
" Apa itu Wan"
" Undangan pernikahan Iptu Ayu, komandan tidak Diundang" ucap Iwan.
"Iya iya kok aku nggak diundang kami dulu pernah bekerja jadi satu tim lo,padahal" ucap Dito heran.
" komandan mau ke mana" tanya Iwan saat melihat Dito berdiri dan melangkah keluar ruangan nya.
" Mau minta undangan lah masa aku nggak diundang sendiri" ucapnya.
" Yakin nggak ada maksud lain" goda Iwan.
" Maksudmu apa ya" tanya balik Dito.
" Emang saya tidak tahu apa komandan kalau calon suaminya Ayu itu sepupunya mantan istri komandan kangen bilang dong" Dito tidak bicara apa-apa langsung pergi meninggalkan ruangannya, hanya kepada sang Ajudan Dito bisa bercanda dan ramah.
" Yu kamu mau menikah Kok aku nggak diundang kamu udah nggak anggap aku teman lagi ,kita pernah bekerja satu tim loh kurang lebih selama 2 tahun"
" Bukan begitu Pak, bapak kan orang sibuk takut mengganggu waktunya" kata Ayu merasa tak enak ,apalagi semua teman di ruangannya melihat ke arahnya.
" Kamu bisa aja kita kan pernah bekerja satu tim selama 2 tahun terus calon suamimu kan juga pernah menjadi saudaraku" Kata Dito santai.
" Ini Pak undangannya" ucap Ayu tidak mau pusing dengan tingkah atasannya.
" Saya pasti datang"
" Ndan kok ngelamun dipanggil diem aja" ucap Iwan mengagetkan Dito yang lagi bersantai di rumah dinasnya.
" Besok acara pernikahan Ayu aku cuma mengingat-ingat Kenapa kok dia tidak mengundangku dia tidak akan ngasih undangan kalau aku tidak memintanya kemarin".
" Menurut komandan ada yang sengaja ditutupin nggak" tanya Iwan.
" Mana ku tahu".
" komandan Ingat nggak dengan anak yang saya bilang mirip komandan itu".
" Yang tempo hari dapat perunggu di kompetensi taekwondo" ucap Dito memastikannya.
" Iya benar sekali".
" Ada apa emangnya"
" Saya pernah mendengar dengan telinga saya sendiri anak itu menyebut mantan istri komandan dengan sebutan Bunda" ucap Iwan.
__ADS_1
" Bukankah waktu pertama kita bertemu bocah itu juga memanggil Ayu mami dan waktu di rumah makan memanggil Wulan dan suaminya mama papa mungkin anak adopsi kali"kata ku berusaha menyangkal.
" kok anak adopsi bisa mirip komandan ya" ucapnya,iya iya aku juga pernah melihat dia bersama dengan Dini dan Dino akrab sekali kataku dalam hati.
" Apa komandan tidak berniat mencari tahu identitas orang tua kandung bocah itu" Dito cuma mengangkat Bahunya acuh mendengar ucapan ajudanya.
" Terus ntar rencana komandan menghadiri acara pernikahan dengan siapa".
" Ya kamulah dengan siapa lagi" jawab Dito.
" komandan masih normal kan".
" Sialan kamu ya Masih norma lah aku" seru Dito kesel.
" Habis sejak bercerai komandan tidak pernah jalan sama perempuan Padahal sebelum bercerai gonta-ganti wanita".
" Aku masih normal cuma semenjak bercerai kayaknya nafsuku agak menurun tidak menggebu-gebu seperti dulu " ucap Dito.
" Wah perlu diperiksakan itu komandan".
" Dari tadi kamu ngeledek aku terus, padahal kamu juga jomblo" jawab Dito.
" Gimana Saya tidak jomblo 24 jam komandan ganggu hidup saya terus jadi kan saya nggak sempat nyari perempuan"kesel Iwan.
"komandan kan punya tuh dua adik perempuan Dini dan Anggraini please dong komandan kenalin Siapa tahu salah satunya jodohku" sontak Dito tertawa mendengar ocehan sang ajudan.
" Jadi diam-diam kamu mengincar adikku juga" ledek Dito.
" saya laki-laki normal komandan lihat cewek bening masa nggak suka" dengus Iwan.
" Kalau suka ya berusaha berjuang" ucap Dito.
" kalau dapetin cewek mudah tidak ada sensasi berjuangnya ntar kamu cepat bosan"
" Wah sepertinya pengalaman pribadi ya"
" Sudahlah nggak ada habisnya bahas masalah pribadi ayo kita berangkat acara meeting nya bentar lagi dimulai" kalau sampai di pernikahan Dewa nanti aku ketemu bocah itu dan ada yang tidak beres dari keluarga Anin ,aku akan mencari tahu siapa bocah itu kata Dito dalam hati sambil berjalan keluar.
