
Zidane telah sampai di rumahnya. "Sepi banget." Iya lah sepi, orang penghuninya cuman mereka berdua.
Zidane mengerutkan dahinya saat sampai di kamar. "Kok lampunya mati? Perasaan lantai bawah nyala semua deh?" heran Zidane saat ia menekan saklar lampu yang ada di kamarnya.
"Ra." panggil Zidane. Tetapi, tidak ada jawaban dari Keyra.
"Kamu dimana?" Suara gemercik air di kamar mandi membuat Zidane melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Betapa terkejutnya dia saat menemukan Keyra yang duduk di atas lantai kamar mandi sambil memeluk kedua lututnya, tepatnya di bawah shower dengan tatapan sendu.
"Keyra, kamu kenapa kayak gini?" ucap Zidane khawatir. Zidane mematikan shower tersebut. Lalu memandangi Keyra yang masih melamun.
"Ra, ayo bangun! Kamu harus ganti baju dulu biar nggak sakit." ucap Zidane, namun Keyra menggeleng.
Keyra menatap wajah Zidane lama. Lalu ia langsung memeluk Zidane. Zidane yang belum siap dengan serangan Keyra sedikit terjungkal ke belakang, tetapi untung kepalanya tidak membentur dinding kamar mandi.
Zidane mengusap-usap kepala Keyra dan sesekali menciumnya. Aroma Keyra yang selalu membuatnya candu. "Kamu kenapa?" tanya Zidane lembut.
Bukannya menjawab, Keyra malah menangis. "Maafin aku, karena udah egois. Maaf karena membuat kamu kecewa dan sakit hati, maaf telah menyusahkanmu, maaf udah buat jamu marah." Dan masih banyak lagi kata maaf yang di ucapkan Keyra disela-sela menangisnya.
"Hey, aku udah maafin kamu. Udah ya, jangan nangis lagi!"
"Bohong. Kamu belum maafin aku. Masak iya kamu marahnya cepat banget?" Keyra terus menangis sambil memeluk Zidane erat.
Zidane sedikit merenggangkan pelukan mereka. "Emang kau tau darimana kalau aku belum maafin kamu? Dan satu lagi, bagaimana aku bisa lama marah sama kamu kalau aku aja selalu merindukanmu." ucap Zidane sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi Keyra dan tersenyum tulus
Keyra menenggelamkan kepalanya di dada bidang Zidane. Rasanya ia menyesal telah membuat Zidane kecewa juga menutupi masalah ini darinya.
Zidane hanya membiarkan Keyra menangis. Biarlah dia menangis sesukannya, asalkan itu membuatnya lebih tenang. Tak lama tangis Keyra berhenti. "Kamu masih marah sama aku?" tanya Keyra.
"Mmm.. sedikit sih." jawab Zidane jujur. Ia memang masih sedikit marah dengan Keyra.
Cup.
Keyra mengecup bibir Zidane. Zidane pun membulatkan matanya karena terkejut. "Masih marah?" tanya Keyra lagi.
Muncul ide jail di kepala Zidane. Zidane menganggukkan kepalanya, "Masih."
Keyra mengecup bibir Zidane lagi. "Marahnya belum selesai?" Zidane menggelengkan kepalanya.
Kini Keyra mengecup bibir Zidane lagi, dan tanganya juga masih memeluk Zidane. Kecupan Keyra berhenti kala Zidane malah balik menciumnya.
Saat dirasa Keyra membutuhkan nafas, Zidane pun mengakhiri ciumannya. Keyra tersenyum, lalu memeluk Zidane dengan erat.
Begitupun sebaliknya, Zidane juga memeluk Keyra dengan erat. Sesekali ia mencium puncak kepala Keyra.
"Betah banget meluk aku." goda Zidane.
"Udah sana, ganti baju dulu. Entar keburu masuk angin loh." sambungnya.
Keyra menggeleng. "Nggak mau. Males." balas Keyra.
"Ganti baju dulu, Ra. Mau aku gantiin nggak?" Keyra langsung menguraikan pelukannya.
