
"Zidane, dingin." ucap Keyra sambil yang menggigil. Zidane mengambil remote AC, lali mematikan ACnya.
"Masih dingin?" tanya Zidane, Keyra mengangguk. Zidane bergegas mengambil 2 selimut yang ada di almari baju bagian bawah, lalu menyelimuti Keyra agar ia tak kedinginan.
"Masih dingin, Zidane." ucap Keyra. Bagaimana bisa ia masih kedinginan? sudah memakai sweater dan 3 selimut yang tebal.
Zidane menempelkan bahu tangannya untuk mengecek apakah Keyra sakit. "Lo demam." ucap Zidane terkejut.
"Lo tunggu disini ya, gue mau ambil air kompresan!" Zidane segera keluar dari kamar, melangkah cepat menuju dapur. Membuatkan Keyra teh hangat. Selesai berkutat di dapur, Zidane langsung melangkahkan kakinya menuju kamar.
Zidane sampai kamar dengan membawa nampan yang berisi segelas teh hangat dan air kompresan. “Ini gue buatin teh hangat, lo minum! Biar tubuh lo juga bisa hangat!” ucapnya dengan senyuman yang menempel di bibir.
Zidane mengambil handuk kecil yang ada di dalam almari. Melipat handuk tersebut, lalu membasahinya dengan air kompresan tadi. Setelah itu, ia peras airnya, lalu memasangkan handuk tersebut di atas kening Keyra.
Zidane membaringkan tubuhnya disamping Keyra. Ia mendekat, lalu memeluk Keyra dari samping. Keyra sempat terkejut dengan perbuatan Zidane yang secara mendadak memeluknya, bahkan Zidane mengetahui tanda tanya yang ada di otak Keyra.
“Biar rasa dingin lo bisa berkurang.” bisik Zidane tepat di telinga Keyra, lalu ia mengecup kening Keyra. Keyra hanya menurut, tak berniat membantah. Sejujurnya, ia juga merasa hangat sekaligus senang di perlakukan Zidane seperti itu.
Pelukan ini bikin gue nyaman batin Keyra.
“Udah, cepetan tidur!” perintah Zidane. Keyra pun memejamkan matanya, beberapa menit kemudian ia sudah terlelap ke alam tidur.
Zidane? Ia masih belum bisa tidur. Rasa khawatirnya kepada Keyra lebih mendominasi daripada rasa kantuknya.
Zidane menatap lurus ke arah wajah Keyra yang terlihat polos. Ia tersenyum. Bukan! Ini bukan senyuman jahil. Melainkan senyuman tulus seperti senyuman kasih sayang. “Keyra, gue udah jatuh cinta sama lo.” Secepat itu kah? Mau bagaimana lagi, perasaan kan datang secara tiba-tiba, tidak bisa di rencanakan. Rasa benci yang ada pada diri Zidane sudah berubah menjadi rasa cinta.
Sungguh ia tidak menyesal telah dinikahkan dengan Keyra. “Semoga lo bisa dengan cepat mencintai gue juga.” Zidane mengeratkan pelukannya sebentar lalu melonggarkannya, memejamkan matanya, menyusul Keyra yang sudah berada di alam bawah sadar. Barangkali ia bertemu dengan Keyra di alam mimpi.
***
Pagi hari setelah Zidane mandi, ia langsung menyiapkan air hangat di bath up untuk Keyra. "Ra, bangun!" Zidane menepuk pelan pipi Keyra.
Keyra mengucek kedua bola matanya. Bangun, lalu duduk sebentar. Melakukan peregangan otot-ototnya. Ia berjalan dengan lesu menuju kamar mandi dengan bantuan Zidane yang merangkul pundaknya. Mewanti-wanti jika Keyra nanti jatuh.
Keyra sangat lesu, wajahnya tampak pucat. Senyumnya tak kunjung hadir di bibirnya. Zidane merasa sedih. Sejak kemarin rasa khawatirnya belum mereda juga. Ia takut Keyra kenapa-napa.
Setelah Keyra masuk ke dalam kamar mandi, Zidane melangkahkan kakinya menuju dapur. Membuatkan makanan untuk sarapan Keyra. Meskipun ia tidak pandai dalam memasak, setidaknya ia tau bagaimana merawat orang yang sedang sakit.
__ADS_1
Aroma masakan tercium oleh hidungnya. "Udah sip nih!" gumamnya dengan tersenyum. Zidane mengambil mangkok lalu menuangkan masakannya tadi ke dalam mangkok tersebut.
Lalu ia kembali ke kamar dengan membawa semangkok bubur serta segelas air putih. Sampai di kamar, ia tidak melihat Keyra disana. Mungkin masih di kamar mandi pikirnya.
Tak berselang lama, Keyra keluar dari kamar mandi dengan memakai hoodie berwarna putih. Keyra duduk di atas ranjang, menyandarkan punggungnya di bahu ranjang.
"Ini udah gue buatin sarapannya, di makan ya!" Zidane mengambil mangkok yang berisi bubur buatannya.
"Lo masak bubur?" tanya Keyra langsung.
"Iya, kenapa?" tanya Zidane balik.
