
Malamnya Keyra tidak bisa mengikuti acara selanjutnya, karena Zidane tidak memperbolehkannya. Alasannya hanya satu “kaki kamu masih belum pulih sepenuhnya.” Gitu aja terus sampai Hari Raya Merak.
Keyra mencabuti rumput lalu melemparkannya ke asal. “Itu kenapa rumputnya di cabutin, kasihan tau.” Ucap Zidane.
Lihat, dia malah mengkasihani rumput bukan gue. Sebenarnya yang jadi pasangannya itu siapa sih? Rumput atau gue? Gerutu Keyra dalam hati.
“Zidane, aku kesana ya?” pinta Keyra dengan puppy eyesnya sambil menunju sebuah panggung yang di depannya terdapat banyak peserta yang duduk tanpa alas.
“Nggak boleh. Kaki kamu masih sakit.” Tolak Zidane.
“Disini bosan Zidane.”
“Masih ngeles aja. Udah ya pokoknya nggak boleh. Titik.”
“Ini permintaan terakhir aku. Aku kesana ya? Kamu jawab ‘tidak’ aku kesana, kamu jawa ‘ya’aku kesana, nggak kamu pilih aku kesana. Pilih mana?”
“Idiih, pilihannya nggak ada yang bagus.”
“Yaudah aku kesana sendirian.” Putus Keyra, ia pun bangkit dari duduknya.
“Eh eh, yaudah kita kesana, tapi kamu harus di samping aku terus. Nggak boleh kemana-mana!”
“Kok gitu sih?! Nggak mau, aku kan mau gabung sama teman-teman sekelas.” Protes Keyra.
“Fix, kita nggak usah kesana!” putus Zidane.
Keyra tersenyum terpaksa. “Zidane, kamu bawa pisau nggak? Atau gunting gitu?” tanya Keyra.
“Bawa. Ada di dalam tas. Mau diapain?” tanya Zidane penasaran.
“Mau dipakai bunuh kamu!” jawab Keyra dengan suara sedikit meninggi.
“Aish, kejam juga ya ternyata. Kalau aku meninggal, jadi janda muda dong?” bisik Zidane di telinga Keyra.
“Lah iya ya?” Keyra tampak berpikir.
“Bodo amat! Mau aku janda kek, mati juga kek, jomblo seumur hidup, BODO AMAT! AKU NGGAK PEDULI!” ucap Keyra sedikit meninggikan suaranya.
“Suaranya di kecilin dikit dong! Emang kamu mau semua orang tau kalau kita udah nikah?”
“Nggak mau lah.”
“Yaudah, pelanin dikit suaranya.” Zidane berusaha menahan tawanya agar tidak meledak di depan Keyra. Bagaimana bisa ia mempunyai seorang kekasih yang polos seperti ini.
“Oke oke.” Jawab Keyra cepat.
“Aku cekik mau nggak?” tanya Zidane.
“Yakin mau cekik aku? Entar kamu jadi duda loh.”
“Biarin lah jadi duda. Tetap banyak yang suka juga. Lagian meskipun umur aku nambah, kadar ketampananku juga nggak berkurang tuh.” Goda Zidane.
“Daripada kamu, kalau jadi janda bukannya banyak yang deketin tapi malah banyak yang jauhin. Galak sih orangnya. Jadi, pada nggak mau deh sama kamu.” Sambung Zidane.
“ZIIIDAAANEEEE! AKU CEKIK KAMU, AKU BUANG KAMU KE SUNGAI. BIARIN DI MAKAN SAMA BUAYA SANA!” balas Keyra dengan kekesalan yang sudah memucuk. Lalu Keyra benar-benar meninggalkan Zidane yang tertawa lepas.
Setelah tersadar ditinggalkan Keyra, Zidane pun menyusul Keyra. “Udah ngilang juga jejaknya. Cepat amat jalannya.” Gumam Zidane mencari-cari keberadaan Keyra saat ini.
