
"kamu nggak mau aku temenin masuk" kata Dewa saat ini aku udah di depan rumah dinas Dito.
"ini masalah rumah tangga kami tidak etis kalau aku membawa kamu dalam masalah ini"
"lagumu ngomong rumah tangga dia itu bukan suamimu lagi tapi mantan suami tidak ada istilah rumah tangga Antara kalian" dengus Dewa yang tidak menyukai Dito sejak tau Dito pernah deket dengan Gisna.
"hahaha iya betul katamu "kataku sambil tersenyum garing.
"udah sana masuk kalau ada apa-apa hubungin aku kalau minta jemput aku juga siap"
"nggak bakalan dia ngapa-ngapain di rumah dinasnya tuh banyak orang ada yang jaga lagan kalau pulang mah gampang ada grab ini" kataku sambil membuka pintu mobil dan keluar dari mobilku.
"misi pak saya ingin bertemu dengan Bapak Ferdidito bisa"
"Ada perlu apa ya Bu kalau boleh tahu dan dengan Ibu siapa ini" tanyanya sopan ,tapi belum sempat aku menjawab terlihat Iwan yang sedang keluar di rumah segera aku panggil namanya dan aku lambaikan tanganku.
"eh ibu nyari komandan Bu"
"ada orangnya "
"ada tadi baru main game sama Khalid, kalau mau ketemu mari saya antar sekarang sudah di ruang kerjanya"
"kalian ingat ya wajah ini ,ini ibunya Khalid" Kata Iwan membuat yang di pos jaga kaget dan melihat ke arahku serta langsung meminta maaf kepadaku.
"Bapak di dalam silakan masuk bu"
"Khalid sudah tidur "
"sepertinya sudah soalnya tadi sehabis ashar dia sempat main futsal sama bapak dan saya dan beberapa orang di sini sampai kelelahan"
"terima kasih , saya masuk dulu iwan"
tok tok Setelah terdengar kata masuk baru aku membuka pintu ruang kerja Dito.
"ada ada apa lagi sih Wan" katanya tanpa melihat ke arah pintu, karena aku hanya diam meski sudah terdengar pintu tertutup akhirnya dia melihat ke arahku.
"Kamu disini ayo duduk"
"aku tadi melihat grup sekolahan disana dikabarkan Khalid berkelahi dengan temannya " tanya Anin to the point.
"kenapa kamu tidak bertanya di grup itu sekalian kenapa alasan mereka berkelahi" katanya sambil duduk di sampingku.
"Makanya aku ke sini aku pengen tahu apa alasannya dia tidak pernah berkelahi ,tidak pernah bikin onar sebelumnya dan pastinya tadi kamu ke sekolahan Khalid."sebenarnya aku tau Dito ke sekolah juga dari group.
"jadi kamu menuduh ku gara gara tinggal bersamaku Dito jadi temperamental begitu"
__ADS_1
"Aku tidak bilang Kamu sendiri yang bilang "
"Jika kamu tidak tahu masalahnya kenapa Khalid sampai memukul temannya lebih baik kamu diam"katanya marah.
"Tapi Khalid anakku jadi aku ingin tahu kenapa anakku sampai memukul temannya"
"kalau dia anakmu Kamu harusnya tahu dong sifatnya kayak apa, tidak mungkin dia memukul temannya jika tidak ada sebabnya" seketika aku terdiam iya Khalid bukan orang yang suka memulai mm masalah dia tidak akan terpancing kalau tidak ada yang mancingnya.
"kenapa diam hmmm harusnya kamu bertanya apa sebabnya Khalid memukul temannya itu, bukan datang datang menuduh gara-gara aku " katanya menatap tajam kearah ku.
"maaf " cicitku.
"Temannya bilang ayahnya tidak jelas yang mana karena bundanya cantik jadi sering berganti ganti laki-laki" seketika aku mengangkat kepalaku melihat ke arahnya.
"karena kamu sering ke sekolahan dengan berganti-ganti pasangan ibu-ibu yang sedang menjemput anaknya mengira semua itu adalah pacar-pacaran mu" Selama emang banyak yang jemput Khali Raihan,Dewa,Dino, Arjun,Andreas, Rendy Aaah kenapa jadi masalah kaya begitu gerutuku dalam hati.
"gila "umpatku tapi seketika aku ingat di grup tadi ada yang berkata bahwa aku sekarang sedang mendekati Bapak Kapolres coba kalau mereka tahu Ayah Khalid sebenarnya.
"Siapkan barang-barang Khalid sekarang juga mulai sekarang Khalid akan tinggal ke rumah Ayah dan mulai besok masuk sekolah akan di antar sopir atau nggak ayah" ucapku.
"Aku baru tinggal sama Khalid dan sekarang sudah mau kamu pisahkan apa mau sebenarnya" katanya sambil mendekat ke arah aku hingga membuatku menggeser dudukku pelan-pelan menepi.
