
Tatapan pengantin baru bertemu membuat keduanya salah tingkah. Padahal baru berpisah 3 hari dan di pertemukan kembali dalam satu atap meski tak dapat berada dalam satu ruangan secara terang-terangan.
Azzura meraih tangan Emier lalu mencium takzim punggungnya. "Assalamualaikum, bang."
Emier tersenyum lalu di kecup kening kemudian mendekap tubuh istrinya itu. Beruntung papi Gadhing dan Mami Nasya tidak ikut menjemput karena Azzura tiba pada malam hari. Tepat saat jam kerja nya telah selesai.
"Waalaikumsalam. Abang kangen," kata Emier mengeratkan dekapan.
"Zzura juga," cicitnya lirih membalas pelukan dari Emier.
"Kita ke Hotel dulu sebelum pulang, ya. Abang kangen," bisik Emier mulai memberanikan diri mengungkapkan apa yang diinginkan. Melepas pelukan, menunduk menatap Azzura yang menunduk dengan wajah bersemu merah.
Agaknya, istrinya itu sedang tersipu malu. Anggukan kecil sudah cukup bagi Emier sebagai tanda persetujuan. Gegas ia membawa Azzura menuju Hotel terdekat agar dapat lebih lama menuntaskan hasrat rindu yang sudah menggebu.
"Bang. Sudah bawa, i-tu?" tanya Azzura seraya menggigit bibir bawah nya. Sangat malu rasanya mengatakan benda pengaman tersebut.
Emier menoleh ke samping melihat Azzura yang masih tampak malu. Senyuman nya terukir melihat itu, sangat cantik. "Sudah, sayang. Mas sudah beli tadi di Apotek sebelum ke Bandara," terang nya justru membuat Azzura semakin tersipu malu.
Emier terkekeh melihat itu. "Kenapa harus malu, hm?" liriknya sekilas lalu fokus pada jalanan lagi.
"Abang, iih! Jangan menggoda ku," rengek Azzura membuat Emier tergelak.
Tangan kirinya mengacak rambut panjang Azzura yang terurai indah.
Beberapa saat kemudian mobil mereka telah sampai di sebuah Hotel dan memesan satu kamar. Azzura sendiri menunduk sepanjang jalan dengan tangan di genggam oleh Emier. Rasanya begitu malu meski keduanya telah sah menikah secara agama.
Sesampainya di dalam kamar, Emier meletakkan koper di sudut ruangan kemudian masuk ke dalam kamar mandi menyediakan air hangat bagi Azzura. Dirinya bukan lah pria yang memaksakan ke hendak, lebih suka melakukan ketika Azzura sudah merasa nyaman meski hasrat nya sudah memuncak.
"Sayang. Mandilah, Abang sudah sediakan air hangat untukmu."
Azzura terperanjat karena mendengar ucapan Emier. Kegugupan nya membuat ketidak pekaan terhadap sesuatu yang hadir di sekitar. "Jangan disediakan begitu, aku jadi gak enak sama Abang," katanya jujur.
Emier tersenyum lalu mengecup pipi Azzura. "Gak apa-apa. Di Mansion pasti akan sulit kita melakukan ini," tutur Emier kemudian menunjuk Azzura masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Emier mengambil ponsel Azzura yang tergeletak di atas tempat tidur. Di buka dan di lihat isi dari ponsel istrinya itu. Bukan bermaksud memeriksa privasi seseorang, tetapi setidaknya Emier harus tahu kepada siapa saja istrinya berhubungan.
Ia berdecak melihat begitu banyak pesan dari Bara meminta maaf kepada Azzura. Hatinya lega tidak ada tanggapan apapun dari istrinya.
Beberapa saat kemudian Azzura keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang terlilit di tubuhnya hanya sebatas separuh paha saja. Emier yang melihat itu menjadi tarik nafas karena sudah sangat menginginkannya.
