
"Masih ketawa?". Tanya Rafa datar
Setelah kejadian Rafa meminum minuman yang khusus untuk wanita tadi akhirnya Olivia menjelaskan dengan kikuk apa manfaat minuman itu, untuk apa minuman itu dan untuk siapa minuman itu setelah mendengar penjelasan dari Olivia, Rafa seketika panik dan langsung menarik Bu Laras untuk memeriksanya ia takut jika akan kedatangan tamu bulanan juga meskipun mustahil.
Dan sekarang Rafa sedang berada dirumah Olivia duduk santai diruang tamu dengan Olivia yang menjadikan pahanya sebagai bantal, entah sejak kapan Olivia jadi manja seperti ini kepadanya meskipun begitu ia sangat menyukainya itu tandanya Olivia sudah menerima akan kehadirannya.
"Hehe habis lucu". Jawab Olivia cengengesan
"Bukan lucu tapi memalukan". Bantah Rafa cepat
"Pacaran terossss". Celetuk Ozan tiba tiba dan duduk di sofa single
"Siapa juga yang pacaran". Ucap Olivia sembari bangkit duduk
"Apa tuh?". Tanya Olivia mengalihkan pembicaraan dan kebetulan ia melihat seperti sebuah undangan ditangan Ozan
"Nih undangan nikahannya Bang Satria sama Kak Livia". Sambil meletakan undangan yang berbentuk seperti amplop tersebut diatas meja
"Wahh jadi nikah ternyata gue kirain batal, tapi kok gak ngasih ke gue langsung gini gini gue bos nya Kak Livia ya". Ujar Olivia tidak terima
"Ck mulutnya, kemarin kan ditunda bukan batal, ya mana gue tau soal itu".
"Dah ah gue mau ngelanjutin nge endorse lagi". Lanjutnya lalu berlalu pergi
Olivia menatap Rafa ragu ragu, sadar sedang ditatap Rafa pun bertanya.
"Ada apa?". Tanyanya lembut
"Emm gue eh maksudnya aku boleh minta tolong gak?". Tanya Olivia sambil memainkan jarinya, Rafa yang melihatnya malah jadi gemas sendiri
"Minta tolong apa, kalo aku bisa bakal aku bantu".
"Tolong jadi pasangan ku pas ke nikahannya mereka ya". Dengan menunjukkan tampang melasnya
Rafa tertegun sebentar mencerna ucapan Olivia barusan, jika Olivia mengajaknya apalagi ke acara nikahan dan jadi pasangannya berarti Olivia sudah mulai nyaman dengannya dan itu bagus dari pada tidak sama sekali.
"Kenapa diam, gak mau ya?".
"Mau". Jawab Rafa cepat
"Bahkan jadi pasangan beneran mau gak cuma jadi pasangan kondangan". Imbuhnya
__ADS_1
Olivia memalingkan wajahnya karena tiba tiba saja pipinya terasa panas, ia merutuki dirinya sendiri padahal hanya sekedar ucapan tapi sudah berhasil membuat pipinya merah, bahkan dulu waktu bersama Aldo ia jarang seperti ini.
...----------------...
Hari bersejarah Satria dan Livia pun akhirnya tiba setelah kemarin sempat ditunda terlebih dahulu karena suatu hal.
"Gimana, gugup ya?". Tanya Mama Jeni tersenyum menggoda sembari berjalan mendekati putrinya yang sudah terlihat cantik
"Ahh mama pake ditanya lagi".
Mama Jeni terkekeh "Kenapa gugup sih, lagian yang ngucap ijab kabulnya kan bukan kamu".
"Justru itu mah aku takut Mas Satria salah waktu ijab kabulnya". Semakin gelisah saja Livia
"Kamu percaya aja sama calon suami kamu, perbanyak doa semoga lancar sebentar lagi dimulai tuh". Ujar Mama Jeni, Livia pun mengangguk
Tak lama kemudian terdengar suara seseorang mengucapkan ijab kabul dengan sekali tarikan nafas melalui pengeras suara.
"Sahhhhh".
Livia pun terharu sampai meneteskan air mata, ia tidak menyangka sekarang ia sudah resmi jadi seorang istri.
