
"Sayang. Akhirnya kamu pulang. Rumah ini sangat sepi gak ada kalian," kata mami Nasya memeluk Emier setelah pria itu menyalami punggung tangan ibu paruh baya tersebut.
"Sekarang kan Emier sudah pulang, mi. Papi kemana?" tanya Emier seraya masuk ke dalam Mansion. pandangan nya mengedar mencari keberadaan papi Gadhing.
"Papi kamu sedang di teras belakang," jawab mami Nasya.
Emier mengangguk kemudian mengikuti mami Nasya menyusul papi Gadhing di teras belakang.
Ah, Emier lupa belum memberi kabar Azzura jika dirinya sudah sampai. Tetapi, melihat situasi saat ini tak memungkinkan lebih baik mengurungkan niat daripada dapat menimbulkan curiga.
Emier mencium punggung tangan papi Gadhing. Ia hanya diam saja menjadi kikuk diperhatikan oleh sang papi.
"Kamu nampak lebih segar dan cerah," celetuk papi Gadhing memerhatikan Emier.
Emier tersenyum menanggapi. Tentu saja akan terlihat segar dan ceria, beginilah bila pengantin baru.
"Apa kamu sedang jatuh cinta?" tanya mami Nasya antusias. Apalagi selama ini tak pernah tahu dan mendengar Emier berhubungan dengan seorang gadis.
Lagi-lagi Emier hanya tersenyum menanggapi membuat orang tua nya semakin yakin bila anak sulung mereka telah jatuh cinta.
__ADS_1
"Siapa gadis itu? apa dia berakhlak? agama nya gimana?" tanya mami Nasya beruntun membuat Emier menatap beliau.
"Dia berakhlak, agama nya juga karena tumbuh dilingkungan keluarga yang mengerti agama." Emier menjelaskan keadaan Azzura kepada orang tua nya meski tak menyebutkan nama.
"Apa gadis itu Anita? mami lihat hanya dia yang berusaha mendekati kamu," tebak mami Nasya membuat Emier berdecak kesal.
"Reza sangat mencintai Anita, mi. Mana mungkin Emier buat sahabat sendiri sakit hati. Lagi pula bukan Anita orang nya."
Emier menjelaskan dengan nada suara kesal. Bukan hanya di rumah dirinya di kait-kaitkan dengan Anita. Hal itu membuatnya kesal.
Mami nasyah dan papi Gadhing saling pandang setelah mendengar jawaban Emier yang terdengar ketus. Mereka hanya menebak saja tadi.
***
Sebenarnya Emier sangat khawatir Azzura akan pulang sendiri, tetapi mengingat mereka harus menyembunyikan pernikahan mereka sementara waktu membuatnya tak dapat melakukan apapun.
Keesokan paginya, Emier telah bersiap untuk berangkat bekerja. Cuti tahunan telah dihabiskan nya untuk menikah dan bulan madu.
"Mi, Emier berangkat ya."
__ADS_1
"Iya, hati-hati."
Emier mengangguk. Papi Gadhing sudah pergi ke Malang pagi-pagi buta tadi. Di dalam mobil, ia memanggil panggilan video kepada Azzura.
"Kamu lagi apa?" tanya Emier melihat Azzura di seberang telepon. Ia menghidupkan mobil dan melajukan nya menuju Rumah Sakit.
"*Nungguin telepon dari Abang. Tapi tadi sempat ketiduran," jawab Azzura yang memang memiliki selisih waktu yang cukup lama.
Waktu di Indonesia lebih kurang 6 jam lebih cepat daripada Jerman*.
"Maaf, ya. Tidur kamu jadi terganggu." Emier melupakan selisih waktu diantara tempat tinggalnya dengan Azzura sekarang.
"Tidak apa. Maaf belum bisa sediain keperluan Abang," ucap Azzura merdu sekali.
"Jangan khawatir. Abang gak pernah berpikir kesana dulu. Yang penting kita sudah halal. Mas gak mau dikejar dosa," jawab Emier semakin membuat dada Azzura berdebar kencang.
"Makasih, bang. Tunggu aku pulang, ya."
Senyuman keduanya terukir disana. Rasa rindu membuncah meski baru beberapa hari terpisah oleh jarak.
__ADS_1
"Abang rindu."
❤️