
"Ada apa kak?". Tanya Olivia setelah ia berada diruangannya
"Begini apa kamu ingat seorang remaja yang pernah membooking cafe kita beberapa bulan yang lalu?". Tanya Livia sang manager cafe
"Yang mana?".
"Itu loh yang booking cafe buat acara ultahnya dia dan waktu itu kamu ikut meeting juga buat bahas acara itu".
Olivia memutar otaknya kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Oh itu, iya aku ingat, apa ada masalah?".
Livia bernafas lega karena Olivia mengingatnya, ia tadi sempat takut jika Olivia tidak ingat karena efek operasi dikepalanya.
"Dia mau booking cafe kita lagi buat perayaan anniversary sama pacarnya dan kali ini dia mau ada wine". Jelas Livia dengan wajah yang frustasi
"Mana bisa gitu kan kita udah punya peraturan kalo yang booking masih usia remaja kita gak bakal ngeluarin minuman itu, bilang sama dia buat batalin aja". Ucap Olivia kesal
"Tapi sayangnya dia gak mau, dia bakal bayar mahal buat masalah itu".
"Ck. nyusahin aja, coba aku liat berkasnya lagi". Livia pun menyodorkan berkas yang diminta Olivia, setelah melihat isi berkas itu Olivia segera mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya dan mengetik nomor orang tersebut untuk dihubungi
Tut..tut..tut
"Halo". Sapa orang dari seberang sana
"Halo, selamat sore maaf mengganggu ini dengan OlGre's Cafe, apa kita bisa bertemu untuk membahas tentang permintaan anda?". Ucap Olivia sopan
"Oh tapi gak sekarang ya, gue lagi sibuk nanti gue kabari lagi". Panggilan pun langsung dimatikan sebelum Olivia membalasnya dan itu berhasil membuat Olivia sangat kesal dengan customer tengil itu
"Gak sopan banget sih, dasar gak punya etika, gak punya sopan santun, gak punya tata krama". Ujar Olivia geram meremas ponselnya kuat dan berbicara dengan ponsel seolah olah ia berbicara dengan customernya yang rese itu
"Kenapa sih, bilang apa dia?". Tanya Livia penasaran melihat raut wajah Olivia kesal setelah menelepon orang itu
"Dia bilang gini 'oh tapi gak sekarang ya, gue lagi sibuk nanti gue kabari lagi' gitu". Ucap Olivia menirukan gaya orang itu berbicara tadi
"Dia pikir gue temannya dia apa bicara kaya gitu seenaknya aja, besok kalo dia udah kerja terus angkat telepon yang penting dan dia bicara kaya tadi itu hmmm gue jamin tuh orang langsung tamat". Cerocos Olivia
"Pffftttt hahahaha, kamu lucu banget sih kalo lagi kesal gitu".
"Apaan sih kak malah ketawa". Ucap Olivia sinis, Livia hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Olivia
__ADS_1
Tok..tok..tok
Ketukan pintu membuat kedua gadis itu menghentikan pembicaraannya.
"Masuk".
Muncul lah seorang pria tampan mengenakan kemeja berwarna maroon dilipat sampai siku, pria itu pun tersenyum manis setelah melihat kedua gadis itu duduk disofa.
"Bangsat ngapain loe sore sore ke sini, mau ketemu gue?". Tanya Olivia, ia cukup terkejut dengan kedatangan abang dari laki laki yang ia cintai setelah beberapa minggu tidak bertemu, sedangkan Livia hanya diam menunduk
"Pede boros loe, gue berniat mau ketemu Livia eh tapi kebetulan ada loe disini jadi gue sekalian bisa lihat keadaan loe, gimana keadaan loe?". Ujar Satria setelah duduk disamping Livia
Olivia mengernyitkan dahinya bingung "Ketemu Kak Livia? kalian ada hubungan apa, keadaan gue seperti yang loe lihat bang".
Satria menatap Olivia lekat seperti memastikan sesuatu, Olivia jadi salah tingkah karena ditatap seperti itu.
"Kenapa sih liatan gue kaya gitu banget dan jawab pertanyaan gue tadi ada hubungan apa kalian?".
Satria melirik Livia sekilas "Kita calon suami istri". Ucap Satria mantap
Olivia membelalakan matanya sedangkan Livia wajahnya sudah merah.
"Kalian pacaran? sejak kapan?".
