
Azzura memandangi kamar yang menjadi saksi pertumbuhan nya selama di Jerman. Kamar yang sudah di dekorasi dengan nuansa merah muda dan anime hello Kitty.
Dekorasi yang di design langsung oleh papi Jimmy. Mata Azzura memanas mengingat mendiang sang papi yang bahkan wajahnya hampir dilupakan jika saja Azzam tak sering mengirim foto-foto mendiang papi Jimmy.
"Zzura kangen papi," gumam nya. Air matanya menetes ketika melihat foto mendiang papi Jimmy yang ada di ponselnya.
"Papi.. Restuin kami. Maaf kalau harus menyembunyikan ini dari mami dan papi Gadhing. Ini karena kami GK direstui," gumam Azzura lagi lalu membawa ponsel nya ke dada disertai tangis yang mulai terdengar lirih.
Kerinduan yang teramat dalam tak dapat disembunyikan lagi. Selama ini, ia tidak kekurangan perhatian dari sosok papi karena papi Gadhing dapat memberikan itu. Tapi, tidak sama dengan papi kandung bukan?
Azzura memiliki batasan terhadap papi Gadhing walau di hati keduanya tak ada niat buruk sekalipun. Semasa menuntut ilmu, terkadang merasa iri kepada teman sebaya karena masih memiliki papi kandung.
Ketika teman sebaya nya bercerita bila akan menikah dan di wali kan oleh papi kandung semakin membuat hatinya merasa sedih.
Kesakitan seorang anak perempuan ialah ketika hendak menikah, papi kandung tak dapat melaksanakan itu. Baik karena alasan tak bisa ataupun sudah meninggal dunia.
__ADS_1
"Jangan menangis," kata Azzam baru saja masuk ke kamar saudari kembarnya.
Azzura menoleh ke arah Azzam yang menyerahkan tissue kepadanya. "Terimakasih."
Azzam mengangguk dan memindai pandangan ke setiap sisi kamar Azzura. "Maafkan aku yang lebih nyaman berada disini dari pada di Indonesia."
Azzura mengangguk mengerti. "Kamu harus mengurus Perusahaan papi. Kami dapat mengerti," tutur nya mengerti keadaan saudara kembarnya.
"Jangan hamil dulu sebelum hubungan kalian direstui papi dan mami. Aku gak mau anak kalian menjadi korban nya, nanti!"
"Kenapa kamu langsung setuju Abang meminta kamu menikahkan kami secara sembunyi begini?" tanya Azzura penasaran.
Azzam menoleh menatap Azzura sejenak lalu menatap lurus ke depan. "Aku sudah lama tahu kalau Abang cinta kamu diam-diam. Dan aku salut, Abang bisa menahan diri selama ini."
"Hanya saja saat acara ulang tahun, Abang kehilangan kendali atas dirinya karena marah dan kecewa mengetahui kamu telah memiliki kekasih."
__ADS_1
Azzam menjelaskan dengan lembut. Persis seperti mendiang papi Jimmy yang selalu bersikap lembut tapi tegas jika bersama orang-orang yang disayanginya.
"Dan aku yang bodoh berhubungan dengan pria berengsek seperti Bara," sambung Azzura menunduk. Hingga kini ia merasa bodooh jika mengingat waktu 2 tahun terbuang sia-sia.
Azzam tersenyum disertai belaian pada Surai hitam milik Azzura. "Lebih baik kamu mengetahui keberengsekan Bara sebelum kalian menikah. Daripada setelah menikah, justru akan membuatmu menyesal seumur hidup."
"Jangan salah ambil keputusan. Sekarang istirahat lah. Esok Abang akan sampai. Kamu ikut menjemput?" tawar Azzam membuat Azzura tersenyum dan tersipu malu.
Azzura mengangguk polos membuat Azzam tertawa.
Azzura menatap ponselnya yang berdering. Seketika degub jantungnya berdetak kencang meski hanya nama Emier yang dibacanya.
Nama saja sudah membuat Azzura tak karuan, apalagi bertemu langsung dengan orang nya?
Tangan nya terulur dan menekan icon gagang telepon berwarna hijau. "Apa?!!"
__ADS_1
❤️