
Kehamilan kali ini terasa berat daripada kehamilan pertamaku dulu , tetapi kali ini aku tidak sendirian ada Dito yang siaga menuruti segala keinginan dan membantu aku mengerjakan apa saja.
" Masih terasa mual tidak" ucap Dito menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal.
"Udah mendingan aku mau tidur dulu" ucapku sebelum tidur, beginilah kegiatanku di pagi hari setelah salat subuh aku selalu mual dan muntah dan habis itu akan tertidur sampai pukul 09.00 pagi. Aku bisa beraktivitas normal seperti biasanya Setelah pukul 09.00 pagi.
" Kamu belum berangkat" ucapku pada Dito yang baru masuk ke dalam kamar kami.
" Udah tapi kembali pulang mengambil beberapa baju. Aku mau ada kerjaan ke Surabaya pulang nanti malam kalau pesawatnya masih keburu, kalau gak bisa besok pagi , tidak apa-apa ".
" Nggak apa-apa ada bibi, yang menemani ku".
" Apa Khalid aku suruh pulang saja". Khalid saat ini berada di Bandung menikmati liburan tanggal merah.
"Tidak usah aku tidak apa-apa hanya di saat pagi doang mual ku" ucap ku sambil berdiri dan menyiapkan beberapa baju yang Dito bawa.
"Terima kasih " ucap Dito sambil memelukku dari belakang dan meletakkan dagunya di bahuku.
deg deg deg jantungku berdebar sangat kencang mendengar ucapannya.
"hmm" jawab ku sambil melepaskan pelukannya.
Setelah semua siap Dito berangkat bersama Ical dan aku juga berangkat ke kampus, sejak hamil aku hanya fokus menyelesaikan S2 ku.
Kenapa sih kamu tidak cuti kuliah saja" ucap Dewi kebetulan kita 1 kampus , tapi Dewi tinggal menunggu wisuda.
" Kalau aku cuti entar mau lanjut lagi aku udah males".
" Lo nggak mau ambil cuti nyampe kapan masa lu mau lahiran di kampus" omel Dewi.
" Tidak mungkin nanti kalau udah menginjak minggu ke-36 aku akan mengambil kelas online".
" Apa Paman Akas dan suami tidak protes".
" protes keras bahkan Dito bilang aku nggak perlu lanjut S2 dan Ayah setuju".
" Terus ko masih di ijinkan sampai sekarang ".
" Aku mogok bicara sama ayah dan Dito dan ternyata sangat manjur ".
" hahaha dasar bumil ".
Aku pulang berdua dengan Dewi, karena mobilnya di tinggal diparkiran karena mengalami ban bocor.
" Jangan dandan cantik-cantik entar ada yang naksir kamu" kata Dito yang sedang menungguku memakai make up.
" Apaan sih emang mas suka jalan sama istri jelek , terus ntar diomong itu laki-lakinya cakep isinya jelek" kataku sewot Dito hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hari ini hari pernikahan Dini dengan lelaki cinta pertamanya jaman putih abu-abu, yang bertemu kembali di acara kantor.
__ADS_1
Pernikahan mereka disambut bahagia mengingat latar belakang calon suami Dini juga pebisnis , yang diharap bisa membantu menjalankan perusahaan yang sekarang dipegang langsung oleh om Radit adik bungsu Mama Arin, dengan dibantu papa Damar beserta mama Arin dan mbak Ika.
"Wah bumil makin cantik aja " goda Bayu.
" kemana sih istrimu ko kamu godain istriku" kata Dito sambil menarik pinggangku menempel padanya.
" Hahaha posesif ,istriku ga ikut si kecil lagi demam jadi aku mewakili mereka ".
" Pantas nggak punya gandengan".
" Hai siapa bilang aku nggak bawa gandengan ke sini" ucap Bayu sambil tangannya melambai ke atas memanggil seseorang.
" Apa sih Om panggil panggil ganggu orang lagi makan "ucap Yumi , anak perempuan om Raffi dan Mbak Ika yang kalau nggak salah masih duduk di kelas 7.
" Kenalkan ini pasanganku" ucap Bayu .
" Gila " umpat Yumi pergi meninggalkan Bayu membuat Dito tertawa.
Aku juga tidak menyangka Mbak Ika akan berjodoh dengan adik Mama Arin, sungguh dunia itu sempit kalau mengingat aku udah akrab dengan mbak Ika jauh sebelum kenal Dito karena keluarga Mbak Ika ikut andil dalam membenarkan ku bersama aunty Lily. Setelah aunty Lily menikah dan aku sempat sekolah di luar negeri aku cuma kontak dengan Bayu. Kami akrab kembali setelah aku menikah dengan Dito , padahal om Angga teman baik sama Om Raffi dan Bayu sahat Dito tapi aku berjodoh dengan Dito bukan karena mereka.
Jodoh emang tidak ada yang akan pernah tahu semua rahasia Sang pencipta.
" Gw gak sangka kita akan jadi saudara" ucap Dito.
" Sama sekarng ponakan gw sepupu Lo, jadi gw lebih tua dari lo" kata Bayu bangga.
" Berapa usia kandungan Anin sekarang ? " tanya Bayu pada Dito.
