
Esoknya Minda bangun lebih dulu dari teman-temannya. Ia pun mengalungkan ID Cardnya dan memasukkan kertas yang berisi nama panitia dan pulpen ke dalam saku bajunya.
Minda membuka resletting tenda, dan betapa terkejutnya dia mendapati Zidane tertidur di depan tendanya.
"Anjiiirr, lo ngapain tidur disini?!" ucap Minda sedikit meninggikan suaranya. 4 teman ceweknya yang tadinya masih tertidur menjadi terbangun karena mendengarkan teriakan Minda.
"Ra, cowok lo. Miris banget tau." Keyra mengernyitkan dahinya. Ada apa dengan Zidane?
"Kenapa?" tanya Keyra dengan suara khas orang bangun tidur.
"Tuh, lihat sendiri aja." tunjuk Minda dengan dagunya.
Keyra melihat ke arah luar, dan betapa terkejutnya dia. "Ini beneran Zidane?" tanya Keyra memastikan.
"Menurut lo?" tanya Minda balik.
"Astaga, dia ngapain sih tidur disini." gerutunya.
"Zidane, bangun. Zidane." Keyra menepuk-nepuk pelan pipi Zidane agar terbangun.
Zidane menggerakkan tubuhnya. Membuka matanya perlahan. Setelah terbuka seluruhnya, ia pun merubah posisinya menjadi duduk.
"Kamu udah bangun?" tanya Zidane.
"Kamu ngapain tidur disini?" tanya balik Keyra.
"Jagain kamu lah. Yaudah aku mau mandi dulu." ucap Zidane seraya berdiri lalu pergi meninggalkan tenda Keyra.
"Tadi itu pacar lo?" tanya Karin.
"Iya."
"Kenapa tidur disini?" tanya Friska.
"Hehehehe, tadi udah tau alasan dia kan." keduanya mengangguk.
Setelah diberi waktu 1 jam oleh panitia untuk bersiap-siap diri, semua peserta telah siap dan kini sedang berbaris rapi.
"Selamat Pagi." sapa Rangga Sang Ketua Camping.
"Pagi." sapa balik semuanya.
"Tetap semangat! Baiklah, apakah kalian sudah siap dengan kegiatan hari ini?" tanya Rangga.
"SUDAAAH." seru semua peserta.
"Langsung saja ya. Hari ini, kalian akan menguras tenaga yang banyak. Jadi, barang siapa yang merasa tidak enak badan, silahkan tetap tinggal di tenda." Beberapa dari mereka yang memang tidak enak badan pun mundur dari barisan dan kembali ke tenda. Kini peserta menjadi sedikit berkurang.
"Okey, terimakasih atas kerjasamanya. Kegiatan hari ini adalah tantangan. Jadi, kalian akan menghadapi sebuah tantangan, dimana tantangan tersebut tidak dilakukan oleh semua peserta tapi hanya perwakilan dari kelompok."
"Namun perwakilannya secara bergantian, bukan hanya siswa itu saja. Perwakilan tersebut akan mencari sebuah gulungan kertas yang telah dimasukkan di dalam sebuah botol air mineral. Dan petunjuk selanjutnya tertulis dalam kertas tersebut." Begitulah penjelasan pangang lebar yang Rangga berikan.
"Untuk perwakilannya hanya 2 orang dari masing-masing kelompok, selanjutnya akan seperti itu, sampai tantangan ini di menangkan oleh 3 kelompok. Jika ada kelompok yang gagal menemukan benda tersebut selama 60 detik, maka akan di anggap gugur." sambung Leo.
"Untuk perwakilan 2 orang pertama setelah hitungan ketiga silahkan mencari." Para kelompok pun menyiapkan perwakilan mereka masing-masing.
"Fajar sama Minda, lo duluan." tunjuk Aji sang ketua kelas.
"Lah kenapa gue yang duluan?" protes Fajar tak terima.
"Udah nurut aja." sahut Laura.
"Satu."
"Dua."
"Tiga." semua perwakilan kelompok pun bergegas menuju area yang sudah ditentukan.
"Jar, itu disana." tunjuk Minda pada sebuah botol air mineral yang di dalamnya ada sebuah gulungan kertas.
"Duh, kenapa keselip-selip gitu. Kan jadi susah ngambilnya." keluh Fajar karena kesusahan mengambil botol tersebut.
"Namanya aja tantangan, Jar. Ya maklumlah kalau di buat ribet kayak gini." sahut Minda. Mereka berdua berusaha mengeluarkan botol tersebut dari semak-semak belukar, yang apabila tidak berhati-hati maka tangan kita bisa terluka.
