
"Kamu mau kemana? Kok rapi banget?" tanya Zidane saat melihat Keyra turun dari tangga dengan memakai celana panjang berwarna navy dan hoodie berwarna putih sambil menenteng tas slempangnya.
"Mau latihan dance. Kan kemarin aku udah bilang ke kamu." ucap Keyra di depan pintu utama sambil memakai sepatu.
"Ooouh. Okey, aku antar. Sebentar aku ambil kunci motor dulu." Zidane berbalik menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia pun mengambil kunci motor lalu kembali turun. Mengantarkan Keyra ke sekolah.
30 menit kemudian keduanya telah sampai di area sekolah. Zidane menggandeng tangan Keyra menuju ruang cermin untuk berlatih dance.
"Kamu nunggu disini apa langsung pulang?" tanya Keyra saat mereka sudah berada di depan pintu ruang cermin.
"Disini aja nunggu kamu sampai selesai latihan." jawab Zidane.
"Latihannya lama lho, kamu beneran mau nungguin?" tanya Keyra lagi untuk meyakinkan Zidane.
"Iya. Kamu latihan dance, aku main basket aja di bawah! Yaudah sana masuk!" Zidane membalikkan tubuh Keyra.
Keyra berbalik menghadap Zidane lagi. "Okey." Keyra tersenyum lembut, Zidane mengacak rambut Keyra.
"Ish, jangan di acak-acak dong! Kan jadi nggak rapi lagi!" kesal Keyra sambil merapikan rambutnya yang di acak oleh Zidane.
Zidane terkekeh. "Nggakpapa, kamu tetap cantik kok!" Keyra pun masuk ke dalam ruang cermin.
Setelah Keyra masuk, Zidane pun pergi menuju lapangan basket. Ia mengambil handphonenya untuk memngirim pesan pada sahabatnya.
*Cowok Tampan Banyak Fans*
Zidane
Woiiii
Sekarang kalian ke sekolah, tepatnya di lap. basket! Gue tunggu sampai 15 menit, kalo yang datang nggak lengkap, gue datangin rumah kalian satu persatu.
Eric
Weeiiisshh, datang-datang langsung ngegas aja.
Farzan
Ngapain?
David
Emang ada apa, Dan?
Adam
Gila anjerrr, rumah gue ke sekolah aja nyampenya 30 menit, lah ini malah di kasih waktu 15 menit. Emang motor gue jet apa!
Zidane
Udah cepetan kesini! Jangan banyak bacot!
Farzan
Hm
Eric
@Farzan mending lo nggak usah bales kalau cuman mau ngetik kata 'hm'
Farzan
Terserah.
Zidane
Cepetan wooii!
David
Siap tuanku!
Setelah menutup hpnya, Zidane mengambil bola basket lalu memainkannya. Tepat 20 menit sahabat-sahabat Zidane datang secara beruntun. Memarkirkan motor masing-masing, lalu menghampiri Zidane bersama-sama.
__ADS_1
"Lebih 5 menit. Kalian kemana aja sih? Lambat banget!" cerca Zidane berhenti memainkan bolanya.
"Cih, telat 5 menit aja di omelin!" David tak terima.
"Gara-gara lo, gue hampir nabrak ayam tetangga gue." ucap Adam.
"Tumben nyuruh ke sekolah?" tanya Farzan to the point.
Farzan Evans Daniel. Sahabat Zidane yang paling dingin, datar, cerdas, tegas, dan rajin. Dia pandai melacak keberadaan seseorang. Tampan? Iya. Kaya? Iya dong. Sholeh? Pastinya. Spesies calon pacar + suami idaman para kaum hawa.
"Nah betul kata Farzan. Lo juga lagi ngapain di sekolah?" tanya Eric.
Zidane mulai memainkan bolanya kembali. "Nungguin Keyra. Dia lagi latihan dance." jawab Zidane yang langsung membuat semua sahabatnya terkejut kecuali Farzan. Ia tampak biasa meskipun dia juga sempat terlejut. Namun, Farzan lebih tidak mengekspresikan rasa terkejutbya itu.
"What?" ucap David.
"The?" sambung Adam.
"****?" lanjut Eric
"Why?" Zidane berhasil memasukkan bolanya ke dalam ring, kemudian menghampiri sahabatnya yang sudah duduk di kursi pinggir lapangan.
"Eric, catat sejarah langkanya si Zidane. Bahwa seorang Zidane telah menunggu seorang cewek yang berstatus musuh bebuyutannya!" Eric pun mencatat apa yang di katakan oleh Adam.
"****! Kenapa lo catat?!" kesal David.
"Lah tadi kan di suruh nyatat! Udah gue catat, malah di salahin! Serba salah gue!" Eric memutar bola matanya jengah. Disaat yang lain sibuk mengajukan berbagai pertanyaan kepada Zidane, Farzan malah diam saja.
