Nikah Saat SMA

Nikah Saat SMA
Kabar Baru & Tebak-Tebakan


__ADS_3

Selasa pagi ini, mading sangat ramai. Entah apa yang mereka lihat, pastinya itu adalah sebuah pengumuman penting yang bisa jadi menjadi kabar gembira, terlihat dari seberapa banyaknya siswa kelas 12 yang datang lalu kembali dengan raut wajah yang gembira.


“Eh, ada apa tuh rame-rame depan mading?” tunjuk Minda.


“Kesana yuk! Barangkali ada pengumuman penting.” Keyra dan kedua sahabatnya pun menuju depan mading.


“Permisi.” Ucap Bunga setiap mereka menerobos kerumunan.


Sampai di barisan paling depan, mereka pun langsung membaca kabar baru yang tertempel pada dinding mading.


“Yeaaay, camping!” seru Minda sambil meninjukan tangannya ke udara.


“Eits, bentar deh! Kok kita campingnya gabung sama anak SMA Wijaya sih?” bingung Keyra.


“Eh, masak sih?” ucap Minda tak percaya, lalu ia pun membacanya dengan teliti.


“Eh bener, nggak kebanyakan apa kalau gabung jadi satu?” gerutu Minda.


“Entahlah.” Balas Keyra.


“I don’t know.” Sahut Bunga.


“Tapi ya lumayan sih, secara kan anak SMA Wijaya pada ganteng-ganteng. Nggak kayak di sekolah kita, buriq-buriq semua.” Minda tersenyum bahagia.


Setelah mengetahui kabar baru tersebut, tiga cewek tadi pun berjalan menuju kelasnya. “Nggak asih ah.” Kata Keyra tiba-tiba.


“Apanya?” tanya Bunga yang tak mengerti.


“Campingnya lah.” Jawab Keyra.


“Ih asik tau. Pasti seru juga!” balas Minda tak mau kalah.


“Apanya yang seru coba?” kesal Keyra.


“Lagian kenapa sih pake di gabungin segala?”


“Mungkin mau menciptakan suasana baru.” Pikir Bunga.


“Gue demo tuh OSIS.”


“Eh, lo mau kemana?” tanya Bunga saat melihat Keyra berjalan mendahului mereka dengan terburu-buru.


“Ke kelas lah, kemana lagi coba?!” sewot Keyra.


“Gue kira dia mau ngelabrak anak OSIS.” Bisik Bunga pada Minda lalu terkekeh bersama.


“Lo negative dulu sih.” Ucap Minda.


“Ya kan siapa tau. Soalnya tadi kan dia yang bilang sendiri kalau mau demo ke anak OSIS.”


“Aish, biarin deh. Gibahin sahabat sendiri dosa lho ya.” Peringat Minda.


“Nggak jadi deh, khilaf.” Bunga tersenyum pepsodent.


###


“Menurut gue, jadwal kita jadi semakin padat deh.” Minda menghembuskan nafas gusar.


Bunga dan Keyra mengangguk setuju. “Maklum kita kan udah kelas 12. Jai, ya padat kayak gini.” Kata Keyra.


“Nggak terasa sebentar lagi kita akan berpisah.” Sahut Bunga sambil mengaduk-aduk minumannya secara perlahan.


“Hwaaaaaa, gue nggak mau pisah sama kalian. Takut nanti kalau kalian rindu sama gue gimana?” ucap Minda sambi berlagak seperti orang yang menangis.


“Seketika gue pengen muntah.” Ucap Keyra datar.


“Seketika mood gue hancur.” Ucap Bunga tak kalah datar juga.


“Idih, gitu ya kalian sama gue. Awas aja nanti kalau kita udah berpisah, kalian berdua bilang kangen sama gue!”


“Nggak lah. Yang ada lo sendiri yang kangen sama kita berdua.” Ucap Bunga bangga.


“PD amat lo.” Minda berpura-pura kesal dengan melipat kedua tangannya di depan dada sambil memalingkan wajahnya.


Kriiiiinggg kriiiiing

__ADS_1


“Eh, udah bel. Yuk masuk!” ajak Keyra yang buru-buru berdiri dengan Bunga.


“Eh, bentar es jeruk gue belum habis!” ucap Minda lalu meminum es jeruknya hingga tandas.


