
"Zidane, kita mau kemana?" tanya Keyra yang sajak tadi heran. Pasalnya, ini bukan jalan menuju rumah mereka.
"Ada deh!" balas Zidane. Benar-benar menyebalkan sekali.
Motor Zidane berhenti di sebuah mall yang besar. "Kita ngapain kesini? Bahan makanan di rumah kan masih ada!" ucap Keyra seraya melepas helmnya.
"Udah ngikut aja!" Zidane menggenggam tangan Keyra lalu mengajaknya masuk.
Ini kenapa sih sebenarnya? pikir Keyra.
Lalu mereka sampai di toko emas. Mau ngapain mereka di toko emas? Pastinya mau beli perhiasan lah.
"Mbak, tolong tunjukkan ke saya cincin pernikahan yang paling bagus di toko ini.
"Baik, Mas. Sebentar saya ambilkan!" pelayan toko tersebut pun mengambilkan beberapa cincin pernikahan keluaran terbaru di toko mereka.
"Ini, Mas!" tunjuk pelayan tadi pada Zidane.
"Ra, sekarang kamu yang pilih!" suruh Zidane.
"Aku? Kenapa kita beli cincin pernikahan?" bisik Keyra di telinga Zidane.
"Udah pilih aja!" Keyra menghembuskan nafas gusar. Percumah saja membantah Zidane, hasilnya juga akan tetap sama dia yang kalah.
Keyra menatap ke 4 pasang cincin pernikahan yang semuanya terlihat bagus secara bergantian.
"Aku nggak tahu mau pilih yang mana! Semunya bagus dan terlihat cantik!" bisik Keyra lagi.
"Yaudah bungkus semuanya aja!" jawab Zidane dengan santainya.
"Eh, jangan dong! Yaudah bentar aku pilih!"
Lama memilih, akhirnya mata Keyra berhenti tepat di sepasang cincin yang di tengahnya terdapat gambar mahkota raja dan ratu.
"Yang ini aja deh!" putus Keyra.
"Okey. Mbak tolong yang cincin bagian perempuan dalamnya di ukir kata Zidane's mine dan yang laki-laki Keyra's mine gitu ya!" Mbak-mbak pelayannya pun mengangguk lalu membawa sepasang cincin tersebut ke dalam untuk di ukir katanya.
"Kenapa beli cincin segala sih?! Kan mahal Zidane!" ucap Keyra.
"Kamu nggak suka ya?" tanya Zidane sendu.
"Bukan itu maksudnya, Zidane!"
"Lalu apa?" Keyra terdiam. Bingung mau menjawab apa.
"Kalau kamu nggak suka, yaudah batalin aja!" Zidane hendak memanggil pelayan yang tadi, tetapi sudah di cegah oleh Keyra.
"Eh, jangan! Okey, okey. Aku suka sama cincinnya!" Zidane tersenyum.
10 menit kemudian pelayan yang tadi kembali dengan membawa sepasang cincin yang sudah di pesan oleh Zidane dan Keyra.
"Terimakasih ya, mbak!" ucap Zidane tersenyum kepada mbak-mbak pelayan.
"Eh, Zidane tunggu dulu!" Keyra menarik tangan Zidane yang hendak pergi.
"Kamu nggak bayar? Kalau gitu biar aku aja yang bayar!" Keyra mengeluarkan kartu ATM nya lalu menyerahkan kepada mbak-mbak pelayan yang tadi.
Bukannya mengambil kartu ATM tersebut, mbak pelayannya malah tertawa. Zidane juga ikut menertawakannya.
Ada apa sih sebenarnya? Gue kan benar! Sehabis beli itu ya membayar, bukannya langsung pergi kayak Zidane! bingung Keyra.
"Ada apa sih, Zidane? Kenapa kamu ketawa?" tanya Keyra dengan polosnya.
Zidane mengkode kepada mbak pelayan tadi supaya memberi tahu kepada Keyra.
"Mbak, masak mbak nggak tahu?" tanya mbak pelayan tersebut dan di respon gelengan kepala oleh Keyra.
