Nikah Saat SMA

Nikah Saat SMA
meja bundar


__ADS_3

Sinar matahari yang mulai menyilaukan mata membuat siswa-siswi SMA Ganesha menggerutu kesal. Pasalnya, upacara sudah dilaksanakan sejak 40 menit yang lalu. Dan ini, sang pembina belum menyelesaikan pidato panjangnya.


Keyra berdecak sebal. "Ck. Lama amat sih pidatonya! Nggak tau apa ini lagi kepanasan!" gerutunya sambil mengipasi kepalanya dengan tangan kanannya.


"Gila banget tuh orang! Sampai topi gue basah gara-gara banyak keringat yang keluar!" sahut Minda.


Ingin rasanya Keyra keluar dari barisan kelasnya dan berpura-pura sakit agar dia bisa ke UKS. Biasa, mendinginkan badan.


"Bunga mana?" tanya Keyra menoleh pada Minda.


"Biasalah. Anak PMR. Lagi jaga tuh di belakang!" tunjuk Minda dengan ujung matanya.


"Ke UKS yuk, Min!" ajak Keyra.


"Ngapain? Lo sakit ya?" tanya Minda khawatir.


"Ck. Males gue disini!" ucap Keyra.


"Nggak deh! Gue takut di pergoki sama Bu Arin!" tolak Minda mentah-mentah.


Baiklah, kalau sudah masalah Bu Arin, Keyra hanya bisa diam. Tidak ingin mencari gara-gara dengan guru killer tersebut.


15 menit kemudian, upacara telah selesai dilaksanakan. "Kantin yuk!" ajak Minda sudah seperti orang kehausan.


Memang kehausan!


"Nggak deh! Gue udah capek berdiri selama hampir 1 jam. Mau di kelas aja!" Keyra membelikkan tubuhnya memasuki ruang kelas.


Membenamkan kepalanya pada lipatan tangan di atas meja. "Lo sama Zidane pacaran ya?" tanya Bunga yang baru saja duduk di samping Keyra.


Keyra langsung menengakkan tubuhnya begitu pun dengan Minda yang langsung menajamkan alat pendengarannya.


"Kok lo bisa tau?" tanya Keyra bingung.


"Emang beneran ya?" tanya Minda untuk memastikan kabar itu benar atau salah.


"Cepat banget nyebarnya! Lo tau dari mana?" tanya Keyra ditujuka untuk Bunga.


"Di kasih tau sama David." jawab Bunga jujur.


"Mulut tuh cowok emang bener-bener ember ya?!" dumel Keyra.


"Wait wait. Lo kok bisa chat-chatan sama David, jangan-jangan lo ada..." ucap Minda menggantung.


Minda dan Keyra menyipitkan matanya. Bermaksud menggoda Bunga. Sontak Bunga langsung mengalihkan perhatiannya serta topik pembicaraannya.


"Apa sih, nggak ada apa-apa juga! Btw, tugas bahasa indonesia lo udah apa belum?" tanya Bunga mengalihkan.


"Cieeeeee" ucap Keyra dan Minda berbarengan.


"Nggak ada apa-apa kok salting!" cibir Keyra.


"Sampai mengalihkan topik pembicaraan tuh! Pasti jantungnya berdebat-debar tuh!" goda Minda.


Sialan! Minda bener banget - Bunga.


"Sejak kapan lo deket sama David?" tanya Keyra yang masih ingin menggoda sahabatnya itu.


"Apaan sih, nggak deket juga!" elak Bunga.


"Alah, nggak usah bohong! Nggak deket kok sampai tuker-tukeran nomer hp!" ucap Minda yang terus membuat Bunga terpojokkan.


"Terserah kalian!" Bunga sudah lelah di pojokkan.


Senjata makan tuan nih! - Bunga.


"Ra, kok gue dengar ada suara jantung yang berdetak cepat ya?" tanya Minda.


"Eh iya nih, gue juga dengar! Jedag jedug jedag jedug!" sabut Keyra.


