
"Lo kenapa bisa telat?" tanya bunga penasaran. Mereka bertiga sekarang telah mendaratkan dirinya di kantin.
"Gara-gara cowok sialan!" ucap Keyra menahan emosi.
"Emang siapa?" tanya Minda. Ia memasukkan bakso ke mulutnya.
"Zi-" ucapan Keyra terhenti. Ah tidak! Tidak boleh mengatakannya. Bisa tamat riwayatmya kalau sampai 2 sahabatnya ini bertanya yang tidak-tidak.
"Zi? Zi siapa?" tanya Minda bingung.
"Zidane mungkin." tebak Bunga yang pastinya sudah seratus persen benar.
"Nggak lah. Ngapain juga si Zidane. Zi.... ah iya Zifa! Iya Zifa." ucap Keyra dengan memalingkan pandangannya.
"Zifa siapa? Emang lo punya saudara?" tanya Bunga lagi.
"Perasaan, lo enggak punya saudara deh!" hardik Minda.
"Hah? Heh masak sih? Eh iya, adik sepupu gue itu loh! Kemarin dia itu nginap di rumah gue. Nah kan gue ngalarm tuh, sama dia malah di ganti sampe jam setengah tujuh!" jelas Keyra.
"Zifa kan nama cewek?!" ucap Minda.
"Sedangkan yang lo sebutin tadi 'cowok sialan'!" Bunga dan Minda di tambah bingung dengan jawaban Keyra.
"Hah? Masak sih? Udahlah jangan dibahas. Cepet di makan tuh baksonya, keburu bel masuk entar." Sebenarnya Keyra hanya mengalihkan perhatian sahabatnya, agar nantinya ia tidak keceplosan menyebutkan nama Zidane. Kan kalau kesebut, pertanyaannya bisa kemana-mana.
Benar saja! Bel masuk berbunyi setelah beberapa menit Keyra menyebutnya. "Sialan! Es cendol gue belum habis lagi!" umpat Bunga.
"Kalian duluan aja, gue mau beli air mineral dulu!" Bunga dan Minda menganggukkan kepalanya, lalu pergi dari kantin.
Keyra berjalan mendekati gerobak Kang Asep. "Kang, beli air mineralnya 1 ya!" ucap Keyra di samping Mang Asep.
"Eh, iya non. Itu silahkan di ambil airnya!" Keyra memgambil botol air mineral berukuran sedang.
"Ini Kang, uangnya! Kembaliannya buat Kang Asep aja!" Keyra memberikan selembar uang 10 ribu kepada Kang Asep.
"Waaaaah, makasih banyak ya, Non! Non Keyra memang baik!" seru Kang Asep.
"Sama-sama, Kang!" Hendak pergi, tetapi tak jadi. Tiba-tiba terlintas sebuah ide cemerlang di kepalanya.
"Kang, ada garam nggak?" tanya Keyra.
"Ada, non! Btw, buat apa ya, non?" tanya Kang Asep penasaran.
"Ada deh, Kang." Keyra jelas tak akan memberi tahu rencananya itu.
"Yaudah, itu garamnya ada di atas meja." Keyra langsung mengambil dan mencampurkan 5 sendok teh garam ke dalam air mineralnya.
"Eh, ada potongam jeruk nipis nih! Aha! Gue tambahin aja! Biar tahu rasa tuh cowok!" gumamnya pelan. Keyra juga mencampurkan air perasan jeruk nipis ke dalam air mineral.
"Udah, kang. Makasih ya!" Keyra buru-buru keluar kantin.
"Semoga gue ketemu temannya gitu!" gumam Keyra menyerupai bisikan. Tak disangka, doa-nya terkabulkan. Ia bertemu Tasya, teman sekelas Zidane sekaligus teman se-ekstranya.
__ADS_1
"Tasya" panggil Keyra sambil melambaikan tangannya pada Tasya. Ia menghampiri Tasya.
"Ada apa, Ra?" tanya Tasya.