“Ke buru gurunya masuk, Min!” ucap Bunga.


“Udah, ayo!” ketiganya berjalan dengan tergesa-gesa menuju kelas. Karena biasanya gurunya itu datang tepat waktu.


Sampai di depan kelas. Pintu kelas tertutup rapat. Dengan tangan gemetar dan rasa takut yang memenuhi seluruh tubuh, Keyra mengetuk pintu tersebut sebanyak 3 kali lalu membukanya secara perlahan.


“Anjiiiiir, gue kira Pak Anang!” teriak Fajar dari bangku belakang.


Keyra, Bunga, dan Minda tersenyu pepsodent sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya (peace). Ketiganya masuk dengan santai. Sedangkan Minda, ia berjalan menuju bangkunya. Megambil earphone yang ada di dalam tasnya, lalu menghampiri Keyra dan Bunga


“Nanti kalau ada gurunya, gue bilangin ya.” Pinta Minda.


“Siap.” Seru Bunga dan Keyra bersamaan. Setelah disetujui, Minda pun keluar kelas.


“Mau kemana tuh bocah?” tanya Bunga pada Keyra.


“Biasalah. Palingan ke perpus, kalau nggak gitu ke rooftop.” Jawab Keyra, Bunga mengangguk paham.


“Din, minggir lo. Gue mau duduk disini.” Usir Fajar tiba-tiba. Dinda yang memiliki kepribadian pendiam, hanya bisa menyerahkan bangkunya kepada Fajar dan duduk di samping teman dekatnya.


“Bener kan kata gue. Kita campingnya gabung sama SMA Wijaya.” Ucap Raka. Keyra langsung memasang wajah masam.


“Lo juga tau kapan acaranya berlangsung?” tanya Bunga. Raka, Fajar, dan Adi menganggukkan kepalanya.


“Tempatnya?” tanya Keyra. Ketiga cowok tersebut mengangguklagi.


“Kalian tau darimana sih?” tanya Keyra lagi, penasaran darimana ketiga temannya ini bisa mendapat informasi tentang camping.


“Tadi kan gue, Raka, sama Adi itu main tebak-tebakan sama Bu Airin.” Ucap Fajar mulai menceritakan.


Flashback ON


“Hey, kalian bertiga ngapain disini?” tanya Bu Airin dengan mata yang memelotot. Saat ini Fajar, Raka, dan Adi tengah berada di parkiran sekolah.


“Nongki-nongki ganteng dong, bu.” Jawab Adi.


“Sekarang itu jam delapan lebih duapuluh menit lebih limapuluh detik.” Jawab Raka dengan santai.


“BUKAN ITU MAKSUD SAYA!!” teriak Bu Airin dengan penggaris yang siap menampar tubuh ketiga cowok itu.


“Ibu guru, kalem ya. Jangan marah-marah.” Fajar menurunkan penggaris Bu Airin dengan perlahan.


“APA KAMU?!! JANGAN PEGANG PENGGARIS SAYA!! KAMU TAU BERAPA HARGA PENGGARIS SAYA??” Fajar, Raka, dan Adi menggeleng cepat.


“PENGGARIS SAYA INI SEHARGA UANG SAKU KALIAN SELAMA 1 TAHUN! SANGAT MAHAL SEKALI INI! ENAK AJA MAIN PEGANG-PEGANG!!”


“Itu kan cuman kayu biasa, bu.” Sahut Raka yang langsung mendapat pelototan tajam dari Fajar dan Adi seperti mengatakan ‘bego, ngapain di tanya?’


“Eh, ibu guru Airin yang cantik sekali. Daripada ibu marah-marah sama kami bertiga yang nantinya akan membuat ibu cepetan tua, mendingan ibu main tebak-tebakan aja sama kami deh. Dijamin seru, bu!” kata Fajar berusaha bernegosiasi dengan Bu Airin.


“Nah benar tuh, bu. Nanti kalau kami bertiga kalah, kami bertiga akan nurut sama ibu seterusnya sampai lulus deh.” timpal Adi.


Bu Airin berpikir sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Lumayan, itu tidak akan menguras tenaga saya batin Bu Airin.


"Okelah kalau begitu, sata setuju." putus Bu Airin.


"Tebak-tebakan yang pertama ya, bu. Minuman sachet apa yang punya sopan santun?" ucap Raka yang mulai memberikan tebakan pada Bu Airin.


