Nikah Online

Nikah Online
DUA PULUH LIMA


__ADS_3

"Ada apa dengan Angga?" Tanya Devnne dengan nada kwatir, pasalnya mereka berdua (Adel dan Angga) pulang lebih cepat satu hari dari perkiraan. Bahkan ketika sampai di mansion wajah Angga kembali pucat.


"Angga hanya kecapean saja Mami." Sahut Angga dengan nada lemah, ia di bopong oleh dua penjaga sampai masuk ke kamarnya. Sedangkan Adel memasuki dapur dan membuat buburĀ  untuk Angga.


Daniel masih diam saja, karena ia tahu jika sekarang Daddy-nya sakit dan ia juga tidak ingin merepotkan sang Mommy.


"Daniel kenapa disitu sayang?" Tanya Adel, ketika melihat sang anak masih berdiri di depan pintu kamarnya dan Angga.


"Ayo masuk, pasti Daddy merindukan Daniel." Lanjut Adel sambil membuka pintu dengan sebelah tangannya sedangkan tangannya yang lain memegang napan yang berisi bubur dan teh hangat untuk Angga.


Daniel mengikuti Adel masuki kamar dan bisa ia lihat sang Daddy yang berbaring dengan lemah.


"Daddy tidak apa-apa?" Tanya Daniel setelah sampai dan duduk dipinghir ranjang, ia mengenggam tangan Angga dan tidak lupa ia menciumnya.


"Daddy tidak apa-apa sayang, Dad hanya kecapean saja." Jawab Angga dengan nada lemahnya.


"Ayo kamu harus makan yerlebih dahulu, dan setelah itu baru minum obat."Kata Adel.


Adel menyuapi Angga dengan telaten, sedangkan Daniel sudah keluar dari kamar setelah mencium Adel dan Angga secara bergantian.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan Adel baru saja selesai makan malam bersama Daniel dan kedua orang tua Angga.


"Kau ingin sesuatu?" Tanya Adel sambil berjalan menuju meja riasnya.


"Aku butuh pelukan mu." Jawab Angga dan Adel tersenyum ketika mendengar itu, Adel mengoleskan handbody ketangannya dan setelah selesai ia menuji ke arah Angga yang sejak tadi menunggunya.


"Aku ingin melakukannya." Bisik Angga setelah Adel berada di atas ranjang dan tidur di sebelahnya.


"Tapi kau kan lagi sakit, aku tidak mau!" Kata Adel dengan tegas, ia tidak ingin Angga kembali lelah apa lagi suaminya ini tidak bisa mengontrol nafsuhnya tersebut.


"Aku akan sembuh jika melakukan itu sayang."


"Tidak!" Ucap Adel dan membalikkan badannya membelakangi Angga. Angga yang melihat itu hanya bisa mendesah kecewa, semenjak ia sakit mereka jarang melakukan kontak fisik bahkan ciuman sekalipun.


Hiks..

__ADS_1


Suara itu membuat Adel membalikkan badannya, tidak mungkinkan jika itu suara Angga?, namun saat ia berbalik memang itu adalah Angga, pria itu menangis? Kenapa?, banyak pertanyaan yang keluar masuk di otak Adel saat melihat Anggalah orang yang menangis tersebut.


"Kau kenapa?" Tanya Adel sambil mengenggam tangan Angga yang menutupi wajahnya itu.


"Kau tidak mencintai ku lagi." Itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan yang membuat Adel semakin bingung saja.


"Siapa yang bilang begitu?" Tanya Adel.


"Buktinya tadi kau tidak ingin kita melakukan itu."


Hah! Adel sudah tahu dimana masalahnya sekarang, dasar Big baby!, selalu saja biasanya juga tidak begini, apa mungkin Angga kerasukan hantu yang ada di Maldives?.


Namun dengan cepat Adel menggelengkan kepalanya saat pikiran itu hinggap di kepala mungilnya tersebut.