"Emangnya ada apa ya mbak?" tanya Keyra.
"Mbak, toko mas ini tuh miliknya Mas Zidane, mangkanya Mas Zidane tidak membayar!" jelas pelayan itu. Keyra terkejut lalu segera berbalik sambil menundukkan kepalanya. Menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik Zidane.
Keyra mencubit pinggang Zidane. "Kenapa nggak bilang dari tadi sih! Kan aku jadi malu!" Zidane tertawa.
"Jangan ketawain, aku marah sama kamu!" Keyra meninggalkan Zidane yang masih tertawa. Ia berjalan sambil sedikit menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah sadar ditinggal, Zidane pun buru-buru menyusul Keyra yang jaraknya tidak jauh dari tempatnya berpijak.
"Maaf deh." Keyra diam, ia masih kesal dengan Zidane.
"Di maafin nggak nih?" Zidane memiringkan wajahnya mengintip Keyra, seketika mereka pun berhenti.
"Nggak." ucap Keyra ketus.
"Beneran?"
"Hem."
"Yakin?" tanya Zidane sekali lagi.
"Yakin seratus persen." jawab Keyra penuh penekanan di setiap katanya.
"Padahal tadinya kalau kamu udah maafin, aku beliin es krim loh." goda Zidane.
"Beneran?" tanya Keyra polos. Zidane mengangguk sambil tersenyum.
"Yaudah beli es krimnya yuk!" ajak Keyra antusias.
"Di maafin dulu dong!" ucap Zidane.
"Iya, udah di maafin. Yaudah ayo, beli es krimnya!" Zidane menggandeng tangan Keyra menuju cafe.
Di sogok pakai es krim aja udah luluh! Dasar anak kecil! batin Zidane.
Sampai di cafe, Keyra duduk di salah satu kursi yang ada disitu dan Zidane yang memesankan es krim mereka.
Ting!
Hp Keyra berbunyi. Ada pesan masuk dari whatsappnya.
Leo
Aku kira tadi cuman pikiran aku yang ngebayangin kamu di mall, ternyata itu memang benar-benar kamu.
Keyra terkejut. Bagaimana bisa Leo selalu mengetahui tempatnya berada?
"Nih anak punya ajian apa sih?! Sampai bisa tahu gue dimana aja!!" gumam Keyra.
KeyraGM
Leo
Nggak sengaja ngelihat aja. Kamu sama Zidane kan?
KeyraGM
Iya
Leo
Lagi di cafe kan?
Keyra langsung menegakkan kepalanya. Menatap ke sekeliling cafe. Berusaha menemukan keberadaan Leo. Namun Nihil, dia sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan Leo.
KeyraGM
Lo dimana sih?
Leo
Di belakang kamu, di depan cafe.
Keyra buru-buru keluar cafe. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe. Lagi lagi pencariannya berbuah nihil. Ia sama sekali tidak menemukan tubuh Leo. Padahal tadi saat keluar cafe ia berharap, sangat berharap bisa bertemu Leo.
Hp Keyra kembali berbunyi. Pesan dari Leo rupanya.
Leo
Maaf, Ra. Waktu kamu keluar cafe tadi, aku udah pergi duluan. Soalnya ada urusan.
Semoga lain kali kita bisa bertemu lagi ya!
Read.
__ADS_1
Keyra menghembuskan nafasnya gusar. Ia masuk ke cafe lagi.
"Kamu dari mana aja?" tanya Zidane yang tampak khawatir.
"Dari luar, hehehe." Keyra menampakkan deretan giginya.
"Yaudah, itu cepat di habisin. Keburu leleh loh." Keyra pun langsung menyantap es krimnya dengan lahap.
Untung Zidane nggak curiga! - Keyra.
###
Setelah sampai di rumah Keyra langsung mandi untuk menghilangkan rasa lengket yang melekat pada tubuhnya.