"Biar gue aja yang ngambil, nanti tanga lo bisa terluka." ucap Fajar perhatian.
Berhasil. Fajar berhasil mengambilnya. "Ayo cepetan balik, keburu waktunya habis." Fajar menarik tangan Minda untuk cepat-cepat berlari. Mereka harus kembali bersama-sama, karena itu sudah ketentuan dari panitianya.
"Waktu tinggal 10 detik lagi." teriak Leo.
"Sepuluh."
"Aduh, Minda sama Fajar kemana sih? Waktunya sebentar lagi habis." gelisah Keyra karena waktu terus berputar.
Namun matanya telah menangkap sosok kedua temannya itu dari kejauhan. "Delapan."
"Tujuh.. Enam.. Lima."
Minda dan Fajar telah sampai sebelum waktu habis. "Empat.. Tiga.. Dua.. Satu. Waktu sudah habis."
Banyak juga kelompok yang masih tertinggal di belakang dan itu mengakibatkan mereka gugur dalam tantangan ini.
"Silahkan di buka gulungan kertasnya. Petunjuk selanjutnya ada di dalam sana. Saya beru waktu 20 detik untuk membaca sekaligus memahami petunjuk tersebut." ucap Rangga.
Semua kepompok yang berhasil mendapatkan gulungan kertas tadi pun segera membukanya.
"Udah nyarinya sulit, petunjuknya malah teka-teki, waktunya terbatas lagi."" gerutu Laura tak terima.
"Aku berwarna putih. Badanku terikat oleh semua benang. Aku selalu di butuhkan saat semua sedang dalam penjelajahan. Tinggiku 5 meter. Daya tahan tubuhku sangat kuat. Aku juga mempunyai saudara kembar yang tingginya 10 meter. Siapakah aku?" baca Bunga.
"Penjelajahan?" gumam Fara. Semua peserta kini sedang berpikir keras.
__ADS_1
"Waktu habis." seru Rangga. Gerutuan para peserta terdengar keras.
"Untuk perwakilan selanjutnya silahkan mempersiapkan diri. Setelah hitungan ketiga, kalian bisa mulai mencarinya. Dan seperti tadi waktu kalian hanya 60 detik."
"Andre sama Keyra, kalian yang main kali ini." tunjuk Aji.
Setelah hitungan ketiga semua perwakilan bergegas menuju tempat yang sudau ditunjukkan oleh para panitia.
"Anj*r, bendanya harus nyari juga, mana harus mecahin teka-teki segala!" seru Andre.
"Emang ngeselin banget tuh panitia!" dumel Keyra.
"Lo masih ingat kalimat dari petunjuk tadi nggak, Ra?" tanya Andre, Keyra menganggukkan kepalanya.
Andre dan Keyra mencari-cari benda yang tepat dengan petunjuk tadi. "Tali Pramuka, Ra. Iya, gue baru ingat kalau tali pramuka itu panjangnya ada yang 5 ada juga yang 10 meter." seru Andre.
Keyra menepuk dahinya, "Oh iya ya, tulil banget gue."
"Baru nyadar kalau situ tulil?" sindir Andre.
"Apa lo bilang?!" ketus Keyra.
"Udah, marahnya di pending dulu." Keyra tak menghiraukannya. Ia mengedarkan penglihatannya ke seluruh tempat itu.
"Nah, tuh talinya!" tunjuk Keyra pada sebuah tali yang tepat dengan ciri-cirinya tadi yang menggantung di dahan pohon.
"Terus gimana ngambilnya?" tanya Andre sambil melihat tali tersebut.
"Ya lo manjat lah. Gitu aja ribet!" jawab Keyra.
"Idih, ogah ya. Entar kalau gue jatuh lo mau nolongin? Mending lo aja gih yang manjat!"
"Gue kan cewek be*o! Sedangkan lo cowok!" Keyra menjitak kepala Andre. Bisa-bisanya menyuruhnya memanjat pohon.
"Cepet manjat sana! Keburu waktunya habis!" paksa Keyra.
"Iya iya." Waktu pun terus berjalan. Setelah berhasil mengambil tali tersebut, Andre pun segera turun.
"Yuk!" ajak Andre, Keyra menganggukkan kepalanya.
"Waktu tinggal 20 detik lagi." seru Rangga.
Semua peserta bergegas berlari menuju tempat semula.
"Aww." Keyra terjatuh dengan posisi merangkak, yang telapak tangannya sedikit lecet dan mengeluarkan darah.
Mendengar nada suara seperti orang yang terjatuh, Andre pun membalikkan tubuhnya. Betapa terkejutnya ia melihat Keyra yang terjatuh. Dengan gerakan cepat Andre pun menghampiri Keyra.
