
Pagi setelah apel pembukaan, acara HUT SMA Ganesha di mulai. Season pagi hanya boleh di nikmati oleh warga sekolah sedangkan untuk warga luar sekolah memiliki jadwal season malam, mulai dari jam 6 sore hingga 11 malam.
"Minda, mendingan lo pulang deh. Istirahat. Nanti malam kan lo mau perfomance" Keyra menghentikan aktivitas Minda yang sedang membantu menyiapkan menu-menu yang sedang mereka jual.
"Minda mau perfom?" kaget Fajar.
"Mau ngapain lo?" tanya Adi yang kepo.
"Ada deh. Liat aja nanti malam" jawab Minda.
"Awas kalau nggak bagus! Gue pecat jadi calon pacar!" ucap Adi.
"Tenang aja, nanti malam gue jamin lo bakal puji penampilan gue. Lagian gue juga nggak sudi jadi pacar lo." cibir Minda.
"Yeeee, songong amat lu jadi cewek. Awas ya, entar lo nyesel!" ujar Adi sambil menyipitkan matanya.
"Nggak bakal nyesel. Yaudah gue pulang dulu. Mau tidur. Mau nyiapin energi yang banyak." Setelah berpamitan dengan teman sekelasnya, Minda pun pergi berlalu.
"Eh, Ra. Itu bukannya Zidane sama Lauren ya? Kok nempel banget?" tunjuk Raka pada sepasang pemuda yang sedang jalan berdampingan dengan Lauren yang memeluk sebelah tangan Zidane.
"Emang kenapa?" tanya Keyra ketus.
"Lo nggak cemburu?" tanya balik Raka.
"Nggak lah. Ngapain juga gue cemburu." Keyra mengalihkan perhatiannya dari menata menu jualan menjadi mengurus bagian administrasi.
"Alah, nggak usah bohong deh lo. Gue tau lo masih sayang sama Zidane." celetuk Fajar.
"Daripada lo ngomong nggak jelas kayak gitu, mending lo bantuin gue guntingin nih voucher, biar cepet kelar!" sahut Bunga dari belakang.
"Ah males gue, itu kan bukan pekerjaan gue." tolak Fajar.
"Yaudah, kalian bertiga gue tugasin keliling sekolah buat pasarin menu kita. Harus laku, awas aja kalau sampai nggak laku!" Ancam Keyra.
"Waduh bu bos lagi di fase galak. Mendingan kita turutin, daripada nanti di laporin ke ibu besar kelas." Raka dan Adi mengambil nampan yang berisi menu mereka pagi ini. Sedangkan Fajar membawa kaleng yang berisi uang kembalian.
"Mari bu bos." Pamit Fajar.
"Sono, pergi. Pulang harus laku semua!" Keyra berucap dengan memelototkan matanya.
Setelah kepergian FAR, Keyra menghampiri Bunga lalu membantu menggunting kertas voucher khusus untuk di bagikan nanti malam.
"Omongan mereka tadi jangan di masukin hati ya, Ra. Mereka emang suka gitu kok." Ujar Bunga sambil menggunting.
"Udah lah, nggakpapa. Gue sans-sans aja kok." Dustanya, padal hati sedang berbanding terbalik.
"Eh Ra, ada yang beli tuh" tunjuk Bunga pada orang yang ada di depan stand mereka.
Keyra menghampiri orang tersebut. "Eh Rangga, gue kira siapa" ucap Keyra.
"Emang lo kira siapa?" tanya Rangga sambil mengambil minuman yang ada di atas meja lalu membayarnya.
"Orang lain."
"Ini berapa?" tanya Rangga.
"Sepuluh ribu." Rangga memberikan uang pas pada Keyra.
"Ra, jalan-jalan yuk!" ajak Rangga.
"Kemana?" tanya Keyra penasaran.
"Keliling sekolah aja."
"Nggak deh, gue lagi jaga stand."
