
Zidane mengerjapkan matanya karena terganggu oleh cahaya lampu yang telah menyala.
Kayaknya listrik udah nyala! pikirnya.
Lalu matanya beralih pada wajah Keyra yang masih terlelap dalam tidurnya. Lama menatap, ia sampai tak sadar kalau bibirnya terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman. Apakah dia sudah jatuh cinta pada Keyra? Sepertinya belum. Mungkin masih dalam tahap suka.
“Nyaman banget di peluk sama lo.” ucap Zidane mengeratkan pelukannya. Jari-jari Zidane mulai mengelilingi setiap sudut wajah Keyra. Sungguh ia merasa gemas sendiri melihat wajah Keyra ini, ingin mencubit pipi Keyra, namun tak jadi. Takut kalau nanti Keyra terganggu tidurnya.
“Apa gue udah mulai menerima lo dalam hidup gue ya? Tapi kenapa bisa secepat itu? Padahal kita menikah masih 3 hari yang lalu, tapi kenapa gue mulai merasa nyaman di dekat lo? Ah, gue jadi bingung sendiri!” monolog Zidane sambil terus menikmati wajah Keyra yang masih tidur.
“Ra, bangun! Woy bangun! Udah jam 8 loh!” Zidane menepuk-nepuk pipi Keyra pelan. Keyra mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya lampu masuk ke matanya.
“Udah nyala ya listriknya?” tanya Keyra dengan muka bantalnya dan suara khas orang yang bangun tidur. Ia tak sadar bahwa tangannya masih memeluk Zidane.
“Lo betah amat peluk gue? Kenapa? Nyaman ya?” goda Zidane. Sontak Keyra langsung melepaskan tangannya dari tubuh Zidane.
“Kok gue bisa meluk lo? Tunggu! Jangan-jangan...” ucap Keyra menggantung.
“Jangan-jangan kenapa? Pikiran lo nggak usah aneh-aneh gitu deh!” peringat Zidane.
“LO APAIN GUE SELAMA TIDUR WOOOYY!” teriak Keyra sambil melemparkan bantal yang ada di sampingnya. Zidane langsung menutup mulut Keyra dengan tangannya.
“Udah malam, ****! Jangan teriak-teriak! Entar tetangga pada kesini semua!” ucap Zidane pelan.
Keyra melepaskan tangan Zidane dari mulutnya. “Lo apain gue selama gue tidur? Ha? Ngaku lo!” tanya Keyra lagi.
“Nggak gue apa-apain! Palingan cuma......” jawab Zidane menggantung.
“Cuma apa? Jawab!” desak Keyra. Ia takut kalau saat tidur tadi Zidane berbuat yang tak seharusnya ia dilakukan.
“Enggak-enggak, Ra. Lo khawatir amat sih! Nggak selera gue sama tubuh lo yang datar itu. Lo nggak ingat apa kejadian tadi sore?” Zidane berjalan menuruni anak tangga, disusul Keyra di belakangnya.
Keyra berusaha mengingat-ingat kejadian malam tadi. Kini semburat merah telah menempel pada pipinya. Sungguh betapa malunya dia mengingat kejadian tadi sore di dalam kamar. Mulai dari ia memanggil-manggil nama Zidane sampai ia meminta di peluk lagi oleh Zidane.
Zidane duduk di salah satu kursi meja makan yang kemudian disusul oleh Keyra. “Ini semua lo yang masak?” Zidane mengangguk.
“Muka lo kenapa? Kok merah gitu? Perasaan ACnya udah nyala!” tanya Zidane. Sebenarnya ia sudah tahu kalau Keyra sedang blushing karena mengingat kelakuannya tadi sore, tetapi ia memilih bertanya saja. Nggakpapa lah, sekalian menikmati ekspresi Keyra yang saat ini.
Keyra mendongakkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Zidane. “Hah? Merah? Masak sih?” tanya Keya balik, pura-pura tak tahu. Ia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajah blushing-nya.
Nih, cowok kenapa harus tahu wajah gue yang sekarang ini sih! Jadi malu sendiri gue! batinnya.
Keyra mulai memasukkan suapan pertamanya ke dalam mulut. Ia tak menyangka masakan Zidane ternyat enak juga.
Selesai makan, Keyra mencuci piring. Setelah itu, ia masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan PR. Terlihat Zidane yang juga tengah membaca buku pelajarannya di atas tempat tidur sambil bersandar punggung ranjangnya. Padahal Keyra sudah berharap jika Zidane akan tidur terlebih dahulu, ternyata harapannya pupus.
__ADS_1
Keyra mengalihkan perhatiannya. Ia harus fokus pada buku di depannya ini agar PR-nya bisa selesai lebih cepat. Dan ia akan tidur terlebih dahulu.
Tanpa sepengetahuannya, Zidane menahan tawanya sedari tadi dibalik buku yang ia baca. Ia sengaja berakting membaca buku untuk mengungkap kembali kejadian air botol di sekolah tadi.
30 menit kemudian, Keyra telah selesai mengerjakan PR-nya. Ia mengintip Zidane dari balik bukunya. Ternyata belum tidur.
"Lo kalo mau tidur dulu silahkan! Gue nggak bakal ganggu kok!" ucap Keyra dari balik bukunya.
"Gue masih sibuk baca buku! Lo tidur duluan nggakpapa, gue juga nggak bakal ganggu kok!" ucap Zidane menirukan ucapan Keyra.
Baiklah. Berhubung dirinya sudah mengantuk, jadi mengalah saja. Memilih tidur dulu, daripada nanti dia malah tertidur di atas meja ujing-ujungnya ya di pindahin ke ranjang sama Zidane.
