
Devnne, Antony dan Amira berlari menuju tempat dimana ruang operasi Adel, mereka sampai di sana dan melihat Angga yang terduduk dan menatap kosong ke arah pintu ruang operasi.
Hampir lima jam Angga menunggu namun tidak ada tanda-tanda jika operasi yang Adel jalani akan berhenti.
"Angga." Panggil Devnne lalu memeluk sang Anak yang tidak memiliki tenaga untuk sekedar berdiri dari duduknya.
"Kamu harus kuat sayang." Ucap Devnne menyemangati Angga namun masih tidak ada sahutan dari sang empunyai nama.
"Ini semua salah Angga." Suara isak tangis Angga memenuhi gendang telinga Devnne yang masih memeluk putra nya.
"Hus ini bukan salah siapa-siapa sayang."
"Tidak Mi! Ini salah Angga karena tadi...tadi Anggun datang dan menccium Angga dengan tiba-tiba." Ungkap Angga dan membuat Antony dan Amira terbelak.
"Apa yang terjadi sama Adel sampai ia seperti ini kak?" Tanya Amira, ia juga menangis mendengar kabar kakak iparnya yang mengalami kecelakaan, padahal kemaren mereka baru saja curhat mengenai siapa nama-anak yang ada di kandungan sang kakak Ipar.
"Aa....Adel terpeleset di kantor."
"Dasar bodoh! Bagaimana bisa kamu lalai dalam mengawasi menantu papi hah!" Teriak Antony dengan murka ia tidak terima atas apa yang sedang menimpa cucu dan menantu nya.
"Maaf Pi, ini memang salah Angga."
Lalu semuanya terdiam Devnne membawa Angga duduk di bangku yang berada di ruang tunggu, ttidak beberapa lama akhirnya pintu ruang operasi terbuka dan menapilkan dokter yang mengenakan pakaian serba hijau dan masker.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dokter?" Tanya Angga dengan cepat bahkan dokter tersebut belum mengambil napas.
"Sayang tenang dulu." Kata Devnne sambil mengelus bahu Kekar milik Angga.
"Bagaimana Angga bisa tenang Mi, sedangkan Adel sedang bertaruh nyawa sekarang."
"Begini." Kata Dokter tersebut menengahi pembicaraan Devnne dan Angga.
"Keadaan pasien sangat kritis bagian tangan mengalami retak tulang karena beliau berusaha menahan perutnya agar tidak terbentur dengan lantai namun naas nya tangan nyonya Adel terhempas terkena keramik." Jelas Dokter tersebut dan membuat Angga syok bahkan Devnne pun sudah menangis.
__ADS_1
"Lalu Nyonya tadi nya kekurangan darah, namun untuk rumah sakit masih memiliki stok darah nya, saat ini nyonya Inez di nyatakan koma dengan waktu yang tidak tertentu." Lanjut nya lagi dan membuat Angga tambah tidak berkutik.
"Bagaimana dengan bayinya?" Tanya Amira, Angga berdoa semoga kali ini anaknya tidak terjadi sesuatu.
"Saat ini untuk kondisi kedua bayi yang lahir saat belum waktunya mengalami penurunan berat badan dan dengan sedih kami menyampaika jika kedua bayi tersebut harus masuk ke dalam inkubator."
Angga merosot di lantai saat mendengar apa yang terjadi kepada istri dan kedua anak nya.
Dia benar-benar ***** bagaimana bisa ia tidak melihat Adel yang berada di ambang pintu tadi. Jika bukan karena si ****** Anggun mungkin istri nya masih bisa ikut makan malam bersama dia di sebuah restoran yang sudah Angga pesan tadi nya.
"Nyonya Adel kami akan pindahkan ke ruang Inap sekarang."
"Jika di antara bapak atau ibu ingin menjenguk pasien di harapkan menggunakan pakaian yang steril." Jelas dokter tersebut lalu setelah itu ia pamit undur diri dari sana.
"Ayo sayang kamu harus ganti baju terlebih dahulu sebelum menjenguk istri dan anak mu." Kata Devnne sambil membantu Angga berdiri dari duduk nya.
"Mi, Angga titio Daniel ya." Kata Angga.
"Terima kasih Mi."
Setelah itu Angga pergi untuk membersihkan dirinya, ia akan pulang ke mansion, dan membawa keperluannya selama ia menjaga Adel di rumah sakit.
Sekitar tiga puluh menit akhir nya Angga sampai di mansion, ada maid yang sudah menunggu di depan pintu mansion.
"Tuan bagaimana keadaan Nyonya?" Tanya Maid yang paling tua yaitu Marta, yang sudah bekerja hampir dua puluh tahun untuk keluarga Radjasa.
"Sekarang ini lagi kritis Marta, jadi saya ingin minta tolong kepada kalian untuk ikut memantau Daniel, karena saya akan stand by di rumah sakit." Jelas Angga dengan tersirat nada sedih, semua orang sangat Syok bahkan marta masih tidak percaya dengan nyonya muda nya, mereka bahkan beberapa jam yang lalu masih mengobrol dan memasak bersama.
"Semoga Nyonya cepat sembuh." Doa mereka.
"Amin, sekali lagi terima kasih." Lalu Angga berlalu dari hadapan mereka dan melangkah menuju kamar mereka yang beberapa bulan ini telah ia dan Adel tempati.
Angga membuka pintu, bahkan Aroma Adel masih terasa di kamar ini, aroma vanila yang akan selalu Angga Rindukan sampai kapan pun.
__ADS_1
Ia melangkah menuju Ranjang mereka, dan melihat ke arah foto pernikahan yang berada di atas nakas, Angga mengambil bingkai tersebut lalu membelainya.
"Maaf." bisik Angga dengan suara lirih nya bahkan air mata pria itu mengalir dan mengenai foto Adel yang tersenyum ke arah kamera.
"Ini salah ku." Angga selalu menyalahkan dirinya tentang apa yang telah terjadi kepada Adel.
*****
"Bagimana?" Tanya Pria paruh baya yang sedang meminum alkohonya kepada sang anak.
"Semua beres pah, kemungkinan besar wanita itu akan membenci Angga." kata Anggun dengan percaya diri nya saat ia sudah berhasil mengusik rumah tangga Adel.
"Bagus, setelah ini Papah ingin kamu dengan cepat mendekati Angga."
"Papah tenang aja, serahkan semuanya pada Anggun." Ucap nya Sombong sambil mengangkat dagu dengan angkuh.
"Papah percaya sama kamu."
Lalu setelah itu mereka minum Anggur yang berkadar alkohol tinghi tersebut dengan sama-sama dan saling bersulang.
"Dasar Angga bodoh." Maki Anggun dalam hati nya sambil terkikik tidak jelas.
*****
Semua orang panik di salah satu kamar rawat, salah satu pasien mengalami kejang-kejang dan itu membuat semua orang heboh dan histeris.
Terlebih Angga yang baru sampai di Rumah sakit dengan menenteng tas pakaiannya. Dengan cepat ia berlari ke arah keluarga nya.
"Ada apa ini Mi?" Tanya Angga dengan panik.
"Aa....Adel....tadi kejang-kejang." Ucap Devnne dengan terbata-bata.
*******
__ADS_1