"Kamu aja". Jawab Livia pelan, Satria mengangguk dalam hati ia merasa gemas dengan sikap Livia yang malu malu
"Jadi kita itu dijodohin dek sama orang tua kita, orang tua kita temenan sejak kuliah dan berencana buat jodohin kita".
"Bentar bentar kalo orang tua kalian temenan sejak dulu berarti kalian waktu kecil udah saling kenal kan biasanya udah dikenalin sejak orok". Potong Olivia
"Sayangnya gak seperti bayangan loe, sejak orang tua kita menikah mereka pisah karena orang tua gue harus keluar kota dan gak pernah kontekan sampai beberapa tahun kemudian gue sama keluarga balik kesini lagi dan baru beberapa tahun lalu mereka bertemu lagi terus melanjutakan acara perjodohan ini". Jelas Satria panjang lebar
Olivia mengangguk "Tapi kalian gak terpaksa kan menerima ini terus setelah nikah si cowoknya kasar terus selingkuh kaya di novel novel yang sering gue baca itu".
Tukk
Satria menyentil dahi Olivia yang sedikit tertutup poni.
"Makanya jangan banyak baca novel yang unfaedah, kita sudah menerima ini dengan ikhlas kok karena menurut kita mungkin ini yang terbaik, iya kan sayang?".
Pipi Livia seketika memerah mendengar panggilan sayang untuk pertama kali dari Satria.
__ADS_1
"Iya, kita sudah menerimanya, kamu doain ya Liv". Ucap Livia tersenyum tipis
Olivia tersenyum manis "Tenang aja kak aku bakal doain buat kalian, btw kapan diresmikannya?".
"2 bulan lagi". Ucap Satria dan Livia kompak, keduanya pun saling pandang dan sama sama memalingkan wajah mereka
Olivia yang melihat itu pun hanya tersenyum ia ikut bahagia "Kak Aldo lihatlah abang mu yang sering kamu ceritakan akan segera menikah, pasti kamu senang kan disana". Ucap Olivia dalam hati
"Kalian masih malu malu ternyata, Bang Satria tumben punya malu". Ucap Olivia meledek
"Enak aja kalo omong gue masih punya malu lah".
"Iya iya, bang jaga Kak Livia ya jangan pernah sakiti dia karena dia sudah aku anggap kakak gue dan kalo gue dengar loe sakiti Kak Livia habis loe sama gue". Ujar Olivia penuh penekanan
Satria bergidik ngeri mendengar ancaman Olivia sedangkan Livia terharu karena Olivia menganggap ia sebagai kakaknya, Livia juga menganggap Olivia sebagai adiknya.
"Buset ancaman loe serem amat udah kek preman pasar".
"Bodo".
...----------------...
Satria dan Livia sedang dalam perjalanan menuju toko perhiasan setelah mendapatkan izin dari Olivia karena mau bagaimana pun Olivia atasannya Livia.
"Kamu kenapa diam aja dari tadi?". Tanya Satria melirik sekilas Livia lalu mengalihkan pandangannya kedepan
"Apa benar yang tadi kamu omongin didepan Olivia?". Tanya Livia hati hati takut menyinggung lelaki disampingnya ini
"Yang mana?".
"Soal perjodohan ini". Satria tidak menjawab tapi ia menghentikan mobilnya dipinggir jalan
Satria melepas seatbelt nya dan menggeser posisi duduknya menyamping menghadap Livia lalu menggenggam kedua tangan Livia.
"Livia dengerin aku, aku punya prinsip untuk menikah hanya sekali seumur hidup aku, setelah pengalaman cinta yang dulu menyakitkan aku udah gak mau menjalin hubungan dengan siapa pun lagi dan berkeinginan jika suatu saat sudah menemukan yang pas maka aku langsung mengajaknya menikah sampai kedua orang tua kita memutuskan untuk menjodohkan kita dari situ aku berpikir mungkin Tuhan sudah mengabulkan doa ku lewat orang tua kita dan aku tidak mau menyianyiakan itu".
"Dan tugas kita hanya menerimanya dan saling belajar mencintai dan memahami satu sama lain, kamu mau kan?".
Livia terharu dengan ucapan Satria, sekarang ia tidak perlu takut lagi menghadapi soal perjodohan itu.
Livia mengangguk sambil tersenyum manis "Iya aku mau untuk saling belajar mencintai". Satria yang mendengar pun tersenyum senang
__ADS_1
"Lanjut lagi ya". Ucap Satria setelah melepaskan tangan Livia, Livia pun hanya mengangguk
Bersambung..