Nikah Saat SMA

Nikah Saat SMA
perjuangan Minda


__ADS_3

"Kemarin lo kemana sama Adam?" tanya Keyra pada Minda. Kini mereka tengah menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan.


"Kan kemarin udah gue bilang mau traktir Adam es krim! Ini tuh udah yang ke 10 kalinya lo tanya gue dengan pertanyaan yang sama! Harus berapa kali gue jawab dengan jawaban yang sama? 20? 50? atau 100? Nggak percaya amat sih sama sahabat sendiri!" jawab Minda yang sudah jengah menjawab pertanyaan Keyra yang ujung-ujungnya sama juga jawabannya.


"Habisnya lo tuh sukanya sama Farzan, tapi jalan sama Adam! Kayak rasa suka lo ke Farzan itu nggak meyakinkan gitu loh!" sabut Bunga yang sudah mengalihkan perhatiannya dari buku ke pembicaraan.


"Gini ya, kemarin itu gue traktir Adam es krim karena dia udah ngebantuin gue! Kalo kalian nggak percaya tanya aja sama Adamnya!" Minda geleng-geleng kepala.


"Tapi kan-" belum sempat Bunga meneruskan masa protesnya sudah di potong oleh Minda.


"Bodo amat sama apa yang kalian pikirin! Gue nggak peduli!" kalimat terakhir yang membuat ketiganya langsung diam.


"Yaudah deh, maaf." ucap Keyra mendahului pembicaraan lagi.


"Gue juga minta maaf" sambung Bunga.


"Udah gue bilang dari dulu kalau-"


"Tidak ada kata 'maaf' dan 'terimakasih' dalam persahabatan!" Keyra dan Bunga bertos ria sambil tertawa.


"Tuh, kalian tau!"


"Btw, rencana lo buat naklukin si Farzan apa?" tanya Bunga. Pembicaraan pun mulai serius.


"Nggak tau juga sih! Gue aja belum tau apa yang dia suka dan apa yang dia nggak suka!" jawab Minda dengan wajah melas.


"Kenapa nggak tanya langsung sama orangnya?" Keyra menutup novel yang tadi di bacanya.


"Lo yakin kalo gue tanya hal itu, Farzan bakalan jawab?! Yang ada gue dapat semprotan dari dia! Kalo nggak gitu ya paling-paling di diemin!"


"Iya sih ya." Bunga manggut-manggut. "Tapi apa salahnya mencoba?!"


"Benar juga sih! Yaudah, nanti gue coba deh! Semoga langsung di jawab!" ujar Minda.


"Aamiin." sahut Keyra dan Bunga bersamaan.


###


Sepulang sekolah Minda memantapkan hatinya untuk bertanya pada Farzan.


Aduuuhh, kenapa gue jadi gugup gini sih?! Kek mau lamaran aja! - Minda memainkan jemarinya untuk menghilangkan rasa gugup.


Matanya menyusuri seluruh koridor anak IPA. Mencari-cari tubuh tegap milik Farzan. Ting! Ketemu! Ia pun berjalan menghampiri Farzan yang sedang berjalan membelakanginya.


"Hai, Zan." sapa Minda namun tak dilirik oleh Farzan.


"Mmmm.. lo mau kemana?" tanya Minda basa-basi dulu.


"Kepo." jawab Farzan lalu kembali diam.


"Kenapa lo belum pulang?" Minda mengernyitkan dahinya saat Farzan memasuki lab musik.


"Lo mau ngapain di lab musik?" tanya Minda bingung.


Farzan hanya melirik sekilas cewek di sampingnya ini. Ia kemudian menaruh tasnya di salah satu kursi yang ada di sana, kemudian memainkan piano.


Minda terpaku melihat kolaborasi tangan Farzan dengan piano tersebut. Membentuk alunan musih yang bagus.


Minda berdecak sebal. Kenapa Farzan bisa se-keren ini sih! Zebel deh! Lelah berdiri, Minda pun duduk di sampung bangku yang diatasnya ada tas Farzan.


Beralih dari piano, Farzan pun mengambil gitar acoustic. Mulai memetik senar, lalu memainkannya sambil bernyanyi lagu it's you milik Ali Gatie.


Ganteng lo jadi ples ples tau! Nggak kuat hati ini bang! Minda sangat meleleh sekali mendengar suara merdu milik Farzan.


Proookk prook proook


Minda bertepuk tangan saat Farzan telah selesai menyanyi. Maybe, dia seperti anak kecil.