"Emmmmm, mau nitip ini. Minta tolong kasihkan ke Zidane ya, tapi jangan bilang kalau itu dari gue. Bilang aja dari temannya, anak IPS gitu!" pinta Keyra dengan senyum termanisnya.
"Emang kenapa kalau gue bilang dari lo?" tanya Tasya tambah bingung.
"Udah, pokoknya jangan bilang dari gue! Makasih ya, Tasya!" Keyra melambaikan tangannya dan bergegas memasuki kelas agar tak terlambat.
***
Keyra merasa was-was saat ia sudah berada di depan pintu. "Kok gue jadi deg-degan gini ya? Kayak mau dilamar orang aja!"
Keyra memegang gagang pintunya, menggoyangkam ke bawah, lalu memberi sedikit dorongan agar pintu tersebut terbuka. Hening. Otulah suasana kelasnya saat ini. Semua teman sekelasnya menoleh padanya.
"Astaga, Ra! Gue kira Bu Karin, ternyata elo!" teriak Alfa di pojok belakang. Keyra menyengir sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya yang membentuk huruf 'V'.
Suasana kelas pun kembali ramai. Maklumlah, anak IPS. Minda langsung mendudukkan pantatnya di bangku depan Keyra, karena penghuninya sedang pergi entah kemana. "Bu Karin kemana?" tanya Keyra saat ia sudah duduk dibangkunya.
"Nggak masuk, katanya sih anaknya sakit." jawab Bunga yang sedari tadi sudah duduk dibangkunya.
"Ada tugas nggak?" tanya Keyra lagi.
"Nggak ada. Free class dong!" Minda menjawab dengan antusias.
"Lo dari mana aja? Lama banget beli airnya?" Bunga langsung menutup novel yang tadi dibacanya dan beralih menghadap Keyra.
"Ada urusan sebentar di toilet." bohong Keyra. Yaiyalah! Nggak mungkin kan ia jawab dengan jujur.
Tasya menghampiri meja Zidane yang kini sudah di kerumuni para sahabatnya. "Nih!" Tasya menyodorkan air mineral tersebut pada Zidane.
"Dari siapa?" tanya Zidane penasaran.
"Dari teman lo, anak IPS." jawab Tasya. Zidane mengambil air mineral tersebut, tetapi belum ia minum.
"Namanya?" tanya Zidane lagi.
"Nggak ngerti gue, dia nggak ngasih tahu namanya!"
"Bua gue mana, Sya?" tanya Eric dengan senyum menggodanya.
"Beli aja sendiri." jawab Tasya ketus. Keempat cowok yang lain langsung tertawa melihat wajah masam Eric.
"Sukurin lo. Hahahahahaha." ucap David sambil menutup mulutnya.
Eric Gibran Manuel. Sahabat Zidane yang kini masih terus mengejar cinta Tasya. Sudah 2 kali ia menbak Tasya dan sudah 2 kali juga Tasya menolaknya. Tetapi hal itu tidak membuatnya untuk berhenti mendapatkan hatinya Tasya. Sudah beberapakali juga sahabatnya mengingatkan untuk mencari cewek lain saja. Tapi apa jawaban dari Eric, " Nggak bisa! Semakon hari cinta gue ke Tasya itu bukannya semakin berkurang, tapi malah semakin nambah." itulah jawaba yang selalu di lontarkan oleh Eric. Benar-benar lelaki setia ya Eric itu!
Karena sudah haus, Zidane membuka tutup botol tersebut, lalu meminumnya. Bukannya meneguk, Zidane malah menyemburkan air tersebut ke depan, Jelas air tersebut mengenai Eric.
"Air apaan ini?" Zidane menatap air yang ada di botol tadi dengan tatapan menahan kesal.
"Lo kalo nyemburin air nggak usah di muka gue segala!" cerca Eric. Lagi. Eric di tertawakan oleh sahabatnya. Bahkan sekarang bukan hanya sahabatnya, tetapi seisi kelas. Hahahahaha. Kasihan sekali ya Eric ini.