Emier bangkit dan mendekati Azzura yang menunduk. Di raih dagu istrinya hingga mendongak menatap nya. Dikecup bibir ranum itu sekilas. "Abang mandi dulu. Jangan bakai baju," bisik nya di telinga Azzura membuat bergidik ngeri. Emier membalikan badan Azzura, memberikan kecupan di pundak polos hingga leher istrinya itu.
Emier pergi ke kamar mandi meninggalkan Azzura yang mematung.
Tubuh Azzura bergidik ngerih diperlakukan begitu oleh Emier. Selama ini ia hanya berhadapan oleh pria posesif yang berstatus sebagai kakak tiri. Tapi lihatlah tadi, ia seperti tak mengenal Emier.
Tangan nya mendarat di dada karena degub jantung yang terus bertalu-talu akibat perlakuan Emier tadi. "Kenapa Abang jadi begitu?" tanya nya sendiri mendudukkan diri di tepi tempat tidur, menetralkan degub jantung yang semakin menjadi.
Azzura menoleh ke kiri dimana suara dering ponselnya berada. Dilihat nama Bara yang tertera disana membuatnya memutar bola matanya merasa jengah lantaran mantan kekasihnya yang tak kunjung usai mengganggu nya.
__ADS_1
1 kali.
2, 3, 4, hingga dering ke 5 tak juga menyerah. Ia pun menerima panggilan tersebut.
"Akhirnya kamu angkat juga. Makasih, Ra."
Azzura berdecak mendengar suara Bara seolah merasa khawatir. Ia sungguh-sungguh sudah tak memiliki perasaan lagi terhadap pria itu padahal cukup lama menjalin kasih.
"Ra."
"Hem," Azzura berdehem sebagai jawaban.
"Maafin aku. Aku tahu salah, aku janji gak akan lakukan itu lagi. Aku begitu karena ingin memiliki kamu dan kamu gak akan tinggalin aku."
Tangan Azzura terkepal mendengarnya. Ingin sekali memberi bogeman Bara. Tetapi gelengan kepala gegas dilakukan karena akan menghabiskan tenaga bila harus meladeni pria itu.
"Berhentilah menggangguku, Bara. Aku sudah gak cinta kamu, lagi. Aku sudah punya yang baru dan jauh lebih baik darimu," katanya lalu memutuskan panggilan telepon tersebut kemudian menghempaskan ponselnya dengan kasar di atas tempat tidur.
"Kamu kenapa?" tanya Emier mengejutkan Azzura yang memang memunggungi pintu kamar mandi.
Azzura membalikkan badan langsung terbelalak melihat penampilan Emier yang hanya mengenakan handuk terlilit di pinggang. Seketika itu pula ia memejamkan matanya. Padahal penampilan nya juga tak kalah mengejutkan kaum pria.
"Tadi Bara menelepon dan meminta maaf. Aku kesal, bang."
Emier mendekati Azzura dan menuntun nya duduk di tepi tempat tidur lagi. Di dekap dan usapan lembut di punggung istrinya itu.
"Jangan lagi berhubungan dengan pria lain. Abang gak suka dan Abang cemburu," terang nya dan langsung membungkam bibir istrinya tanpa aba-aba.
Emier akui, kedua nya tak memiliki pengalaman dalam hal bercinta. Tetapi, profesi nya sebagai Dokter tentu saja memiliki materi yang lebih luas daripada Azzura. Bukan itu menjadi masalah baginya, biarlah waktu dan pengalaman yang mengajarkan mereka. Apalagi ia suka melihat istrinya yang malu-malu dihadapan nya dan akan mendesaah setiap kali di hujami oleh pusaka yang sudah siap tempur.
"Aahh.. Abang." Rengek Azzura ketika lidah Emier mampir di inti tubuh nya.
Bermain sampai puas dan semakin bersemangat ketika tubuh Azzura menjadi meliuk-liuk nikmat karena ulah nya.
Ketika sudah puas bermain, Emier menegakkan tubuhnya lagi memandangi Azzura yang tampak menikmati ulah nya tadi dengan nafas yang memburu.
"Kamu sek si, sayang."
Emier membuka bungkus permen pengaman lalu memakainya. Pusaka yang sudah berdiri tegak siap memulai pertempuran.
