My Story

My Story
My Story | Teror


__ADS_3

2 bulan kemudian


Selama dua bulan ini Olivia masih mendapatkan teror dari orang yang tak dikenalnya yang berisi sebuah ancaman, ia sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari pelakunya tapi sampai sekarang belum ketemu, anak buah papi juga sudah dikerahkan untuk mencari si pelaku.


Selama ini juga Salva si siswi nerd selalu mencari gara gara terhadap Olivia, pernah juga ia mengadu domba sahabat Olivia yang lain tetapi percuma karena mereka berjanji untuk saling percaya apalagi persahabatan mereka sudah bertahun tahun.


Seperti saat ini Olivia dkk berada dikelasnya mereka berbincang bincang kesana kemari hingga tiba tiba..


'Bruk'


"Aww sakit". Ringis Salva tepat disamping meja Olivia dkk, beberapa murid menoleh ke sumber suara


"Lah napa nih bocah". Ucap Rachel


"Ck. gak usah drama deh loe, muak gue". Ujar Akira sinis


"Kalian kenapa sih jahat sama aku, aku salah apa sama kalian". Ucap Salva terisak, Olivia dkk mengernyitkan dahinya


"Heh orang kita gak ngapa ngapain loe, loe aja yang jatuh sendiri makanya punya mata tuh buat liat jalan yang bener, udah punya mata empat masih aja rabun". Ucap Cia pedas


"Pffff..". Yang lain hanya menahan tawa mendengar suara pedas Cia, sedangkan murid yang lain tidak memberi respon karena sudah biasa itu terjadi


Dengan segera Salva berdiri dan berlalu keluar kelas.


"Aneh banget sih tuh orang, udah 2 bulan lebih loh dia cari masalah mulu kita gak bertindak apa". Gerutu Rachel kesal


"Eh apaan tuh". Tunjuk Cia ke arah lantai tempat Salva jatuh tadi, mengabaikan gerutuan Rachel


Kemudian Olivia mengambil benda tersebut dan ternyata sebuah foto lebih mengejutkannya lagi foto tersebut gambar Aldo seperti berciuman dengan wanita entah siapa.


"Kak Aldo". Ucap Olivia pelan, sahabatnya sangat penasaran dengan foto tersebut yang sampai membuat Olivia shock tanpa aba aba Akira merebut foto itu dari tangan Olivia


"Hah ini beneran Kak Aldo". Ucap Akira kaget, yang lain juga sama kagetnya sedangkan Olivia menatap kedepan dengan pandangan kosong


"Liv loe jangan langsung percaya siapa tau ini editan, gue yakin Kak Aldo gak mungkin ngelakuin itu". Ujar Cia


"Iya Liv loe mending tanya langsung ke Kak Aldo nya". Usul Akira


"Tapi tunggu kenapa foto itu bisa sampe sini kalo gak ada orang yang bawa". Celetuk Icha yang sedari tadi menyimak pembicaraan sahabatnya


"Nah tumben pinter, menurut gue Icha ada benernya juga Liv".


"Kayanya ada yang mau main main sama gue". Ucap Olivia datar


"Gue akan cek dulu ini foto asli atau editan". Lanjutnya


"Gue akan dukung semua keputusan loe Liv, kita juga siap bantuin loe". Ucap Rachel, dan diangguki yang lain


"Thanks guys kaliaan emang sahabat gue yang paling terbaik". Olivia memeluk sahabatnya dan dibalas juga dengan pelukan


...----------------...


"Gue udah ngelakuin misi itu dan berjalan dengan lancar". Ucap seorang gadis berbicara lewat telepon

__ADS_1


"..."


"Dan sekarang giliran loe".


"..."


"Iya tenang aja bawel asal misi ini berhasil".


'Tut..tut..tut'


Gadis itu tersenyum miring setelah memutuskan panggilan telepon sepihak dan membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, tanpa ia sadari ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan tersebut, berbagai pertanyaan bermunculan di otaknya.


...----------------...


Waktu pulang pun sudah tiba, semua murid berhamburan untuk pulang.


'Drtt..drtt'


"Halo".


"Gawat Liv cafe kita diserang, loe buruan kesini ya". Terdengar suara teriakan dan barang barang yang dilemparkan dari seberang sana


"APA?, ya udah gue kesana sekarang".


