My Soulmate My Stepbrother

My Soulmate My Stepbrother
Bab 40.


__ADS_3

Emier terus bermain ponsel tanpa memerdulikan Anita yang tengah duduk di hadapan nya. Dari lirikan nya, wanita itu sangat jaim makan dihadapan nya. Padahal tak sedikitpun Emier melakukan apapun selain bermain ponsel dan menyeruput kopi hitam yang dipesan nya.


Helaan nafas terdengar berat lantaran sudah mulai tak sabar menunggu Anita selesai makan. "Aku ingin bicara, An." Tegas Emier membuat Anita menghentikan kunyahan nya.


Anita semakin gugup dikala mata tajam Emier menatapnya begitu intens. "Tanya apa, Em?"


Emier menghela nafas lagi. "Begini. Aku tahu kalau kamu memiliki perasaan lebih dari teman terhadapku. Sebelumnya aku minta maaf, aku gak pernah menganggap mu lebih dari teman. Aku sudah memiliki seseorang yang lebih berhak atas hidupku. Jadi mulai sekarang, jangan pernah berharap lagi dengan khayalan kamu yang bisa bersanding dengan ku," terang nya membuat Anita menunduk dalam.


"Bisakah kamu memberikan ku kesempatan agar aku bisa membuatmu jatuh cinta?" tanya Anita memberanikan diri bertanya dan menatap Emier. Matanya sudah nampak memerah.


Emier menggeleng tegas kepada Anita. "Jangan buang waktu mu untuk hal yang gak berguna, An. Ada yang lebih mencintaimu, sedangkan aku gak pernah menganggap perasaan mu itu lebih dari teman. Sudah aku katakan padamu, hidupku sudah dimiliki seseorang. Aku harap setelah aku mengatakan ini, pertemanan kita tetap terjalin.


Emier bangkit dari duduk nya. "Aku pergi dulu. Segera habiskan makan siang mu. Kalau enggak, Reza akan memarahimu lagi."

__ADS_1


Emier berjalan keluar dari kafe setelah membayar pesanan mereka. Ia tak perlu khawatir telah meninggalkan Anita sendiri karena kafe tersebut terletak di seberang Rumah Sakit.


Emier menyeberang jalan dan berlari kecil agar segera sampai di Rumah Sakit. Senyuman nya mengembang melihat Azzura berdiri di parkiran sedang membawa sesuatu di dalam kantung plastik.


Azzura meraih tangan dan mencium punggung tangan Emier, menyalam takzim.


"Istri Abang bawa apa?" tanya Emier membuat Azzura tersipu malu.


"Aku bawa sayur lodeh, tempe goreng, ikan asin, sama sambar terasi. Gak apa-apa, kan?" tanya Azzura pelan takut jika Emier tidak menyukai menu makan siang yang di buat nya.


Emier membawa Azzura ke dalam ruangan nya kemudian mengambil air minum dua gelas pada dispenser yang selalu tersedia di ruangan nya. "Kamu naik apa kesini?" tanya nya kepada Azzura.


"Naik angkot, bang." Azzura menyiapkan makan siang buat Emier ke dalam kotak bekal berisi nasi itu. Kemudian, ia menyerahkannya pada Emier.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Emier tulus dan dibalas anggukan lengkap dengan bonus senyuman dari Azzura.


Sesekali Emier menyuapi Azzura karena tak ingin makan sendirian. Awalnya memang istrinya itu menolak, tetapi bukan Emier namanya jika tidak memaksa.


"Abang tadi dari mana?" tanya Azzura penasaran.


"Minum kopi bareng Anita," kata Emier terdengar santai.


Azzura mendelik mendengar jawaban dari Emier. Apalagi suaminya itu terlihat santai. "Berdua?" Ia mendadak kesal apalagi Emier mengangguk seperti tidak masalah sama sekali.


"Abang gak merasa gimana gitu saat sedang berduaan sama Anita?" tanya Azzura yang sudah terlihat tanduk merah di atas kepalanya. Asap mulai mengepul siap menerkam mangsanya.


"Kan cuma minum kopi, gak ngapa-ngapain."

__ADS_1


Sekali lagi jawaban Emier membuat Azzura kesal. "Awas ya kalau kangen ngajak ke Hotel."


Gawat!!


__ADS_2