"Sumpah! Hari ini airnya segar banget! Pengen lama-lama, tapi takut masuk angin!" gumamnya. Padahal suhu air di kamar mandi kamarnya selalu sama. Tetapi rasa segarnya baru terasa hari ini. Mungkin saking gerahnya ya.
Keyra keluar kamar mandi dengan setelan baju tang top serta celana pendek. Ia mengusap-usap rambutnya agar mengering. Dilihatnya Zidane yang juga sudah memakai kaos polos berwarna navy serta celana selutu berwarna putih.
"Sini aku keringin." ucap Zidane dan Keyra pun menurut. Lumayan lah menghemat energi juga.
Zidane mengambil handuk yang ada di tangan Keyra kemudian mulai mengusap-usap rambut Keyra agar mengering.
"Awas aja kalau aku sampai ngelihat kamu keluar pakai setelan yang kayak gini! Langsung aku buang tuh baju!" Keyra cekikikan mendengar ancaman Zidane. Mana mungkin Keyra keluar dengan setelan seperti itu. Ia juga takut kali kalau nantinya malah di goda oleh laki-laki yang mata keranjang.
"Sebal deh sama kamu!" Keyra mengernyitkan dahinya. Bingung. Kenapa Zidane sebal kepadanya? Perasaan dia tidak membuat kesalahan deh!
"Sebal kenapa?" tanya Keyra bingung.
"Sebal karna selalu bisa buat aku jatuh cinta!" Keyra langsung tertawa mendengarnya.
"Kamu nih bisa aja deh!" ucap Keyra.
"Beneran tau. Lihat sekarang! Pas kamu lagi ketawa aja tambah cantik, senyum kamu yang manis, mata kamu yang indah, ah pokoknya kamu itu perfect deh! Apalagi kalau berdampingan sama aku, kata 'perfect'nya bakalan double!" jelas Zidane jujur.
"Kamu tuh ya! Orang aku biasa aja kok dikatain cantik. Masih ada orang yang lebih cantik dari aku!" balas Keyra.
"Tapi bagi aku yang cantik di dunia ini cuman kamu!" ucap Zidane.
Setelah selesai proses mengeringkan rambut Keyra, keduanya pun membaringkan tubuh di atas king size. Zidane memeluk Keyra dengan erat.
"Pokoknya ya, kamu itu hanya milik aku seorang! Kamu nggak boleh ngelirik cowok selain aku ya! Awas aja kalau ngelirik cowok lain, aku congkel mata kamu!"
Lihat! Sekarang Zidane malah bermanja pada Keyra. Bukan sekarang saja sih, tapi setiap harinya. Di luar cowok itu memang terlihat cool, tapi jika di lihat dari sisi Keyra, Zidane itu cowok yang manja dan penyayang.
"Kalau mata aku, kamu congkek, berarti kamu nggak bisa lihat mata aku lagi dong!"
"Benar juga ya! Nggak jadi di congkel deh! Aku ciumi aja sampai kamu lelah!" Zidane sungguh menyayangi wanita pilihan kedua orang tuanya. Mereka tidak salah memilihkan Zidane pendamping hidup.
Cup.
Zidane mengecup bibir Keyra sekilas. "Selamat Malam! Semoga kita bertemu lagi di mimpi!"
###
**Hai-hai, gimana? Udah tahu si Leo belum? Kalau menurut kalian nih ya! Yang kelihatan kayak Leo siapa sih? Dan seberapa persen kalian yakin?
Zidane \= 0% - 100%?
Farzan \= 0% - 100%?
Adam \= 0% - 100%?
David \= 0% - 100%?
Eric \= 0% - 100%?
Btw, NSS ini berakhirnya masih lama ya!
Jadi, kalau benar-benar pengen ngerti yang namanya Leo, simak terus kelanjutan ceritanya!
Oh iya, follow akun NT author juga instagram @al_2685b! Jangan lupa vote ceritanya, biar naik ranking nya. Biar jadi ranking satu! Kan jadi pintar nih, kalau udah ranking satu. wkwkwkwk.
Terimakasih
__ADS_1
See you next part😉
Author cinta kalian❤️**