Nikah Saat SMA

Nikah Saat SMA
rasa yang terpendam


__ADS_3

JANGAN LUPA SAMBIL BACA DENGERIN LAGU 'HANYA RINDU by ANDMESH' BIAR EMOSINYA KENA :)


###


Sampai di bukit, dia turun dari motor. Duduk sambil menikmati pemandangan ibu kota yang indah di sore hari bersama dengan berjalannya matahari yang nantinya akan membentuk sebuah senja yang sangan indah namun sementara.


Merenungkan hatinya kini adalah kegiatannya. Tanpa dia inginkan, setetes air mata lolos melalui pipinya.


"Kenapa Zidane bisa berhasil dapatin hati lo!" teriaknya.


"Gue yang paling lama perhatiin lo, gue yang lama berteman dengan lo, gue yang pertama bertemu dengan lo, dan gue juga yang pertama menyukai senyum lo! Tapi kenapa lo malah bersana Zidane!" teriaknya lagi. Sekarang ia hanya ingin sendiri.


"Lo masih ingat pas pertama kita ketemu? Kita bertemu di taman. Waktu itu lo menghampiri gue dengan berlari kecil sambil menangis."


Flashback ON


“*Hiks.. hiks..” seorang gadis kecil yang masih memakai gaun pesta duduk di depan seorang anak laki-laki kecil yang sedang bermain mobil-mobilan di atas rumput. Anak laki-laki tersebut mengerutkan dahinya. Bingung dengan gadis kecil di depannya ini. Mengapa dia menangis di depannya?


Tangisan gadis tersebut bukannya mereda tetapi malah semakin keras. Anak laki-laki tersebut berhenti memainkan mobil-mobilnya. “Hei, kau kenapa? Apa kau sedang sakit?” tanyanya. Namun bukannya menjawab gadis tersebut malah tetap menangis.


“Hei berhentilah menangis! Kalau kau tidak berhenti menangis, aku tidak akan mau menjadi temanmu!” Ajaibnya, gadis tersebut berhenti menangis. Setelah menghapus air matanya, gadis tersebut mendongakkan kepalanya yang tadi sempat tertunduk*.


“*Tersenyumlah. Karna kata bundaku, setelah menangis kita harus tersenyum agar kau bisa melupakannya.” Gadis tersebut pun tersenyum.


“Kau kenapa? Sedang sakit ya?” tanya anak laki-laki tersebut.


“Tidak. Aku tidak sakit.” Gadis tersebut mulai mengambil mobil-mobilan anak laki-laki di depannya untuk dimainkan.


“Lalu kenapa kau menangis?” tanyanya lagi.


“Hari ini aku ulang tahun, tetapi ayahku tidak membawakan kado ulang tahunku. Katanya, ia lupa dan besok akan di berikan. Padahal aku maunya sekarang, tetapi ayah tetap tidak ingin membawakan kadonya hari ini.” Jelas gadis tersebut.


“Tenanglah. Aku yakin, besok pagi setelah kau bangun tidur pasti ada banyak kado dari ayahmu. Dia kan baik kepadamu. Dia pasti akan menuruti kemauan putrinya.” Ucap anak laki-laki tersebut sambil terus bermain bersama gadi kecil didepannya ini*.


“Oh iya, hari ini kamu ulang tahun kan?” gadis tersebut mengangguk.


“Selamat Ulang Tahun ya! Maaf aku tidak memberimu sebuah kado, karna aku baru tau kalau hari ini adalah hari ulang tahunmu.” Gadis tersebut menerima uluran tangan anak laki-laki tadi sambil memperlihatkan deretan giginya,


“Tidak apa-apa.”


“Apa kau ingin bermain ayunan?” tawar anak laki-laki tersebut. Gadis kecil itu pun mengangguk. Dan kemudian mereka bermain ayunan bersama. Sambil sesekali tertawa.


Dari permainan ayunan, kini beralih bermain jungkat-jungkit. Setelahnya, mereka bermain permainan yang ada di taman tersebut. Hingga matahari yang tadinya berada di atas kepala, sekarang mulai menghilang.


“Hai, namamu siapa?” tanya anak laki-laki tersebut. Mereka berdua berjalan beriringan menuju mainan mobil-mobilan.