****
"Sayang. Bisakah Abang meminta satu hal padamu?" tanya Emier mengelus punggung Azzura yang polos.
Kedua nya baru saja selesai bertempur dan memilih rebahan dalam satu selimut dengan kedua tubuh yang masih polos.
Azzura menengadah menatap Emier. "Apa?"
"Mulai besok, pakai hijab ya? Abang ingin rambut kamu hanya terlihat untuk Abang dan saudara muhrim mu," pinta nya lembut, tatapan kedua nya bertemu.
__ADS_1
Azzura tersenyum mengangguk menyetujui permintaan dari Emier.
Setelah bercanda bersama, Emier dan Azzura bergegas membersihkan diri tanpa ada ritual cinta-cintaan lagi karena sedang di buru waktu yang hampir larut.
Mulut memang bungkam selama perjalanan, tetapi genggaman kedua tangan mereka dapat jelas mengartikan saling menguatkan untuk menjalani pernikahan tersembunyi di dalam atap yang sama.
****
Baru saja Azzura sampai di Mansion setelah selesai bercinta dan beristirahat sebentar. Meski kelelahan, ia tak ingin papi Gadhing dan mami Nasya curiga.
"Zurra istirahat dulu ya mi, Pi." Kata Azzura ketika cukup lama duduk bersama kedua orang tua nya. Tubuhnya memang sangat lelah setelah dua jam di gempur Emier tadi.
Azzura tidak mengeluh, ia suka menjalani kewajiban ini karena hatinya sudah menerima kehadiran Emier. Bahkan jika boleh mengakui, ada rasa sesal tidak menyadari perasaan suaminya itu sedari dulu.
"Emier juga mau istirahat. Besok masuk pagi," kata Emier mengikuti langkah Azzura.
Beruntung kamar nya memang berada di lantai dua sama dengan Azzura. Kamar kedua orang tua mereka ada di lantai dasar. Kamar Asnan dan Humairah ada di pojokan sisi sebelah kanan dari arah tangga. Hanya Azzam yang berada di lantai tiga karena lebih suka menyendiri.
CUP
"Abang!" pekik Azzura terkejut ketika hendak membuka handle pintu merasakan seseorang telah mengecup pipi nya.
"Selamat malam," bisik Emier. "Datang ke kamar Abang kalau takut tidur sendiri," imbuhnya lagi mengedipkan satu mata.
Azzura menahan senyum mendengar bisikan Emier. Ia gegas masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan apapun. Di dalam kamar, Azzura memegang kedua pipi nya merasa panas bagian wajah.
"Oh, ayolah. Kenapa aku segugup ini?"
****
"Jangan terlalu capek bekerja, An. Kamu sudah lama gak ambil cuti tahunan," kata Reza seraya menyodorkan segelas air minum kepada Anita.
Setelah pulang bekerja bersama Emier, ia mendapat telepon dari Anita dan meminta dibawakan obat demam.
Reza begitu khawatir setelah tahu keadaan Anita. Gegas dibeli obat demam lalu pergi menuju apartemen gadis pujaan hatinya.
"Besok juga sembuh," elak Anita selalu begitu.
Reza mengelus kepala Anita sembari menghela nafas panjang. Anita akan selalu mengatakan baik-baik saja jika sedang sakit.
"Tidurlah. Aku akan pulang setelah kamu terlelap," kata Reza tak yakin.
Anita memiliki kebiasaan saat sakit akan mengigau.
"Temani aku, Za. Aku takut," kata Anita lirih.
Reza mengangguk lalu duduk di tepi tempat tidur sisi Anita. Satu tangan nya telaten mengelus kepala gadis pujaan hati nya agar dapat tidur dengan tenang. Sementara satu tangan yang lain berada dalam pelukan Anita.
Suhu tubuh Anita sudah mulai turun, tidak setinggi sebelum meminum obat. Dan itu membuat hati Reza menjadi lebih tenang.
__ADS_1
Andai kamu tahu betapa aku mencintaimu, An.
❤️