
" Wulan tolong kamu jemput Khalid dulu ya aku mau nganterin upah para pemetik teh dulu sekalian kamu beli sayur dan buah buat isi kulkas ".
"Ok" kata Wulan sambil berjalan keluar.
"Jangan bawa motor bawa mobil ajak suami mu" teriakku.
"Nggak mau aku ajak dia " kata Wulan yang kembali masuk mengambil tas kecilnya sepertinya kelupaan.
Sehabis keadaan ku dan putraku membaik aku memutuskan tinggal di perkebunan, mengurus perkebunan membuka klinik disini di bantu Suter Ria dan Wulan,dan setahun lalu Wulan menikah dengan Raihan , Raihan anak buruh pemetik teh yang di biayai kuliah oleh opa dan setelah dapat gelar sarjana pertanian dia mengabdi kan ilmunya untuk pertanian.Saat ini Wulan sedang hamil muda tapi tidak mau berdekatan dengan Raihan sama sekali dan itu menjadi bahan bullying buat kami saat berkumpulp.Raihan yang mengatur dan mengurus semua hal tentang perkebunan dan peternakan sejak opa meninggal enam bulan lalu.
"Ada apa Mba" kata Raihan menghampiri ku.
"Itu istri mu tak suruh jemput Khalid kan waktu nya pulang sekalian belanja sayur dan buah-buahan tak suruh ngajak kamu malah kabur " ucapku.
"Punya istri udah kaya gak punya istri aku sebulan ini tidur sendiri, makan sendiri nasib nasib nasib nasib " keluhnya.
"ha ha ha di syukuri saja" kata ku melangkah pergi saat Raihan juga melangkah ke garasi pasti seperti biasa ngikutin istri nya.
"Kenapa rame sekali " ucap laki-laki berseragam.
"lapor komandan hari ada kunjungan dari anak anak taman kanak-kanak"
"O pantes rame,ya sudah lanjutkan"
"Siap komandon "
"Gimana adik-adik ada ingin di tanya kan ke pada bapak dan ibu polisi disini setelah tadi melihat lihat " ucap ibu guru.
"Mami ku polwan aku mau menemui mami ku boleh" tanya bocah yang usianya belum genap 5 tahun.
"hai Khalid kan bundamu cuma pembuat teh jangan ngaku ngaku mami mu polwan " ucap temannya.
"hhuiu" sapa anak yang lain.
"kan Khalid emang punya banyak ada mami,mama,bunda emang salah " Kata anak bernama Khalid.
"Adek Adek tidak boleh menghina teman ya".
"kalau tidak percaya aku hubungi mami ku" kata Khalid mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya, meski masih lima tahun Khalid sudah bawa ponsel sendiri ponsel model lama yang hanya bisa buat bertelepon dan setiap no punya nama ,no1.bunda no2.mama Wulan no 3.papa Raihan no 4. mami Ayu no 5.papi Dewa no.6 kakek Akas jadi kalau dia mau telepon langsung pencet angka mana yang mau di telepon.
"assalamualaikum mami"
"waalaikumsalam jagoan mami"
"mami Khalid lagi berada di kantor polisi kota mami bisa ke sini nggak"
"ngapain Khalid di sana" tanya wanita yang di sebrang telepon kuatir.
"sekolahku mengadakan kunjungan mami"
"Jagoan ponsel nya bisa dikasih ke salah satu bapak atau ibu polisi di situ nggak kami mau bicara"
__ADS_1
"ok mami "
"Bu polwan mami ku mau bicara"Khalid memberi kan ponselnya pada polwan yang tadi menemani berkeliling dan polwan tersebut pergi beberapa langkah untuk mengangkat telepon yang masih tersambung tersebut tidak sampai sepuluh menit seorang wanita berpakaian polisi berpangkat iptu itu mendekati mereka dengan nafas ngos-ngosan.
"kamu sejak kapan di sini , Bundamu tau tidak kamu ada kegiatan di sini "tanya sang polwan secara berurutan.
"mami kalau tanya satu satu dong bunda tidak tahu aku ada kegiatan di sini"
"sekarang kamu izin ke Bu gurumu kamu ikut mami, ayo mami antar"
"Aku laki-laki mami nggak perlu diantar ,laki-laki harus berani laki-laki jagoan tidak boleh takut" Ayu hanya meringis melihat tingkah menggemaskan bocah lima tahun itu, bocah yang dia lihat perkembangannya dari di ruang perawatan selama beberapa bulan sekarang sudah tumbuh lucu dan menggemaskan,meski keluarga Anin tidak menuntut Gisna tapi mereka tetap mengumpulkan bukti jika suatu saat bisa berguna, tanpa Ayu sadari semua pergerakan nya dan bocah lima tahun itu selalu di perhatikan seseorang.