Hari ini hari pernikahan Dewa dan Ayu semua keluarga besar Wira berkumpul, Ayah bersama istri barunya yaitu mama Wulan ,adik Wulan Satria juga hadir. ada juga tante Lili dan Om Angga beserta kedua jagoannya Bima dan Juna ,meski Oppa dan Oma sudah tiada tapi setiap ada momen lebaran dan momen pernikahan kayak gini Kami masih suka berkumpul bersama.Ayah yang dianggap paling tua ,jadi setiap ada acara kumpul keluarga selalu di tempat tinggal ayah mau itu rumah dinas maupun di rumah pribadi ayah, karena pernikahan Dewa dan Ayu di diadakan di kediaman Ayu di Bandung maka keluarga besar berkumpul di perkebunan di rumah utama bekas rumah opa dan oma.
" Mbak mau bawa mobil sendiri apa mau nebeng" tanya Wulan padaku.
" Aku bawa mobil sendiri aja berdua dengan Khalid ,Ayah bawa mobil sama tante dan Satria " meski Ayah sudah menikah dengan mama Wulan dan aku juga merestuinya tapi enggan Mulutku untuk memanggilnya Mama, Bunda ataupun Ibu aku lebih nyaman memanggil dia tante dan dia juga tidak keberatan, ayah menikah dengan mamanya wulan karena diminta opa juga kasihan karena hidup sendirian Satria pendidikan. Wulan menemaniku di perkebunan selama ini mama Wulan bekerja di rumah Ayah, mereka tinggal di rumah berdua dengan status Janda Dan Duda dipandang orang negatif atas perintah opa akhirnya mereka menikah.
__ADS_1
" udah siap sayang" kataku begitu melihat Khalid keluar dari kamarnya.
"Ready bunda let's go" kata Khalid berjalan ke arah ku.
"Khalid mama mau bicara mungkin nanti Khalid akan ketemu ayah di sana"aku berhenti bicara dan mengambil nafas sambil berpikir mencari bahasa yang mudah dipahami oleh anak seumurnya.
" kenapa kalau ketemu ayah kemarin waktu penyerahan mendali Aku juga udah bersalaman sama ayah biasa aja" katanya santai sebelum aku mulai bicara.
" Apa Khalid ingin Ayah tahu tentang keberadaan Khalid"tanya Anin hati hati.
"Apa Bunda siap menerima konsekuensinya"
"maksudnya"
"kata om Dewa ,Bunda belum siap ngasih tau Ayah karena takut Ayah marah sama Bunda,"
"Hah" kaget ku mendengar ucapan Khalid.
"Iya kalau sampai ayah tahu,pasti ayah marah marah sama Bunda karena menyembunyikan aku,begitu kata om Dewa"aku hanya bisa nyengir mendengar alasannya,ada ada aja si Dewa ngasih alasannya.Kita sampai paling terahkir karena sampai di sana pengantin sudah duduk di pelaminan.
" Itu kakek" kata Khalid menunjuk sebuah meja bulat di sana sudah ada ayah ,mama Wulan, Wulan,Raihan yang sedang memangku Vina dan Satria.
" Sini jagoan Kakek duduk sama kakek, mau dipangku nggak".
"Khalid sudah dewasa sudah bisa duduk sendiri kakek"kata Khalid sambil. mencium semua tangan orang dewasa di meja itu.
"Tapi bagi kakek tetap cucu kakek yang paling kecil " kata ayah sambil mencium pipi Khalid.
"Banyak juga undangan nya ya"kata Wulan.
"ya maklum orang tua Ayu semua pejabat dan orang tua Dewa rekan bisnisnya banyak"kata Raihan.
"Bunda aku mau nyapa opa oma boleh"tanya Khalid membuat semua orang melihat kearah ku.
"iya sayang " setelah aku beri ijin Khalid langsung berlari ke sana,nampak di meja mama Arin dan papi ada dua orang laki laki lagi ngobrol sama mereka tapi aku tidak tau,karena hanya punggung mereka yang terlihat.
" Ayah sebentar lagi pensiun tinggal menghitung berapa bulan rencananya Ayah mau menetap di perkebunan aja, karena itu aku minta kita semua nanti malam apa besok waktu habis sarapan pagi kita berkumpul ada yang ingin Ayah sampaikan kepada kalian" kami yang duduk di sana tidak menjawab Tapi semua mengagungkan kepala baik itu aku ,Satria ,Wulan Dan Rehan.
" itu MC memanggil Ayo kita foto dulu" kata ayah.
" sebaiknya mas dan Anin yang maju karena itu foto khusus keluarga Wira" akhirnya kami maju tapi sebelum maju ke depan aku menyempatkan memanggil Khalid, tapi yang duduk di meja Mama Arin dan papa membuatku kaget, Dito dan ajudan duduk di meja itu jadi orang yang tadi membelakangi ku adalah mereka berdua.
" Sayang ayo kita foto dulu Ma Pa aku bawa ke depan dulu ya Khalid nya" kami berjalan ke atas pelaminan meninggalkan meja mama Arin dan papa aku sadar sejak aku memanggil Khalid itu tidak lepas dari memandang ke arahku.
__ADS_1