“Namaku Keyra, kalau kau siapa?” tanya Keyra balik.


“Namaku sangat panjang sekali. Kalau aku menyebutkannya, kau pasti akan lupa.” Jelas anak laki-laki itu sambil menggerakkan tangannya pada saat mengucapkan kata panjang sekali, dan hal itu berhasil membuat Keyra tertawa.


“Lalu aku harus memanggilmu apa?” tanya Keyra kecil.


“Panggil saja aku Leo dan aku akan memanggilmu Rara. Apa kau setuju?”


Keyra mengangguk senang. “Aku setuju!” ucapnya antusias.


“Baiklah Rara, ini kan sudah sore ayo kita pulang!” keduanya pun berjalan menuju rumah masing-masing.


“Oh iya, ambil mobil ini sebagai kado ulang tahunmu dari ku. Jaga mobil itu baik-baik ya! Jangan sampai rusak. Karena itu adalah mobil yang paling aku sayangi!” Keyra menatap mobil-mobilan itu dengan senang.


“Leo, apakah kita berteman?” tanya Keyra dengan wajah polosnya.


“Tidak. Aku tidak mau berteman denganmu.” Wajah Keyra pun kembali sedih.


“Tapi kita bersahabat. Kita akan menjadi sahabat.” Keyra kembali senang. Kemudian ia berpamitan dengan Leo, begitupun sebaliknya.


Setelah 3 langkah, Leo kembali berbalik. “Rara!” panggilnya, lalu mengampiri Keyra.


“Rumah mu yang mana?” tanya Leo.


“Cari saja rumah yang bernomor 10 berpagar hitam, itulah rumahku.” Leo menganguk paham.


“Baiklah aku pulang dulu ya!” lalu keduanya pun berpisah di depan taman.


Esok harinya, Keyra kecil terbangun dari tidurnya. Betapa terkejutnya dia melihat banyak kado yang sudah terbungkus rapi di dalam kamarnya.


Keyra kecil langsung keluar dari kamar menuruni anak tangga untuk menghampiri ayahnya.


"Ayah, ayah." panggil Keyra kecil sambil berlari.

__ADS_1


"Eh sayang, jangan lari-lari dong! Nanti kamu jatuh loh!" peringat sang bunda kepada Keyra.


"Ayah" panggil Keyra sekali lagi saat ia sudah sampai berada di samping ayahnya yang sedang menonton TV.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Faisal selaku ayah Keyra.


"Apa kado yang berada di kamar itu kado dari ayah?" tanya keyra dengan suara khas anak kecil.


"Emmmm... bagaimana ya?" goda Faisal.


"Ayolah ayah, jawab!" rengek Keyra.


"Baiklah. Benar itu kado dari ayah semua. Memangnya kenapa? Apa kamu tidak suka?" tanya Faisal.


"Tentu saja aku suka. Aku suka banget. Keyra sayang ayah!" Keyra mencium kedua pipi Faisal.


"Ayah juga sayang kamu!" Faisal memeluk putri kecilnya, lalu mencium kedua pipi Keyra.


"Terimakasih ayah!" Faisal mengangguk tersenyum.


"Cuman ayah aja? Bunda gimana?" tanya Zahra.


"Sayang bunda juga! Terimakasih bunda!" Keyra pun beralih dalam pelukan Zahra. Mencium kedua pipi Zahra dan begitu pun sebaliknya.


"Keyra ke kamar dulu ya!" Lalu Keyra kembali ke kamarnya.


"Waaah, banyak banget!" Keyra membuka satu persatu kotak kado.


Matanya melebar ketika melihat sebuah boneka kucing yang sangat lucu. "Yang ini aku berikan untuk Leo saja, pasti dia suka. Lagian ini juga ada 2, jadi aku dan Leo akan sama-sama punya gantungan ini." ucapnya dengan antusias ketika melihat miniatur berbentuk menara eiffel. Menara kesukaannya.



Setelah mandi, Keyra turun ke bawah sambil membawa 1 kotak kado berwarna navy.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Zahra saat melihat putri kecilnya menuruni anak tangga sambil membawa sebuah kotak kado.


"Aku mau bertemu sahabatku di taman, bunda! Mau memberikan ini untuk dia." jawab Keyra sambil memperlihatkan kotak tersebut.