Keyra mendongakkan kepalanya. "Kenapa lo masih disini? Cepetan lari, keburu waktunya habis, Ndre!" ucap Keyra.
"Nggak. Gue bantuin lo aja. Biarin waktunya habis, teman gue lebih penting daripada permainan ini." Andre membantu Keyra berdiri.
"Gue baik-baik aja. Awww." ringis Keyra sambil memegang kakinya.
"Mungkin kesleo."
"Yaudah kita jalannya pelan-pelan aja." Andre merangkul bahu Keyra, membatunya berjalan.
"Waktu tinggal 10 detik lagi." teriak Rangga.
"Pelan-pelan, Ra. Kaki lo lagi sakit juga!" omel Andre.
"Waktunya hampis habis, Ndre. Kita jangan ngecewain teman-teman dong!" gelisah Keyra.
"Pikirin diri lo dulu. Jangan yang lain." ucap Andre.
Mereka berdua telah sampai di tempat semula dekitar 15 menit. Semua terkejut melihat Keyra.
"Ra, lo kenapa?" tanya Bunga.
"Tangan lo juga lecet-lecet gini." sahut Minda.
"Gue nggakpapa kok. Tadi pas mau balik kesini gue jatuh."
"Maaf kelompok kita nggak lolos gara-gara gue." ucap Keyra menyesal.
"Siapa bilang nggak lolos?" Keyra mengernyitkan dahinya mendengar balasan Aji.
"Lo sama Andre kan baliknya barengan. Meskipun waktunya habis, tapi kelompok kita tetap lolos kok."
"Beneran?" tanya Keyra dengan binar mata.
Aji menganggukkan kepalanya. "Tadi kan panitian bilang gitu. Yang lolos itu yang baliknya bareng pasangannya juga bawa bendanya." jelas Aji.
"Ah, mungkin gue lupa." Keyra menepuk dahinya.
"Keyra, kamu nggakpapa?" tanya Zidane yang tiba-tiba datang dengan raut wajah yang khawatir
Zidane mengalihkan pandangannya ke Andre. "Lo apain cewek gue?!" sentak Zidane.
"Zidane, dia nggak salah. Aku yang salah. Aku nggak hati-hati tadi. Mangkanya aku jatuh dan kayak gini jadinya." jelas Keyra agar tidak terjadi kesalahpahaman antara Zidane dan Andre.
"See?" sindir Andre.
"Minggir lo! Jangan pegang-pegang cewek gue. Bukan mukhrim!" sengit Zidane
"Lah emang lo sama dia udah mukhrim?" balas Andre tak kalah sengit.
"Zidane, kaki aku sakit." keluh Keyra yang sebenarnya ingin memotong ucapan Zidane yang tampaknya akan menjawab 'iya'. Maksudnya, 'iya' mereka sudah mukhrim.
"Yaudah yuk ke tenda aja!" Zidane mengambil alih Keyra.
__ADS_1
"Dimana-mana tuh siswa kalau sakit di bawa ke UKS, lah ini di bawa ke tenda." ketus Andre kemudian pergu berlalu.
"Yeeyy, songong amat jadi cowok!" ledek Zidane.
"Zidane, udah. Kakiku keburu sakit nih!"
"Iya iya. Yuk! Pelan-pelan aja jalannya." ucap Zidane.
"Yaudah, selanjutnya Adi sama Laura."
###
Sampai di tenda UKS, Zidane tidak di perbolehkan masuk oleh panitianya. "Maaf kak, yang diperbolehkan masuk hanya yang sakit dan para panitia saja. Jadi, kakak silahkan bergabung kembali dengan peserta lain." ucap panitia dengan nama Rosa.
"Ogah. Pacara gue lagi sakit, gue harus nungguin dia disini."
"Maaf kak, anda tetap tidak boleh masuk." kekeuh Rosa.
"Zidane udah, dari tadi ribut terus. Kamu gabung aja sama yang lain, biar panitia UKS yang ngobatin aku." ucap Keyra memotong Zidane yang akan protes lagi.
"Nggak mau. Pokoknya aku mau disini, nungguin kamu." kekeuh Zidane.
"Yaudah kalau gitu, aku nggak usah di obatin aja! Daripada debat sama kamu terus!" Keyra memasang wajah cemberut.
"Eh, kok gitu sih. Yaudah aku pergi, kamu jaga diri baik-baik ya disini. Entar kalau acaranya udah selesai aku balik lagi, oke?"
Keyra mengacungkan jempolnya, "oke." ucapnya. Zidane kembali bergabung dengan yang lain sedangkan Keyra mengobati lukanya.
