
Menyedihkan pada waktu itu dia menghilang seminggu lebih, aku tak tau mengapa dia hilang. Padahal waktu itu aku sedang membutuhkannya untuk memberiku semangat, karena aku lagi UKK. Menghilangnya dia membuatku tak fokus belajar, pikiranku kacau karenanya. Dan pada saat aku ultah, dia pun msih menghilang. Padahal aku berharap dia ngucapin atau ngasih surprise. ehh ternyata nggak. Hatiku terus bertanya-tanya ke manakah dia? Mengapa dia menghindar dariku? Aku salah ap? Pikiranku dipenuhi dengan semua pertanyaan itu.
Liburan semester 1 tiba, dan aku berharap banyak waktu untuk bisa bertemu dengannya. Tapi ternyata tidak. Saat itu dia akan pindah sekolah dan mondok di Banyuwangi. Saat kita bertemu, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya.
“kamu sebenernya mau ke mana sih?, kok status facebook kamu gitu.” tanyaku
“aku mau pindah yang, aku mau mondok.” balasnya
“mondok di mana?”
“di Banyuwangi”
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya bisa diam. Dan pikiranku mulai kacau, “mengapa dia harus pergi meninggalkan?” batinku.
aku menangis setiap harinya. ya kita bakal jarang ketemu atau bahkan tak bisa lagi ketemu.
__ADS_1
Disaat mendekat hari dia akan pergi. Aku memintanya bertemu, tapi dia selalu tak mau, alasannya karena sedang sibuk.
Tapi sehari sebelum dia pergi, kita sempat bertemu. Dan mungkin untuk terakhir kalinya.
Kita bertemu di stasiun, ya aku hanya diam dan merasa sebal dengannya. Aku tak berani berbicara, entah kenapa. Mungkin dia marah denganku, karena aku meminta untuk bertemu. Tak ada obrolan yang serius, padahal aku ingin bertemu untuk bicara soal dia pindah. Tapi aku tak berani.
Ehh tiba-tiba ada polisi datangin kita.
“dek, lagi ngapain di sini? Pacaran kok di sini. Sana pulang” kata polisi.
Menyebalkan sekali belum bicara apa-apa udah disuruh pulang aja. Untung saja hp dia ketinggal di aku, aku bingung harus mengembalikan atau membiarkan dia menemuiku. Akhirnya aku memutuskan untuk ke rumahnya. Tapi tidak sendiri, aku minta temenin temenku. Ya waktu itu aku belum tau tepat rumahnya, tapi aku tau daerah dan arahnya.
Di rumah dia, aku disuruh masuk. Tapi aku tidak mau. Aku cuma di samping rumahnya. Ya itu menjadi terakhir kali kita bertemu. Sedih sih, tapi aku tak berani menunjukkan kesedihanku. Ya untuk kenangan aku memberinya jam tangan, couple sama aku. Berbicang-bicanglah aku dengannya.
“Sayang, I love You,” ucap khasan sambil menciup tanganku.
__ADS_1
Aku hanya diam dan tersenyum.
Baru pertama dia bilang i love you secara langsung, dan mungkin juga yang terakhir kalinya. Dia juga berkata padaku “Sayang, jika kita memang berjodoh, pasti kita dipertemukan kembali.”
“Amin yang.”
Hari semakin sore dan aku memutuskan untuk pulang.
“Hati-hati di jalan yah sayang,” kata khasan.
“Iya,” balasku.
Hari itu takkan bisa kulupakan. Hari dimana kita bertemu untuk terakhir kalinya. Dan hari hari berikutnya kita berpisah. Bukan berpisah hubungan, tapi terpisah oleh jarak dan waktu. Membiasakan Hari-hariku tanpa adanya Khasan di sampingku. Menjalin kisah LDR, bagiku berat untuk kujalani. Tapi dengan komitmen dan saling setia, juga saling percaya satu sama lain mungkin kita bisa njalanin hubungan ini. Ya aku tak tau apa hubungan kita akan berjalan mulus atau tidak. Aku hanya bisa berdoa kelak kita berjodoh dan dipertemukan kembali.
BERSAMBUNG
__ADS_1