"Baiklah, jangan lama-lama! Segera pulang! Dan hati-hati di jalan!" Senyum Keyra tampak merekah dengan sempurna.


"Iya, bunda. Terimakasih! Keyra berangkat dulu ya!" Keyra pun pergi keluar rumah. Menyusuri jalan perumahan menuju taman.


"Leo" panggil Keyra. Leo mendongakkan kepalanya.


"Hai, kita bertemu lagi! Ada apa?" tanya Leo kecil.


"Lihat! Aku membawakanmu sebuah hadiah!" Keyra memberikan kotak tersebut yang kemudian langsung di ambil oleh Leo.


Leo membuka tutup kotak tersebut. Dahinya mengerut bingung. Tidak paham apa yang dimaksud dengan gadis di depannya ini.


"Hei, itu untukmu. Dirumah aku juga mempunyai 1 seperti itu. Mengapa? Apa kau tidak suka?" senyum Keyra meluntur.


"Tidak Rara. Bukan itu maksudnya. Aku hanya bingung, mengapa kamu memberikannya kepadaku?"


"Karena kamu adalah sahabatku. Sahabat pertamaku!" jawab Keyra yang sudah duduk di depan Zidane.


"Ouh. Okey, terimakasih Rara!" balas Leo.


"Apa kau menyukainya?" tanya Keyra.


"Tentu saja aku menyukainya!" seru Leo.


"Terimakasih Rara!" ucap Leo sekali lagi.


"Leo" panggil seorang perempuan yang mungkin saja itu bundanya.


"Iya, bunda?"


"Ayo kita pulang! Ayahmu sudah pulang! Loh ini siapa?" bunda Leo terlihat bingung.


"Bunda kenalin, ini sahabatku. Namanya Rara." ucap Leo memperkenalkan Keyra.


"Ouh. Hai Rara! Apa kamu mau ikut bermain dengan Leo di rumahnya?" Keyra mengangguk antusias.


"Ayo Rara!" Leo berjalan dengan gembira sambil menggandeng tangan Keyra.


Sampai di rumah Leo, Keyra masuk dan bertemu ayah Leo yang sedang membawa kamera. "Waaah, paman! Tolong kami dengan kamera itu." seru Keyra.


"Hahaha.. baiklah, paman akan memfoto kalian. Ayo berpose!" Keyra dan Leo foto bersama. Berbagai banyak ekspresi wajah mereka yang konyol telah tertangkap kamera.

__ADS_1


"Rara, ayo bermain di kamarku. Aku punya banyak mainan loh!" ajak Leo kecil.


"Benarkah?" Leo mengangguk antusias. Lalu mereka berdua bermain di kamar Leo.


"Leo, jaga baik-baik menara itu ya! Karna aku menyukai menara itu!" ucap Keyra sambil bermain pesawat-pesawatan.


"Iya, Rara. Aku berjanji akan menjaganya baik-baik! Apa kamu sudah pernah ke menara ini?" tanya Leo sambil memperlihatkan miniatur menara eiffel.


Keyra menggeleng. "Belum. Tetapi aku ingin kesana." ucap Keyra.


"Tunggu kalau aku sudah besar ya! Aku pasti akan mengajakmu kesana! Kita akan bermain dan bersenang-senang disana bersama!" ucap Leo kecil dan itu sukses membuat senyum di bibir Keyra terbit.


"Sudah siang, apa kamu tidak ingin pulang?" tanya Leo.


"Kamu mengusirku? Baiklah aku tidak akan mau bermain denganmu lagi!" Keyra berjalan keluar kamar Leo dengan nada cemberut dan Leo mengikutinya dari belakang.


"Rara, bukan itu maksudku! Aku hanya takut nanti kamu di marahi sama ayah dan bundamu, dan kamu pasti tidak boleh bermain ke rumahku lagi!" ucap Leo sedih.


"Baiklah Leo, aku akan pulang! Daaaaah!" Keyra melambaikan tangannya dan tersenyum kepada Leo. Kemudian ia pulang ke rumahnya. Keyra kecil cukup tau jalan menuju rumahnya.


###


5 hari Leo menunggu Keyra di rumahnya juga di tamannya. Barangkali Keyra sahabatnya itu akan muncul dan bermain lagi bersamanya. Namun hasilnya nihil. Keyra tidak datang.