"Udah wooy! Apaan sih kalian ini! Udah sana kerjain tugasnya dulu!" suara Bunga naik oktaf.


Minda berbalik menuju bangkunya. "Btw, lo kok bisa dekat sama David, gimana ceritanya?" bisik Keyra.


"Lo tuh ya sama aja kayak Minda! Udah sana, cepat kerjain!" Bunga melempari Keyra dengan bola kertas yang ada di kolong mejanya.


###


Waktu terus berputar. 5 menit yang lalu bel istirahat telah berbunyi. Keyra bersama dua sahabatnya sedang duduk manis di kantin sambil memakan pesanan mereka.


Dari arah pintu kantin tampaklah 5 orang cowok yang sedang berjalan memasuki kantin, dan seketika suasana kantin berubah menjadi tambah ramai gara-gara melihat wajah tampan kelima cowok tersebut.


"Nga, David datang tuh!" goda Minda.


"Biarin aja!" cuek Bunga.


"Dia kesini loh!" sahut Keyra sambil memakan baksonya.

__ADS_1


"Bodo amat!" Bunga tetap tidak peduli.


"Eh *****, beneran kesini ya mereka?!" Bunga terkejut. Ia kira dua sahabatnya tadi hanya menggodanya saja. Setelah melihat kelima cowok tersebut berjalan mulai mendekt, ia tersadar.


Banyak pasang mata yang menatap sinis ke arah meja mereka bertiga. Samar-samar Keyra mendengar bisikan-bisikan yang tak enak di hati. Jelaslah! Siapa yang rela pujaan hatinya lebih memilih orang lain daripada dirinya. Namun ketiganya hanya biasa saja. Menganggap bisikan tersebut angin yang berlalu.


"Telat lo!" sinis Minda.


"Kan gue udah bilang! Lo nya aja yang nggak percaya!" omel Keyra.


"Hai Bunga!" sapa David yang sudah duduk di samping Bunga. Zidane yang juga sudah duduk di samping Keyra, dan Farzan yang duduk di antara Eric dan Minda.


"Hai, Zan!" sapa Minda sambil tersenyum kaku. Namun Farzan hanya menatap sekilas ke arah Minda tanpa mengucapkan satu kata pun.


"Kacang mahal nih!" sindir Eric.


"Apa lo? Mau cari ribut sama gue?!" tanya Minda sinis.


Setelah memesan tadi, Eric duduk di antara Zidane dan Farzan, sedangkan Adam duduk di antara Keyra dan David. Karena hanya bangku disitu yang tersisa. Mereka membentuk meja bundar sendiri di dalam kantin.


"Sumpah ya! Lo tuh jadi cewek nggak ada manis-manisnya!" ejek Adam.


"Cih, Keyra juga sama kali!" Minda berdecih. Tak terima dikatakan seperti itu oleh Adam. Karena ini menyangkut harga dirinya di depan seorang Farzan yang tampan nan rupawan.


"Lo berani ngatain pacar gue?" tanya Zidane kesal.


"Kenapa emang? Lo nggak terima?" Keyra memelotot pada Minda untuk tetap menahan emosinya di depan Farzan.


Minda yang mengerti arti pelototan Keyra pun hanya mengusap-usap dadanya. Menetralisir emosi serta detak jantungnya karena duduk berdekatan dengan Farzan.


"Farzan, lo udah makan?" tanya Minda berbasa-basi.


**** Minda! Lo nggak lihat apa kalau dia lagi makan?! - Minda menepuk keningnya.


"Lo nggak lihat?" tanya Farzan dingin.


"Minda, jangan ganggu bebebs Farzan ku ya! Dia lagi makan! Kasihan nanti kalau dia tersedak siomaynya, bisa mati!" ucap Eric yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Farzan. Serta tatapan datar dari Minda.


"Ric, kok gue disini ngerasa panas ya?" sindir Adam pada sahabatnya yang sibuk dengan pasangannya.