Dahi Minda kembali terlipat saat melihat Farzan kembali lagi berkutat dengan piano. "Nih cowok kenapa balik ke piano lagi?!" gumamnya.


Minda pun akhirnya menghampiri Farzan. Mengambil kursi yang ada disamping piano tersebut. Menatap Farzan dengan lekat.


"Suara lo tadi bagus banget loh!" ucap Minda antusias.


Farzan terus memainkan tuts piano. "B aja!" ucapnya datar tanpa mengalihkan perhatiannya.


Hening.


Namun Minda kembali mencairkan suasana saat ia tersadar apa tujuannya hari ini. "Zan" panggil Minda.


Farzan menaikkan alisnya yang artinya 'apa?'. "Lo suka warna apa?" tanya Minda to the point.


Diam.


Tuh kan, bener dugaan gue! Pasti di diemin! - Minda.


"Mmmm.. nggak jadi deh! Ganti pertanyaan lain! Yang ini tolong di jawab ya? Harus jujur! Karena ini menyangkut hidup dan mati gue!"


Hah? Apaan? Kenapa bisa menyangkut hidup dan mati gue? Aneh-aneh aja nih otak! - Minda.


"Lo kok bisa dingin kenapa sih?" Nah! Itulah pertanyaan yang selalu mengahntuinya. Dia ingin tahu awal mula sifat dingin Farzan.


Seketika Farzan langsung berhenti bermain piano. Ia berdiri, dan langsung pergi membawa tasnya. Hal itu tidak menurunkan kadar ke-kepoan Minda.


Ia pun mengejar Farzan. "Farzan" panggil Minda sambil berlari kecil. Langkah Farzan yang lebar membuat Minda berlari kecil demi mengejarnya.


"Farzan, tungguin!" teriak Minda lagi.


Farzan sampai di parkiran. Dibelakangnya ada Minda yang masih mengatur nafasnya. Setelah selesai mengatur nafss, Minda kembali menegakkan tubuhnya. Siap memprotesi Farzan.


"Kenapa gue di tinggal sih?! Nggak tau apa sekolah udah sepi?" protesnya. Farzan tetap diam.


"Farzan" teriak Minda.


"MAU LO APA SI?! HAH?!" bentak Farzan yang langsung membuat nyali Minda menciut.


Seram sekali wajah gantengnya - Minda.


"JAWAB!!" bentak Farzan lagi tepat di wajah Minda.


"Jawab pertanyaan gue tentang sifat dingin lo tadi." jawab Minda jujur.


"Nggak akan!" ucap Farzan penuh penekanan.


Farzan pun memakai helm, lalu menaiki motornya. "Eh, mau kemana?" tanya Minda.


"Minggir." tegas Farzan.

__ADS_1


"Nggak mau, jawab pertanyaan gue dulu!" kekeuh Minda.


"Minggir!" Namun Munda tetapi tidak ingin bergeser dari tempat berdirinya.


Nih cewek maunya apaan sih?! - geram Farzan dalam hati.


"Minda Alana." ucap Farzan penuh penekanan. Minda langsung terkesiap saat Farzan memanggil namanya dengan lengkap.


Sudah di pastikan Farzan benar-benar marah. Akhirnya Minda memilih bergeser dari tempatnya berpijak. Membiarkan Farzan pergi berlalu meninggalkannya.


"Tenang Minda! Nggak boleh marah! Nggak boleh patah semangat! Harus tegar! Nggak boleh nangis walaupun hanya di bentak! Tetap perjuangin!" Tapi kata-kata penyemangat itu gagal. Minda meneteskan air matanya.


Saat ia di bentak oleh orang, pikirannya langsung tertuju pada Mamanya yang kini telah di ambil oleh Tuhan. Dulu Mamanya seringkali di bentak oleh papanya. Masalah kecil selalu di besarkan. Karena saking seringnya di bentak dan di salahkan, Mama Minda menjadi depresi. Tiap hari, ia selalu menyempatkan dirinya untuk bertemu Sang Mama di Rumah Sakit Jiwa.


Hingga suatu hari, saat ia kembali berkunjung, ia melihat Mamanya tergeletak kaku di atas lantai dengan darah yang terus keluar dari nadinya. Mamanya bunuh diri. Minda terisak. Tidak. Ini tidak mungkin. Saat itu juga dunia Minda terasa hancur seketika. Segera ia memencet tombol darurat yang ada di atas nakas. Dan tak lama seorang dokter dengan 3 perawat datang dengan raut wajah yang seperti tegang.


