
"KEYYYRAAAA" pagi-pagi sekali Zahra sudah berteriak memanggil Keyra yang masih terbaring di atas king sizenya.
Cklek
Zahra menyibakkan selimut yang membungkus tubuh putrinya. "Keyra bangun!" Keyra menggerakkan tubuhnya, terganggu dengan panggilan bundanya.
"Ada apa sih, bun? Ini kan Hari Minggu, sekolah lagi libur. Tapi kenapa bunda bangunin Keyra pagi banget?" Keyra pun mendudukkan dirinya.
"Cepet cuci muka kamu! Udah di tungguin di bawah tuh!"
"Siapa bun?" Tidak mungkin kalau itu adalah kedua sahabatnya.
"Ish! Bawel banget sih! Cepet sana cuci muka dulu!" Zahra keluar dari kamar Keyra.
"Siapa sih pagi-pagi udah datang?! Ganggu jadwal rebahan gue aja!" Keyra berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Selesai cuci muka, ia turun dengan malas-malasan menemui sang tamu.
"Ck. Ternyata lo ya! Ngapain sih pake kesini segala?!" Keyra duduk pada sofa tunggal sambil melipat tangannya di depan dada.
"Ngajak lo jogging" ucap Sang Tamu dengan senyum pepsodentnya.
"Gue nggak mau keluar! Lo tuh ya, suka banget gangguin gue kenapa sih?!" ucap Keyra masih dengan wajah kesalnya.
"Keyra! Nggak boleh marah-marah sama calon mantu bunda! Lagian jogging kan bisa bikin tubuh kita sehat!" tegur Zahra.
Keyra memutar bola matanya malas. "Sekarang kamu ganti baju dulu sana! Jangan sampai kamu jogging pake piyama!" ucap Zahra dan berlalu entah kemana.
Keyra kembali ke kamarnya untuk mengganti bajunya. Selesai dengan atributnya, Keyra kembali turun lagi menghampiri Zidane yang kini tengah bermain ponsel.
"Jadi nggak?" tanya Keyra dengan nada ketus. Zidane langsung memasukkan ponselnya kedalam saku trening yang ia pakai.
"Kuy kalo gitu!"
***
"Dan, tungguin!" pinta Keyra dengan nafas yang tersenggal-senggal.
"Kenapa?" Zidane berbalik menghampiri Keyra yang kini sedang memegang lututnya.
"Gue...capek..." Keyra memilih duduk pada kursi yang ada di samping mereka.
"Ck. Lemah lo!" cibir Zidane, ia menyusul Keyra, duduk kursi tersebut.
"Adakalanya gue lelah juga kali, Dan!" Keyra duduk bersandar sambil memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa penat di tubuhnya.
Lama tak ada pembicaraan di antar mereka, hingga Zidane yang memulainya. "Ra" panggilnya.
"Hem?" respon Keyra sambil terus memejamkan matanya.
"Gue nggak nyangka, lusa kita udah nikah aja!"
"Sama" balas Keyra, ia membuka mata dan menegakkan tubuh. Mengambil posisi ternyaman untuk berbincang-bincang.
Sejenak suasana di antara mereka kembali hening, hingga Keyra memilih membuka suaranya. "Sebenarnya gue nggak setuju sama perjodohan ini, Dan."
"Terus kenapa lo nggak membantah waktu makan malam kemarin?"
"Percumah aja gue ngebantah, ujing-ujungnya juga tetep disuruh nikah sama lo!"
"Tapi lo tenang aja! Setelah lulus kita bisa cerai aja. Terus ngelanjutin hidup sendiri-sendiri!" Keyra tersenyum. Entah apa arti dari senyuman itu. Aku juga tak tahu.
"Nggak bisa lah, Ra!"
"Kenapa nggak bisa?" Keyra menghadapkan tubuhnya ke samping, menaikkan sebelah alisnya, bingung akan jawaban dari Zidane.
"Prinsip hidup gue itu, satu kali menikah dalam hidup! Lagian, proses perceraian itu juga gak segampang yang lo pikirin! Kita harus punya alasan yang tepat agar semua pihak bisa percaya!"
"Ck. Ternyata susah banget ya proses perceraian itu?! Terus gimana dong? Dimana-mana kan orang menikah karna cinta. Sedangkan gue nggak cinta sama lo, jadi nggak seharusnya kita menikah dong! Ih, bikin kesel aja!"
"Siapa bilang orang menikah karna cinta? Manusia itu menikah karna untuk mencari pahala dan melaksanakan sunnah dari Rasul! Nabi Muhammad aja menikah sama Khadijah nggak bukan karna cinta tuh!"