Dan setelah itu Adel mencium bibir Angga, ia tidak mau jika karena hal sepele ini mereka bertengkar dan Adel tidak suka itu.


Setelah itu mereka melakukan itu dan tentu hal tersebut membuat Angga senang, saat jam menunjukkan pukup sepuluh malam akhirnya mereka mengakhiri pergulatan tersebut.


Namun saat hendak tidur Adel merintih dan memegangi perutnya dan membuat Angga panik setengah mati.


"Arrgghh, sakitt."


Suara itu membuat Angga melihat ke arah Adel yang merintih kesakitan dan memegang perutnya.


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Angga dengan panik dan sebelum ia turun, ia masang boxernya yang berada dilantai.


"Sakitt." Rintih Adel, dengan panik Angga menelpon dokter pribadi keluarga Radjasa, orang Tua Angga terbangun saat mendengar ketukan pintu yang dilakukan oleh Angga.


"Ada apa?" Tanya Devnne dengan masih mengantuk, sedangkan Antony masih berada di dalam selimut.


"Adel, Mi."


"Kenapa dengan Adel?" Tanya Devnne dengan panik, dan menuju ke kamar Angga. Selang beberapa menit dokter Adam, dokter pribadi keluarga Radjasa datang dengan masih memakai piama tidurnya.


Dengan wajah yang menahan kejengkelan kepada Angga, Adam menghampiri dimana Adel masih berbaring dan menahan kesakitan di perutnya.

__ADS_1


Dengan telaten Adam memeriksa Adel, sedangkan Angga sedang merendam rasa cemburunya kepada Adam karena pria itu mengenggam tangan istrinya padahal Adam hanya memeriksa denyut nadi Adel saja.


Adam mengela nafasnya ketika ia tahu apa yang membuat Adel menjadi kesakitan seperti itu. Dengan kembali memasukkan alat-alatnya kedalam tas dokternya, Adam menghadap ke arah Angga.


"Ada apa dengan istriku." Kata Angga setelah Adam selesai memeriksa Adel.


"Kau tahu, jika berhubungan suami istri itu sangat membahayakan ketika istrimu hamil muda, apa lagi usia kandungannya baru tiga minggu." Jelas Adam, sedangkan Angga masih mencerna apa yang Adam katakan tadi.


Apa!


Hamil!?


Hamil!


Jadi Adelnya Hamil?!


pertanyaannya itu terus berputar di kepala Angga, namun lamunanya buyar ketika lagi-lagi Adam berbicara kepadanya.


".....Kau mengertikan apa yang harus dilakukan."Kata Adam


"Jadi istriku hamil?" Tanya Angga masih tidak percaya dengan jengkel Adam menjawabnya dengan Anggukan kepala.


Dengan bahagia Angga memeluk Adam dan tidak lupa Maminya yqng masih berada di dalam kamar. Setelah itu ia mencium kening Adel dengan bahagia, ia tidak menyangka jika Adel sudah hamil sebelum mereka berbulan madu ke Maldives.


"Aku akan kirimkan gajih lebih untuk mu." Ucap Angga dengan masih mengenggam Tangan Adel.


"Terima kasih, Tuan dan ini resep obat untuk menghilangkan rasa nyeri yang istri anda rasakan." Dengan memberikan sebuah kertas yang bertulis resep obat untuk Adel.


Setelah itu Adam pamit setelah mengucapkan selamat atas kehadiran calon bayi Angga dan Adel yang kedua, begitupun dengan Devnne, setelah memberikan wejangan yang cukup panjang akhirnya ia juga kembali lagi kekamarnya.


Setelah menyuruh orang suruhanya membeli obat, akhirnya Angga bisa tidur dengan sambik memeluk perut Adel. Kali ini lebih possessive dari biasanya.


Adel hanya bisa pasrah saja karena ia juga sudah lelah, sekarang jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan mereka sama-sama tidur sampai pagi menjemput.


****

__ADS_1


__ADS_2