
“Ngapain sih hari ini masuk segala. Masih capek juga.” Gerutu Keyra.
“Sama. Waktu rebahan gue kurang banget.” Sahut Bunga. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas.
“Bolos yuk!” ajak Keyra.
“Ini beneran lo? Keyra sahabat gue kan?” tanya Bunga.
“Iyalah. Emang kenapa?” Keyra bingung dengan ucapan Bunga.
“Aneh aja gitu. Baru kali ini lo ngajak bolos.” Jawab Bunga.
“Abisnya badan gue capek banget. Gimana? Lo mau bolos bareng?” tanya Keyra sekali agi.
“Nggak deh. Kita kan udah kelas 12, nggak seharusnya kita bolos.” Bunga menolaknya secara halus.
“Yaudah deh, gue bolos sendiri aja.” Ucap Keyra.
“APA KAMU BILANG? KAMU MAU MEMBOLOS?” ucap seorang guru di belakang Keyra dan Bunga.
“Eh, Bu Airin.” Keyra dan Bunga membalikkan lalu menyalimi tangan Bu Airin.
“Kita nggak bolos kok, bu. Kita kan anak baik-baik.” Ucap Keyra mendustai gurunya.
“TERUS TADI KAMU BILANG BOLOS-BOLOS ITU APA? SIAPA YANG MAU BOLOS SEKOLAH?” tanya Bu Airin dengan mata memelotot.
“Hah, itu bu, teman kelas kita.” Jawab Keyra terbata. Sedangkan Bunga hanya diam saja.
“SIAPA NAMANYA?”
“Em itu bu, anu, itu.” Keyra berusaha mencari jawaban.
“ANU ITU ANU ITU. JAWAB YANG BENAR DONG!”
“Fajar, Adi, sama Raka.” Jawab Keyra cepat. Bunga menoleh kepada Keyra dengan cepat seperti ingin mengatakan
“Kenapa lo sangkutin sama mereka?”
“APA? JADI MEREKA BERTIGA YANG MAU BOLOS SEKOLAH. MINGGIR! BIAR IBU SAMPERIN MEREKA!”Bu Airin berlalu menuju kelas Keyra.
“Tamat riwayat gue.” Keyra menepuk dahinya.
Keyra dan Bunga menyusul Bu Airin di belakang. “Gimana nih,Bunga?” tanya Keyra gelisah.
“Salah lo sendiri juga ini. Yaudah biarin, kita lihat aja.” Ucap Bunga.
Bu Airin memasuki kelas Keyra. “FAJAR, ADI, RAKA, KESINI KALIAN!” teriak Bu Airin di dalam kelas dengan tangan berkacak pinggang, mata yang melotot, dan mulut yang siap mengeluarkan kata-kata pedas.
“Hai, bu, Selamat Pagi.” Sapa Raka. Ketiga cowok tersebut menyalimi tangan Bu Airin.
“Masih pagi loh, bu. Jangan marah-marah. Entar cepat meninggal.” Ucap Adi.
“KAMU DOAIN SAYA MENINGGAL?” Bu Airin tambah marah-marah.
“Hah, enggak kok,bu. Mana mungkin saya doain ibu meninggal. Kita kan sayang sama ibu.” Adi hendak memeluk Bu Airin, namun Bu Airin menolaknya.
“JANGAN PELUK-PELUK SAYA, NANTI KAMU SUKA SAMA SAYA.” Ucap Bu Airin dengan Pdnya.
“Baiklah, bu. Jadi hal apakah yang membawa ibu kesini lalu memanggil nama kami bertiga?” tanya Fajar.
“Oh saya tau, bu. Pasti ibu mau kasih hadiah kan? Ah ibu, mau kasih hadiah aja pake marah-marah segala.” Canda Raka.
“DIAM KALIAN! MAKSUD KALIAN APA MAU MEMBOLOS? HAH?” tanya Bu Airin.
“Bolos? Memang siapa yang bilang kita bertiga mau bolos sekolah?” tanya Fajar bingung. Bagaimana bisa rencana bersama teman-temannya untuk membolos bisa terbongkar?
Masak iya Bu Airin cenayang? batin Fajar.
__ADS_1
“Mereka berdua.” Tunjuk Bu Airin pada Keyra dan Bunga.
Fajar, Adi, dan Raka menatap Keyra dan Bunga curiga. Mana mungkin kedua cewek itu membongkarnya? Sedangkan tas ransel masih melekat di kedua bahu mereka.
“Ih ibu, kok ibu percaya sih sama mereka berdua? Mungkin mereka berdua lagi bercanda, bu.” Ucap Adi.