Bu Airin tampak mengekerutkan keningnya saat mencari jawaban. Menurutnya tidak ada sejarahnya es mempunyai sopan santun. Es kan bukan manusia.


"Gimana, bu? Nyerah?" tanya Raka.


Bu Airin masih berpikir. Hingga ia lelah, "Okelah, saya nyerah."


"Jawabannya, mari-mas mari-mas."


"Lagi ya, bu. Apa bahasa arabnya diam di tempat?" aju Adi.


Lagi, Bu Airin terlihat berpikir keras. "Nggak tau saya."


"Idih, ibu ini. Jangan nyerah dong bu!" sahut Fajar.

__ADS_1


"Ya terus jawabannya apa?" sewot Bu Airin.


"Ta'kabur." jawab Adi dengan tersenyum.


"Kenapa matahari tenggelam?" ucap Fajar.


"Ya kan emang siklusnya matahari begitu, pertama terbit kemudian tenggelam. Kalian ini benar-benar bodoh ya. Makanya nilai IPA kalian selalu paling rendah sekelas." Bu Airin memukul tiga cowok tersebut dengan penggarisnya.


"Kan kita itu anak IPS, bu. Bukan anak IPA. Ya wajar dong kalau nilai IPA kita itu jelek-jelek." balas Raka tak terima.


"Tiga tebak-tebakan lagi ya, bu." Bu Airin mengangguk.


"Dimana terjadinya camping gabungan SMA Ganesha?"


"Di hutan lah."


"Terus, kenapa di komputer ada tulisan 'ENTER'?"


"Saya nggak tau."


"Ya dicari tau lah bu."


"Sudah cepat kasih jawabannya."


"Karena kalau tulisannya 'ENTAR' programnya nggak jalan-jalan dong, bu." jawab Adi.


"Emang kata siapa program bisa jalan-jalan?! Ha? Emang program bisa jalan-jalan ke hutan? ke taman? atau shopping?" ketus Bu Airin.


"Eh, bukan itu maksud saya."


"Okelag, ini tebak-tebakan yang terakhir ya, bu." Bu Airin menganggukkan kepalanya.


"Tanggal berapa berlangsungnya camping gabungan SMA Ganesha?" aju Raka.


"Heh, kamu pikir saya nggak tau?" tiga cowok tersebut sudah bingung mencari alasan yang tepat.


"Ya besok sabtu itu lah." jawab Bu Airin. Raka, Fajar, dan Adi membulatkan matanya. Ia pikir Bu Airin mengerti maksud mereka, ternyata tidak.


"Sebentar deh." Bu Airin tampak berpikir lagi.


Fajar segera memberi kode kepada 2 temannya untuk kabur dalam gitungan ketiga.


1


2


3


"Kabuuuurrrr." ucak Fajar.


"RAKAAAA, KENAPA KAMU MEMBUAT SAYA MEMBOCORKAN HAL ITUU. DASAR YA KALIAN BERTIGA. IBU AKAN KURANGI NILAI KALIAN!!" teriak Bu Airin karena dia sudah merasa bahwa di bohongi oleh tiga anak didiknya itu.


Raka, Fajar, dan Adi berlari sambil tertawa terbahak-bahak.


Flashback OFF


"Bwahahahahahahah." tawa Keyra dan Bunga pecah seketika.


"*****, nggak nyangka gue kalau Bu Airin bisa keceplosan kayak gitu." sahut Bunga.


"Aduh perut gue sakit gara-gara kebanyakan ketawa." ucap Keyra sambil memegangi perutnya yang sudah kaku karna terlalu banyak tertawa.


"Hebat banget tebak-tebakan kalian. Hahahaha." ucap Bunga yang masih tertawa.


"Iya dong, FAR kali." FAR itu adalah sebutan dari Fajar, Adi, dan Raka.


"Sip, kalian bertiga. Lain kali buat cari jawaban ujian juga."


"Minda kemana? Kok nggak sama kalian?" tanya Adi.


"Kenapa lo? Naksir ya?" goda Fajar.


"Dih, enggak ya."


"Minda lagi ke perpus mungkin, kalau nggak gitu ke rooftop." Adi hanya menanggapinya dengak ber'oh'ria saja sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2