"Gue bisa sendiri, Ra. Lo pergi nggakpapa kok" sahut Bunga dari belakang.
"Beneran?"
"Iya" Bunga mengangguk mantap.
"Oke deh kalau gitu. Gue sama Rangga dulu ya. Kalau ada apa-apa telfon gue aja." Bunga mengacungkan jempolnya.
"Yuk." Rangga dan Keyra berjalan berdampingan.
"Bukannya lo sibuk ya, Rang? Kok malah santai sih?"
"Nggak kok. Gue lagi kosong aja. Gue kan jadi mandor, yaudah tinggal suruh-suruh anak buah doang."
Keyra tertawa, "Bisa aja lo, Rang. Kasihan tau masak mereka yang kerja doang."
"Nggak gitu juga. Ini gue pas ada waktu luang, ya gue pake aja buat jalan-jalan keliling sekolah. Bosen di ruang osis terus."
"Kenapa nggak di stand lo aja? Sama teman-teman sekelas lo."
"Takut malah bikin rusuh mereka. Gue juga lagu butuh udara segar." Keyra hanya berohria. Karena ia tidak tau harus membalas apalagi, sudah habis ide pembicaraannya.
"Emmm, Ra." Panggil Rangga.
"Iya?" sahut Keyra.
"Sebenarnya gue udah lama pengen ngomongin ini, tapi gue ragu buat ngomong ke lo." Jawab Rangga yang terlihat gugup.
"Oh ya? Emang mau ngomong apa sih? Lo nggak usah ragu mau ngomong sama gue, kita kan teman." Keyra menaikkan kedua alisnya.
Ouh, just a friend batin Rangga.
"Mau ngomong apa?" tanya Keyra saat melihat Rangga hanya diam saja.
"Hah? Enggak, cuman mau tanya kok. Lo lulus dari sini mau nerusin dimana?"
"Ke Australia kalau nggak gitu ke Rusia. Nggak tau juha sih, kalau orangtua gue maunya disini, ya gue kuliah disini. Kalau di ijinin ke luar, ya gue kuliah di luar."
"Lo sendiri mau nerusin kemana?" tanya Keyra pada Rangga.
"Gue mau ke UGM aja. Dekat sama rumah nenek gue."
"Waaaah, good luck ya! Semangat terus! Gue yakin lo pasti di terima disana!"
"Aamiin. Makasih ya, Ra." Keyra mengangguk mantap, tak lupa memberikan senyuman penyemangat kepada Rangga.
__ADS_1
"Ra, gue suka sama lo." ucap Rangga cepat dan secara tiba-tiba.
Keyra hanya diam. Bingung mau membalas apa. "Gue tau ini terlalu mendadak, nggak ada perencanaan. Tapi gue benar-benar suka sama lo. Sejak kita menjadi satu gugus. Mau jadi pacar gue?"
Keyra menarik nafasnya lalu menghembuskannya berat. "Lo itu cowok yang baik, Rang. Lo pintar, lo jenius, lo jadi panutan murid di sekolah ini, banyak orang yang suka sama lo, termasuk gue."
Rangga merasa senang sekali, tapi itu hanya sebentar. "Gue emang pernah suka sama lo, mungkin sebatas idol dan fansnya. Lo nggak pantas dapatin gue, Rang."
"Emang kenapa?"
"Karena hati gue masih melekat sama satu cowok." Keyra tersenyum kecut.
"Tapi dia udah sama yang lain, Ra. Buat apa lo pertahanin cowok kayak dia?"
"Sekarang gue tanya lo. Kenapa lo pertahanin gue, padahal gue udah sama Zidane?" tanya balik Keyra.
"Karena gue sayang sama lo." Jawab Rangga.
"Itu lo tau. Sama halnya dengan lo, gue juga merasa begitu pada Zidane."
Rangga menghembuskan nafasnya secara kasar. "Nggak ada celah sedikitpun buat gue masuk ya?" Keyra tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Maaf."