"Ih, Zidane mesum deh." Keyra berdiri meninggalkan Zidane. Jangan sampai Zidane ngelihat gue lagi blushing. Bakal gawat kalau dia sampai tau. Udah di goda habis-habisa gue batin Keyra.
"Kok mukanya di tutupin sama rambut sih, kenapa?" tanya Zidane yang sebenarnya bermaksud menggoda Keyra.
"Nggak kenapa-kenapa. Minggir, aku mau ganti baju dulu." ucap Keyra berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang sudah lari marathon.
"Bwahahahahaha." Zidane tertawa melihat Keyra salah tingkah.
__ADS_1
"Ih, Zidane malah ketawa. Nggak ada yang lucu tau!" Keyra mencubit pinggang Zidane.
"Aww. Kenapa aku di cubit?" Zidane mengusap-usap pinggangnya yang terasa sakit.
"Habisnya kamu ngetawain aku sih!" Keyra mersa jengkel. Ia pun memasuki kamar mandi untuk mengganti bajunya.
"Ra." panggil Zidane dari luar kamar mandi.
"Apa?" tanya Keyra.
"Beneran nggak mau aku yang gantiin baju nih?" Zidane menahan dirinya untuk tidak tertawa.
"NGGAK MAAUU." teriak Keyra dari dalam kamar mandi.
"Aku masuk ya?"
"NGGAK BOLEH ZIDANE. AKU CUBIT GINJALMU LIH NANTI." ancam Keyra.
Zidane tertawa sambil memegangi perutnya. Membayangkan ekspresi Keyra saat kesal membuatnya tertawa tak henti-henti.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Munculah seorang wanita dengan pakaian santainya sambil mencepol rambutnya ke atas.
Keyra menghampiri Zidane yang masih tertawa. "Kamu kenapa? Kok ketawa-ketawa sendiri? Kamu kesurupan ya?" tanya Keyra polos.
Tawa Zidane langsung berhenti saat Keyra menyebutkan kata 'kesurupan'. "Kamu doain aku kesurupan?" tanya Zidane balik.
"Hah, yang enggak lah. Habisnya aku bingung kamu kok ketawa-ketawa sendiri. Kan nggak ada hal yang lucu." kata Keyra.
Keyra membuka almari. Mengambilkan kaos untuk Zidane. "Nih kamu ganti baju dulu. Lihat, baju kamu juga basah loh." Zidane tak urung mengambil kaos yang di sodorkan oleh Keyra.
"Lah ini, cepetan di ambil!" Zidane masih menatap kaos yang ada di tanga Keyra.
"Pakein." pinta Zidane dengan puppy eyesnya.
"Idiiih, nggak mau. Pakai aja sendiri!" Keyra menjatuhkan kaos itu tepat di pangkuan Zidane.
"Keyra." Zidane memasang wajah memelas.
"NGGAK MAU ZIDAAANE. Pakai sendiri!" belum melaksanakan saja Keyra sudah salah tingkah sendiri. Bahkan kini pipinya sudah semerah tomat.
Zidane yang melihatnya pun hanya bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. Ia kemudian bangkit dan mengganti bajunya.
"ZIIDAAAANE, KENAPA BUKA BAJUNYA DISINI?!" teriak Keyra saat melihat Zidane membuka atasannya dan memperlihatkan roti sobeknya.
"Males ke kamar mandi. Kalau bisa disini kenapa harua ribet ke kamar mandi."
"Yaudah, itu cepetan di pakai kaosnya." Keyra masih setia menutupi matanya dengan kedua telapan tangannya.
Aduh, mata gue udah nggak perawan lagi gara-gara Zidane ini pikir Keyra.
"Udah, buka matanya." Keyra membuka matanya.
"ZIDAAAANE. DASAR YA! KAMU MAH DARI TADI GODAIN AKU TERUS!" Keyra kembali menutup matanya. Ia memasang wajah cemberut.
Tawa Zidane pecah seketika. Entah sejak kapan menggoda Keyra adalah hobinya. Seperti ada kesenangan tersendiri saat melihat Keyra memasang wajah kesal kepadanya.
