
Jam demi jam telah berganti sang mentari pun telah meninggalkan bumi, tergantikan oleh sang bulan. Keyra. Gadis itu menggerakkan tubuhnya. Membuka matanya perlahan, lalu duduk sebentar. “Astaghfirullah! Jam berapa ini? Gila! Gue udah tidur berapa jam ini?” Keyra bergegas turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket sekali.
Selesai mandi, ia memakai baju lalu menunaikan ibadahnya sebagai seorang muslimah. Setelah itu, Keyra membangunkan Zidane. “Zidane. Bangun oy!” ucap Keyra sambil menggoyangkan tubuh Zidane.
Zidane membuka matanya. “Lo mandi sama sholat dulu, gue mau ke dapur dulu!” ucap Keyra kemudian keluar kamar.
20 menit kemudian, Zidane turun menuju dapur dengan memakai kaos navy serta celana putih selutut. Tercium harum bau masakan pada hidungnya.
Sialan! Perut gue langsung laper batinnya.
Tampak Keyra yang sedang berkutat dengan alat-alat dapur. Menambahkan bumbu saat masakan yang dirasanya masih tidak pas. Merasa ada yang memperhatikan, Keyra berbalik dan menemukan Zidane yang sudah duduk di kursi meja makan sambil menumpu dagunyadengan kedua tangannya di atas meja.
“Lo udah laper ya?” tanya Keyra basa-basi. Biarlah. Daripada suasananya hening. Keyra melepas celemeknya lalu menghidangkan makanan di atas meja. Kemudian ia duduk di depan Zidane, mengambilkan makanan untuk musuh bebuyutannya. Ya! Keyra masih belum ikhlas menerima Zidane sebagai suaminya. Mengingat bagaimana dengan mudahnya Zidane menerima perjodohan ini membuat Keyra tak ingin menghancurkan bendera permusuhan di antara keduanya.
Setelah itu ia mengambil makanannya sendiri. Namun tak langsung ia makan. Karena ia masih menunggu pendapat dari Zidane.
“Gimana? Enak?” tanya Keyra meminta pendapat pada Zidane tentang masakannya.
Etdah, kenapa gue minta pendapat pada Zidane? Alah biarin, udah terlanjur juga batinnya.
Sejak kapan dia minta pendapat sama gue? Yaudah nggakpapa deh! Sekalian kerjain nih cewek! pikir Zidane dengan menyembunyikan senyum jahilnya.
“Masakan apaan ini? Nggak ada rasanya sama sekali! Nggak enak!” cela Zidane namun masih terus menghabiskan makanannya.
“Cih! Lo mah bilang ‘nggak enak’ ujung-ujungnya ya abis! Nggak usah sungkan-sungkan kalau mau puji gue!” Keyra memasukan suapan pertamanya ke mulutnya.
“Tenang aja! Gue nggak bakal ngefly sama pujian dan gombalan lo yang recehnya sampai nggak ketulungan!” cibirnya.
“Hati-hati sama ucapan lo! Entar malah kebalik loh! Kayak pas lo ngomong ‘gue nggak sudi jadi jodoh lo!’ nyatanya sekarang lo malah udah jadi istri gue! Hahahaha.” Zidane tertawa terbahak-bahak.
Pletak
Tawa Zidane terhenti seketika. “Awwwww! Sakit ****!” Zidane mengusap-usap bagian kepalanya yang tadi di jitak oleh Keyra.
__ADS_1
“KDRT lo!” ucap Zidane sinis.
“Biarin! Emang enak!” ledek Keyra sambil mencuci piring. Setelah mencuci piring, ia pergi menuju kamar untuk mengerjakan tugas.
Tadi saat di cafe, Keyra mendapatkan pesan dari sahabatnya bahwa ada tugas yang harus di kumpulkan besok.
“Gilaa, besok udah sekolah aja!” ucapnya saat menaiki tangga. Sampai di kamar, Keyra langsung membuka bukunya lalu mengerjakan tugas.
Sungguh menyebalkan sekali. Hari ini di beri tugas besoknya harus di kumpulin. Untung saja Keyra sudah mempelajari bab yang ini, kalau tidak, matilah dia tidak bisa mengerjakannya.
Karena terlalu fokus dengan mengerjakan PR, kepala Keyra jadi terasa berat. Rasa kantuk mulai menyerang, dan akhirnya? Tertidur juga si Keyra. Padahal PR-nya belum selesai loh!
Pukul 21.00, Zidane kembali ke kamarnya. Ia sudah mengantuk berat, seakan-akan kasur empuknya itu memanggil-manggil namamya. Harum bau bantal pun sudah menggodanya. Dasar kasur! Kenapa kau mempunyai daya tarik gravitasi yang kuat sih!
Sampai di kamar, Zidane mendesah lirih melihat Keyra yang tertidur di meja. "Nih anak, bisa-bisanya tidur di meja! Nggak sakit apa tuh kepala?!" gumamnya.