"Nggakpapa. Tapi apa setelah ini kita masih bisa berteman?" Rangga mengulurkan tangannya, seperti meminta persetujuan.
"Iya dong. Kenapa juga nggak bisa berteman, cuman masalah gitu doang kok." Keyra menerima uluran tangan Rangga, tanda setuju.
"Okey. Yaudah lanjut yuk jalan-jalannya!" ajak Rangga.
"Emm sorry ya. Gue mau bantuin Bunga. Stand gue lagi rame banget tuh." Keyra menunjuk stand kelasnya yang ramai pembeli.
"Mau di bantu?" Tawar Rangga.
"Nggak usah deh. Itu kan stand kelas gue, bukan kelas lo. Nggak enak, nanti di omongin sama murid-murid lain." Tolak Keyra.
"Ouh, okey. Semangat ya!" Teriak Rangga karena Keyra sudah berjalan menjauh.
Rangga masih menatap gerak-gerik Keyra saat melayani para pembeli.
"Jangan pernah deketin Keyra lagi, atau lo bakal tau akibatnya!" ancam seseorang di samping Rangga.
"Gue nggak akan pernah deketin Keyra kalau lo nggak nyakitin hatinya dia. Dia cewek baik-baik man. Kalau lo masih sayang sama dia, pertahanin lah!"
"Tau apa lo soal hubungan gue sama Keyra?!" sengit cowok itu yang tak lain adalah Zidane.
"Semuanya tentang Keyra udah gue ketahui." Jeda Rangga, ia menoleh pada Zidane. "Termasuk pernikahan itu." Rangga menunjukkan senyum semirknya.
"Bang*at! Udah sejauh mana lo cari tahu kehidupan cewek gue?!" Zidane membogem pipi Rangga sekali.
"Tenang aja! Gue nggak bakal macam-macam sama dia, kalau lo nggak nyakitin hatinya dia." Rangga pergi berlalu dengan luka lebam di pipi kirinya.
"Udah ada berapa cowok yang jatuh cinta sama lo, Ra." gumam Zidane sambil menatap Keyra dengan raut wajah sendu.
###
SMA Ganesha kini sudah ramai pengunjung. Stand dari masing-masing kelas pun terlihat ramai, dipadati oleh banyak pembeli. Panitia pun terlihat sibuk berwara-wiri mengatur keamanan serta kelancaran acara besar ini.
Acara yang diadakan satu tahun sekali tentu tidak akan di sia-siakan oleh para remaja di luar sana, karena SMA Ganesha selalu mendatangkan artis solo atau musisi terkenal di Indonesia.
"Gue nggak tahu. Soalnya Minda nggak bilang." jawab Keyra.
"Mungkin setelah ini." sahut Bunga.
"Wow, ternyata sudah ramai sekali ya! Saya nggak nyangka banget loh. Penampilan selanjutnya akan dibawalan oleh cewek cantik bertubuh mungil dan berwajah imut, namun memiliki suara yang indah, yang bisa bikin para cowok langsung klepek-klepek apabila mendengarnya."
"Dia dari kelas 12 IPS 4. Mari kita sambut Minda Alana." Minda pun memasuki panggung, lalu duduk di kursi yang ada di depan piano.
"Woy, Minda tampil tuh!" tunjuk Raka secara antusias.
Semua teman-temam sekelas Keyra berhenti bekerja karena mereka ingin melihat penampilan Minda.
Alunan dari piano pun mulai terdengar, Minda juga mulai mengeluarkan suaranya. "*****, suaranya Minda bagus bangey. Kenapa dia nggak ikut ekstra band aja." puji Adi.
Keyra dan Bunga berpindah tempat dari yang di depan stand kini menjadi di depan panggung.
"Bung, lagunya menyentuh banget ya?"
"Iya." Bunga menganggukkan kepalanya.