"Udah, buka matanya sekarang." ucap Zidane.
"Nggak mau. Nanti kamu bohong lagi." tolak Keyra.
__ADS_1
Zidane melepaskan pergelangan Keyra yang menutupi wajahnya. "See? Udah kan?" Keyra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kruuuuk
Kruuuuk
Perut Keyra berbunyi. Aduh, perut gue pake bunyi lagi. Zidane lagi lagi tertawa, sedangkan Keyra dari tadi hanya bisa menutupi pipinya yang lagi lagi juga memanas.
"Zidaaane, udah. Jangan ketawain aku lagi!" Keyra meninggalkan Zidane sendirian di kamar. Ia memilih berkutat dengan alat-alat dapurnya.
"Masih ngambek nih?" tanya Zidane yang kini sudah duduk di kursi depan meja makan.
Keyra hanya menatap Zidane sebentar. Lalu kembali fokus dengan memasaknya. "Idih, aku nya di cuekin." cibir Zidane.
Keyra berjalan menuju meja makan dengan membawa satu mangkok capjay dan dua piring nasi.
"Emm... masakan kamu tuh selalu enak." puji Zidane saat memasukkan satu suapan ke mulutnya.
"Terimakasih." ucap Keyra tak lupa dengan senyum manisnya.
"Ra, kamu pengen tau sesuatu nggak?" tanya Zidane.
Keyra mengerutkan keningnya. "Emang apaan?" tanya Keyra memasukkan suapan ke mulutnya.
"Setiap kamu senyum kayak tadi tuh, jantung selalu berdebar-debar." Zidane terkekeh dengan perkataannya sendiri. But, it is real. He really felt it.
Keyra mengulum senyumnya. "Receh banget kamu ituuu." Keyra mencubit kedua pipi Zidane gemas.
"Ish, beneran, Ra. Aku emang ngerasain begitu."
"Uluh uluh, langsung blushing pipinya." Zidane mencubit kedua pipi Keyra.
10 menit kemudian, Zidane dan Keyra selesai makan malam. Kini keduanya membaringkan tubuhnya di atas king sizenya.
Keyra menghadap sepenuhnya pada Zidane, dan Zidane memeluk Keyra. Menaruh dagunya di atas puncak kepala Keyra. Menggesek-gesekkan dagunya, menghirup aroma rambut Keyra.
"Kamu pakai sampo apaan sih?" tanya Zidane penasaran.
Keyra mendongakkan kepalanya. "Emang kenapa? Kamu nggak suka ya?"
"Bukan begitu. Aku suka aromanya, suka banget malahan."
"Ini sampo dari Australia. Aroma bunga lavender." jawab Keyra jujur.
"Jauh banget dari Australia." seru Zidane.
"Iya. Soalnya Tante Andini itu tinggal di Australia, nah bunda pernah dikirimin sampo ini. Bunda suka banget sama aromanya, jadi bunda impor langsung dari Australia deh." jelas Keyra.
"Hmm... aku suka banget aromanya, Ra. Bikin aku tenang."
"Nah, itu salah satu penyebab bunda impor sampo lavender dari Australia. Soalnya ayah pernah bilang, kalau aromanya itu bikin hati ayah jadi adem. Bikin ayah jadi betah sama bunda."
"Pantesan aku selalu rindu sama kamu. Ternyata sampo ini penyebabnya."
"Apa hubungannya rindu sama sampo coba?" tanya Keyra.
"Aroma yang kayak gini itu langka, Ra. Makanya aku jadi selalu rindu sama kamu. Kalo ketemu, bawaannya pengen nyium terus." Zidane terkekeh.
"Ish, Zidane mesum." Keyra memukul dada Zidane.
"Biarin, mesum sama istri sendiri kok."
__ADS_1
"Udah ah, aku mau tidur. Udah ngantuk berat ini."
"Iya iya, Good Night My Sweet Queen." Zidane mencium kening Keyra lama. Setelah itu ia ikut tertidur dengan Keyra.