“Ooouuh, ternyata disana.” Gumam Zidane lagi saat melihat Keyra yang saat ini sedang duduk di samping dua sahabatnya, bersama teman sekelasnya.
“Biarin aja deh. Yang penting gue pantau, meskipun dari jauhan.” Zidane akhirnya memutuskan dirinya untuk bergabung dengan sahabat-sahabatnya.
“Woyyy, dari mana aja lo?” tanya Eric yang melihat Zidane baru saja duduk di samping Farzan.
“Biasa, habis nungguin doinya.” Sahut Adam.
“Dam, nanti jadi kan?” tanya Eric pada Adam.
“Jadi lah.” Jawab Adam.
“Mau ngapain lo berdua?” tanya Zidane penasaran dengan dua anak buahnya ini
“Kepo amat dah si bos. Lihat aja nanti.” Jawab Eric
“Awas aja kalau kalian malu-maluin gue!” peringat Zidane.
“Nggak lah. Ngapain juga malu-maluin lo.” Sahut Adam.
“Eh, Vid. Tadi gue ketemu cewek cantik loh. Namanya Rosa.” Ucap Eric.
“Cewek yang di tenda UKS itu ya?” Zidane mencoba menebaknya.
“Iya.” Jawab Eric.
“Terus tujuan lo kasih tau apa?” tanya David.
“Ya barangkali lo minat gitu, kan bisa jadiin yang kedua buat pearian kalau bosan sama Bunga.” jawab Eric dengan enteng.
“Dih, gue nggak se-brengs*k itu jadi cowok. Nggak memanfaatin ketampanan gue buat kayak gituan. Gue kan cowok setia, nggak kayak lo yang bisanya cuman godain cewek. Hati-hati lo, kena karma nanti.” Balas David.
__ADS_1
“Hiyaa hiyaa.” Adam tertawa melihat ekspresi Eric yang terdiam.
“Siapa yang bilang lo tampan?” tanya Farzan dengan wajah datarnya.
“Para cewek-cewek lah.” Jawab David.
Farzan mengkerutkan dahinya, “Bukannya mereka bilang gue yang paling tampan di antara kalian?!”
“Uannjeeer, lo bisa PD juga ya ternyata. Belajar sama siapa lo?” Eric menepuk bahu Farzan dengan keras.
“Sakit be*o!” umpat Farzan
“Kok gue jijik ya dengarnya kalau Faran yang ngomong.” Ucap Adam.
“Me too.” Sahut Eric dan David bersamaan. Mereka berlima pun kembali bercanda. Tidak tidak. Bukan berlima, kan Farzan hanya diam saja.
Disisi lain, Keyra sangat menikmati acara tersebut. Sungguh ia benar-benar gembira bisa mengikuti acara seperti ini.
“Kaki lo gimana? Udah sembuh?” tanya Minda sedikit khawatir.
Keyra menganggukkan kepalanya, “Udah.”
“Kelas kita gimana? Menang nggak?’ tanya Keyra.
“Lihat aja besok. Besok pagi bakal di umumin kok siapa pemenangnya.” Jawab Bunga. Keyra hanya membulatkan bibirnya.
“Hai teman-teman semua. Selanjutnya bakalan ada yang nyumbangin suara emasnya nih. Langsung aja kita sambut, BALE." seru Ojan sang pembawa acara.
"Haaaah, Adam sama Eric?" ucap Keyra, Bunga, dan Minda kompak. Mereka bertiga sama-sama terkekutnya.
"Mau ngapain mereka?" tanya Minda.
"Kita lihat aja." ucap Bunga.
"Hai semuanya." sapa Eric sambil melambaikan tangannya.
"Kenalin gue Eric, yang gitaris ini namanya Adam, yang drum itu Laskar, dan yang piano adalah Beni." ucap Eric memperkenalkan teman-temannya.
"Kalian pernah nonton film Yowes Ben? Nah, kita ini band nya. Nggak juga sih. Kita Yowes Ben KW." sambung Eric sambil tertawa.
