Nikah Saat SMA

Nikah Saat SMA
Ponsel Untuk Lauren


__ADS_3

“Lauren, aku sama Keyra mau sekolah dulu ya! Nanti pulang sekolah aku kesini lagi.” Ucap Zidane seraya memakai jaketnya.


“Terus aku disini sama siapa?” rengek Lauren.


“Emmm, aku panggilin Dokter Palo aja ya? Atau Suster Diana?” tawar Zidane.


“Nggak deh. Mereka kan lagi kerja. Aku disini aja sendiriran. Kalau kamu pulang sekolah jangan lupa beliin aku martabak, okey?”


“Okey.” Zidane mengangkat jari jempolnya. Zidane dan Keyra keluar dari ruang rawat Lauren.


“Ra, kenapa kemarin kamu bilang kalau kamu itu teman aku? Kamu kan istri aku. Biarin Lauren tau juga, biar nggak ada kesalahpahaman nantinya.”


“Zidane, emang kamu kemarin nggak dengar ya apa yang dikatakan sama Dokter Palo? Kondisi Lauren itu mulai membaik, dan kita tidak di perbolehkan memberitahunya kabar buruk. Itu akan mempengaruhi kesehatan jantungnya, Zidane.” jelas Keyra.


“Jadi menurut kamu, pernikahan kita ini sebuah kabar buruk buat dia?” tanya Zidane.


“Bukan itu maksud aku, Zidane. Lauren itu suka sama kamu, dan kalau dia mendengar kabar pernikahan kita, dia pasti terkejut dan itu akan mempengaruhi kesehatan jantungnya.” Terang Keyra. Zidane menghembuskan nafas elah. Ia menyetujui ucapan Keyra.


“Udah, biarin aja. Lama-kelamaan dia juga bakal tau sendiri kok.”


“Tapi sampai kapan kita bersandiwara di depan Lauren?” tanya Zidane.


“Sampai dia benar-benar pulih.” Jawab Keyra.


“Tapi itu lama, Ra. Kita kan nggak tau dia pulihnya kapan.”


Keyra menghentikan langkahnya begitupun dengan Zidane. kinimereka sudah berada di tempat parkir. Keyra menghadap sepenuhnya pada Zidane.


“Zidane, dengerin aku. Lauren itu udah nggak punya siapa-siapa lagi. Dia itu anak tunggal dan kedua orang tuanya juga sudah meninggal. Dia cuman punya kamu, Zidane. Apa kamu nggak kasihan sama dia?”


“Tapi, Ra”


“Udah ya, aku nggak mau bertengkar sama kamu lagi. Sekarang kita pulang ke rumah dulu. Masalah ini jangan di bahas lagi.” Putus Keyra.


Zidane memakai helmnya lalu menyalakan motornya. Ia menunggu Keyra sambil melamun. “Ayo jalan, keburu telat kita.” Keyra menepuk bahu Zidane. Zidane pun melajukan motornya.


Pukul 06.30 WIB, Keyra dan Zidane telah sampai di sekolah.”Keyra.” panggil Zidane saat Keyra hendak pergi ke kelas.


“Iya? Ada apa?” tanya Keyra.


“Jangan pernah tinggalin aku!”ucap Zidane.


“Tergantung.”


“Maksudnya?” tanya Zidane tak mengerti.


“Jika keadaan mengharuskan aku ninggalin kamu, ya aku tinggalin kamu. Kalau nggak, ya enggak.” Jawab Keyra.


“Dan keadaan itu nggak akan pernah terjadi di antara kita.” Balas Zidane yang menatap manik mata Keyra.


“Kita nggak tau bagaimana jalan cerita kehidupan kita selanjutnya. Jika kita memang sudah di takdirkan berjodoh, maka kita nggak akan bisa dipisah, meski ada orang ketiga di tengah-tengahnya.” Keyra tersenyum kemudian pergi menuju kelasnya.


Zidane terdiam. Ia hanya bisa berdoa, semoga dengan datangnya Lauren itu tidak akan membawa pengaruh pada hubungannya.


###


Bel istirahat berbunyi. Keyra dan kedua sahabatnya kini telah berada di kantin yang padatnya mengalahkan pasar di pagi hari.


"Untung kita di kasih kortingan waktu sama gurunya, jadi nggak perlu antri panjang" ucap Minda.


"Pak Andi emang guru ter-the best. Paling ngertiin muridnya" puji Bunga pada Pak Andi, guru yang sudah memberi potongan waktunya untuk jam istirahat muridnya.


"Ra, kok lo dari tadi diam aja? Kenapa? Ada masalah ya?" tanya Minda yang sejak dari tadi mengawasi sikap sahabatnya ini.


"Hah? Enggak kok. Nggak ada apa-apa" Keyra tersenyum paksa.


"Jangan bohong, Ra. Kita ini udah 3 tahun sahabatan." Ucap Bunga.


Keyra mengebuskan nafasnya kasar. Ia memang tidak pandai menyembunyikan apapun dari sahabatnya.


