
2 bulan kemudian.
Seluruh warga SMA Ganesha sedang sibuk mempersiapkan Diesnatalis atau bisa disebut HUT Sekolah yang ke 50 tahun. Ada yang menghias stand, panggung, lapangan, dan masih banyak lagi. Intinya hari ini mereka sibuk banget.
Seperti tradisi yang terdahulu, bahwa setiap diesnatalis sekolah dengan kelipatan puluhan, maksudnya seperti 10 tahun, 20 tahun, dan seterusnya, maka diesnatalis akan di buat sangat meriah. Mengundang berbagai band atau penyanyi ternama.
Keyra, cewek itu sedang sibuk mengatur standnya. Karena dia di tugasi sebagai wakil pengatur stand. Sebenarnya Aji adalah ketuanya, tetapi berhubung Aji diminta membatu Stand Osis, alhasil Keyra yang kebingungan sendiri mengatur stand kelasnya.
Sejak 1 bulan yang lalu, Keyra selalu menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang bermanfaat seperti hangout bersama sahabatnya, belajar bersama, atau sekedar melakukan hobinya. Ia tidak ingin terlalu tertekan dengan hubungannya bersama Zidane.
Ya. Kini Zidane dan Keyra menjalani hidupnya sendiri-sendiri, itu adalah keputusan Keyra. Tidak, mereka tidak cerai ataupun putus. Alasan Keyra memutuskan hal tersebut adalah, dia tidak ingin jika nantinya saat dia sudah terlalu dalam mencintai Zidane, dia akan tersakiti.
Dia hanya berpikir bahwa Lauren sudah tidak memiliki siapa-siapa selain Zidane, jadi dia tidak ingin membuat Lauren merasa hidup sendiri di dunia ini. Biarkan dia yang mengalah saja. Toh, kalau dia dan Zidane jodoh, Tuhan pasti akan mempersatukan lagi dengan cara yang baik.
"Woow, stand kelasmu bagus banget, Ra" puji seorang cewek yang berdiri di samping Keyra. Cewek tersebut adalah Lauren.
"Makasih. Tapi menurutku ini biasa aja kok, masih bagusan stand kelasmu." Puji Keyra balik.
"Masak sih? Aku nggak nyangka kalau ideku bakal di puji sama orang lain." Lauren terkekeh.
"Selera kamu tinggi juga ya." Gumam Keyra dengan senyumnya.
"Nggak juga. Itu cuman ide yang muncul di otak aja kok. Tanpa bantuan mereka ideku juga nggak bakal sebagus ini." Lauren menunjuk ke arah teman sekelasnya.
"Iya juga sih. Yaudah aku kesana dulu ya?" tunjuk Keyra pada Bunga yang tadi memanggil namanya. Lauren mengangguk mantap.
"Ada apa?" tanya Keyra to the point.
"Ngapain tuh sih laron dekat-dekat lo?" ketus Bunga.
"Namanya Lauren, Bung, bukan Laron. Lo ini ganti-ganti nama orang sesukanya deh." Keyra membenarkan ucapan Bunga.
"Idih, biarin aja. Salah siapa punya nama ribet amat di panggilnya, gue kan cuman pakai yang simple, yaudah gue panggil laron aja." Balas Bunga tak setuju Keyra membela si Lauren.
"Serah lo. Ngapain lo tadi panggil gue?" tanya Keyra kembali ke topik.
"Itu temen-temen pada haus, tolong ambilin airnya di ruang osis gih." Jawab Bunga.
"Lah kok gue sih? Kan yang sie konsumsi bukan gue." Protes Keyra.
"Siapa juga yang bilang lo sie konsumsi? Lagian Andin sama Kania lagi cari makanan juga, kalau lo mau suruh si FAR ya nggakpapa sih. Kalau mereka mau." Bunga memberi saran kepada Keyra. Setelah menimamg-nimang, akhirnya Keyra memutuskan untuk menemui FAR tersebut.
"Fajar, Adi, Raka." Panggil Keyra sambil berjalan menghampiri anggota FAR.
"Ada apa nyonya besar?" tanya Raka pada Keyra. Julukan nyonya besar itu Raka buat karena Keyra saat ini menduduki jabatan tertinggi di kelas setelah ketua selama diesnatalis.
"Kalian bertiga tolong ambil air minum 1 kardus di ruang osis." Suruh Keyra.
"Loh kok kita bertiga? Nggak ah, gue nggak mau." Tolak Raka mentah-mentah dan itu disetujui oleh Fajar dan Adi.