"Ra"
"Iya?" Keyra menarik selimut, memiringkan badannya membelakangi Zidane yang sedang membaca.
"Jujur sama gue!" ucap Zidane santai. Uuuuuhh, lagi nyidang Keyra ya.
"Jujur apaan?" tanya Keyra kebingungan. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud 'jujur' oleh Zidane. Jujur apa coba?
"Lo jujur sama kelakuan lo waktu di sekolah atau gue sendiri yang bakal ngomong?"
"Kelakuan gue yang mana sih?" pura-pura Keyra. Padalah dia sudah mengerti kemana arah pembicaraan Zidane. Apakah segitu gampamgnya Zidane mengetahu pelaku air botol itu?
"Tau ah! Bodo amat! Terserah lo!" Keyra mulai memejamkan matanya.
Namun, malah di cegah oleh Zidane. "Eits, lo mau tidur? No no no!" Zidane menggoyangkan jari telunjukmya ke kanan dan kekiri.
"Lo ternyata nggak mau ngaku juga ya? Okey, gue yang akan ungkapin ini sendirian!"
"Lo ngomong apaan sih, Dan? Gue nggak tahu!" elak Keyra.
"Oh ternyata bener-bener nggak tahu?" Keyra mengangguk.
"Tentang air mineral botol yang udah di campur sama garam + perasan jeruk nipis? Pasti lho inget kan?"
"Ap-apaan sih, nggak jelas!" Sudah ketara sekali kalau Keyra itu sedang berbohong.
"Gue tau, Ra. Kalau lo kan yang nitipin air botol itu ke Tasya biar dikasihkan ke gue?"
Skakmat!
Zidane ternyata sudah tahu. Cepat sekali ia mengetahui perbuatan Keyra tadi. Aaaa, kan nggak seru!
"Nggak usah nuduh deh!" ucap Keyra pura-pura kesal, padahal jantungnya sudah berdetak 2 kali lipat sejak tadi.
__ADS_1
“Lo punya bukti apa bisa-bisanya nuduh gue?” Keyra tak ingin berbalik, takutnya nanti tertangkap basah.
“Hahahaha, ternyata lo nggak ngerti ya! Ra, gue itu cuman punya 1 teman anak IPS, dan itu lo! Kalau cuman sekedar kenal, yaa gue punya banyak. Tapi logikanya, mana ada orang yang seberani itu ngejahilin gue?! Secara gue itu kalau marah bisa nakutin orang satu sekolah!” Zidane terkekeh, pasti wajah Keyra saat ini sudah pucat pasi.
“Bo-bodo amat, gue mau tidur!” ucap Keyra salting.
Zidane mendekatkan dirinya pada Keyra. “Untung hari ini mood gue lagi bagus, jadi lo nggak jadi gue hukum deh!” Keyra bergidik geli karena Zidane berbisik tepat di telinganya.
Keyra memejamkan matanya, tak berapa lama ia pun tertidur. Begitu juga dengan Zidane. Keduanya tidur dengan membelakangi satu sama lain.
Pagi hari, Keyra bangun dari tidurnya. Melihat sekeliling kamarnya, mencari keberadaan Zidane, tetapi Zidane.
“Syukurlah dia udah berangkat duluan! Semoga hari ini gue nggak berpapasan sama dia.” Keyra mengambil handuknya bergegas menuju kamar mandi.
Keyra sampai di sekolah pada pukul 06.30 WIB. Ia berjalan melewati lorong sekolah. Menaiki anak tangga yang menghubungkan lantai 1 dengan lantai 2. “KEYRAAA” panggil 2 orang cewek dari belakangnya. Keyra menghentikan langkahnya,menunggu 2 sahabat karibnya menghampirinya.
“Ada apa?” tanya Keyra saat Bunga dan Minda telah sampai di sampingnya. Kini posisi Keyra menjadi di tengah.
“Nggak ada apa-apa. Emang manggil sahabat sendiri nggak boleh ya?” tanya Minda cemberut.
“Emmmm, boleh aja sih!” Keyra tersenyum canggung. Merasa tidak enak dengan Minda.
“Btw, 2 minggu lagi kita UKK loh. Gimana kalau kita hangout? Lumayan lah, buat refreshing otak biar nggak mikir pelajaran terus!” saran Bunga.
Sampai di kelas ketiganya menaruh tas di bangkunya masing-masing. Seperti biasa, Minda menghampiri meja Keyra dan Bunga untuk mengobrol-ngobrol cantik ala anak jaman sekarang.
“Kemana emang?” tanya Keyra.
“Kalau saran gue sih ke Dufan aja, gimana?” aju Minda.
“Boleh tuh! Dengar-dengar ada wahana yang baru di buka juga!" seru Bunga.
"Gimana, Ra? Lo ikut nggak?" tanya Minda.
"Gue lihat-lihat situasi dulu deh! Emang rencananya hari apa?" tanya Keyra balik.
"Hari Minggu" jawab Minda, Keyra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia berpikir sebentar. Lama juga ia tidak hangout bareng 2 sahabatnya ini.
Harus tanya Zidane dulu nih! Ah nggak usah deh! Daripada ribet urusannya! batin Keyra.
"Okelah, gue ikut!" putus Keyra. Bunga dan Minda tampak girang. Mereka memeluk Keyra.
"Jadi ini Girltime gitu maksudnya?" tanya Keyra. Bunga dan Minda mengangguk.
Bel masuk pun berbunyi. Minda kembali ke bangkunya. Tak lama seorang guru masuk ke dalam kelas Keyra.
__ADS_1