"Ada seseorang yang hadir di tengah-tengah hubungan gue sama Zidane" ucap Keyra.


"Terus?" tanya Minda.


"Gue cuman takut aja kalau itu akan mempengaruhi hubungan gue sama Zidane" jawab Keyra.


"Optimis aja. Lo sama Zidane nggak bakal bisa terpisah." sahut Bunga.


"Emang siapa sih orangnya? Anak sini ya?" lanjut Bunga.


"Enggak. Dia nggak sekolah. Dia itu sahabatnya Zidane sejak kecil. Dan dia udah nggak punya siapa-siapa lagi selain Zidane. Orang tuanya udah meninggal semua. Dia juga anak tunggal. Sebenarnya gue kasihan sama dia, tapi gue juga nggak pengen kalau dia merebut Zidane dari gue." jelas Keyra.


"Ribet amat kisah cinta lo." sahut Minda.


"Terus lo mau ngapain?" tanya Bunga.


Keyra mengedikkan bahunya tak tahu. "Nurut sama alurnya aja lebih baik" jawabnya.

__ADS_1


"Bener juga sih. Lagian kalau Zidane takdir lo, dia juga bakal sama lo terus" balas Bunga lalu meminum segelas air dingin.


"Yaudahlah, positif thinking aja" ucap Minda.


"Jalanin secara santuy gitu. Jangan terlalu di pikirin. Entar malah bisa mempengaruhi kinerua otak juga kesehatan lo" nasihat Minda.


###


Sepulang sekolah, Zidane dan Keyra mampir ke toko ponsel, karena Zidane ingin membelikan Lauren ponsel dengan alasan agar ia tidak bosan jika di tinggal sendirian.


"Kita pulang dulu apa langsung ke rumah sakit?" tanya Keyra.


"Pulang dulu aja. Aku mau mandi" jawab Zidane. Keyra hanya ber'oh'ria saja.


Zidane pun melajukan motornya menuju rumah. Sekitar 25 menit mereka sampai di rumah. Setelah memarkirkan motornya, Zidane langsung menuju kamar mandi.


Sedangkan Keyra hanya menyalakan tv tanpa minat menontonnya sambil menunggu Zidane selesai mandi.


"Semoga selalu ada kabar baik." gumam Keyra saat ia mau masuk kamar mandi karena Zidane telah selesai mandi.


Setelah berkutat dengan kegiatan di dalam rumah, Keyra dan Zidane langsung menuju rumah sakit sambil membawa tas yang berisi buku untuk mereka pelajari.


Zidane melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata. Menembus padatnya jalan kota di sore hari. Setelah menempung perjalanan selama 25 menit, Keyra dan Zidane telah sampai di rumah sakit. Keduanya berjalan menuju kamar rawat Lauren.


Tok tok tok.


"Masuk" ucap orang di dalam kamar tersebut. Setelah di ijinkan masuk, Zidane dan Keyra pun memasuki kamar tersebut.


"Zidane" seru Lauren dengan mata yang berbinar. Keyra memilih langsung duduk di sofa, menyibukkan dirinya.


"Ini ponsel buat kamu. Jadi pas aku sama Keyra lagi ke sekolah atau ada urusan luar gitu, kamu bisa pakai ini buat ngusir rasa bosan. Dan di dalamnya udah ada nomor aku sama Keyra." Jelas Zidane.


"Kamu udah makan?" tanya Zidane pada Lauren.


Lauren menggelengkan kepalanya. "Belum."


"Kenapa nggak makan? Ini udah kelewat jam makan kamu loh." Omel Zidane.


"Hehehe, maaf. Pengen di suapin kamu sih" jawab Lauren. Zidane terdiam. Ia kemudian mengambil mangkok lalu mulai menyuapi Lauren.


Saat suapan pertama hendak masuk ke mulut Lauren, tangan di hentikan oleh Keyra. "Biar aku aja yang nyuapin dia. Kamu istirahat dulu aja disana." Keyra mengambil alih mangkok tersebut. Lalu mulai menyuapi Lauren. Dan Zidane menuruti apa kata Keyra. Lagian tubuhnya juga sudah terasa pegal sekali.


"Ren, kamu itu seumuran sama Zidane ya?" tanya Keyra berbasa-basi.


"Iya." Jawab Lauren.


"Berarti kita juga seumuran, Ren." Balas Keyra.


"Pasti seru banget bisa sekolah." Ucap Lauren.


"Emang dulu kamu nggak pernah sekolah?" tanya Keyra sambil memasukkan suapan ke dalam mulut Lauren.


"Pernah lah. Cuma untuk SMA ini aku putus sekolah gara-gara begini."


"Terus kamu sekolah tahun depan dong?" tanya Keyra lagi.


"Enggak. Aku mau ikut kejar paket aja, biar nanti aku sama Zidane bisa kuliah bareng-bareng." Lauren tampak bahagia saat mengatakan kalimat itu.


"Ouh, segitu sayangnya ya kamu sama Zidane" gumam Keyra sambil menahan gejolak di hatinya.


