
Hari berganti hari dan kini telah berganti menjadi sebuah hari awal pertarungan para siswa kelas 10 dan 11 SMA Ganesha dengan selembaran kertas soal juga jawaban yang nantinya akan menentukan nasib mereka antara naik kelas dan tidak.
"Ra, lo diruang mana?" tanya Bunga.
"Ruang 10. Kalian dimana?"
"Gue diruang 2." sahut Bunga.
"Ruang kelas 10 IPS 2 dong?" Bunga mengangguk.
"Lo dimana, Min?" tanya Keyra.
"Di ruang 12." ucap Minda jujur.
"Berarti di kelasnya Farzan?" Minda mengangguk.
"Enak bener lo!" sahut Bunga. Minda hanya terkekeh.
Kriiiiing
"Eh udah bel tuh, yuk masuk!" ketiga cewek tersebut pun mulai memasuki ruangan mereka masing.
Di ruangan yang lain.
Entah ini memang takdir atau hanya sekedar keberuntungan, Zidane dan kawan-kawannya mendapatkan ruangan yang sama. Wajah bahagia sudah tercetak sejak tadi pagi di muka Eric.
"Kayaknya hari ini lo bahagia banget deh! Ada apa emang?" tanya Adam.
"Kalian baru ngeh apa? Ini pertama kalinya kita berlima satu ruangan loh!" jawab Eric.
"Lah emang kenapa? Gue malah pengennya nggak se-ruangan sama lo!" balas David.
"Setuju gue!" ucap Adam dam Zidane bersamaan.
"Sialan kalian semua!" Eric memasang wajah datar.
"Farzan sayang, jangan lupa nanti bagi-bagi jawaban ya!" ucap Eric manja di sanping Farzan.
"JIJIK WOOOY!" ujar Zidane, David, dan Adam. Berbeda dengan mereka, Farzan malah menggeser bangkunya sedikit menjauhi Eric.
"Kampret lo semua! Lo pikir gue apaan, hah?!" ketus Eric.
"Najis Mugholadzoh." jawab Adam cepat, ketiganya pun langsung tertawa melihat eksresi datar milik Eric.
"Woy, Zan! Serius amat lo jadi orang!" Zidane menepuk pundak Farzan yang sedang membaca buku.
"Jadi orang tuh jangan serius-serius, entar lama punya doi lho!" ujar David.
"Biarin" balas Farzan.
"Udah bel tuh, balik ke bangku kalian masing-masing!" suruh Zidane ketika bel masuk berbunyi.
Ujian pun berlangsung setelah guru pengawas membagikan lembar soal dan jawaban kepada masing-masing siswa.
"Bismillah, Allahu Akbar!" ucap Eric.
"Lo mau ujian udah kayak orang yang mau berperang aja!" sahut David.
"Ini juga perang kali, Vid. Berperang demi melawan sulitnya kehidupan menjadi SMA Ganesha!" balas Eric.
__ADS_1
"Kalo mau naik kelas, lewat tangga juga bisa kali!" ucap David sambil menulis identitasnya di lembar jawaban.
"Yang bekerja tangannya bukan mulutnya!" sindir guru pengawas tersebut.
"Galak amat tuh guru!" cibir Eric.
"Ada yang meledek saya?" tanya guru tersebut dengan wajah dingin. Eric langsung diam di tempat, sedangkan yang lain menahan tawa.
"Zan, nomor 5 apaan?" tanya Eric.
Farzan memberikan kode 3 jarinya sebagai perwakilan dari jawaban 'C'.
"Kalo yang nomor 20 sampai 27 apa?" tanya Eric lagi.
"Buset dah! Lo mau nyontek apa mau copas jawabannya si Farzan!" ujar David pelan, agar tidak terdengar oleh guru di depan.
Eric hanya terkekeh. Ia kemudian menulis jawaban yang di beritahukan Farzan secara berurutan.
"Itu yang di tengah jangan ramai sendiri!" peringat guru pengawas yang kemudian berdiri lalu berjalan-jalan mengitari isi kelas.
Ujian sekolah telah berlangsung selama 2 jam. Setelah ujian sekolah, siswa SMA Ganesha di pulangkan, karena tidak ada jam KBM yang diberlangsungkan.
"Kalian langsung pulang?" tanya Bunga pada kedua sahabatnya. Mereka bertiga berjalan beriringan sambil berbincang-bincang.
"Kalau gue sih nggak tahu juga. Ngikut si Zidane." jawab Keyra.
"Enak ya yang punya pacar, bisa jalan-jalan bareng!" ujar Minda.
"Habis ini lo kemana, Min?" tanya Bunga.
"Gue mau latihan ballet sama tante." Bunga mengangguk.
"Eh ada Bunga. Lagi nyariin gue ya?" canda Eric.
"PD amat lo." ketus Bunga.
"Diam, Ric. Daripada di amuk sama David." sahut Farzan.