"Aku tidak mau gosip akan semakin parah jika kamu mau cukup kamu temuin di rumah dan jika mau ngantar jangan turun dari mobil bagaimana" kataku mencoba membuat kesepakatan dengan Dito.
"kenapa aku harus mengikuti idemu aku Ayahnya bukan pacar-pacarmu itu"
"Oya aku penasaran gimana cara kamu menggoda ku" katanya dengan senyum mesum.
"Apa apa maksudmu"kataku terbata bata.
"Aku ingin tahu cara mu menggoda ku" melihat wajah mesumnya seketika aku berdiri tapi belum sempat aku melangkahkan kakiku Dito sudah menarik tanganku hingga duduk dipangkuan nya.
"Apa maumu "kataku gugup.
"Kamu yang menggoda aku atau aku yang menggoda kamu" katanya sambil mendekap ku hingga aku tak bisa bergerak, karena posisi dudukku yang miring aku putuskan melihat lurus kedepan aku tidak berani menoleh ke arahnya, jika aku menoleh pasti muka kami akan berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
"Kamu sungguh tidak sopan tidak menghargai ku seharusnya jika bicara itu melihat lawan bicaranya"katanya dengan sesekali meniup daun telingaku yang berada beberapa cm di depannya.
"Kamu berdebar ya seperti ABG yang baru pacaran sama aku juga berdebar" ucanya, sialan umpatku dalam hati.
"Orang kaya kamu mu emang pernah berdebar bukan kamu suka main sosor dengan wanitamu" kataku ketus mengingat waktu Dito mencium Gisna panas beberapa tahun yang lalu.
"Aku tidak pernah main sosor pada wanita para wanita yang suka main sosor padaku" kali ini aku merasakan nafasnya tepat di leherku.
"Hanya Kamu perempuan yang selalu igin aku sosor duluan " katanya membuatku spontan menoleh kearahnya dan lansung di sambut bibinya tepat ke bibirku hanya hitungan sedetik aku rasakan bibirnya langsung melahap bibirku seolah bibirku makan yang sangat enak aku yang kaget hanya bisa pasrah saat Dito dengan ganasnya memasukan lidahnya kedalam mulutku hingga aku sadar dan berusaha mendorong dadanya tapi karena aku kalah tenaga ahkirnya aku gigit bibirnya hingga dia kesakitan dan melepaskan ciumannya tapi masih tetap mendekap erat tubuhku.
__ADS_1
"Menurutmu sekarang siapa yang tergoda" ucapnya.
"lepaskan aku brengsek "makiku.
"Kamu seorang ibu tidak boleh berkata kasar".
"Please Dito lepaskan aku " ucapku dengan sedikit memohon.
"Bagaimana aku bisa melepaskan mu kalau akulah yang kau ikat dari dulu".
"Kamu jangan gila Dito"
"Aku gila saat mendengar kamu dihina orang hanya karena status jandamu "
"Aku tidak suka saat anakku dikatakan ayahnya tidak jelas" katanya dengan nafas memburu menahan amarah .
"Biarkan aku menebus semua kesalahanku " ucapnya lirih.
Aku hanya bisa diam mendengarkan semua keluhan yang dikatakannya , aku tahu aku salah karena sudah menyembunyikan Khalid darinya, tapi aku juga sadar bahwa waktu tidak dapat aku putar.
"Aku mau lihat Khalid," ucapku berusaha menghindar.
"Tapi jangan bawa dia pergi,ini bukan ancaman tapi perintah ".
"Emang Lo siapa main perintah " gerutuku.
"Saat ini aku bukan siapa siapa bagi mu aku hanya Ayah dari Khalid Mahardika tapi aku bisa memaksa mu menjadi istriku lagi "
"Jangan harap " kataku judes.
"Oya mau aku praktekkan, disini cuma kita berdua di ruangan ini juga kedap suara aku rasa jika aku memaksamu .."belum selesai Dito bicara aku segera injak kakinya dan langsung berdiri.
"hahaha "tawanya kencang bukan kesakitan malah tertawa dasar gila.
"Siapa sih yang milih lo, kayanya salah milih lo jadi Kapolres deh"
"Salah dimana nya gw kompeten"
"Salah karena Lo gila "
"Hahaha gw gila juga cuma sama kamu "Katanya sambil menarik tanganku keluar dari ruang kerjanya.
"Mau ngapain"tanyaku saat sudah di depan sebuah kamar.
"Mau bikin anak"katanya sambil tersenyum mesum, membuatku berontak melepaskan tanganku yang digenggamnya membuat dia ketawa lepas.
__ADS_1
"Aku masih punya akal sehat tidak mungkin aku membuat anak tanpa ikatannya resmi bukannya kamu ingin Ketemu Khalid,Khalid tidur di depan, masuk lah aku mau melanjutkan pekerjaanku,tapi ingat jangan bawa Khalid tanpa ijin ku"