"Ada apa disini rame-rame?" tanya seseorang yang baru saja masuk tenda UKS.
"Cowoknya dia tadi ribut mau masuk tenda, padahal udah gue bilangin kalau yang masuk tenda ini cuman orang yang terluka sama panitianya aja." orang tadi mengangguk mengerti.
"Emang siapa yang luka, Sa?" tanya orang tadi.
"Kalau namanya sih nggak tau, tapi kalau dilihat dari penampilannya, kayaknya anak SMA Ganesha." jawab Rosa.
"Yaudah, biar gue yang tanya aja." orang tersebut mengambil daftar buku untuk siswa yang sakit lalu menghampiri Keyra.
"Sebutin nama sama asal sekokah lo?" tanya orang tersebut dengan nada yang dingin.
"Keyra Ghaida Maharani dari SMA Ganesha." ucap Keyra. Orang tadi sedikit terkejut, setelah selesai menulisnya, ia pun mengambil beberapa obat-obatan untuk mengobati luka Keyra.
Sepertinya Keyra belum sadar siapa yang mengajaknya bicara tadi, karena saat ini ia masih berkutat dengan sepatunya.
"Siniin tangan lo." Keyra membenarkan duduknya, menegakkan tubuhnya.
"Lo?" ucap Keyra terkejut. Jadi tadi yang ngajak bicara gue itu si Leo tebaknya.
"Kenapa?" tangan Leo terulur untuk mengobati tangan Keyra yang terluka.
Keyra menarik tangannya lagi, "Gue bisa sendiri." ucapnya.
"Gimana caranya? Orang tangan lo yang satunya juga terluka."
"Bodo amat, yang penting bukan lo yang ngobatin."
"Yaudah, kalau gitu biar gue yang jadi obatnya." ucap Leo.
"Maksudnya?" tanya Keyra tak paham dengan ucapan Leo.
"Udah ah, lo bawel bangey. Tinggal diam apa susahnya coba." Leo menarik paksa tangan Keyra.
"Tangan gue sakit be*o, jangan di tarik-tarik!" kesalnya. Leo tak menanggapi protesan Keyra. Ia tetap fokus mengobati luka Keyra
"Udah selesai, lo tidur aja." Leo telah selesai mengobati luka Keyra.
Keyra pun menggerakkan tubuhnya hendak berbari, tapi tiba-tiba kakinya terasa sakit lagi. "Awwww."
"Kenapa?" tanya Leo.
"Kaki gue, kayaknya tadi kesleo deh." Leo memegang telapak kaki Keyra.
"Awwww, pelan-pelan dong!"
"Ini udah pelan-pelan. Lo nya aja yang nggak bisa nahan dikit." Keyra mencebikkan bibirnya.
"Tahan dikit ya." ucap Leo. Kemudian ia menggerak-gerakkan pergelangan kaki Keyra yang kesleo, sehingga rasa sakitnya mereda.
"Udah nih." Leo meletakkan kembali kaki Keyra dengan hati-hati.
"Thanks." ucap Keyra.
Leo mengangguk, "Istirahat aja dulu, kalau lo butuh apa-apa bilang ke Rosa aja. Jangan sungkan-sungkan, dia anaknya friendly kok. Gue mau balik ke acara."
"Iya, makasih." balas Keyra seadanya.
Leo meninggalkan Keyra. "Jaga dia!" ucap Leo pada Rosa.
"Iya." jawab Rosa. Sebenarnya sejak tadi Rosa merasa panas karena melihat interaksi antara Leo dengan Keyra. Sudah lama Rosa menyukai Leo, juga sudah beberapa kali Rosa menyatakan perasaannya kepada Leo, tapi Leo seperti tidak menganggap itu semua.
Ia cukup bersyukur menjadi panitia camping gabungan ini, meskipun bukan bagian inti, tetapi itu sudah cukup membuatnya bisa bercakap-cakap dengan Leo.
Saat di sekolah saja Leo selalu memasang wajah dingin. Tidak peduli dengan urusan cewek. Tetapi melihat interaksi Leo dengan Keyra, sepertinya Rosa dapat menyimpulkan bahwa Leo menyukai Keyra.
###
Maaf kalau author lama banget updatenya. Soalnya ada tugas sama ujian kenaikan kelas, baru tuntas kemarin. Hari ini author luang, jadi yang disempatin update. Sekali lagi maaf ya teman-teman.
Terimakasih juga telah mendukung cerita ini. Tetap tunggu kelanjutan ceritanya ya😉
Semoha author bisa update part selanjutnya lebih panjang lagi.
__ADS_1
See you next part🖤