My Soulmate My Stepbrother

My Soulmate My Stepbrother
Bab 47


__ADS_3

Dalam Mazhab Syafi’i yang banyak dianut di Indonesia, rukun nikah yang menjadi syarat sahnya pernikahan ada lima, yakni ijab kabul (shigat), mempelai pria, mempelai wanita, dua orang saksi, dan juga wali.


Dari segi rukun di atas, memang restu orangtua tidak termasuk. Namun adanya wali yang seharusnya merupakan ayah atau saudara laki-laki kandung dengan jelas mengisyaratkan adanya keharusan keterlibatan keluarga kandung dalam pernikahan. Artinya, harus ada restu agar pernikahan bisa diberkahi.


Banyak orang yang berkonflik dengan orangtuanya karena masalah restu saat ingin menikah, hingga akhirnya memaksa kawin lari, dan putus hubungan dengan keluarga kandung. Hal ini tentunya akan menghantui seumur hidup dan membayangi pernikahan kalian.


Tinggal dalam satu atap namun tidak bertegur sapa. Itulah yang dialami Emier dan Azzura kepada kedua orang tuanya. Sudah banyak usaha tidak juga berhasil membuat papi Gadhing dan mami Nasya luluh.


Hingga suatu waktu Azzura bercerita kepada Azzam masalah yang dialami membuat kembaran nya itu memberi keputusan untuk pulang ke Indonesia untuk membujuk orang tua mereka.


Emier dan Azzura juga masih tidur terpisah dan akan bersama ketika di luar karena tidak ingin membuat keadaan Mansion semakin panas.


Emier dan Azzura tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Permintaan maaf setiap hari selalu di agungkan.


***


Azzam sudah tiba beberapa saat lalu. Mami Nasya menyediakan makanan kesukaan pria itu. Senyuman yang sudah lama sirna, sudah terbit kembali. Sebagaimana sikap seorang ibu ketika anak pulang dari merantau, maka akan memanjakan.


"Ini terlalu banyak, mi. Nanti aku gemuk," tutur Azzam melihat porsi makan yang disediakan mami nasyah terlalu banyak.


"Habisin."


Azzam menurut saja. Sudah sangat lama dirinya tidak makan nasi. Terbiasa makanan luar karena sedari lama berada disana.


***

__ADS_1


"Mami ada masalah apa dengan Emier dan Zzura?" tanya Azzam di ruang keluarga setelah selesai makan siang ditemani mami Nasya.


Mami Nasya terlihat cemberut. Di lihat Azzam persis seperti mendiang suami nya, papi Jimmy. Selalu terlihat tegas dan mengintimidasi hingga membuat beliau tak berkutik.


"Mereka menikah diam-diam dibelakang Mami dan kamu malah mendukung mereka." Mami Nasya benar-benar kecewa atas yang dilakukan ketiga anak beliau.


Azzam menghela nafas panjang. "Maafin Azzam, mi. Tapi, Azzam gak mau Abang dan Zzurra melakukan yang dilarang Agama. Bukankah lebih baik menikahkan mereka? Lihat perubahan keduanya. Wajah keduanya lebih bersinar, Zzurra menutup aurat. Padahal sudah sangat lama papi dan mami meminta pakai hijab gak pernah dituruti, kan?"


Mami Nasya tampak diam membenarkan ucapan Azzam. Selalu saja tidak berkutik jika sudah berdebat dengan anak sulung dari pernikahan beliau dengan mendiang papi Jimmy.


"Mami.."


"Takut Zzura mengalami kisah cinta seperti mami dan harus ada korban seperti papi Jimmy?" potong Azzam seraya mengelus lengan sang ibu.


"Takdir seseorang beda-beda, mi. Jangan samakan dengan kisah mami dan papi. Dosa memutuskan silaturahmi dan hubungan seseorang yang halal. Pasti setiap orang tua berharap agar anak mereka memiliki pasangan yang baik. Aku mau tanya, apa salah satu dari Emier dan Zzura punya akhlak yang buruk?" tanya Azzam dan mendapat gelengan kepala dari mami Nasya.


"Tentu saja gak ada yang buruk, kan? Jadi, ketakutan Papi dan Mami jangan jadikan sebagai patokan alasan untuk gak restui mereka, ya."


Azzam memeluk sang ibu yang sangat dirindukan nya. Namun, pekerjaan nya sebagai Pemimpin keluarga Soecipto mengharuskan berada jauh disana.


****


Azzam mengatur makan malam keluarga di sebuah Restoran mewah. Papi Gadhing, Mami Nasya, Emier, Azzura, Humairah, dan dirinya.


"Maafin Mami dan Papi sudah egois dengan kalian," cicit mami Nasya kepada Emier dan Azzura.

__ADS_1


"Jangan minta maaf Mi. Kami lah yang bersalah karena menikah diam-diam. Maafin Emier dan Azzura, mi."


Emier dan Azzura mendekati papi dan mami Nasya. Mereka memeluk orang tua mereka dengan sayang.


"Maafin papi dan jadilah suami yang baik. Jangan seperti papi dahulu," gumam Papi Gadhing ketika Emier memeluk nya.


"Pasti, Pi."


Azzam tersenyum melihat keluarganya kembali damai. Rasanya tenang bila nanti balik ke Jerman, lagi. Matanya memindai menatap adik nya.


"Kenapa kamu sangat pucat?" tanya Azzam kepada Humairah.


"Hanya pusing saja. Jangan menatapku begitu."


****


Azzura dan Emier saling memandang setelah pulang dan berada di kamar Emier. Untuk pertama kali wanita itu masuk ke dalam kamar sang suami.


Baru diketahuinya, sangat banyak foto dirinya terpampang di dinding kamar itu. Ia tak menyangka sudah sangat lama Emier mencintai dalam diam. Lalu? apakah ia akan meragukan cinta suaminya?


Tidak.


"Aku mencintaimu, bang."


"Aku lebih mencintaimu."

__ADS_1


❤️


TAMAT


__ADS_2