"Lo kan tau, Ra, kalau kita bertiga itu anti sosis sosis club." Celetuk Adi.
"Osis, Adi, bukan sosis." Keyra membenarkannya.
"Itu maksud gue." Balas Adi.
"Lo aja yang ambil airnya, Ra. Kita bertiga udah capek. Lelah berjuang mati-matian demi nama baik 12 IPS 4." ucap Fajar.
"Alay omongan lo, Nyet" ejek Raka.
"Gue kan cewek, masak iya gue yang bawa sih. Nggak kasihan apa sama gue?" Keyra menampilkam puppy eyesnya.
"NGGAK." ucap FAR bersamaan.
Keyra berdecak sebal. "Ck. Yaudah gue aja yang ambil. Kasihan kalian entar mati gara-gara kehausan." Keyra berlalu dari hadapan FAR.
"Dasar bidadari surga! Bisa-bisanya doain kita mati kehausan. Padahalkan gue pengennya mati karena berjuang dalam cinta suci." Kumat lagi sifat bucinnya di Raka.
Keyra sampai di ruang osis, sebelum masuk ia mengetuk pintunya dulu. Tak lama keluarlah salah satu pengurus osis.
"Eh, Rangga." Ucap Keyra spontan saat Rangga yang membuka pintunya.
"Ada apa, Ra?" tanya Rangga.
"Mau ngambil air mineral satu kardus aja." Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Mempersilahkan Keyra masuk ke dalam ruang osis.
"Kok sepi? Pada kemana?" tanya Keyra saat ia tak melihat anggota osis yang lain.
"Lagi pada sibuk sama pekerjaannya." Jawab Rangga sambil mengambil satu kardus air mineral.
"Lo yang bawa?" tanya Rangga dan Keyra mengangguk.
"Temen cowok lo pada kemana? Kok lo yang disuruh ambil?"
"Lagi pada ngurus stand. Kasihan, pasti mereka udah capek banget. Yaudah gua aja yang ambil airnya."
"Temen cowok lo kan banyak, Ra. Masak iya mereka tega banget sama lo. Satu kardus tuh berat loh."
"Udah nggakpapa. Sini." Rangga tidak menyerahkannya.
"Biar gue aja yang bawain." Ucap Rangga.
"Eh, jangan! Lo kan ketua osis, masak bawa ginian." Keyra berusaha merebutnya tapi Rangga tak melepaskannya.
"Emang apa salahnya? Lagian gue cuman bantuin temen gue kok. Udah ayo, keburu temen-temen lo kehausan." Keyra akhirnya menyerah juga. Keduanya jalan berdampingan.
"Emmm, Ra." Panggil Rangga.
"Iya?" tanggap Keyra.
__ADS_1
"Kabar-kabar yang beredar kalau lo sama Zidane putus itu benar ya?" tanya Rangga hati-hati.
Keyra cukup lama terdiam. Karena ia berpikir, bagaimana bisa hubungannya di katakan putus kalau dia dan Zidane tidak bercerai.
"Iya." Jawab Keyra.
"Sorry ya, kalau pertanyaan gue tadi nyinggung lo." Rangga sangat menyesalinya.
"Nggakpapa. Santai aja kalau sama gue." Keyra tersenyum.
"Pantesan Zidane suka sama lo, orang senyum lo manis banget. Gula aja sampai kalah." Gurau Rangga. Setidaknya itu cukup membuat rasa menyesalnya hilang.
"Hahaha, bisa aja lo."
"Eh, udah sampai. Lo taruh aja diatas meja." Rangga menaruh kardus tersebut di atas meja.
"Loh, Ra, kok Rangga yang bawain airnya?" tanya Fajar tak mengerti.
"Lo dan teman-teman lo tuh tega banget ya. Nyuruh cewek ambil air sekardus. Mikir dong, ini tuh berat! Dan ini juga tugas cowok, bukan tugas cewek. Untung di ruang osis ada gue." Omel Rangga pada teman-teman cowok Keyra.
"Diem lo, sosis!" sengit Raka.
"Udah, jangan berantem! Makasih ya, Rang!" Ucap Keyra berterimakasih, Rangga menganggukkan kepalanya, kemudian ia kembali ke ruang osis.
"Aish, si sosis mau jadi pahlawan kesiangan." Ucap Adi yang terlihat bete.
"Ini kan udah sore" celetuk Fajar.
