My Soulmate My Stepbrother

My Soulmate My Stepbrother
Bab 20.


__ADS_3

"Lepas, bang. Nanti ketahuan papi dan mami," cicitnya sudah hampir sampai pada pintu utama Mansion mereka tetapi Emier belum juga ingin melepas genggaman tangan nya.


Emier menahan senyum melihat wajah kesal Azzura. Baginya, melihat wajah kesal pujaan hati nya itu menjadi hiburan tersendiri untuknya.


"Lepas, bang!" gertaknya ketika telah sampai di depan pintu.


Suara pintu terbuka membuat genggaman kedua tangan itu terlepas. Mereka berharap seseorang yang membuka pintu tersebut tidak melihat tingkah mereka barusan.


Mami Nasya melihat kedua anaknya yang tegang menjadi bingung. blBeliau dan suaminya baru saja tiba beberapa menit lalu dan khawatir tidak mendapati Emier dan Azzura di Mansion.


"Kalian dari mana?" tanya Mami Nasya menatap curiga kedua anaknya. "Kenapa kalian enggak pulang?" imbuh beliau lagi, beberapa saat lalu ketika tidak mendapati kedua anaknya, mereka bertanya kepada salah satu pelayan Mansion.


Baik Emier dan Azzura terdiam beberapa saat dan menelan saliva dengan kasar. Keduanya merasa bingung harus menjawab apa namun tidak pula untuk berkata jujur atas kejadian malam tadi.


"Emier masuk malam dan Azzura menginap di rumah sakit juga karena kemalaman pulang," jawab Emier sekenanya saja karena hanya itu yang terlintas dalam kepalanya.


Tetapi jawaban Emier membuat Azzura melotot ke arahnya karena jawabannya sangat menyudutkan pujaan hatinya itu. Benar saja, Mami Nasya sedang menatap Azzura penuh curiga saat ini.

__ADS_1


Azzura berdehem menormalkan kegugupan serta ketakutan nya. "Zurra dari main, mi. Dan karena takut di Mansion sendiri, Zurra nyusul Abang ke Rumah Sakit."


Tidak ada perkataan mami Nasya lagi. Beliau hanya memerhatikan Emier dan Azzura secara bergantian. "Masuk dan istirahat. Pasti kalian capek tidur di Rumah Sakit, dan kamu Zurra! jangan ulangi main kemalaman begitu," kata beliau mengingatkan putrinya.


"Baik, mi!" kata Azzura dan Emier hampir bersamaan.


Mereka masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamar masing-masing. Sementara mami Nasya semakin takut dengan kedekatan kedua anaknya itu.


Ada rasa trauma baginya yang mencintai saudara sendiri. Dan hal itulah yang menjadi penyebab utama beliau melarang Emier dan Azzura memiliki perasaan lebih dari saudara.


Di dalam kamar Azzura merebahkan diri dan menutupi dirinya dengan selimut yang tebal. Ia memikirkan kejadian yang baru saja ia alami bersama Emier malam tadi.


Azzura berharap tidak mengalami pembuahan di rahiim nya karena orang tua mereka akan menentang. Ia mengambil ponsel diatas nakas ketika benda pipih itu bergetar berulang kali.


Azzura berdecak kesal melihat nama yang menghubungi nya. "Hallo!" katanya ketus.


"Assalamualaikum, Ra. Galak banget," kata Emier masih sempat meledek Aisyah.

__ADS_1


"Apaan sih, bang."


"Abang kangen," celetuk nya tetapi mendapatkan cebikan dari Azzura.


"Jangan aneh-aneh. Ngerih aku dengarnya, mas." Azzura mengatakan sejujurnya.


Emier mendengar itupun hanya mencebik bibir karena sangat sulit untuk membuat Azzura sadar jika dirinya benar-benar rindu dengan gadis pujaan hatinya yang tak lain adalah adik tirinya sendiri.


CUP


Emier tersenyum ketika dapat mencuri kecupan di pipi Azzura.


"Abang!!" ucap Azzura berang namun tidak membuat Emier takut.


"Abang sudah melihat kamu dengan keadaan polos. Jangan pelit begitu," kelakar Emier semakin membuat Azzura berang.


"Mulut di jaga, dong!"

__ADS_1


❤️


__ADS_2