Hingga suatu hari diajak pindah oleh orang tuanya di Rusia. Negara yang jauh dari Indonesia. Negara yang jauh dari rumah sahabatnya.


"Bibi, kalau ada sahabatku ke sini, tolong berikan ini ke dia ya!" pinta Leo.


"Baik den. Ada lagi?" tanya asisten rumah tangga tersebut.


"Emmmm, apa ya bi?" Leo berpikir sejenak.


"Baiklah. Bilang saja, jangan menangis ketika aku pergi! Aku berjanji akan kembali kepadanya lagi!" ucap Leo.


"Siap den." Tak lama, Leo bersama orang tuanya pergi menuju bandara.


Sepanjang perjalanan, Leo tak henti-hentinya menangis. Saking lamanya menangis, ia sampai tertidur di pesawat.


2 hari kemudian, Keyra berjalan menyusuri jalan komplek perumahannya. Dia akan bertemu kembali sahabatnya setelah 1 minggu tidak salih berjumpa. Sungguh senang hatinya ketika sudah sampai di deoan gerbang rumah tersebut.


Keyra memencet bel rumah. Dan tak lama tampaklah seorang asisten rumah tangga yang membukakan gerbang untuknya.


"Bi, apakah Leo ada di rumah?" tanya Keyra sambil menengok kanan kiri.


"Apa non ini adalah sahabatnya Den Leo?" tanya bibi itu.


"Iya bi. Leo nya ada kan di dalam?"


"Maaf non. Den Leo sudah pindah rumah bersama orang tuanya sejak 3 hari yang lalu. Den Leo hanya menitipkan ini untuk Non Rara." ucap ART tersebut sambil menyerahkan selembar foto, yang di dalamnya ada dirinya juga Leo dengan tersenyum.


"Katanya, Jangan menangis ketika dia pergi! Dia berjanji akan kembali kepada non lagi!" sambung ART itu.


"Baiklah bi. Terimakasih ya! Rara pulang dulu!" Keyra berjalan menuju rumahnya. Sampai di rumah dia terus menangis di dalam kamarnya.


"Leo, aku akan menunggumu kembali." gumamnya sabelum tertidur karena lelah menangis


Flashback OFF


"Gimana caranya gue ngejauhin lo tanpa sepengetahuan teman-teman?"


Entah mendapat hasutan dari setan mana, tiba-tiba saja dia mengambil hp dari saku celananya dan memutar musik yang berjudul 'Hanya Rindu' yang dinyanyikan oleh Andmesh. Menurutnya lagu ini tengah mewakili perasaanya saat ini.


"AAAAKKKHH" teriaknya frustasi. Mengapa lagu ini sangat mewakili perasaanya.


"Jujur! Gue rindu lo, Ra! Rindu banget sama lo! Rindu alasan lo tersenyum karna gue! Rindu bermain sama lo! Rindu semua yang ada di diri lo!"


"Tuhan. Kenapa Engkau mempertemukan ku dengan Keyra jika kau juga akan memisahkanku dengannya!" tanpa ia inginkan, setetes air mata lolos melalui pipinya.


Namun kini, air mata itu terus menetes membasahi pipinya. Menerima kenyataan bahwa Keyra telah dimiliki oleh orang lain dan orang tersebut adalah sahabatnya sendiri, membuat dirinya tak bisa menahan rasa patah yang ada di hatinya.


Setelah lama menangis. Dia menghapus air matanya. Tidak! Dia tidak boleh menangis! Jika dia menangis, itu namanya dia pengecut.


Banyak orang yang berkata, sebelum janur kuning melengkung masih ada kesempatan untuk memilikinya.


Bukan. Dia tidak bermaksud menikung sahabatnya. Tetapi dia akan mengingatkan Keyra bahwa kini Leo kecilnya sangat dekat dengannya.


"Gue berjanji! Jika suatu saat Zidane menyakiti lo, gue akan merebut lo darinya!" ucapnya memantapkan dalam hati.


Dia mulai menacapkan gas menuju rumah tinggalnya yang sekarang. Hari ini ia sangat lelah berurusan dengan hati.

__ADS_1


__ADS_2