“Ibu, ibu hari ini cantik banget loh. Beneran deh.” Raka mengangkat jari telunjuk dan tengahnya agar Bu Airin percaya.
“Beneran kamu?” Bu Airin melunakkan suaranya karena di puji oleh Raka.
“Ibu nggak percaya? Sebentar.” Ucap Fajar. “Pak Andi.” Panggil Fajar pada seorang guru laki-laki muda yang melewati kelasnya.
“Iya, Fajar? Ada apa?” tanya Pak Andi santai.
“Pak, hari ini Bu Airin cantik banget kan?” tanya Fajar.
“Iya. Bu Airin kan memang cantik.” Puji Pak Andi.
“Okey, pak, terimakasih. Bapak bisa pergi sekarang.” Pak Andi pun pergi berlalu meninggalkan Bu Airin yang tersipu malu.
Kini Bu Airin sedang berbunga-bunga. "Kamu tuh bisa aja ya, Jar. Ibu jadi malu nih." ucap Bu Airin dengan senyum yang terus menyinggahi bibirnya.
"Ah ibu, kenapa harus malu. Rasanya gimana bu? Berbunga-bunga nggak?" tanya Fajar.
"Wah iya dong. Yaudah berhubung hari ini kamu sudah membuat ibu bahagia, maka hari ini kamu sama kedua teman kamu, ibu lolosin dari masa hukuman." ucap Bu Airin.
"Wah, yang benar, bu?" tanya Adi tak percaya.
"Iya dong. Ya sudah ibu pergi dulu ya, selamat belajar." ucap Bu Airin kemudian meninggalkan ruang kelas 12 IPS 4.
"Buset dah, pinter amat lo bikin Bu Airin kayak gitu." Seru Keyra.
"Iya lah. Fajar gitu loh." balas Fajar dengan membanggakan diri.
"Daebak." ucap Bunga sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah depan Fajar.
Keyra membulatkan matanya. "Lah. Tadi itu gue cuman ngasal ngomong aja, eh ternyata kalian udah berencana mau nolos beneran." jawab Keyra jujur.
"Waaah, kita sehati ya ternyata." Fajar tertawa karena ucapannya.
Keyra tak menanggapin gurauan Fajar. Ia dan Bunga masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku mereka masing-masing.
###
Kriiiiiing kriiiiiing
Bel sekolah berbunyi. Seluruh sesi KBM di akhiri dengan doa dan ucapan hormat kepada sang guru.
"Kalian pulang sama siapa?" tanya Minda pada Bunga dan Keyra.
"Sepertu biasa." jawab Bunga dan Keyra dengan girang.
"Ih, jangan bikin gue ngiri dong." kesak Minda. Karena hanya dirinya yang tidak mempunyai gandengan.
"Kalau lo udah ngiri, jangan lupa nganan. Takutnya entar kalau di terusin malah kesasar." canda Bunga.
"Ih, gue serius tau." Minda mengerucutkan bibirnya.
"Udah la, jangan di bahas. Gue sama Zidane pulang dulu ya! Bye." Keyra melambaikan tangannya pada teman-temannya termasuk teman-teman Zidane.
Di tengah perjalanan menuju rumah, HP Zidane bergetar. Ia pun menepikan motornya untuk mengangkat telepon tersebut.
"Sebentar ya, Ra. Ada yang telpon nih."
"Iya, nggakpapa." balas Keyra. Zidane pun menjawab telpon tersebut.
"Halo."
__ADS_1
"....."
"Apa?" Zidane meninggikan suaranya karena sangat terkejut.
"....."
"Okey, saya akan kesana sekarang."
"....."
"Baik, terimakasih banyak untuk informasinya." Setelah mendapat balasan dari orang di seberang, Zidane pun mematikan sambungan telepon sepihak.
Raut wajah Zidane berubah menjadi sedih, khawatir, dan gelisah. "Ada apa, Zidane?" tanya Keyra.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Nanti aku ceritain disana." jawab Zidane. Kemudian ia pun melajukan motornya menuju rumah sakit.
Apa yang terjadi? tanya Keyra dalam benak.
Sampai di rumah sakit, Keyra dan Zidane melangkahkan kakinya buru-buru. Sebenarnya yang terburu-buru itu Zidane, Keyra hanya mengikutinya.
Kamar Lavender No. 20.
Zidane dan Keyra telah sampai di kamar rawat VVIP. Disanalah. Di atas sebuah ranjang terbujur lemas seorang cewek dengan baju khas orang sakit, rambut sedikit kecoklatan, bibir pucat, tangan yang di infus, serta hidung yang dipasangi ventilator.