Mereka membawa Mama Minda keluar dari kamar. Beberapa jam kemudian, Mama Minda di makamkan. Di atas makam tersebut Minda menangis sejadi-jadinya.


"Papa kemana?" ucapnya denga nada terisak. Sungguh, ia merasa Papanya itu jahat sekali. Tidak hadir dalam pemakaman Mamanya. Padahal Minda sudah menelpon beberapa kali, tetapi malah di tolak.


Setelah kembali dari pemakaman, Minda langsung menuju kamarnya. Menangis lagi. Mengeluarkan semua emosi yang ada pada dirinya.


Kini Minda tersadar dari lamunannya. Ternyata ia masih di sekolah. Segera ia menghapus air matanya agar tidak di lihat oleh orang lain dan agar ia tidak terlihat lemah di mata orang lain.


"Udah cukup! Gue nggak boleh menangis! Nggak boleh! Sekalipun ada yang nge-bentak, gue nggak boleh menangis! Gue nggak boleh lemah! Gue harus kuat!" itulah kata-kata yang selalu menjadi penyemangatnya saat ia teringat Mamanya karena tak sengaja di bentak.


"Semoga Mama bahagia disana. Disini, Minda baik-baik saja! Minda kuat, Ma! Jadi, Mama jangan sedih ya!" Minda pun berjalan ke arah gerbang sekolah. Menunghu taksi onlinenya datang.


###


*****WACANA GROUP'S***


Keyra**


Hoeeee


Gimana Min? Berhasil?


Bunga


Mindaaaa, lo baik-baik aja kan?


Minda


Iya, gue baik-baik aja


Keyra


Kampret!


Yang dijawab cuman si Bunga, gue enggak :/


Minda


Emang lo tanya apaan?


Keyra


Tuh kan, ngeselin😒


Minda


Keyra


Gimama tadi? Berhasil?


Bunga


Haah, tadi gimana responnya Farzan?


Minda


Nggak di jawab tauuu!


Ngeselin banget!


Keyra


Se-ngeselinnya Farzan, lo juga tetep sayang dia kan?!


Minda


Iya lah.


Aku setia dengan dia bang!


Keyra


Gue bukan abang looooo!


Minda


Siapa yang bilang lo abang gue? :/


Keyra


Untung sayang :v


Minda


Btw, Bunga kok tiba-tiba ngilang?


Keyra


Biasa


Lagi chattingan sama calon ayam bebeknya😂


Minda


Ouh iya, lupa! Wkwkwkwk.


Bunga


Paan sih? Nggak ya!


Minda

__ADS_1


NGGAK SALAH!


Keyra


2


Bunga


Yain, biar fast


Minda


Diiihhh, ngambekan


Keyra


2


Minda


Keyboard lo rusak ya?


Dari tadi kok 2 aja yang keluar?!


Keyra


Lagi ngirit


Bunga


Mau nyamain Farzan lo?


Minda


Jangan bawa-bawa Farzan gueeeee!


Bunga


Cih, bilangnya 'Farzan gue'! Jadian aja belum :/


Keyra


@Bunga emang lo udah jadian juga sama si Dapet?


Bunga


Namanya David, Raaaa! Bukan dapet! Main ganti-ganti nama aja!


Keyra


Dih, terserah gue lah mau manggil apaan!


Minda


Btw, Hari Sabtu besok kita jadi hangout kan? Ke Ancol.


Bunga


Gue mah tetep setuju-setuju aja.


Keyra


Gue nggak bisa!


Lagi ada lomba dance di SMA Wijaya


Minda


Waaaah, masaaaak?


Bunga


Beneran, Ra?


Keyra


Iya, beneran✌️


Minda


Gue nonto ah! Sekalian cuci mata


Bunga


Gue ngajak David aja ya, Ra?


Keyra


@Bunga terserah lo


Minda


Ehm!


Jadi yang nggak punya pasangan cuman gue sendiri nih?


Keyra


Ya makanya, cepetan sana cari.


Bunga


Betul tuh si Keyra. Jadi kemana-mana enak. Kita juga bisa nge-date bareng-bareng.


Minda


Iya iya


Doain, semoga Farzan Ganteng bisa luluh secepatnya ya😉


Keyra


Aamiin


Bunga


Aamiin

__ADS_1


Minda menutup Hpbnya. Lalu merebahkan tubuhnya di atas queen size nya. Hari ini ia sudah lelah sekali


__ADS_2