"Kelihatannya itu suara hati Minda deh!" sambung Bunga.
"Sepertinya. Semoga kedepannya Minda dapat cowok yang jauh lebih baik dari yang dia inginkan." Keyra mendoakan ssahabatnya itu.
"Aamiin."
Semoga lo bisa baikan lagi dengan Farzan. Gue yakin kalian udah jodoh ucap Bunga dalam hati.
Tak berapa lama, Minda telah selesai dengan kegiatannya di atas panggung. Ia pun menghampiri kedua sahabatnya.
"Suara lo bener-bener bagus, Min. Gue suka!" Keyra mengangkat kedua jempolnya.
"Adi aja sampai puji penampilan lo tadi." sahut Bunga.
"Tuh kan, gue bilang juga apa. Dia pasti puji penampilan gue, cowok mana juga yang nggak menolak pesona gue ini." Ucap Minda dengan PD nya.
"Idih, PD amat lo!" cibir Bunga.
"Yaudah yuk ke rooftop, gue lagi pengen kesana nih!" ajak Minda yang langsung di setujui oleh kedua sahabatnya.
Sampai di rooftop, Keyra merentangkan kedua tangannya. Menikmati angin di malam hari.
"Guys, gue tadi habis di tembak sama cowok." Ucap Keyra memecah keheningan.
"Siapa?" tanya Minda dengan logat khas orang kepo.
"Alah, paling-paling ya si Rangga" ujar Bunga.
Keyra langsung membuka matanya seketika. Bagaimana Bunga bisa tahu ya?
"Lo kok tahu?" tanya Keyra.
__ADS_1
"Loh emang benar, si Rangga? Ketua pelaksana acara ini? Anak Osis?" tanya Minda yang masih belum percaya, tetapi setelah melihat Keyra mengangguk, ia baru percaya.
"Kok lo udah tahu sih, Bung?" tanya Keyra lagi.
"Gerak-geriknya udah bisa dilihat dari dulu." Jawab Bunga apa adanya.
"Masak sih? Kok gue nggak ngerti ya?" Keyra jadi bingung sendiri.
"Lo aja yang nggak peka sama sekitar" cibir Bunga.
"Benar tuh, semenjak Keyra pacaran sama Zidane kan dia sampai lupa dunia di sekitarnya." timpal Bunga.
"Iya kali ya?" gumam Keyra.
"Emang iya" balas Bunga dan Minda bersamaan, lalu mereka bertiga pun tertawa.
Tawa mereka langsung berhenti saat ada suara dering HP salah satu di antara mereka. Keyra yang merasa HP nya berbunyi langsung mengambilnya lalu mengangkatnya.
"Halo, Din, ada apa?" tanya Keyra to the point.
"Ra, cepat ke stand. Ini lagi banyak pembeli. Bantuin gue." desak Dinda di seberang sana.
"Lah anak-anak pada kemana?" tanya Keyra.
"Yang cewek pada beli bahan di luar, kalau yang cowok pada konser di depan panggung."
"Bener-bener ya mereka, bisa-bisanya konser disaat stand lagi ramai."
"Ngomelnya di tunda dulu, Ra. Cepetan kesini!"
"Iya iya, gue kesana sekarang." Keyra langsung menutup telponnya.
"Bunga, lo ikut gue. Minda, lo kalau mau ikut ayo, kalau enggak yang silahkan. Terserah lo. Karena kita juga ngerti kok, kalau lo pasti capek." ujar Keyra.
"Gue disini aja." jawab Minda.
"Apa perlu gue panggilim teman gue, biar lo nggak sendirian?" Keyra memberikan tawaran tetapi Minda menolaknya.
"Nggak usah. Gue juga lagi pengen sendiri kok."
"Okey. Gue sama Bunga pergi dulu ya! Lo kalau ada apa-apa langsung telpon kita, okey?"
"Iya bawel." Keyra terkekeh.