"bukannya iptu Ayu masih Single ya"
"iya pak, kalau ga salah itu putra dari sepupu calon suami ayu "
"Ayu calon suami nya orang sini,"
"Bukan ukan pak seorang pilot tinggal di Jakarta tapi selalu kesini mengunjungi sepupunya" sang calon Kapolres baru itu hanya mengagukan anggukan kepala nya.
"Anak nya ganteng pasti Mak bapak nya ganteng juga ya ndan kalau komandan punya anak pasti juga seganteng anak itu".
"biasa aja kamu"
"ko mukanya sekilas mirip ya ndan sama komandan hanya warna kulit yang beda kulit nya tu bocah putih bersih, komandan kan coklat"
"kamu itu ada ada aja, tar bapaknya marah dengernya dikira bapaknya mamanya selingkuh sama aku" ucap sang atasan,ke dua polisi bawahan dan atasan itu berjalan meninggalkan anak anak yang sedang mendengarkan beberapa pengarahan tentang lalu lintas .
"kamu duduk sini, jangan kemana-mana" aduh bisa gawat kalau kamu ketemu Kapolres baru itu, bunda mu bisa marah tar gerutu Ayu .
"Gimana kalau kita beli Es krim aja,di swalayan depan ,tapi mami harus nyelesain kerjaan mami dulu kamu gak boleh ganggu gimana " ucap sang polwan.
"siap komandon"
"Ahkirnya selesai juga"
"lama tau " dengus sang bocah.
"Dasar bocah, ayuk buruan gimana gak lama kamu gagu mami Mulu" kata Ayu sambil menggandeng Khalid ke luar area polres.
"Ayu apa kabar"
"baik komandan"
"ah kamu yu kita pernah satu tim biasa kali yu"
"Tapi sekarang kita bukan satu tim, kita atasan dan bawahan pak" kata Ayu sopan sambil menyembunyikan bocah itu di belakang nya.
"Mami apa apa sih masak aku suruh lihat kaki mami"melepaskan diri dari Ayu dan membuat sang ajudan Kapolres melotot melihat bocah itu dari dekat sangat mirip dengan atasan nya.
"Buruan beli es krim nya mama dan papa mau jemput"potong Ayu cepat sebelum bocah itu protes lagi.
__ADS_1
"mohon ijin pergi dulu komandan" ucapan sebelum meninggalkan sang atasan.
"iiiya" ucap sang atasan setengah tak yakin dengan apa yang baru dilihatnya.
"Ndan kalau dari dekat mirip komandan banget, aku percaya sekarang kalau kita memiliki tujuh kembaran di dunia ini, komandan harus bersyukur melihat duplikat komandon versi kecil nya"
"Ngomong apa sih ayok kita makan siang dulu "
"Mama sama siapa jemput " kata Khalid ketika ketemu Wulan di minimarket.
"sama sopir "
"ga sama papa "
"ini papa " ucap Rahan yang tiba-tiba muncul.
"ih kok mas ngikutin aku sih" ucap Wulan kesal.
"Mas kan kuatir" ucap Raihan sambil memeluk istrinya.
"ih kalian ya, ada aku di sini loo sama Khalid" ucap Ayu.
"sono segera nikah"
"hmm gimana mau nikah Abang gw gak mau nikah nikah" keluh Ayu.
"ha ha ha"tawa Wulan dan suami nya membuat Ayu langsung memukul bahu Raihan.
"Itu kalau berani ngetawain gw"
"Pantes Dewa gak segera nikahin lo cewek cantik tapi babar" ucap Raihan.
"Udah jangan berantem kita makan dulu aku mau makan di stik daging yang enak di mana" ucap Wulan.
"Aku tau tapi suami Lo yang bayar"ucap Ayu.
"siap aku baru di transfer sama mba Anin duit banyak"
"Halah lagumu emang aku ga tau itu uang operasional perkebunan dan peternakan" cibir Ayu.
"Gak tau aja kamu gaji ku lebih gede dari kamu" ucap Raihan percaya diri.
"Percaya gw percaya "
"kalian gak malu sama umur berantem di depan anak kecil " kata kata Wulan membuat mereka saling mencebik
"Aku bukan anak kecil, aku Laki-laki dewasa "marah Khalid, membuat ketiga orang dewasa itu tertawa.
" ok sekarang kita empat orang dewasa akan makan steak bersama sama sama"
"Beli Es krim dulu mami udah janji mau beliin es krim Lo" ucap Khalid menagih janji Ayu.
__ADS_1
"oke mami beliin es krim dulu habis beli es krim kita makan steak"
"hore hore aku mau mau"seru bocah lima tahun itu heboh.