"Disini ada yang sobat ambyra kan? Malam ini kita akan sobat ambyar rame-rame." sahut Adam.
"Auto tutup muka gue." ucap Zidane. "Nggak di kelas, kantin, dalam mobil, tetep aja sobat ambyar."
"Emang jiwa sobat ambyar udah melekat di tubuh mereka berdua." David tertawa.
###
Jam sudah menunjukkan pukul 00.30, itu artinya ini sudah tengah malam. Keyra tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke sisi kanannya. Minda tidak ada.
Keyra terkejut, ia pun segera keluar tenda. Mencari-cari keberadaan Minda. Namun hasilnya nihil. Minda tidak ada di sekitar area itu.
Keyra pun kembali ke tendanya untuk membangunkan teman-teman se-tendanya. "Bunga, Karin, Friska." panggil Keyra sambil sedikit menggoyangkan tubuh mereka agar mereka cepat terbangun.
Bunga mengucek kedua matanya. "Ada apa?" tanya Bunga.
"Minda nggak ada." jawab Keyra khawatir.
"Lo udah cari dia di luar?" tanya Karin.
Keyra menganggukkan kepalanya. "Udah. Tapi dia tetap nggak ada." Semua terkejut.
"Terus dia dimana dong?" Ke empat cewek itu pun keluar dari tenda dan bergegas menuju ruangan panitia untuk melaporkan hal ini.
Mereka berempat tidak jadi di ruang panitia karena di perjalanan mereka bertemu dengam Rangga Sang Ketua Camping.
"Ada apa? Kenapa kalian kelihatan khawatir gitu?" tanya Rangga yang langsung dapat membaca ekspresi mereka berempat.
"Minda hilang." ucap Bunga to the point.
"Apa? Kenapa bisa hilang?" tanya Rangga yang sama terkejutnya.
"Kita juga nggak ngerti, pas gue bangun tau-tau dia udah nggak ada di samping gue. Gue udah cari-cari, tapi dia nggak ada di sekitar sini." terang Keyra.
"Okey, gue akan informasikan ke panitianya. Lo bilang aja ke teman-teman sekelas lo buat bantu nyariim, tapi jangam sampai kedengar sama yang lain. Biar urusannya nggak ribet." ucap Rangga.
"Okey. Gue bangunin teman-teman sekelas." ucap Keyra. Keyra bersama Bunga memanggil teman-teman sekelas mereka. Dan kini mereka semua telah sampai di titik perkumpulan.
"Kita bantuin cari yuk! Kasihan mereka." ucap Karin pada Friska.
"Ayuk. Semoga Minda cepat ketemu." doa Friska.
Seseorang yang tak sengaja mendengat kabar hal itu langsung mangembil hoodie serta senternya lalu bergegas pergi ke dalam hutan untuk mencari Minda.
2 jam telah berlalu, tapi Minda belum juga di temukan. "Aduh gimana ini?" tanya Keyra gelisah.
"Tenang, Ra. Serahkan semuanya sama yang di atas." Bunga berusaha menenangkan sahabatnya ini.
Tak lama setelah perbincangan itu selesai, terlihat seorang cowok menggendong seorang cewek ala bridal style. Bunga dan Keyra langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Minda." ucap Keyra dan Bunga bersamaan.
"Minda kenapa bisa begini?" tanya Keyra.
"Gue juga nggak tau." jawab cowok tersebut.
"Yaudah, lo bawa dia ke tenda UKS aja sekarang." saran Karin.
"Minda kenapa, Bung." Keyra sangat khawatir sekali saat ini. Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi tadi saat Minda menghilang.
"Tenang, Ra. Farzan udah nemuin dia dan sekarang dia di UKS. Nanti juga di obatin. Sekarang kita tenang aja. Yang penting Minda udah ketemu." Bunga berusaha menenangkan Keyra dan itu berhasil.
"Kita balik ke tenda yuk! Tidur lagi." ajak Bunga dan Keyra menyetujuinya.