" Gue nggak nyangka lo juga bakal nikah sama Cinta pertama lo".
" Emang benar Aku Cinta pertamanya" tanyaku memastikan.
" Ingat gak waktu Lo masih suka ngintilin aku waktu latihan band atau suka nyuruh jemput sewaktu-waktu ,dia selalu ikut katanya kamu cantik" ucap Bayu membuat Dito mencebikkan bibirnya.
" Ingat tapi setahuku dulu dia badanya kurus terus mukanya juga dekil" ucapku yang disambut tawa oleh Bayu.
" Ya Gimana nggak dekil kerjaannya naik gunung dan ikut balap Motocross " ucap Dito membela dirinya.
Acara pernikahan Dini seperti acara reuni buatku ketemu dan kumpul bersama dengan orang-orang dari masa lalu ,yang sekarang jarang sekali bertemu karena kesibukan dengan keluarga masing-masing dan pekerjaan.
" kamu bahagia nampaknya ".
" Iya mas lama aku nggak ngumpul dan ngobrol bersama dengan Bayu dan mbak Ika" .
" Ya maklum tempat tinggal kita juga jauh dan mereka juga sibuk masing-masing dan keluarganya"ucap Dito.
"Dulu aku akrab dengan mereka, mereka seperti keluarga aku".
" Anehnya kita dulu jarang bertemu" ucap Dito sambil memeluk istrinya dari belakang dengan tangan mengusap-usap anak yang ada dalam perut istrinya.
__ADS_1
" Kalau kita dulu sering bertemu nggak akan ada acara di grebek, pasti kita akan pacaran duluan".
" Jodoh kita emang perjuangan " .
" Mas nggak penasaran cewek cowok adiknya Khalid".
" Setelah mendengar Ayah Akas bercerita gimana perjuanganmu melahirkan Khalid, buatku cewek atau cowok tidak masalah yang penting kamu dan anak kita lahir dengan selamat" ucapnya sambil memberikan ciuman kecil di leherku.
"Berdasarkan penelitian katanya melakukan hubungan intim saat hamil ,khususnya pada bulan-bulan akhir seperti bulan kedelapan dan kesembilan dapat membantu membuka jalan bagi bayi, sehingga dapat memperlancar proses persalinan" ucap Dito sambil tangannya melepas kancing piyama ku.
" Siapa yang bilang " .
"Teman temanku".
" Modus mu aja, kemarin bilang mau nengokin dedek , sekarang membantu membuka jalan bagi bayi " kataku sambil tertawa tapi tidak menolak saat kedua tangannya sudah mulai nakal.
" Aku juga denger ****** payudara itu harus sering ditarik biar si bayi mudah nyusunya,juga memberikan pijatan pada payudara itu merangsang ASI keluar " ucapnya dengan suara serak dan dan tangan mempraktekkan Apa yang diucapkan.
"Ahh ahh ko perut ku kerasa mules sekarang ya mas" ucapku setelah 10 menit lalu Dito mempraktekkan ucapannya yang katanya membuka jalan lahir buat anaknya.
" Jangan jangan mau lahir dede nya".
" Hah bantu aku mandi besar dulu kalau begitu " ucapku yang langsung di respon cepat Dito, yang langsung memandikan aku dengan telaten meski aku tahu itu sangat menyiksanya.
" Sini aku keringkan rambutmu" ucap Dito sambil membawa hair dryer.
"Gimana masih mules perut nya ".
"Hilang sakit hilang sakit " ucapku lirih karena menahan rasa sakit yang sering muncul dan hilang lagi.
"Rambutmu udah kering, Mas mandi dulu habis itu kita ke rumah sakit" ucapnya yang aku balas dengan anggukan kepala.
Ternyata benar setelah Dito mandi dan kami berangkat ke rumah sakit ,tanpa memberitahu siapapun mengingat ini tengah malam. Mengingat semua sudah pada capek di acara pernikahan Dini tadi sore ,aku hanya menghubungi bibi yang dirumah untuk mengantarkan tas khusus persalinan yang udah aku siapkan dirumah untuk dibawa kerumah sakit.
" Mas ketubanku pecah ".
" Sabar sebentar lagi sampai ".
Ahkirnya lahir juga anak kedua kami laki-laki setelah aku tiba di rumah sakit selang 15 menit.
" Kenapa gak ada yang di bangunkan satu pun, Kami mencari kalian waktu mau sarapan ,mana ponsel di dihubungi nggak diangkat" marah Mama Arin.
" Maaf ma buru-buru maklum aku kan baru pertama kali menemani istri lahirnya".
" Salah sendiri kenapa dulu bikin ulah" ucap Dini.
"Namanya siapa mas" ucap papi yang dari tadi hanya menyimak obrolan kami.
"Sa'id Nandana Fahmi Mahardhika. Sa’id (Arab) artinya: bahagia,Nandana artinya laki-laki, Fahmi artinya cerdas" .
__ADS_1
" Jadilah anak laki-laki cerdas yang membawa kebahagiaan bagi keluarga Mahardika" ucap Dino yang di anggukin Dito.
Inilah awal baru keluarga kami,kami sadar akan banyak rintangan yang menghadang setelah ini tapi kami akan selalu bergandeng tangan mengatasi semua masalah yang ada.