Nikah Online

Nikah Online
EMPAT PULUH ENAM


__ADS_3

Makan malam berjalan dengan semesti nya, hanya bedanya sekarang Antony tidak ikut dengan mereka untuk makan malam. selesai makan malam mereka semua duduk di ruang keluarga, ketiga anak Adel sudah berada di kamar mereka masing-masing dan di jaga oleh babysister.


Amira juga ikut duduk bersama mereka, gadis itu hari ini sangat pendiam entah kenapa namun Amira dengan lihai menyembunyikan semua kesedihan yang selama ini ia rasakan.


"Mami ingin membicarakan sesuatu?" Tanya Angga salah satu pembantu membawakan teh hangat untuk mereka.


"Iya, mami hanya ingin meminta pendapat kamu tentang masalah yang sedang mami alami." Jelas Devnne, Adel menatap suaminya ia berdoa semoga kehidupan rumah tangga yang selama berpuluh tahun ibu mertuanya jalani tidak akan rusak. dia ingin Angga memcari solusi yang tepat tanpa adanya perpisahan karena Adel benci hal tersebut..


"Jika menurut Mami berpisah lebih baik, maka lakukan lah." Jawab Angga


"Sayang, jangan berbicara seperti itu aku yakin kita pasti menemukan jalan keluarnya." Saran Adel dia tidak menyangka jika Angga hanya mengiyakan saja jika kedua orang tuanya pisah.


"Menurut kamu apa ada solusi untuk masalah seperti ini?" Tanya Angga sambil menatap Adel yang seketika diam.


Sedangkan Devnne dan Amira hanya diam saja mendengar perdebatan mereka. Devnne tidak ingin jika masalahnya ini bisa membuat anak dan menantunya bertengkar.


"Baiklah mungkin mami akan melakukan itu." Putus Devnne ia yakin jika jalan yang akan dia ambil kali ini memang benar.


"Tapi Mi, harus nya mami pikirin dulu bagi orang jaman sekarang mempertahankan sebuah pernikahan itu sangat lah sulit, aku yakin mami bisa memaaafkan papi kali ini, please jangan membuat keputusan seperti ini." Tangis Adel pecah dia benar-benar tidak ingin jika keluarga yang selama ini menerimanya dengan tangan terbukan akan hancur karena kisah masa lalu.

__ADS_1


"Jika mami ingin menceraikan papi kenapa tidak dari dulu? kenapa harus sekarang, apa karena saat itu mami sedang hamil Amira? harus nya jika mami benar-benar membenci papi tidak usah menunggu amira sebesar ini, saat amira di dalam kandungan saja mami bisa menceraikan papi."


"Adel kamu sudah tidak sopan!" Bentak Angga


"Kau mulai berani sekarang, jangan karena kamu adalah istriku kau bisa seenaknya berbicara seperti itu sama mami." Sambung Angga sedangkan Adel yang di bentak langsung terkejut. dia hanya mengingatkan Devnne saja jika sebuah pernikahan itu sangat berarti dan tidak bisa di permainkan begitu saja.


Adel berlari ke kamarnya harusnya angga tidak usah sampai membentak dirinya, kali ini hati adel yang terlukan apa dia tidak memiliki hak untuk berpendapat. apa selama ini angga hanya menganggapnya sebagai wanita tidak penting di rumah ini? lalu apa gunanya dia berada disini. Adel menangis saat sudah sampai di kamar yang selama ini ia dan angga tempati.


sedangkan di ruang tamu Angga dan ibunya masih berdebat tentang sikap Angga yang sungguh keterlalu kepada Adel.


"Angga, Adel benar harusnya mami dari dulu menceraikan papi, tapi karena cinta, mami menjadi naif dan hanya diam saja tidak melakukan apa-apa." Devnne menangis ketika mengingat saat itu, seharusnya dari dulu dia sudah menceraikan Antony namun karena cintanya yang sangat besar kepada sang suami Devnne menjadi tidak tega.


"Kakak tidak seharusnya membentak kakak ipar, kakak harus nya tahu jika kak Adel sangat terpukul dengan kata bentakan dari kakak." Amira membuka suara saat lagi-lagi Angga membentak Adel.


"Angga harap keputusan mami kali ini benar-benar tepat, karena untuk kedepannya angga tidak bisa lagi mencampuri urusan mami." Lalu setelah itu Angga berlalu dan menuju ke kamarnya dan Adel.


Sebelum membuka pintu kamar mereka Angga terlebih dahulu membuang napasnya, kali ini dia harus bisa meminta maaf, dia tahu jika dia salah maka angga akan merayu wanita nya lagi.


Angga membuka pintu dengan perlahan disana dia bisa melihat jika adel sudah tidur membelakangi pintu, Angga berjalan ke arah ranjang dan duduk di tempat biasa dia tidur. dengan ragu Angga mengguncang pelan bahu Dea, namun tidak ada respon dari sang pemilik.

__ADS_1


"Sayang apa kau sudah tidur?" Tanya Angga lalu berbaring dan memeluk Dea dari belakang. Angga mencium puncak kepala Dea dengan pelan bisa dia dengar jika istrinya masih menangis.


"Maafkan aku, kau tahu aku tidak bisa mengotrol emosiku." Ucap Angga, dia mengeratkan pelukannya namun Adel hendak melepaskan tangan yang melilit ditubuhnya tersebut.


"Ssstt aku minta maaf hmmm, bagaimana jika besok aku mengajak mu ke korea? bukan kah kau ingin sekali kesana." Bujuk Angga, dia tahu jika istrinya ini sangat ingin pergi ke korea, dimana oppa-oppa yang menjadi idola istrinya berada.


Masih tidak ada jawaban dari Dea, Angga masih tidak kehabisan ide untuk bisa mendapatkan kata maaf dari istri cantik nya ini.


"Baiklah jika kamu tidak ingin ke korea, berarti tiket konser exo akan aku berikan kepada Devina saja, aku dengar dia juga penggemar dari exo." Kata Angga mendengar hal itu dea cepat berbalik lalu menghapus air matanya.


"Jangan! baiklah aku ingin ke korea dan menonton konser." Kata Dea setelah tangisnya reda.


"Apa dengan itu kamu memaafkan ku?" Tanya Angga memastikan sambil menangkup pipi istrinya.


"Iya, tapi ada satu syarat lagi berikan aku full album mereka." Kata Dea dengan menatap Angga, sedangkan angga mengumpat di dalam hatinya oh andai saja wanita yang berada di pelukannya ini bukan istrinya pasti sudah dia tendang.


"Tapi bukankah konser saja sudah cukup, kamu tidak perlu mengumpulkan hal-hal tidak ada manfaatnya." Nasehat Angga.


"Baiklah aku tidak jadi memaafkan mu." Rajuk Adel dan kembali membelakangi angga. dengan sigap angga membalikkan badan istrinya.

__ADS_1


"Baiklah-baiklah besok kau akan memiliki itu semua sayang." Kata Angga dengan pasrah, ughh andai saja dia tidak berbuat kesalahan pasti uangnya tidak akan hilang dengan sia-sia. dan istrinya mengoleksi foto pria lain ah ingin rasanya angga berteriak jika dirinya sangat cemburu dengan apa yang selalu istrinya tonton saat dia tidak ada dirumah.


oppa-oppa yang merebut istri ku. kata angga dalam hati dia sungguh dendam namun demi kebahagian istrinya dia rela mengesampingkan rasa cemburu yang bergemuruh di dadanya.


__ADS_2