"Ayok, Bung. Dinda udah nungguin!" Keyra menarik tangan Dinda.
"Ada apa emangnya, Ra?" Bunga yang sedari tadi tidak mengerti dengan ajakan Keyra, akhirnya bertanya.
"Entar lo juga bakal tahu sendiri kok." Keyra dan Bunga berjalan cepat menuju stand kelas mereka.
"Dinda, ada yang bisa di bantu?" tanya Keyra.
"Keyra, lo bikin 3 porsi mie goreng. Dan Bunga, lo bikin Es campurnya 10 porsi. Kita dapat pesanan banyak ini" jelas Dinda.
"Okey." Ketiganya mulai bekerja. Menyibukkan diri dengan membuat pesanan para pembeli.
"Es batu, es batu." ujar Laura yang baru saja datang dengan membawa es batu.
"Melonnya dimana ini?" tanya Bunga.
"Di lemari pendingin." jawab Dinda.
"Pisau woy pisau. Dimana pisaunya?" desak Bunga.
"Di depan lo, Bung. Kalau nyaru tuh melek, jangan merem. Entar di tinggal pergi pisaunya baru tahu rasa lo." sahut Laura.
"Idih, lo mah kalau ngomong suka ngaco. Mana ada pisau pergi. Punya kaku aja enggak." timpal Bunga sambil memotong-motong Melon, tetapi matanya tidak fokus ke kegiatannya, melainkan ke bintang tamunya.
"Sayang, tangan kamu hampir aja kena pisau tau. Konsentrasi dong! Nanti kalau tangan kamu luka gimana coba?!" Ucap David yang baru saja datang dan langsung merebut pisau tersebut dari tangan Bunga.
"Iya, maaf. Aku kan nggak tau. Habisnya bintang tamunya ganteng banget sih. Kan aku jadi nggak konsen."
"Oh, jadi lebih ganteng bintang tamunya daripada aku?"
"Bukan gitu maksudnya. Kamu tetap nomor satu cowok yang ganteng di hidup aku."
"Ra, ada baygon nggak?" tanya Laura.
"Enggak. Emang buat apa?" tanya Keyra yang masih menjalankan tugasnya.
"Mau gue semprotin ke stand kita biar nggak ada nyamuk yang berduaan yang nggak lihat kondisi sekitar." sindir Laura pada Bunga dan David.
Keyra membalikkan kepalanya. Ouh, ternyata teman-temam Zidane. Tapi Zidane kemana?
"Eh kalian, selamat datang di stand kami. Silahkan memilih menu kami malam ini." ucap Keyra layaknya seorang pelayan restoran.
"Mau teng tawar dong." ucap Adam.
"Lo kenapa kok nggak pake gula?" Keyra bingung. Karena rata-rata pembeli mereka itu memakai gula apabila memesan teh.
"Karena kamu sama gula nggak ada bedanya. Sama-sama manis. Jadi, meskipun es tehku nanti nggak pake gula, maka rasanya akan tetap manis." jawab Adam
"Kok bisa?" sahut Keyra.
"Karena aku minumnya sambil lihatin wajah kamu sih." Adam dan yang lain seketika tertawa. Begitupun dengan Keyra yang menanggapi gombalan receh Adam.
"Sejak kapan lo pintar gombalin cewek?!" David menepuk punggung Adam.
"Makin pintar ya lo?!" ujar Eric.
"Jadi, seperti itulah contoh suara buaya darat." ucap Eric dengan santainya.
"Enak aja lo" ujar Adam tak terima.
"Udah-udah, kalian mau pesan apa?" tanya Keyra.
"Gue sama Eric mie goreng sama es teh manis aja." jawan Adam.
"Kalau lo, Vid?" tanya Keyra.
"Khusus gue, biar Bunga aja yang nyiapin."
__ADS_1
"Heleh, alay lo." Ejek Adam.
"Biarin." acuh David.