Hari pun sudah menjelang pagi. Semua peserta bangun dari tidurnya. Tugas mereka hari ini adalah bersih-bersih. Karena hari ini mereka akan pulang ke rumah masing-masing, dan besok akan menjalankan kegiatan mereka sebagai seorang siswa.
Setelah selelsai semuanya, para peserta pun di kumpulkan di depan panggung untuk penyerahan piala kepada sang pemenang.
"Langsung saja ya untuk menyingkat waktu, saya akan menyebutkan para pemenang camping gabungan ini." ucap Ojan.
"Juara tantangan di menangkan oleh kelas IPA 2 dari SMA Ganesha. Juara Pensi adalah kelas BAHASA 6 dari SMA Wijaya. Juara Kejar Tanda Tangan di menangkan oleh kelas IPS 4 atas nama Keyra Ghaida Maharani." semua teman sekelas Keyra langsung menatapa ke arahnya sambil mengucapkan kata-kata pujian.
"Daebak."
"Keren."
"Hebat lo, Ra." seperti itulah pujian-pujian dari teman sekelas Keyra.
Keyra pun tak menyangka bahwa ia yang akan memenangkan tantangan ini. Keyra naik ke atas panggung untuk penyeraham piala sekaligus foto bersama para panitia.
"Itu sebabnya lo harus tau bahwa gue emang benar-benar suka sama lo." bisik Leo di telinga Keyra.
Keyra mengerutkan dahinya. Dia bingung dengan apa maksud dari perkataan Leo. Apa hubungannya dia menang dengan Leo yang menyukainya?
Selesai acara, Karin dan Friska menghampiri Keyra dan kedua sahabatnya.
"Ra, tunggu." henti Friska. Keyra pun berhenti.
"Ada apa?" tanya Keyra.
"Lo dapat tanda tangannya Leo ya?" tanya Karin to the point.
"Leo yang wakil ketua camping itu?" tanya Keyra balik. Karin dan Friska mengangguk.
"Emang kenapa?" tanya Keyra lagi.
"Jawab aja dulu pertanyaan gue." ucap Karin.
"Iya, gue dapat tanda tangannya. Emang ada apa sih?" desak Keyra karena rasa keponya sudah meningkat.
"Kalau kalian berdua?" tanya Friska pada Bunga dan Minda.
"Enggak." Bunga dan Minda menggelengkan kepalanya.
"Berarti Keyra orang istimewa di hidupnya Leo." ucap Karin menyimpulkannya.
"Kok bisa?" tanya Keyra bingung.
"Karena Leo itu terkenal dingin banget di SMA Wijaya. Gue sama teman-teman sekelas aja yang sama-sama dari SMA Wijaya nggak dapat tanda tangannya. Sedangkan lo yang dari sekolah lain bisa dapat tanda tangannya dengan mudah." jelas Friska.
"Dia benar-benar suka sama lo, Ra. Dan dia nggak akan pernah bisa berpaling dama cewek lain. Karena prinsip hidupnya adalah hanya ada 1 cewek yang akan ada di hidupnya." sahut Karin. Kemudian Karin dan Friska pergi meninggalkan ketiga cewek tersebut dengan tanda tanya besar di kepalanya.
###
Sekian dulu partnya. Maaf kalau nggak panjang ya :D
Sekarang gimana? Apakah pemikiran kalian tentang 'Leo' teman kecil Keyra berubah?
Coba yang mana di bawah ini yang menurut kalian itu 'Leo' teman kecil Keyra.
Zidane
Farzan.
Adam
David
Eric
Leo (dari SMA Wijaya)
Untuk cerita menghilangnya Minda, akan ada di dalam kisah Minda dan Farzan ya. Di novel satunya yang rencana akan author pindah di aplikasi *******.
Tetap simak kelanjutan ceritanya. Dan jangan lupa untuk dukung terus cerita ini. Sampai jumpa di part selanjutnya😉
__ADS_1