__ADS_1
Zidane tak menghiraukan cercaan dari Eric. "Kenapa, Dan?" tanya Farzan.
"Air ini. Gila! Air apaan ini?" masih dengan nada kesal, Zidane menaruh botol tersebut di atas meja.
"Emang kenapa sama airnya?" Adam mengambil botol tersebut, lalu memasukkan airnya ke dalam mulutnya. Tak lama, ia juga menyemburkan air tersebut ke muka Eric.
"Bang""t lo!" Eric sudah kesal. Ia menarik kerah Adam, hendak membogem rahang Adam. Tapi sudah di hentikan dulu oleh Farzan.
"Sorry, Ric! Gue nggak sengaja!" Adam mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
Adam mengambil benda yang ada di saku celananya, lalu memberikan benda tersebut pada Eric. "Nih, gue pinjemin sapu tangan gue! Sebagai wujud permintaan maaf gue!"
Eric memgambil sapu tangan itu dengan kesal. Sudah 2 kali wajahnya terkena semburan air mulut sahabatnya.
"Gila! Busetdah! Ini air apaan?" Adam juga menatap botol air tersebut dengan bingung.
"Kenapa, Dam? Airnya kenapa?" David hendak mengambil air tersebut, namun sudah di sambar dulu oleh Eric.
"Lo mau ngajak baku hantam gue? Mau ikut-ikut minum airnya, terus lo semburin ke muka gue lagi?! Iya?!" ucap Eric menggebu-gebu.
Disaat keempat sahabatnya tertawa, Zidane malah terus berfikir, siapa yang dengan beraninya menjahilinya? Otaknya terus berputar mencari-cari nama seseorang yang sudah berani menjahilinya.
Ck. Jadi ini kerjaan lo? Mau balas dendam ke gue? Keyra, Keyra. Gue balas lo. Awas aja nanti kalau sampai di rumah! batin Zidane dengan senyum semirknya.
"Etdah, lo kenapa, Dan?" Farzan bingung dengan Zidane yang senyum-senyum sendiri.
"Lo udah kesambet ya gara-gara minum ini?" tanya David yang langsung berdiri dari duduknya.
"Wahai setan yang sedang merasuki tubuh Zidane, tolong keluarlah! Keluar dari tubuh sahabatku yang paling laknat ini!" ucap David sambip memegang kepala Zidane layaknya ustadz dengan ru'yah nya.
"Baca surat yasin guys!" ucap Eric, semua sahabat Zidane langsung membaca surat yasin.
Zidane langsung menepis tangan David dengan kasar. "Kalian pikir gue kerasukan setan apa?!"
"Lah nggak jadi kerasukan ya?" dengan polosnya Adam bertanya hal itu.
"Berhenti guys" ucap Eric lagi, dan ketiga cowok tadi langsung berhenti membaca surat yasin.
"Kerasukan lagi dong, Dan! Baca surat yasin-nya nanggung nih!" ucap David.
"Bodo amat lah, bodo!" Zidane pergi meninggalkan kelasnya sambil membawa tasnya.
"Eh Dan, lo mau kemana?" tanya Eric.
"Gue mau pulang! Bosen di kelas terus!" jawab Zidane. Sahabat-sahabat Zidane langsung menyusul Zidane yang sudah keluar kelas. Tapi tidak dengan Farzan. Ia tidak ingin membolos.
"Farzan nggao ikut?" tanya Zidane saat tak menemukan Farzan di barisannya.
"Enggak. Biasalah. Mana mau tuh anak di ajak bolos. Pasti ya nolak!" jawab Adam.
"Dia kan anak rajin. Nggak kayak kita-kita yang rajin bolos sekolah!" sambung David.
"Kita? Heh, lo aja kali!" ucap Zidane, Eric, dan Adak bersamaan.
__ADS_1
Akhirnya mereka bolos bersama. Tidak juga sih, karena meraka pergi sendiri-sendiri. Entah pergi kemana, yang jelas Zidane pulang ke rumahnya.