"Ralat. Pahlawan kesorean." Ralat Adi.
"Mana ada pahlawan kesorean?" Keyra menaikkan satu alisnya.
"Ada dong. Kalau pun nggak ada ya di ada-adain, pasti nanti ada." Jawab Adi.
"Serah lo." Keyra berlalu. Ia tidak ingin meladeni ucap FAR, karena kalau diladeni maka tidak akan ada habisnya, bahkan sampai nanti malam.
"Minda mana?" tanya Keyra pada Bunga.
"Lagi ngambil hiasan di kelas" jawab Bunga. Keyra menganggukkan kepalanya.
"Nah tuh dia" ucap Minda sambil menunjuk Minda dengan dagunya.
"Nih barangnya. Gila aja cewek disuruh bawa barang segini banyaknya" ucap Rico, cowok yang membantu Minda membawa barang-barang.
"Tau tuh. Emang cowok-cowok di kelas gue itu orangnya tegaan sama anak cewek. Malesin semua. Makanya gue cari cowok lain kelas." Ucap Bunga sambil mengambil barang yang di bawa oleh Rico.
"Makasih ya, Ric. Sorry ngerepotin lo." Ucap Keyra.
"Sama-sama. Sans aja kalau sama gue. Min, gimana sama pertanyaan gue tadi?" Keyra dan Bunga mengerutkan dahinya.
"Nggak tau" Minda mengedikkan bahunya.
"Pertanyaan apa, Min?" tanya Keyra.
"Mau nggak jadi pacarnya dia." Jawab Minda jujur.
"Terus jawaban lo gimana?" tanya Bunga.
Minda mengedikkan bahunya lagu. "Nggak tau. Lagi males buka hati."
"Anak pintar. Jangan mau sama Rico!" bisik Bunga.
"Emang kenapa?" tanya Keyra dan Minda hampir bersamaan.
"Fakboi tingkat akut. Gue takut aja kalau Minda cuman jadi mainannya doang."
"Nggak boleh gitu tau. Siapa tau Rico udah khilaf." Bantah Minda.
"Yaudah deh, terserah lo juga."
"Udah ah gosipnya. Lanjut hias ini, biar cepat selesai dan biar cepat pulang. Gue pengen mandi terus tidur." Sahut Keyra.
"Btw, nanti yang jaga malam siapa?" tanya Minda sambil membantu menempelkan hiasan.
"Kalau gue terserah mereka aja sih. Yang penting ada yang jaga." Jawab Keyra. Minda hanya membulatkan mulutnya.
"Yaudah, nanti gue ikut jaga malam. Soalnya kalau besok sama lusa gue nggak bisa." Ucap Minda.
"Iya, terserah lo." Keyra memang begitu orangnya. Yang mau ya silahkan, yang nggak mau ya terserah. Yang penting ada tanggungjawabnya dan tugas yang diberikan sudah tuntas.
###
Jam menunjukkan pukul 18.00 WIB. Langit sudah berubah menjadi gelap. Bintang dan bulan pun juga sudah terlihat. Namun, kegiatan prepare siswa SMA Ganesha sebagian belum selesai.
"Akhirnya selesai juga." Keyra tersenyum senang karena standnya sudah terhias sangat bagus. Meskipun sederhana, setidaknya hasil tidak mengkhianati kerja keras.
"Minda, lo mau langsung jaga disini atau pulang dulu?" tanya Keyra.
"Pulang dulu deh. Mau mandi sama ganti baju."
"Yaudah, biar yang lain gue suruh jaga sini dulu. Oh iya, nanti jaga malam lo di temani sama FAR dan yang lain. Jadi, lo nggak usah khawatir kalau jaga sendirian." Minda mengangguk. Menyetujui semua ucapan Keyra.
"Okey, gue pulang dulu ya guys. See you semuanya." Keyra mengambil tasnya lalu berjalan ke gerbang depan.
Suara klakson motor terdengar keras di telinga Keyra. Dia pun menolehkan kepalanya. Ternyata Zidane.
"Naik, Ra. Biar aku antar." suruh Zidane.
"Emm, Lauren gimana?" tanya Keyra hati-hati.
__ADS_1
"Udah aku antar tadi sore."
"Oke deh. Maaf ya ngerepotin." Keyra merasa tidak enak.
"Apapun itu kalau udah tentang lo, bagi gue nggak ngerepotin kok. Lagian ini juga udah tugas gue sebagain seorang suami." Keyra menjitak kepala Zidane dari belakang.
