
Jam dinding telah menunjukkan pukul 10.15 WIB. Setelah melakukan akad, Keyra kembali ke kamar untuk berganti gaun pernikahan.
Tok tok tok
Suara pintu yang di ketuk dari luar kamar. "Ra, udah selesai apa belum? Itu tamunya udah datang loh!" tanya Zahra.
"Sebentar, bun" Tak lama Keyra keluar dengan memakai gaun berwarna putih bersih dan dipadukan dengan mahkota indah yang menghiasi kepalanya. Kini penampilan Keyra sudah seperti seorang ratu.
Zahra menggiring Keyra untuk turun ke bawah, duduk bersanding Zidane dan menyalami setiap tamu yang datang.
Njeeerrr, ini beneran Keyra?! Cantik banget musuh bebuyuta gue ini?! Nggak nyangka, sumpah! - batin Zidane yang terkagum melihat Keyra bak seorang ratu.
"Udah ngelihatin gue-nya?" Keyra berdiri di samping Zidane.
"Gue tau kalo gue itu cantik. Tapi nggak usah segitunya juga natap gue! Kayak nggak pernah ngelihat cewek cantik aja!" Keyra sedikit menyombongkan diri. Sekali-sekali lah nggakpapa.
"Ciiihhh. Pede amat lo!" cibir Zidane. Keyra dan Zidan bersalaman dengan tamu yang datang sambil tersenyum manis ke arah sang tamu undangan. Begitulah seterusnya. Sesekali mereka mendudukkan diri, hanya ketika mereka tak bersalaman dengan tamu.
"Dan, capek banget!" keluh Keyra pada Zidane.
"Ya sabar lah, Ra. Namanya aja orang kondangan. Kita sebagai tuan harus bersikap baik kepada tamu kita."
"Ck, iya iya. Lo ternyata bisa cerewet ya?!" Keyra dan Zidane kembalu berdiri saat ada tamu yang datang.
"Zidane, jangan sampai teman-teman kita ada yang tahu soal ini ya?!" ucap Keyra seperti berbisik.
"Iya. Lo tenang aja. Gue orangnya bisa jaga rahasia dengan baik kok." Keyra hanya mengangguk saja. Semoga apa yang dikatakan Zidane itu memang benar.
"Ambilin gue minum gih!" suruh Keyra pada Zidane.
"Ogah. Ambil sendiri! Lo kan masih punya 2 tangan sama 2 kaki. Ngapain nyuruh-nyuruh gue?!" ketus Zidane.
"Ck. Lo gak lihat apa kalo gaun gue se-ribet gini?"
"Salah sendiri pakai gaun ribet!"
"Udah lah, cepet ambilin sana!" Keyra mendorong bahu Zidane.
"Sans aja kali. Nggak usah dorong-dorong juga!" dengan hati yang sangat terpaksa, Zidane mengambilkan segelas air untuk Keyra. Dan kembali lagi untuk memberikan air tersebut pada Keyra.
Keyra meminum airnya sampai tandas, lalu memberikan gelas yang ia pegang pada Zidane. "Kenapa?" tanya Zidane tak mengerti.
__ADS_1
"Kembaliin ke mejanya tadi lah! Kan udah habis!" jawab Keyra dengan polosnya.
Tampak Zidane menghembuskan nafas kesal. "Sabar gue mah." gumam Zidane yang membuat Keyra menahan tawanya.
Jam pun telah menunjuk angka 3. Terik matahari yang tadinya panas hingga bisa membuat kulit terbakar, kini telah berganti menjadi senja yang indah. Langit yang tak segan-segan menunjukkan keindahannya membuat siapa saja yang melihatnya tersenyum bahagia. Tetapi tidak dengan 2 orang insan yang kini telah sah menjadi sepasang suamu istri secara hukum dan agama.
Keyra telah selesai memasukkan barang-barangnya ke dalam koper besarnya. Ia sedang berpamitan dengan kedua orang tuanya, karna mulai sekarang ia akan tinggal di rumah suaminya.
"Bundaaa" rengek Keyra lalu memeluk bundanya lagi.
"Eh Keyra, udah dong. Jangan nangis! Nanti bunda juga ikutan nangis loh. Kamu nggak mau kan kalo bunda nangis?" Keyra mengangguk lalu mengusap air matanya.
"Keyra bakal kangen bunda sama ayah" ucap Keyra seperti anak kecil yang mau berpisah dengan kedua orang tuanya. Tetapi, memang benarkan kalau dia akan berpisah dengan kedua orang tuanya?
"Kalau kangen main kesini lah! Tapi jangan keseringan, nanti Zidane nggak ada yang ngurusin!" ucap Zahra sambil mengelus punggung Keyra. Kalau sudah masalah berpisah, Keyra bisa berubah menjadi anak kecil yang tak ingin di tinggal pergi.
"Kamu jangan ngrepotin Zidane terus ya! Jangan minta yang aneh-aneh! Ingat! Nurut apa kata Zidane!" Keyra menganggukkan jepalanya sambil mengusap air matanya.
Tangan Zahra beralih pada kedua pundak Zidane. "Jaga Keyra baik-baik ya! Dia anak satu-satunya keluarga kamu! Kalo dia nakal, buang aja kelaut!" ucap Zahra yang masih sempat-sempatnya bercanda.