"Iya nih! Panas banget gue! Semua pada punya pasangan, cuman kita berdua yang enggak!" balas Eric yang di abaikan oleh sahabatnya.


"Siapa yang punya?" tanya Farzan dingin.


"Zidane sama Keyra, David sama Bunga, dan Lo sama Minda. Cuman gue dan Eric yang enggak punya pasangan!" jelas Adam.


Farzan melirik sebentar pada Minda yang menatapnya dengan senyum manis. "Cih, nggak sudi!" ucapnya dingin dan menusuk. Tetapi itu tetap tidak menggoyahkan Minda untuk mendapatkan hati Farzan.


"Aamiin." dan langsung di 'aamiin' ii oleh Minda.


Farzan hanya diam. Tak berniat menanggapi ucapan Eric. Ia memikih memainkan ponselnya setelah menghabiskan makanannya.


"Farzan, boleh minta nomer whatsapp lo?" pertayaan Minda mengalihkan perhatian sahabatnya.


Mungkin mereka berpikir beraninya Minda meminta nomer whatsapp Farzan yang terkenal dengan kutub es.


"Min, lo gila apa?" tanya Bunga diangguki oleh Keyra.


"Kenapa sih? Cuman minta nomer whatsapp doang kok!" jawab Minda.


"Gak. Jangan ganggu gue!" tolak Farzan mentah-mentah.


Hp Minda bergetar tanda ada pesan yang masuk. Dari Adam? Minda membuka pesan tersebut.


Seketika matanya memelotot melihat isi pesan tersebut.


AdamHawa


082374xxxxxx


Itu nomer whatsappnya Farzan!


Jangan bilang lo dapet nomer itu dari gue!


Minda


Assiiiiiaaaaap😁


Pulang sekolah gue traktir es krim!


AdamHawa


Lo pikir gue anak kecil apa?!😏


Tapi.. oke deh kalo gitu!


Minda tersenyum kepada Adam. Dia harus berterimakasih kepada Adam. Kan kalau begini ia tidak susah untuk meminta kepada sang pemilik.

__ADS_1


Lampu hijau telah menyala. Kali ini dia akan mendapatkan informasi yang banyak tentang Farzan dari Adam. Harus banyak dan harus lengkap.


Uuuuuhhh, cinta Adam deh! Eh, nggak deng! Cinta Farzan aja😁


"Zan, lo udah punya pacar belum?" tanya Minda dengan polosnya dan watadosnya.


Farzan hanya diam dan selalu diam. Pikirnya, menanggapi pertanyaan yang di lontarkan oleh Minda itu membuang-buang waktunya saja.


Minda memiringkan kepalanya menatap Farzan. Dan apa yang dilakukan Farzan? Pergi berlalu meninggalkan meja bundar. Mungkin dia risih dengan kelakuan Minda.


###


Sesuai janjinya tadi siang, Minda mentraktir Adam es krim di sebuah cafe yang yaaah lumayan untuk tongkrongan anak remaja.


"Lo mau kemana sama Adam?" tanya Keyra penasaran. Bukannya Minda ini sukanya sama Farzan? Kok jadi sama Adam. Padahal saat ini mereka tengah berada di parkiran. Apa ia tidak salah lihat?


"Mau nraktir Adam es krim lah." jawab Minda polos dan jujur.


"Lo kenapa jujur banget sih?" protes Adam berbisik.


"Hayoooo, kalian mau ngapain nih? Mau nge-date ya?" goda Eric.


"Udah di bilangin gue mau nraktir Adam es krim, masih tanya aja?!" sungut Minda.


"Eh, ada Farzan!" Minda menghampiri Farzan yang baru saja datang dan ikut berkumpul. "Ijin nraktir es krim Adam ya?! Janji nggak macam-macam sama dia kok!"


"Terserah lo!" balasnya datar.


"Makasih Farzan!" Minda tersenyum manis dan berbalik menghampiri Adam lagi.


Motor Adam pun melesat meninggalkan area SMA Ganesha. Sampai di cafe yang dimaksud oleh Minda. Keduanya pun turun, lalu memasuki cafe dan duduk di salah satu bangku yang ada disana.


