My Soulmate My Stepbrother

My Soulmate My Stepbrother
Bab 43


__ADS_3

"Bang. Aku mau ayam Upin Ipin nya dong," pekik Humairah kepada Reza karena ayam goreng itu terletak lebih dekat dengan pria itu.


Reza tersenyum menggapai ayam goreng bagian paha kesukaan Humairah.


"Huma.. Gak sopan menyuruh bang Reza seperti itu," tegur papi Gadhing membuat Humairah cemberut.


"Iya," jawab gadis bar bar itu.


"Gak apa-apa, om. Gak repotin Reza juga," kata Reza membela Humairah.


Selesai makan malam, Emier, Azzura, Reza, dan Humairah berkumpul di ruang keluarga lantai dua. Tidak ada kemesraan yang terlihat karena mereka sedang mengobrol bersama.


"Jadi, Abang masih berharap sama kak Anita? Kak Anita suka nya sama Abang Emier?" tanya Humairah menangkap pembicaraan mereka.


"Ya."


Humairah berdecak. Ia mengibaskan rambut curly yang diwarna menjadi cokelat itu. "Cantikan mana sama aku?" tanya nya justru membuat Reza dan Emier tertawa, sementara Azzura menggeleng melihat tingkat percaya diri sang adik begitu tinggi.

__ADS_1


"Kamu cantik, tapi masih kecil." Ucapan Reza membuat Humairah cemberut.


"Tapi aku sudah bisa di nikahi, tahu."


Reza menyentil kening Humairah setelah gadis itu menyinggung pernikahan. "Kuliah yang benar, Huma. Nikah, nikah. Kamu pikir menikah itu gampang? Nanti setelah kamu nikah, urus suami dan anak. Waktu main berkurang."


"Gini ya bang Reza, cowok yang gak bisa move on. Orang yang bilang nikah rumit itu karena menganggap pernikahan adalah beban. Coba Abang pikir, Ali bin Abi Thalib dan Fatimah. Betapa so sweet nya mereka meski keadaan serba terbatas."


Ketiga orang lain nya termangu mendengar ucapan Humairah.


Emier langsung menatap adik nya itu. "Ya."


Humairah meletakkan ponsel nya lalu duduk dengan tegak. "Carikan aku suami, dong."


***


Beberapa hari terlewati seperti biasanya. Emier tetap bekerja dengan giat, memperbanyak tabungan karena sudah memiliki tanggung jawab. Ia juga sudah memberikan nafkah semenjak menikahi Azzura di Jerman.

__ADS_1


ATM penerima gaji di pegang oleh Azzura. Ketika gajian Azzura yang mengambil nya dan ia hanya menerima sebagian untuk okomodasi saja.


"Kamu gak apa-apa mas tinggal?" tanya Emier kepada Azzura yang tengah berbaring lemah akibat kelelahan akibat ulah nya.


Keduanya baru saja menghabiskan waktu bersama di hotel sedari pagi. Emier harus pergi dengan seragam dokter nya dan Azzura memberi alasan ingin ke Perpustakaan seperti biasa sebelum dinikahi Emier. Padahal, Emier bekerja masuk pukul 3 sore.


Azzura menaikkan selimut hingga ke dada. Matanya terbuka perlahan menatap Emier. "Gak apa-apa, bang. Aku cape banget, pingin tidur sebentar."


Emier menghela nafas, di elus kepala Azzura dengan mengecup kening sesekali. "Ya sudah, Abang berangkat ya."


Azzura mengangguk saja dan membiarkan Emier melabuhkan kecupan di wajah nya. Ia merasa sangat lelah mengimbangi biirahii suami nya itu. Masih tak menyangka kakak tirinya itu mempunyai banyak tenaga dan tak pernah bosan menggagahi dirinya.


Emier pergi ke Rumah Sakit setelah memastikan Azzura benar-benar terlelap. Tanpa terasa pernikahan mereka sudah lebih dari 6 bulan. Kedua orang tua mereka juga tak pernah curiga karena baik dirinya ataupun Azzura lihai menutupi. Bahkan jika di Mansion, mereka tak pernah tidur bersama karena tak ingin di pergoki oleh kedua orang tua mereka yang memiliki kebiasaan masuk kamar ketika semua sudah terlelap.


Azzura terbangun ketika mendengar suara adzan berkumandang. Ia tersentak karena sudah sangat terlambat untuk kembali pulang ke Mansion. Gegas masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah nya bersiap lalu keluar dari kamar hotel tersebut.


"Lama gak bertemu, Ra."

__ADS_1


__ADS_2