Tanpa pikir panjang Olivia langsung naik motornya Rafa yang kebetulan Rafa lewat didepan Olivia dkk.


"Ngapain?". Tanya Rafa datar menoleh kebelakang


"Buruan jalan, gue buru buru ini". Ucap Olivia panik


"Lah Olivia kenapa sih kok kaya orang panik terus kaya marah gitu". Ucap Akira, mereka mengangkat bahunya acuh setidaknya ada orang yang disamping Olivia jadi sedikit aman dan besok akan mereka tanyakan kepada Olivia


"Via ini mau kemana?". Tanya Rafa sedikit keras karena suaranya terbawa angin


"Ke cafe gue, buruan ngebut". Rafa pun melajukan motornya dengan kecepatan tinggi


Sesampainya di depan cafe Olivia dapat melihat kondisi cafe yang sangat berantakan banyak barang yang pecah dan meja kursi ada yang patah, sedangkan Rafa melongo melihat kondisi cafe yang sangat kacau akhirnya Olivia dan Rafa masuk, didalam juga tak kalah kacaunya.


"Nona". Panggil Livia


"Kak ini sebenarnya apa yang terjadi kenapa cafe bisa kaya gini kaya kena gempa bumi aja". Ucap Olivia sedikit mencairkan suasana


"Maaf nona tadi ada sekelompok preman yang datang dan tiba tiba membuat kerusuhan".


"Preman?, kenapa gak lapor polisi?". Tanya Rafa dingin dan datar


Livia menelan salivanya kasar "M..maaf saya gak kepikiran karena bingung satu satunya yang terlintas hanya Nona Olivia".


Olivia menghela napasnya kasar "Sebenarnya apa yang terjadi". Batin Olivia sendu


"Oh iya kak saya mau cek cctv yang tersembunyi". Ujar Olivia


"Emm loe kalo mau pulang bisa pulang sekarang, maaf merepotkan dan terima kasih". Olivia tersenyum tulus

__ADS_1


"Ngusir?". Tanya Rafa menaikkan sebelah alisnya


"B..bukan seperti itu mungkin loe lelah".


Rafa menggeleng "Gue nungguin loe aja". Olivia mengangguk karena ia sedang malas untuk berdebat


Olivia, Livia dan Rafa sudah berada di ruangan milik Olivia, mereka menatap serius layar laptop didepannya yang menayangkan kejadian tadi.


"Kak loe tau gak orang orang ini?". Tanya Olivia ke Livia


"Gak tau".


"Kalo loe?". Tanya Olivia ke Rafa


Rafa menggeleng "Menurut gue mereka cuma preman biasa". Ucap Rafa datar, Olivia menaikkan sebelah alisnya tanda meminta penjelasan


"Diliat dari pakaiannya, kalo dari sebuah gengster pasti ada atribut khusus". Olivia mengangguk membenarkan


"Tapi gimana kalo nyamar jadi preman biasa". Celetuk Livia


"Gue bakal cari tau lebih dulu, dan untuk kerusakan ini nanti ada orang yang akan memperbaikinya nanti kakak awasi ya". Ucap Olivia


"Oke, eh iya loe masih diteror?". Tanya Livia


Olivia mengangguk "Dan belum ketemu sampe sekarang".


"Teror?". Ulang Rafa, Olivia dan Livia mengangguk


"Isinya apa?".


"Banyak, ada boneka rusak, binatang mati sama tulisan 'mati' atau 'hancur' gitu". Jelas Olivia


"Gue ada kenalan seorang hacker kalo loe mau gue bisa bantuin".


"Boleh dicoba juga, orang kepercayaan gue bahkan anak buah papi gue udah nyari tapi belum ketemu juga".


"Serahkan semua ke gue". Olivia hanya mengangguk pasrah


"Udah sore nih, kita pulang dulu ya kak". Pamit Olivia


"Iya hati hati".


Diperjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali, mereka hanyut dalam pikiran mereka masing masing dan tidak terasa sudah sampai didepan rumahnya Olivia.


"Loe gak turun?". Tanya Rafa melihat ke arah spion


"Eh, udah nyampe ya".


"Gak usah dipikirin, gue bakal bantu loe".


"Emm iya, makasih ya".


Rafa mengangguk dan melajukan motornya, setelah bayangan Rafa sudah tidak terlihat lagi baru Olivia masuk.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2