"Mending diam deh." Motor Zidane pun melaju dengan kecepatan lambat.
"Tumben pelan banget" seru Keyra.
"Sengaja. Biar bisa lama-lama berduaan sama kamu." Goda Zidane.
"Lauren nggakapapa kan?" tanya Keyra.
"Nggakpapa." Jawab Zidane singkat.
"Gimana kabarnya dia?" Sebenarnya Keyra hanya berbasa-basi agar suasana di antara mereka tidak canggung.
"Ra, kamu lagi sama aku loh. Kok ngomongin orang lain sih." Kesal Zidane.
"Idih, cemburu ya." Keyra tertawa.
Tawa yang selalu membuat gue merasa rindu batin Zidane.
"Ra, boleh nanya nggak?" tanya Zidane.
"Itu kan kamu udah tanya." Keyra lagi-lagi menertawakannya.
"Ih serius, Ra."
"Iya iya, boleh."
"Janji jawab yang jujur ya?"
"Iya."
"Janji dulu."
"Iya iya, Zidane. Aku janji."
"Sebenarnya apa alasan kamu membuat keputusan kalau kita hidup masing-masing dulu?"
Deg.
Jantung Keyra berpacu lebih cepat. Ini adalah pertanyaan yang di hindarinya. Lantas bagaimana ia menjawabnya. Ya Tuhan, tolong aku. Semoga cepat sampai rumah, biar aku bisa menghindar dari pertanyaan ini doa Keyra dalam hati.
Dan benar saja. Doanya terkabulkan. Ia sudah sampai di rumahnya. " Eh, udah sampai." Keyra turun dari motor Zidane, mengembalikan helm yang tadi di pinjamnya kepada sang pemilik.
Zidane mencekal tangan Keyra yang hendak masuk rumah. "Jawab pertanyaan aku dulu."
Keyra melepaskan cekalan tangannya pada tangan Zidane. "Aku masuk dulu ya." Setelah cekalannya berhasil lepas, Keyra masuk ke dalam.
Setelah 5 langkah, HP nya bergetar. Keyra pun mengbilnya. Ada pesan whatsapp masuk. Dari Zidane.
Zidane Gans❤️
Kenapa kamu selalu menghidar?
Keyra memejamkan matanya. Sungguh, sebenarnya ia ingin sekali mengatakan semuanya. Tapi, ia tidak bisa. Ia hanya berpikir, cukup dia dan Tuhan saja yang tau. Jika suati saat Keyra ingin memberi tau Zidane maka ia akan memberitaunya secara langsung.
Drrrt drrrt
Zidane Gans❤️
Tolong jawab pertanyaan aku, Ra
Lagi-lagi Keyra hanya membacanya. "Sudahlah, biarkan saja." Gumam Keyra, lalu ia benar masuk ke dalam rumah dan memulai ritual mandinya.
Keyra berendam di dalam bathup yang sudah terisi air dingin beserta sabunnya. Ia memejamkan matanya. Menikmati setiap air dingin yang terasa menusuk-nusuk kulitnya.
Kejadian di ruang kelas 12 IPA 2 kini kembali hadir di pikirannya. Kejadian itu terlalu jelas tergambar di otaknya. Kejadian yang tidak akan di lupakan Keyra. Kejadian yang menjadi alasannya memutuskan untuk hidup masing-masing dengan Zidane.
"Semoga ini keputusan yang tepat untuk gue dan juga Zidane." Gumam Keyra.
Selesai dengan kegiatan di kamar mandi. Keyra memakai piyama kesayangannya. Kepalanya terasa berat sekali. Mungkin ini efek dari kecapean.
Keyra mengambil HPnya. Ada banyak pesan dan juga telpon yang masuk dari Zidane.
22 message
10 call voice
"Banyak amat." ucap Keyra. Dia pun membuka roomchatnya bersama Zidane.
###
See you next part :)
Maaf aku loncatin partnya, karena mau cepat-cepat bongkar siapa itu Leo (teman masa kecil Keyra)
Cerita Minda dan Farzan masih HIATUS dulu ya. Nerusin ini dulu.
Terimakasih sudah menjadi pembaca setia cerita ini. Tetap dukung ceritanya.
Dapat salam dari Zidane nih.
__ADS_1
Zidane: Tehnya manis, kayak kamu. Tapi masih manisan kamu. Kalau teh manisnya pake gula, tapi kalau kamu manisnya alami. Jadi tambah sukaa.