Zidane menggendong tubuh Keyra dan menaruhnya di atas ranjang. Menutup buku PR Keyra, namun tak jadi. Ia baca sebentar soal-soal yang tertera di buku modul Keyra.
Lalu tangannya memegang bolpoin, mencoret-coretkan jawaban yang ada di otaknya di atas buku tulis Keyra. Sungguh suami idaman. Mengerjakan PR istrinya. Hahahaha.
Tak berapa lama, Zidane pun tertidur juga.
***
Keyra mengerjapkan matanya saat bunyi alarm terdengat nyaring di telinganya. "Gila, udah jam setengah 7 aja! Perasaan gue ngalarm jam setengah 6 deh! Ck. Pasti ini kelakuannya Zidane. Gue yakin ini! Siapa lagi coba kalau bukan dia!" Keyra menyambar handuk dan langsung memasuki kamar mandi.
Beberapakali dia mengumpat kesal karena Zidane. Awas aja kalau ketemu di sekolah, gue balas lo! batinnya.
Keyra segera memakai seragamnya dan mengambil beberapa perlengkapan sekolahnya. Setelah di rasa lengkap, ia langsung pergi ke depan untuk menaiki taksi online yang tadi sudah di pesannya.
"Ke SMA Ganesha ya pak!" ucap Keyra.
"Siap, non." Taksi pun melaju, meninggalkan pelataran rumah Keyra.
__ADS_1
"Aduuuuhhh, 5 menit lagi gerbang di tutup nih! Pak lebih cepat lagi ya!" pinta Keyra saat ia melihat jam pada hpnya 07.55 yang berarti jam pertama + di tutupnya gerbang sekolah kurang 5 menit lagi.
Sialan! Kenapa harus macet sih?! Okey, pasrah aja, Ra, sama yang di atas! ucapnya dalam hati.
Taksi berhenti tepat di depan gerbang sekolah pada pukul 07.15, ia sudah terlambat 15 menit.
"Aduh, kenapa harus ada guru bk disini sih?! Tamat riwayat gue!" gumam Keyra setelah membayar ongkos taksinya.
"Keyra Ghaida Maharani. Kenapa hari ini kamu telat? Jawab!" tanya Bu Sasa selaku guru BK + guru ter-killer di SMA Ganesha dengan mata yang memelotot. Seperti ingin menerkam orang saja, hahahaha.
"Sebenarnya saya itu su-" ucapan Keyra terpotong oleh Bu Sasa.
"Saya nggak mau denger alasan kamu, cepat lari mengelilingi lapangan utama sebanyak 5 kali!" ucap Bu Sasa dengan intonasi yang tinggi. Setelah itu ia pergi entah kemana. Keyra hanya menurut saja. Jika ia melawan, hukumannya akan ditambah lagi malahan.
"Tadi di suruh jawab, pas udah di jawab malah nggak mau denger alasannya! Tuh guru maunya apa sih?!" gumam Keyra dengan wajah yang sudah tertekuk.
Keyra menaruh tasnya di pinggir lapangan. Setelah itu, ia mulai lari. Putaran pertama terselesaikan. Putaran kedua juga selesai. Putaran Ketiga, perut Keyra mulai sakit. Putaran Keempat Keyra mulai haus. Tenggorokannya sudah mulai kering. Tapi tiba-tiba ada seseorang yang menempelkan sebotol air mineral dingin.
Duh, segarnya batinnya sambil tersenyum.
"Seger banget ya?" ucap orang tersebut. Keyra langsung memdongakkan kepalanya.
"Ngapain lo disini?" tanya Keyra ketus.
"Ngelihatin istri gue yang lagi ngejalanin masa hukuman." jawab orang tersebut yang tak lain adalah Zidane dengan senyum jahilnya.
"Lo mau minum?" tawar Zidane lalu membuka tutup botolnya.
Keyra mengangguk. Hendak mengambil botol tersebut, namun tidak jadi karena Zidane sudah lebih dulu meminum air tersebut hingga tandas.
Keyra memelotot. Bagaimana bisa Zidane membiarkan Keyra kehausan. "Hukuman lo kan belum selesai, jadi nggak boleh minum! Lagian lo masih punya 2 tangan dan 2 kaki kan?" ucap Zidane sambil menaikkan sebelah alisnnya. Tanpa menunggu ocehan dari Keyra, Zidane langsung melenggang pergi, menjauhi Keyra yang masih diam dengan sejuta kekesalan yang terpendam.
Keyra pun memulai lari untuk mengakhiri masa hukumannya. "Punya suami kok gini amat ya?" Sungguh Keyra kesal sekali dengan Zidane. Rasanya, tangannya itu sudah gatal ingin membogem wajah serta perut Zidane.
__ADS_1
"Astaghfirullah! Nggak boleh gitu ya!" gumamnya mengingatkan diri.