Tampak Keyra yang berpikir sebentar. Sebenarnya gue nggak suka sama bubur, tapi Zidane udah terlanjur buatin! Mau nolak juga nggak enak! batinnya.
"Kenapa, Ra? Lo nggak suka ya? Kalo nggak suka, gue masakin yang lainnya kalo gitu!" ucap Zidane, hendak pergi namun langsung di cegah oleh Keyra.
"Nggak usah, Dan! Gue suka kok!" ucap Keyra terpaksa. Melihat wajah Zidane yang terlihat khawatir dengannya, membuat dirinya tak enak untuk menolak.
Zidane mengambil alih sendok di mangkok. Menyodorkan suapan pertama kepada Keyra. Keyra pun menerimanya meskipun dengan hati yang terpaksa.
Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sebentar ia berpikir. Ada hal yang mengganjal pada diri Zidane. Ia menatap Zidane yang tengah membereskan kamar.
Seketika otaknya langsung mencair. "Zidane" panggil Keyra dan Zidane pun menoleh.
"Iya, ada apa? Ada yang sakit ya?" Zidane langsung mendekati Keyra. Keyra menggeleng pelan.
"Kenapa lo nggak sekolah?" tanya Keyra pelan.
"Lo kan lagi sakit, kalu bukan gue yang jagain terus siapa?"
"Gue baik-baik aja, Dan." ucap Keyra agar Zidane tak terlalu khawatir dengannya.
"Baik-baik aja gimana maksud lo?! Lo nggak liat apa, wajah lo yang udah pucat gitu?!" Zidane mulai kesal. Bagaimana bisa Keyra berkata bahwa ia baik-baik saja, wajahnya saja sudah terlihat jelas kalau ia sedang sakit.
"Gue baik-baik aja, Dan! Jangan terlalu khawatir gitu. Sebentar lagi gue juga sembuh kok! Udah, lo berangkat sekolah sana! 2 minggu lagi kita Ujian Kenaikan Kelas loh, lo nggak mau kan tertinggal di kelas 11?!"
"Nggak, Ra! Gue mau nememin lo di rumah! Gue nggak peduli sama nilai gue nanti. Toh, meskipun gue nggak masuk sehari itu nggak bakal mengurangi nilai gue nanti! Udah ya, jangan protes! Pokoknya hari ini gue temenin lo di rumah!"
__ADS_1
Zidane membaringkan tubuhnya di samping Keyra. Seperti kemarin, sekarang ia juga memeluk Keyra. Mengecup kening Keyra.
Blushhhh
Pipi Keyra sudah berubah seperti kepiting rebus. "Hahahahaha... pipi lo! Uuuuhhh, jadi gemes gue pengen nyium lagi deh!" tawa Zidane pecah, memenuhi kamar.
Zidane, lo nggak tau apa jantung gue udah kayak mau copot ini! Masih di ketawain lagi! protes Keyra dalam hati.
"Kalau mau protes, langsung ngomong aja! Jangan di batin! Hahahaha!" Zidane tak henti-hentinya tertawa.
"Tau ah, lo ngeselin!" Keyra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Iya, udah berhenti ketawain nih!" Zidane menarik telapak tangan Keyra agar wajah Keyra bisa terlihat jelas di matanya. Memeluknya dengan erat, seperti tidak ingin kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
Lama mereka saling diam, Zidane akhirnya memilih dulu membuka suaranya. "Ra" panggil Zidane.
"Hem?" Zidane menatap Keyra dengan lekat. Keyra yang di tatap seperti itu memilih mengalihkan tatapannya. Ia salting di tatap Zidane seperti itu.
"Tatap mata gue, Ra!" seperti terhipnotis, Keyra langsung menatap Zidane. Dia baru sadar bahwa mata Zidane seindah ini. Bola mata berbentuk bulat sempurna, berwarna coklat tua. Sangat indah sekali bila di tatap sedekat ini.
Begitupun dengam Zidane. Ia juga baru sadar bahwa Keyra memiliki mata yang indah. Bola mata yang berwarna coklat muda serta bulu mata yang indah.
Cup
Zidane mengecup bibir Keyra sekilas. Ia merasakan bahwa tubuh Keyra menegang sesaat, tetapi kembali semula setelah beberapa detik.
Zidane memeluk Keyra erat. Keyra bingung, mengapa sikap Zidane berubah seperti ini secara dadakan. "Aku sayang kamu, Ra." ucap Zidane.
"Aku-kamu?" tanya Keyra bingung.
"Kita kan udah nikah, panggilannya ganti aku-kamu. Kalau nggak mau, aku cium bibir kamu. Bahkan kalau kamu secara tidak sengaja mengganti kata lo-gue, aku akan tetap menciummu. Entah itu di rumah ataupun di tempat lain!" Keyra memberi sedikit dorongan pada tubuh Zidane, agar pelukan mereka terlepas. Yash! Berhasil.
"Lo kenap-"
Cup
"Zidane!" bentak Keyra. Ia masih tidak tau dengan kelakuan Zidane saat ini. Zidane sudah berubah. Ini bukan Zidane musuh bebuyutannya. Sebenarnya yang sakit itu dia atau Zidane sih?!
__ADS_1