
"Dasar bodoh, sudah lima tahun lebih dan kamu masih belum bisa mendekati seorang Angga Radjasa." Bentak seorang pria paruh baya kepada seorang perempuan berumur sekitar dua puluh lima tahun.
"Papah kan tau jika Angga udah nikah sama pilihannya." Kata Wanita itu kepada orang yang di panggil papah.
"Dasar anak bodoh! Apa peduli kamu, yang harus kamu lakukan itu buat Angga berpaling dari istrinya dan kuasai harta Radjasa."
"Baiklah Anggun akan coba, Jika kali ini Anggun gagal maka bukan salah Anggun." Putus nya lagi,
"Jangan sampai gagal kalau gitu." Bentak pria itu lagi.
Dan anggun hanya memutar bola matanya lelah, ya dia adalah Anggun Gunawanto, anak perempuan satu-satunya di keluarga Gunawanto dan dia juga lah wanita yang gagal menjadi menantu seorang Radjasa.
Setelah itu Anggun berdiri dari duduk nya dan keluar dari kantor sang ayah, Anggun adalah seorang model papan atas yang memiliki tubuh langsing dan juga bentuk wajah yang cantik, namun satu yang paling orang tidak sukai dari seorang Anggun yaitu kesombongan nya.
*****
"Kapan kamu pulang, aku kangen." Ungkap Adel dari seberang telepon dan ungkapan tersebut membuat Angga tertawa.
"Kenapa tertawa, ada yang lucu?" Tanya Adel dengan jengkel.
"Ya kamu yang lucu sayang." Jawab Angga, bisa Angga tebak jika wanitanya pasti sedang mengerucutkan bibir mungil yang selalu menjadi penyemangat untuk Angga di seberang sana.
"Kamu kesini ya, kita langsung makan malam." Kata Angga lagi.
"Nanti supir aku yang akan jemput kamu."
"Oke sayang." Jawab Adel lalu mematikan sambungan telepon ketika mendengar jawaban dari Angga.
Usia kandungan Adel memasuki bulan ke delapan tinggal satu bulan lagi maka bayi yang mereka tunggu akan lahir dan melihat dunia, sungguh Adel sangat tidak sabar menanti kedatangan buah hatinya yang ke dua Ini, apa lagi Daniel, ia sudah menyiapkan hadiah untuk sang adik yang sangat lama ia tunggu.
Adel sudah memasuki mobil yang akan membawa nya ke kantor Angga, Angga sudah mulai sibuk dengan pekerjaan kantor jadi jika pulang ke rumah ia dan Daniel pasti sudah tertidur pulas.
__ADS_1
*****
"Andi kenapa membuka pintu tanpa menge----tuk." Ucapan Angga terpurus ketika melihat jika yang datang bukan Andi sahabat nya, melainkan seorang perempuan yang sudah lama tidak ia temui. Setelah pembatalan waktu itu.
"Hai, apa kabar?" Tanya nya lembut sambil berjalan ke arah Angga yang kebetulan sedang duduk di Sofa panjang yang ada di Ruangannya.
"Kenapa kamu kesini!" Angga tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh perempuan yang baru masuk di kantornya.
Perempuan itu adalah tak lain dan tak bukan adalah Anggun Gunawanto mantan tunangan Angga.
"aku merindukan mu." Ungkap nya lalu langsung duduk di atas pangkuan Angga dan dengan tiba-tiba mencium bibir Angga.
Angga yang terkejut hanya bisa membelakkan matanya dan masih belum sadar, sedangkan dari arah pintu Adel melihat itu tiba-tiba menutup pintu dengan amat kencang dan membuat Angga tersadar dari apa yang sedang terjadi.
"Apa-apaan kamu!" Teriak Angga lalu mendorong Anggun dengan sangat kencang sehingga wanita itu terduduk di lantai yang dingin.
Sedangkan Angga panik setengah mati saat tahu siapa yang menutup pintu dengan sangat kencang.
Dengan cepat Angga berlari ke arah pintu dan mengejar Adel, namun lif yang membawa istrinya tersebut sudah tertutup saat Angga Hendak menggapainya.
Bisa Angga lihat jika istrinyabitu menangis ada sorot kekecewaan yang terpancar di mata Indah yang selalu menatap nya lembut setiap hari itu.
"Maaf sayang." Gumam Angga, lalu tanpa pikir panjang Angga turun melalu tangga darurat, lantai kantornya berada di lantai lima belas jadi cukup melelahkan jika menggunakan tangga darurat, namun Angga tidak mau menunggu Lebih lama lagi dan dengan tekat ia turun melalui tangga.
"Akhirnya." Ucap Anggun dengan pelan.
"Tidak sia-sia aku datang kesini dan lihat lah aku yang akan memenangkan pertarungan ini." Ucap Anggun dengan nada pede nya.
Adel sudah sampai di lantai satu namun karena matanya tidak melihat tanda lantai yang licin, ia terjatuh dengan sangat keras dan membuatnya berteriak kesakitan.
"Akhhh...to..long..peru..** kuu." Banyak karyawan yang mendatangani Adel dan hendak menolongnya, kerumbunan itu membuat Angga merasa was-was.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Tanya Angga sambil membelah kerumunan orang dan saat ia melihat siapa yang sedang meringis kesakitan itu, rasanya jantung Angga hendak terlepas dari tempat nya.
"Sa..sayang..."
"Tolong siapkan mobil saya." Teriak Angga lalu menggendong Adel, dengan sigap para karyawan membantu Angga.
Setelah sampai di mobil, akhirnya mobil yang membawa Adel dan Angga bergerak dengan cepat untuk sampai di rumah sakit.
"Sayang maaf....tolong jangan tutup mata kamu." Bisik Angga di telinga Adel sedangkan Adel meringis dari tadi sambil memegang perutnya.
"Akhhhh...bayiii kuu." Tangis Adel pecah saat ia merasakan sakit di area perutnya.
Ia berdoa semoga bayi nya selamat dan tidak akan terjadi apa-apa kepada kedua Bayi mungilnya.
"Bertahan baby..." kata Angga dan ia mengeluarkan Air mata nya saat melihat Adel sudah tidak membuka matanya.
"BAWA MOBIL LEBIH CEPAT BODOH!!!" Teriak Angga kepada sopirnya, pria paruh baya tersebut dengan cepat membawa ke rumah sakit dan tidak lama Akhirnya mereka sampai di rumah sakit milik keluarga Radjasa.
"Tolong istri saya Dokter!!" teriak Angga, dengan sigap para perawat membawa ranjang dorong lalu angga meletak kan Adel di atas nya, darah segar keluar dari sela-sela paha Adel dan itu membuat Angga bertambah kuwatir.
"Mohon maaf, bapak tidak bisa ikut." Kata perawat dan menghalangi Angga yang hendak ikut masuk ke ruang operasi.
"Tapi istri saya di dalam!! Saya harus menemaninya." Teriak Angga
"Sekali lagi mohon maaf pak, karena ini sudah prosedur rumah sakit." Jelas perawat tersebut lalu menutup pintu ruang operasi.
Dengan putus asa Angga merosot di lantai dengan kemeja yang sudah di hiasi oleh darah segar Adel yang mengalir saat Angga menggendong istrinya tadi.
"Ini salah paham sayang." Gumam Angga dan hanya dia saja yang bisa mendengarnya.
*****
__ADS_1