"Mama, aku udah jadi istri". Mama Jeni hanya mengangguk dan tersenyum
"Ayo temui suami mu dulu". Mama Jeni menuntun Livia keluar dari kamar
Tampak Satria dengan gagah menggunakan baju khas pengantin berwarna putih dan peci yang berwarna senada duduk didepan Papa nya Livia.
Dalam hati Livia terpesona dengan penampilan Satria hari ini begitupun Satria juga terpesona dengan Livia bahkan matanya tidak lepas memandangi Livia yang berjalan ke arahnya sampai duduk disampingnya, sadar ditatap terus oleh Satria yang sekarang sudah menjadi suaminya ia hanya menduduk malu.
Dengan malu malu Livia mengambil tangan Satria yang disodorkan ke arahnya lalu menciumnya, setelah itu Satria mencium kening Livia lama dan dengan cepat Satria mencium bibir Livia sekilas hal itu sukses membuat seluruh keluarga bersorak dan Livia pun reflek mencubit pinggang Satria, Satria hanya tersenyum menatap Livia dan dibalas oleh Livia.
"Ekhemm nanti lagi ya tatap tatapannya sekarang tanda tangani dulu buku nikahnya". Celetuk penghulu membuyarkan adegan tatap tatapan tersebut dan kembali disambut gelak tawa keluarga kedua belah pihak, Satria tersenyum canggung dan Livia semakin menunduk
"Jangan menunduk nanti mahkota mu jatuh". Bisik Satria disamping telinga Livia
Mereka pun segera menandatangani berkas dan mengambil gambar dengan menunjukkan buku nikah dan mahar.
Pada siang harinya acara resepsi dilanjutan di hotel ternama dikota itu dengan tema internasional, padahal acara akan dimulai setengah jam lagi tapi para tamu sudah berdatangan.
"Kamu ngapain sih liatin aku terus". Ucap Livia menatap Satria dari pantulan cermin didepannya
__ADS_1
"Bebas dong toh istri sendiri, emang kamu mau aku liatin tukang make up nya?". Ujar Satria melirik tukang rias yang sedari tadi sibuk merias istrinya itu
Livia hanya geleng geleng kepala menanggapinya sedangkan tukang rias yang sempat disebut hanya menahan senyumnya.
"Kamu udah hubungi Oliv belum?". Tanya Livia
Satria mengangguk "Udah nih, katanya lagi nungguin pangeran kuda putihnya".
"Pangeran kuda putih, siapa?".
"Gak tau, ada ada aja tuh anak".
"Yihuuu udah kelar belum, ayo capcus pengantin wanitanya ganti baju nih eyke udah siapin". Ucap seseorang yang tiba tiba masuk tanpa permisi
"Eh mas ganteng ayo ganti baju, eyke bantuin". Imbuhnya sambil mengedipkan sebelah matanya
Satria bergidik ngeri melihat makhluk jadi jadian ini, kenapa ada makhluk seperti ini diacaranya, pikirnya.
"Gue bisa sendiri". Satria berjalan cepat ke kamar mandi yang dikamar sebelah setelah merampas baju pengantinnya dari tangan orang itu
"Ihh eyke makin suka deh sama yang malu malu kucing gini hihihi". Ujarnya cekikikan
"Dia takut sama loe bukan malu". Celetuk salah satu perias yang sibuk menata rambut Livia
"Ihh syirik aja ye, wah pengantin wanitanya cantik banget kaya Maria". Livia hanya tersenyum kaku
"Udah selesai sekarang tugas loe pasangin tuh bajunya".
"Ashiappp".
Livia membelalakan matanya, ganti baju sama dia? oh no, walaupun Maria setengah laki laki setengah perempuan tapi dia tetap laki laki kan.
Maria sadar akan keraguan Livia, tidak heran karena setiap pengantin yang akan ganti baju dan dibantu olehnya maka pasti bereaksi seperti pengantin ini.
"Ye tidak perlu takut, eyke doyan terong kok".
"Em boleh gak kalo mbak periasnya juga ikut". Ujar Livia canggung
Setelah salah satu periasnya setuju, akhirnya Livia digiring ke kamar mandi yang ada dikamar itu.
Bersambung..
__ADS_1