak ingin melihat mantan kekasihnya menangis.
"Jangan menangis. Kamu tahu kalau aku gak suka lihat kamu menangis," tutur Bara terdengar lembut.
"Aku mohon lepaskan, Bar. Aku bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku sudah menjadi istri bang Emier. Aku mohon, lepaskan." Azzura semakin ketakutan setelah Bara mengatakan maksud nya.
Bara diam sesaat tanpa melepaskan Azzura. Cukup terkejut atas ucapan mantan kekasihnya tersebut. Tapi, setahunya tidak ada informasi mengenai pernikahan mereka.
Azzura terus berusaha melepas diri dari Bara. Ia takut bila mantan kekasih nya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
"Lepaskan aku, Bar."
Bara tertawa jahat lalu menarik tangan Azzura yang semakin meronta agar segera dilepaskan. Tapi agaknya Bara tidak menggubris hingga menarik Azzura masuk ke dalam kamar hotel Emier tadi.
__ADS_1
Azzura terus meronta meski dilanda ketakutan. Ia tak ingin sesuatu terjadi sehingga dapat menghancurkan nama baiknya dan pernikahan nya dengan Emier.
BUG
Azzura terpental di atas tempat tidur. Keadaan semakin menegang. Bara sudah membuka Kaos yang di kenakan nya lalu merangkak naik ke atas tempat tidur.
Azzura merangkak mundur tapi kaki nya ditarik Bara hingga lebih dekat dengan pria itu. Azzura sudah menangis karena begitu ketakutan.
"Tolong jangan lakukan ini, Bar." Azzura menangis, meraung, mencoba terlepas dari jeratan Bara yang sudah sangat menginginkan.
"To-toloong," pekik Azzura ditengah tangis dan usaha agar bisa terlepas. Tapi, sekuat tenaga sudah berusaha tak mampu terlepas dari kukungan Bara karena tenaga pria itu lebih kuat darinya.
"Kau akan menjadi milikku "
__ADS_1