Keyra menempelkan punggung tangannya pada dahi Zidane. "Lo nggak lagi sakit kan? Atau kalo nggak gitu lo lagi kerasukan?"
__ADS_1
"Bodo amat, Ra! Kesel gue ngomong sama lo!" Zidane membuang muka, menatap ke arah depan. Keyra juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Zidane.
"Ra, lo ngerasa ada yang aneh nggak?"
"Aneh? Apaan yang aneh?"
"Pernikahan kita ini. Lo ngerasa ada yanga neh nggak?"
Keyra menggelengkan kepalanya. "Ck. coba lo inget-inget waktu di hari Jumat waktu di sekolah lo ngomong apa sama gue?" Keyra berusaha mengingatnya kembali.
Flashback ON
"*Zidane Ali Ananta. Gue sumpahin lo nggak dapat jodoh!" ancam Keyra sambil melipatkan tangannya di depan dada.
Fldmashback OFF*
Keyra menjitak kepala Zidane dengan wajah datar, sedatar-datarnya. Namun Zidane hanya bisa tertawa.
"See? Senjata makan tuan kan?" Zidane menaik turunkan alisnya.
"Bodo amata lah! Gue nggak peduli!" ucap Keyra sambil menekankan 3 kata di akhir ucapannya itu. Keyra hendak pergi, namun tangannya lebih dulu di cekal oleh Zidane.
"Tunggu tanggal mainnya!" bisik Zidane tepat di telinga Keyra. Keyra ingin sekali mencabik-cabik muka cowok di depannya. Ia pergi meninggalkan Zidane yang terus tertawa melihat ekspresi marah Keyra.
Tak berselang lama, Zidane menyusul Keyra, ternyata cewek itu sudah berada di mobil Zidane.
"Sorry" ucap Zidane, yang kemudian menyalakan mobilnya lalu meninggalkan taman kota yang tadi di penuhi orang yang sedang berjogging.
***
Hari Senin adalah hari yang menyebalkan, itulah yang argumenkan oleh para siswa SMA Ganesha tak terkecuali Keyra dan kedua sahabatnya.
"Sumpah, gue benci Hari Senin!" ucap Bunga yang sudah kepanasan.
"Itu guru kenapa lama banget sih amanatnya?!" sambung Keyra.
"Udah setengah jam dia amanat tapi belum kelar-kelar juga?! Nggak habis pikir gue sama tuh guru!" lanjut Minda.
15 menit kemudian, upacara pun telah selesai dilaksanakan. Para siswa bukannya langsung masuk ke kelas, tetapi malah pergi ke kantin. Tapi itu sebagian siswa sih, yang sebagiannya ya masuk kelas. Maklum, anak rajin!
"Ra, ke kantin yuk!" ajak Minda. Tadi Minda juga sudah mengajak Bunga ke kantin, dan langsung di setujui. Kini ia berganti mengajak Keyra.
"Emmm, nggak deh! Gue ke kelas aja!" tolak Keyra. Sesampainya di kelas Keyra mengerutkan dahinya. Mengapa kelas menjadi ramai sekali? Dan kenapa teman-teman ceweknya mengerubungi bangkunya.
Keyra berjalan ke arah bangkunya dengan susah payah. Tetapi ia di buat terkejut. Bagaimana bisa Zidane tidur dengan menelungkupkan kepalanya di atas lipatan tangannya dan itu berada di bangkunya.
"BUBAR!" teriak Keyra terkesan dingin. Namun, hal itu sudah cukup membuat teman-temannya menjauh dari bangkunya.
Brak
Zidane terbangun. Ia terkejut dengan gebrakan meja di sampingnya. Dipandangnya Keyra yang sedang menahan emosi dengan muka bantalnya.
"Lo tuh jadi cewek nggak ada kalem-kalemnya ya?!" Zidane meregangkan ototnya, mengganti posisinya dengan duduk tegap.
"Lo ngapain di kelas gue?!" tanya Keyra dengan wajah datar bin dingin.
"Slow, Ra. Jangan nge-gas!" ucap Zidane dengan suara lembut.
"Pergi lo dari kelas gue!" Keyra melipat tangannya di deoan dada, membuang mukanya agar ia tak bisa bertatap muka dengan Zidane yang menyebalkan.
"Lo ngusir gue?" tanya Zidane sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Cepetan lo pergi dari kelas gue! Nggak usah cari perhatian dan jangan tebar-tebar pesona lagi disini!" ucap Keyra sarkastik.
"Siapa juga yang tebar-tebar pesona?!"
"Dan, please! Ini masih pagi! Jangan buat gue emosi!" Zidane menatap Keyra sebentar. Entah apa makaud dari tatapan itu, semua juga tak tahu. Ia mengangguk perlahan, "Oke."