Zidane terkekeh mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Zahra. "Iya bunda. Zidane akan jaga Keyra baik-baik. Ya sudah, Zidane sama Keyra pergi dulu ya, bun!" Zidane mencium tangan Zahra lalu memeluk Faisal. Keyra memeluk kedua orang tuanya lalu mencium pipi mereka masing-masing.
30 menit kemudian, keduanya telah sampai di rumah besar yang bernuansa klasik. Rumah klasik adalah rumah impian Keyra sejak ia duduk di bangku SMP.
Zidane membantu Keyra menurunkan barang bawaan mereka. Mereka masui ke dalam. "Ini rumah, punya lo apa orang tua lo?" tanya Keyra sambil meneliti isi ruangan.
"Gue lah" jawab Zidane.
"Lo punya uang dari mana bisa beli rumah se-besar ini?"
"Nabung. Gue kerja. Nah, uang hasil kerjanya gue tabung! Terus kemarin ayah nyuruh gue beli rumah ini! Gue bilang kalo uang gue kurang dikit buat beli rumah ini! Eh, sama ayah malah di tambah. Yaudah, fix gue beli nih rumah!" jawab Zidane panjang lebar.
"Hebat ya lo, masih SMA aja udah punya rumah sendiri. Besar banget lagi rumahnya!" Keyra masih terkagum-kagum dengan hasil jerih payah Zidane yang berbuah rumah besar. Bahkan lebih besar rumah ini daripada rumahnya.
"Yaiyalah hebat, gue kali! Emang kayak lo, yang bisanya cuman ngehabisin duwit orang tua aja!" Zidane menaiki tangga menuju sebuah kamar.
Keyra mengernyitkan dahinya. Apakah disini hanya ada 1 kamar? Lalu mengapa banyak pintu ruangan di rumah ini. Keyra membuka pintu pada salah satu ruangan di lantai 1. Kosong. Tidak ada apa-apanya.
Ia kembali membuka pintu ruangan di sebelahnya. Kosong juga. Ck. Mengapa tidak ada kamar di lantai bawah sih!
Keyra menaiki anak tangga menuju lantai 2. Barangkali ada kamar lagi. Sesampainya di lantai 2, ia membuka semua pintu ruangan yang ada di lantai ini. Kecuali ruangan yang sudah di huni oleh Zidane.
__ADS_1
Namun hasilnya? NIHIL. Semua ruangan di sini masih kosong. Tidak ada apa-apanya.
Keyra mengetuk-ngetuk pintu kamar Zidane. Namun tidak di buka oleh sang pemilik kamar. Beralih menggedor-gedor pintu tersebut. Yash! Berhasil. Pintu pun terbuka. Menampilkan Zidane dengan celana pendeknya selutut dan tanpa memakai atasan.
Sonta Keyra menutupi matanya dengan kedua tangannya. "ZIIIIIDAAAAAAANE" Zidane menutup kedua telinganya. Ia tak ingin jika nantinya telinga tersebut berubah menjadi tuli.
"Lo bisa diem nggak sih?! Suara lo bisa buat kuping gue tuli, ****!"
"Lo kenapa nggak pake baju?! Ini mata gue jadi nggak perawan lagi!" Zidane berdecih.
"Mending masih mata lo yang nggak perawan. Daripada tubuh lo yang nggak perawan!"
Pletak
Keyra menjitak kepala Zidane. Bisa-bisanya Zidane bilang seperti itu padanya. "Ada apa lo gedor-gedor pintu kamar gue?" tanya Zidane sinis.
"Disini kamarnya cuman satu?" tanya Keyra balik.
"Hem."
"Lha trus, gue tidur dimana? Masak satu kamar sama lo?" tanya Keyra dengan nada ketus.
"Kalo mau masuk, kalo nggak yaudah lo tidur di sofa aja. Depan TV."
Keyra memelotot. "Diiiiiiih, ogah. Enakan elo tidur di kamar!" Keyra memasuki kamar Zidane. Menarik nafasnya sebentar dan menghembuskannya perlahan. Mulai sekarang ia akan tidur di kamar ini bersama Zidane.
Keyra menata barang-barangnya sedangkan Zidane duduk bersandar di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. "Lo tidur di ranjang?" tanya Keyra.
"Iyalah, Ogah gue tidur di sofa!"
"Ck. Masak iya gue yang harus tidur di sofa?!" Keyra tak mau mengalah. Sudah cukup ia satu kamar dengan cowok menyebalkan ini. Jangan sampai satu ranjang! Tetapi harapannya pupus ketika Zidane juga tak mau mengalah.
"Udah, lo tidur di sini aja. Tenang aja! Nggak bakal gue apa-apain kok! Nggak nafsu gue kalau sama lo. Mendingan sama cewek lain."
"TERSERAH. BODO AMAT. GUE NGGAK PEDULI." ucap Keyra sedikit meninggikan suaranya.
Tadi setelah berganti baju, Keyra langsung menaiki ranjang, menarik selimu, dan tidur.
"Besok kita masih bisa libur kata bunda. Dia udah ngijinin kita di sekolah." ucap Zidane lalu membaringkan tubuhnya.
"Hem." balas Keyra sambil memejamkan mata. Hari ini mereka sangat lelah. Hingga tak lama, keduanya tidur terlelap.
__ADS_1