"Iya lah. Zidane tuh perhatian banget sama aku. Kata Dokter Palo, Zidane itu selalu tanyain perkembangan aku, kadang juga kesini buat jengukin aku." Ucap Lauren.


"Keyra, kamu tau nggak makanan favorit Zidane apa?" tanya Lauren.


"Nasi goreng kan?"


"Ih bukan tau. Zidane itu paling suka sama salad buah. Dulu waktu kelas sepuluh, sebelum aku kayak gini, Zidane itu sering banget nyuruh aku buatin salad untuk dia." Keyra hanya manggut-manggut.


"Makanan kamu udah habis, sekarang minum obat dulu ya. Biar kesehatan kamu tambah baik lagi." Keyra menyodorkan beberapa obat dan segelas air untuk Lauren. Lauren pun menerimanya dengan suka hati.


"Sekarang lanjut ceritanya." Sebenarnya Keyra hanya ingin tau apa saja yang di sukai oleh Zidane dan apa yang tidak di sukainya. Karena sejak dulu, Zidane tidak pernah menunjukkan rasa suka ataupun tidak suka terhadap sesuatu yang seperti di ceritakan oleh Lauren.


"Zidane pernah ngungkapin rasa sayangnya ke aku juga, bahkan dia juga bilang kalau sutau saat aku bisa sembuh dari depresi aku, maka kita berdua akan pacaran. Dan sekarang depresi dan jantungku bisa sembuh gara-gara aku yang terus memgingat bahwa Zidane menungguku."


Praaaak


Gelas yang ada di genggamam Keyra jatuh ke lantai. Sontak ia tersadar, lalu mengambil satu-persatu pecahan tersebut.


"Aduh, maaf ya. Gelasnya aku jatuhin." Ucap Keyra meminta maaf pafa Lauren.


"Udah, nggakpapa. Lagian bisa di ganti kok."


Saat Keyra mengambil pecahan gelas yang terakhir, jarinya tidak sengaja terlalu menekannya sehingga jari telunjuknya mengeluarkan darah.


Keyra terkejut. Ia pun langsung mendongakkan kepalanya pada Lauren. Lauren baik-baik aja batin Keyra.


Setelah membuang pecahan gelas tersebut dengan benar, Keyra menghampiri Lauren, mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang Lauren.

__ADS_1


"Kamu nggak phobia sama darah kan?" tanya Keyra was-was.


Lauren menatap Keyra, lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak lah. Kenapa juga alu phobia sama darah."


"Ya barangkali kamu phobia gitu. Kayak di cerita-cerita yang aku baca. Kebanyakan cewek yang depresi itu phobia sama darah, aku kira kamu salah satunya." Balas Keyra.


"Hahaha, ya enggak lah, Keyra. Oh iya, kamu simpan ya nomor whatsapp aku, udah aku chat di nomor kamu kok." Keyra membuka ponselnya lalu menyimpan nomor Lauren.


"Udah."


Lauren membulatkan mulutnya karena terkejut. "Wow, kamu cepat juga ya."


"Hahaha, apaan sih. Cuman save nomor HP doang kok."


"Yaudah, kamu belajar dulu nggakpapa. Aku mau main ponsel dulu." Ucap Lauren.


"Oke deh. Nanti kalau kamu butuh apa-apa langsung bilang ya." Lauren mengangguk setuju.


Keyra lalu berbalik, duduk di atas karpet. Setelah itu membuka bukunya. Mengerjakan PR yang besok harus di kumpulkan.


Sedangkan Lauren, ia masih asyik dengan ponsel barunya. Menginstall aplikasi sosmed seperti instagram, twitter, whatsapp, dan lainnya. Tak lupa ia juga menginstall berbagai game seperti dinner dash, cooking mama, zona cacing, dan masih banyak lagi.


Sepanjang mengerjakan PR Keyra sangat tidak fokus, berkali-kali ia mencoba fokus kembali, tapi lagi-lagi tidak bisa. Keyra mengambil ponselnya. Mengirim pesan pada sahabatnya.


**WACANA GROUP'S


KeyraGM**


Woy, pap PR besok dong


Minda


Demi apa lo minta contekan?😅


Bunga


2


KeyraGM


Demi nasi lemaknya Bu Surti.


Udah ah cepetan, mumpung gue lagi pengen nulis nih.


Entar kalo udah males nulis, PR gue nggak selesai.


Bunga


Bodo amat yeeeee


Orang lo yang males


Minda


Send picture


Send picture


Tuh, udah gue pap


Sekarang cepetan kerjain, biar cepat kelar


Bunga


Kok lo kirimin sih, seharusnya jangan dong


Biar Keyra nyerah dulu dan kasih keuntungan


KeyraGM


Diam lo panci gosong


Kayak Minda dong, udah cantik, baik, pinter pula


Mind****a


Idih, puji gue kalau ada maunya:/


KeyraGM


Hehehe, piece ya✌️


Makasih Minda😘😘😘


Minda


Jijik wooy👊

__ADS_1


Bunga


2


__ADS_2