Sebelum benar-benar pergi, Zidane berhenti tanpa berbalik. "Jangan lupa makan bekal yang ada di kolong meja lo!" Zidane meneruskan langkahnya untuk pergi meninggalkan kelas Keyra.
Keyra di buat terkejut lagi. Ternyata tujuan Zidane kesini adalah memberikan bekal. Tapi, tumben sekali dia memberikan Keyra makanan. Biasanya aja ngejahilin Keyra dengan memasukkan kecoa mainan atau yang lainnya di kolong mejanya. Keyra jadi merasa bersalah karena tadi sudah berbuat kasar dan menuduh yang tidak-tidak pada Zidane.
__ADS_1
***
Bel pulang sekokah sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu. Keyra juga sudah menunggu bundanya selama 15 menit tersebut. Namun, mengapa sampai sekarang bundanya belum muncul juga? Ah, Keyra sudah lelah.
Derum motor menyadarkan Keyra dari lamunannya. Di atas motor tersebut duduklah seorang cowok yang selalu membuat Keyra merasa emosi setiap harinya. Siapa lagi kalau bukan Zidane.
"Belum pulang?" tanya Zidane.
"Belum di jemput" jawab Keyra lembut.
"Naik!" suruh Zidane sambil menunjuk jok belakangnya yang masih kosong.
"Nggak usah deh. Gue nungguin bunda aja." tolak Keyra secara halus.
"Bunda lo nggak bakal datang. Soalnya dia udah bilang ke gue, kalo dia nggak bisa jemput. Dia udah coba nelfon lo, tapi nggak bisa." jelas Zidane dengan ekspresi datar.
Keyra mengecek hpnya. Benar saja, honya sudah mati tak berdaya. Pantas saja tidak ada notifikasi balasan dari pesannya. Keyra tersadar, ia berjalan ke arah Zidane. Menaiki motor Zidane dengan sedikit bantuan dari sang pemilik motor.
Dalam perjalan ke rumah Keyra, tak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Zidane yang berubah diam. Tapi mungkin saja diamnya itu karena fokus menyetir. Suasana di antar keduanya sangat awkward.
Keyra mengalah, ia memilih memulai pembicaraan. "Dan" panggil Keyra dengan suara sedikit keras agar Zidane bisa mendengarnya.
"Hem?" balas Zidane.
"Lo kok jadi diem gini? Lo sakit?" tanya Keyra perlahan agar tak menyinggung perasaanya Zidane. Eits, sejak kapan ia memikirkan perasaan cowok itu?
"Gak." jawab Zidane datar.
"Lo marah sama gue?" tanya Keyra dengan hati-hati.
"Gak." masih dengan ekspresi datarnya.
"Ck. Maaf lah kalau tadi gue udah kasar sama lo. Soalnya gue tuh paling nggak suka kalo bangku gue ada yang ngerubungin, serasa gimana gitu! Maaf ya? Iya, dimaafin." Dia yang meminta maaf, dia juga yang memaafkan.
"Dih, siapa yang mau maafin elo?" cibir Zidane.
"Alah, udah lah ya. Maafin aja. Entar gue beliin balon sebagai tanda permintaan maaf gue." ucap Keyra agar Zidane tak merajuk.
"Lo pikir gue anak kecil apa?!"
"Ck. Yaudah maafin aja. Gitu susah amat."
"Lo minta maafnya ikhlas gak?" Motor Zidane telah sampai di depan rumah Keyra. Keyra pun turun dan memberikan helm yang tadi di pinjamnya dari Zidane.
"Iya, ikhlas sepenuh hati. Lahir batin."
"Okey."
"Okey apaan?"
"Okey, gue maafin."
"Thanks. Lo mau mampir dulu gak?" tawar Keyra pada Zidane.
"Nggak usah deh." tolak Zidane. Ua ingin langsung pulang dan membersihkan diri.
"Beneran?" tanya Keyra sekali lagi.
"Iya"
"Yaudah, sana lo pergi!"
"Lo berani ngusir gue?"
"Iyalah, emangnya lo siapa gue sampai gue nggak berani ngusir?!"
"Calon suami lo." Zudane terkekeh melihat eksoresi Keyra yang langsung diam.
"Yaudah kalau gitu. See you tomorrow! Jangan lupa dandan yang cantik, soalnya besok lo bakal nikah sama gue!" ucap Zidane sengan senyum seringainya. Mulai deh jahilnya.
"ZIDAAAAANE'' teriak Keyra. Melihat senyum Zidane yang seperti tadi, membuat Keyra ingin menonjok wajah tampan Zidane.
__ADS_1
Motor Zidane meninggalkan pekarangan rumah Keyra dan menghilang di belokan. Keyra memasuki rumah.