Zidane duduk di kursi samping ranjang. Memadangi lekat wajah cewek di depannya ini, lalu menggenggam tangannya untuk menyalurkan kekuatannya.
Keyra hanya berdiri termenung melihat kejadian tersebut. "Dia siapa?" tanya Keyra dengan hati-hati.
Lama Zidane terdiam, kini ia menjawabnya. "Dia teman masa kecil gue. Namanya Lauren Mazinda. Anak dari sahabat Ayah. Ayahku punya banyak sahabat, salah satunya adalah ayah kamu dan ayahnya dia, Om Mazinda." Zidane mulai bercerita. Karena bagaimanapun juga Keyra sudah menjadi bagian dari hidupnya. Jadi, Keyra berhak tau atas apa yang terjadi padanya.
"Dia sakit apa?" tanya Keyra.
"Dulunya, saat dia masih kelas 10, Lauren depresi berat gara-gara kedua orangtuanya meninggal." Keyra tekejut.
"Waktu aku jenguk dia di rumah sakit jiwa, Lauren terbujur lemas di samping tempat tidurnya. Dia pingsan, akhirnya aku bawa ke rumah sakit ini. Setelah di cek oleh dokter, ternyata Lauren memiliki penyakit jantung. Aku juga nggak ngerti darimana asalnya penyakit jantung itu. Karena dia juga selalu menyembunyikan hal penting dari ku."
"Gara-gara sifat Lauren yang kayak gitu, aku menjauh darinya. Karena aku merasa kalau dia nggak menganggap aku sebagai sahabatnya. Tepat saat di hari pertama aku menjauhi Lauren, orangtuanya meninggal. Aku menyesal sudah membiarkam Lauren dengan kesedihannya sendirian." Tenggorokan Zidane mengering. Sebenarnya ia tidak sanggup menceritakan hal ini, karena itu akan mengingatkannya pada masa lalu yang menyedihkan.
"Kalau kamu belum sanggup untuk cerita, jangan di ceritain dulu." ucap Keyra.
"Enggak. Aku akan terus bercerita. Karena kamu harus tau, agar nggak ada kesalahpahaman di antara kita." balas Zidane.
"Tiga hari sebelum meninggalnya kedua orangtua Lauren, Om Mazinda berpesan sama aku. Dia nyuruh aku buat terus jagain Lauren. Dan kalau suatu saat aku sama Lauren saling suka, kita di perbolehkan menikah."
Deg.
Jantung Keyra berdetak lebih cepat. "Tapi aku enggak bisa. Karena aku udah nikah sama kamu."
"Kalau kamu belum nikah sama aku, berarti kamu bakal nikah sama Lauren?" tanya Keyra. Zidane mengangguk.
"Ini semua salah aku, Ra. Seharusnya saat meninggalnya orangtua Lauren, aku ada disana. Memberi kekuatan untuk Lauren. Tapi nyatanya, aku malah menjauhinya." Tanpa Zidane sadari, air matanya menetes.
"Zidane, ini bukan salah kamu. Ini semua adalah takdir yang tertulis di hidup kita masing-masing." Keyra memegang bahu Zidane, meyakinkan Zidane bahwa ini bukanlah kesalahannya. Ini adalah murni takdir yang tertulis
Zidane menyandarkan kepalanya pada tangan Keyra. *Ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan orang yang penting dalah hidupn*mu batin Keyra.
"Dia koma? Atau pingsan?" tanya Keyra berhati-hati.
"Koma." jawab Zidane.
Keyra menghampiri Lauren. Menatap wajah Lauren dengan lekat. Hanya satu kata yang keluar dari mulut Keyra, "Cantik."
Keyra mengusap lembut rambut indah milik Lauren sambil tersenyum. "Lauren, cepat bangun ya! Sahabat kamu udah nungguin loh." ucap Keyra.
Keyra melihat tangan Zidane menggenggam tangan Lauren. Kemudian Zidane mencium dahi Lauren.
Api cemburu telah memenuhi seluruh tubuh Keyra. Mereka cuman sahabat, Keyra. Lo nggak perlu cemburu. Zidane cuman ingin menyalurkan kekuatannya untuk Lauren yakin Keyra pada dirinya.
__ADS_1
Jadi seperti ini ya saat melihat orang yang di sayang juga menyayangi orang lain ucap Keyra pada dirinya karena telah merasakan apa yang di rasakan oleh Zidane saat itu.