"Lo nraktir gue es krim pasti ada maunya nih!" Minda terkekeh.


"Lo tuh kalo ngomong suka bener ya, hehehehe!" balas Minda.


"Yaudah to the point aja!" ucap Adam tak mau basa-basi.


"Lo tau makanan, warna, hobi, dan barang yang di sukai Farzan?" tanya Minda.


"Lo pikir gue adiknya Farzan apa bisa tau semuanya?!" kesal Adam.


"Yaudah deh kalo gitu, sejak kapan lo sahabatan sama Farzan?"


"SMA ini." jawab Adam apa adanya.


"Lo pernah kerumahnya?"


"Pernah."


Mata Minda langsung berbinar. "Dimana?"


"Perum Permai Kenari nomer 12." percakapan mereka berhenti karena seorang pelayan yang datang membawakan es krim pesanan mereka.


"Btw Dam, dia kok bisa dingin gitu kenapa sih?" tanya Minda yang dari dulu sudah penasaran dengan sifat dinginnya Farzan.


"Nggak tau sih kalo itu! Dari kelas sepuluh dia emang udah dingin gitu kok!" jawab Adam sambil memakan es krimnya.


Minda hanya manggut-manggut. "Kalo lo mau tau lebih banyak tentang dia, tanya aja sama Zidane. Dia tau semuanya. Mungkin sih! Karena setahu gue, Zidane itu sahabat Farzan dari SMP!"


Minda menghembuskan nafasnya lelah. "Sama aja kayak Farzan. Dia nggak mau ngasih tahu. Malahan gue disuruh tanya langsung!"


"Zidane emang bener, seharusnya lo tanya langsung ke orangnya, bukan ke sahabat-sahabatnya! Karena kita juga bisa saja memberikan informasi yang salah!" jelas Adam.


Keyra menganggukkan kepalanya. Benar juga! Sahabatnya bisa saja menyelewengkan informasi tentang Farzan kepadanya. Tapi kalau dia bertanya langsung kepada Farzan, mustahil akan mendapatkan semua jawabannya. Yang ada, dia malah mendapat semprotan dari Farzan.


"Kalau gue tanya lewat Keyra gimana?" Minda meminta saran kepada Adam.


"Kalau menurut gue sih jangan. Bisa-bisa Zidane malah ngamuk! Mereka bisa bertengkar, dan lo bisa saja merusak hubungan mereka!"


"Benar juga sih! Nggak aja deh, gue tanya langsung ke Farzan aja! Bodo amat nanti dapat semprotan dari dia!" Adam terkekeh mendengar ucapan Minda.


Sungguh, cewek di depannya ini benar-benar ingin meruntuhkan dinding es yang ada di dalam diri sahabatnya, Farzan.


"Lo serius mau deketin si Farzan?" tanya Adam untuk memastikan.


"Iya. Emang kenapa?"


"Kasihan sama lo nya gue. Nanti kalo lo ketularan dinginnya dia gimana coba?!" Adam tertawa.


"Sialan! Yang ada, dia bakal ketularan hangatnya gue lah!" sahut Minda kesal dan sudah mencak-mencak di dalam hatinya.


"Dih, PD amat lo jadi cewek!" cibir Adam.


"Demi mendapatkan hatinya Farzan, Sang Pangeran Es di Hatiku, gue harus PD dong, biar nggak di injek-injek sama fans fanatiknya!" lagi-lagi Adam tertawa mendengar ucapan Minda.


"Yaudah, yuk pulang! Gue udah nggak betah lihat wajah lo!" ajak Adam.

__ADS_1


"Apa lo bilang?!" teriak Minda, lalu meninju lengan Adam.


"Kalau mau jadi ceweknya Farzan itu harus kalem. Jangan bar-bar kayak gini!" Kini keduanya pun meninggalkan area cafe, karena waktu yang sudah menjelang maghrib.


__ADS_2