"Oh iya ya, sekarang kan udah ada yang punya. Mundur pelan-pelan aja deh kalo gitu. Eh enggak deng, ke Keyra aja!" Zidane langsung memelotot tajam ke arah Eric.
"Eh buset dah, matanya udah mau copot aja!" Eric terkekeh. Mana berani dia menggoda Keyra, yang ada dia akan menjadi samsaknya si Zidane.
"Hahahaha." Adam dan David menertawakan Eric yang sudah ketakuta.
"Ya udah deh sama Minda aja. Minda kan nggak ada yang punya!" Eric mendekat ke arah Minda.
"Iiih, siapa juga yang mau dekat-dekat sama lo! Sana! Jauh-jauh dari gue!" usir Minda menggunakan tangannya.
Lagi-lagi, yang lainnya menertawakan Eric. "Perasaan wajah gue ganteng deh! Tapi kenapa cewek-cewek pada ngejauh ya?" pikir Eric.
"Hah? Ganteng?! Ganteng kalau dilihat dari sedotan es!" ledek Adam.
"Mana ada cewek yang suka sama lo, orang lo nya aja suka godain cewek. Bukannya suka, mereka malah jijik sama lo!" ejek Minda. Tapi itu fakta.
"Gue sama Zidane balik duluan!" ucap David yang kemudian ia dan Zidane berhigh five dengan teman-temannya.
"Farzan, nebeng ya?" pinta Minda.
"Nggak." jawab Farzan sambil memakai helm nya.
__ADS_1
"Makasih." Minda tersenyum, meskipun Farzan menolaknya, ia akan tetap nebeng pada Farzan.
"Gue bilang nggak ya nggak!" ketus Farzan kemudian pergi meninggalkan sekolahan.
"Sama gue aja yuk!" ajak Eric.
"Nggak mau. Mending gue jalan kaki aja daripada nebeng sama lo!" tolak Minda.
"Sorry, Min. Gue nggak bisa nebengin lo, soalnya udah ada panggilan dari ibu negara." ucap Adam. Minda mwngaitkan jari telunjuknya dengan jari jempolnya sehingga membentuk guruf 'O'.
Sepeninggalan Eric dan Adam, Minda pun menyetop angkot untuk pergi menuju rumah tantenya.
###
Hari ini adalah hari terakhir ujian akhir semester 2. Itu tandanya sebentar lagi pertarungan mereka akan segera berkahir dengan ditandainya bel terakhir sekolah.
Kriiiinggg
Tuh kan, berakhir juga.
Semua siswa berhamburan keluar kelas. Ada yang berwajah gembira karena ujian sudah berakhir, ada juga yang masih tegang karena menunggu hasil yang keluar.
Sama halnya dengan yang lain, Keyra, Bunga, dan Minda memasang ekspresi wajah yang gembira. Hari ini otak mereka sudah berhenti memikirkan berbagai materi yang dapat membuat otak segera meletus.
"Huuaa, ujiannya udah selesai. Yey yey yey! Senangnya hatiku, ujian selesai-" baru saja ingin melanjutkan tapi sudah di cegah oleh Keyra.
"Udah, Minda. Dilihatin banyak orang tuh! Lo nggak malu apa?" ucap Keyra sedikit menundukkan pandangannya.
"Eh, baru sadar! Hehehe, maaf ya!" Ketiganya berjalan beriringan menuju parkiran.
"Gimana ujiannya? Sulit?" tanya Keyra berbasa-basi dengan Zidane.
"Enggak terlalu sulit. Sebagian aku sudah memahami soalnya. Jadi ya tinggal jawab aja." jawab Zidane.
"Alhamdulillah." balas Keyra.
"Kita langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" tanya Keyra.
"Ke cafe melody aja yuk, sama yang lainnya juga! Kita refreshing otak abis ujian." jawab Zidane.
"Ke cafe melody yuk!" ajak Zidane pada yang lainnya.
"Skuy lah!" sahut Eric.
"Gas keun!" ujar Adam.
"Meluncur!" sambung David.
Mereka pun memakai helm masing-masing.
"Lah gue sama siapa?" tunjuk Minda pada dirinya.
"Ada 3 motor yang kosong lo pilih yang mana?" tanya Bunga.
"Farzan lah." ucap Minda kemudian naik ke atas jok motor belakang Farzan. Saat akan memegang pundak Farzan, tangannya langsung di tepis kasar oleh samg pemilik.
"Tas aja." ucap Farzan dingin bin datar bin ketus.
Minda menurut dengan oerkataan Farzan. Tidak apa-apa, yang penting ia bisa merasakan di bonceng oleh Farzan.
__ADS_1
Kelima cowok tersebut melajukan motornya masing-masing. Membelah ramainya jalan Kota Jakarta menuju Cafe Melody. Tempat nongkrong yang akan mereka kunjungi hari ini.