"Bukannya lo musuhan sama si Keyra?" tanya Adam terlihat bingung.
"Lo pacaran sama Keyra?" tanya David.
Zidane mengangguk. "Iya."
"APA?!" teriak Eric, David, dan Adam berbarengan.Zidane dan Farzan hanya menutup kedua telinganya.
"Nggak usah teriak-teriak juga kali!" semprot Zidane.
"Gercep amat lo!" seru David.
"Hooh. Padahal rencananya Keyra mau gue tembak loh, hari ini!" ucap Eric sedikit memanas-manasi, dan langsung mendapat pelototan tajam dari Zidane.
"APA LO BILANG?!!"
"Weish, santuy bro! Matanya udah mau keluar tuh! Gue cuman bercanda aja. Hahah." Eric tertawa.
“Sejak kapan?” tanya Farzan singkat. Zidane dan yang lain mengernyitkan dahinya. Tidak mengerti apa yang di maksud Farzan.
“Apanya yang kapan?” tanya Zidane balik.
“Lo sama Keyra.” Jelas Farzan.
“2 hari yang lalu.” Zidane memainkan bola basketnya lagi. Tanpa mereka sadari ada sebuah hati yang retak, hilang harapan untuk mendapatkan hatinya Keyra. Namun sang pemilik hati tersebut tak mau mengungkapkan rasa patah hatinya, lebih baik ia memendamnya sendiri. Mengingat bagaimana posisinya dia sekarang. Dia cukup sadar diri dan dia juga tidak ingin merusak persahabatan di antara mereka.
“Jadi ceritanya ini benci jadi cinta nih?” goda David. Zidane tak menanggapi.
“Terus kalian putusnya kapan?” Zidane menghentikan bolanya. Menatap tajam ke arah Eric.
“Lo doain gue putus sama Keyra?” Zidane menepis jarak di antara ia dan Eric. Mengepalkan tangannya agar tidak sampai menghantam wajah sahabatnya.
“Nggak tuh. Cuman nanya aja!” Eric mencebikkan mulutnya.
“Dia pulang lewat mana sih?” tanya Zidane yang sudah mulai kesal pada 3 sahabatnya yang sejak tadi diam.
“Emang mau lo apain?” tanya Adam balik.
“Mau gue bantai terus gue lempar ke laut biar di makan sama ikan piranha!” jawab Zidane lalu memainkan bolanya lagi.
“Njir, sadis juga!” Eric tertawa. Farzan langsung pergi bermain dengan Zidane tanpa mau mendengarkan lagi ucapan Eric yang menurutya tidak berfaedah, kemudian disusul oleh Adam, David dan Eric.
Menit berganti menit dan kini jam yang ada di pergelangan Zidane sudah menunjukkan pukul 12.15 WIB. Kelima cowok tersebut berhenti bermain. Membaringkan tubuh mereka di atas lapangan basket sambil merentangkan tangannya masing-masing. Menatap lurus ke arah langit yang begitu cerahnya.
“Huft.. capek juga ternyata.” Ucap Adam memecah keheningan di antara mereka.
__ADS_1
“Iya. Btw, Keyra lombanya kapan, Dan?" sahut David.
"Katanya sih Sabtu depan." jawab Zidane seadanya.
"Dimana?" sahut Farzan.
"Di SMA Wijaya."
"Beh, pasti cowok-cowok pada banyak yang lihat nih!" ucap Eric memanas-manasi Zidane.
"Bukannya pas Hari Sabtu SMA Wijaya libur ya?" tebak Adam.
"Kata siapa libur? Di SMA Wijaya tuh nggak sama kayak di SMA yang lain. Saat SMA lain Hari Sabtu libur, tapi disitu masuk!" jelas Eric.
"Intinya di SMA Wijaya itu nggak memakai sistem *fullda*y. Gitu aja ribet!" sindir David. Suasana pun kembali hening. Namun beberapa saat terpecahkan karena suara seorang cewek.
"Zidane" panggil cewek tersebut yang tak lain adalah Keyra.
Zidane mengganti podisinya berdiri, lalu menghampiri Keyra. "Udah selesai?" tanya Zidane dan Keyra mengangguk.
Zidane berbalik mengambil jaketnya. "Mau kemana lo?" tanya Adam saat melihat Zidane membawa jaket.
Keempat laki-laki tadi pun mengubah posisi mereka menjadi berdiri. Menghampiri Zidane dan Keyra. "Ra, tunggu bentar!" teriak Eric. Zidane dan Keyra pun sontak berhenti. membalikkan badan.
"Ada apa?" tanya Keyra tak ingin basa basi.
Eric tersenyum lalu seperti mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. "Nih!" ucapnya sambil menunjukkan jari jempolnya yang menempel pada jari telunjuknya seperti orang korea (sarangheo) tak lupa dengan senyum pepsodentnya.
"Lah. Gue kirain mau ngapain! Yaudah gue balik duluan!" Keyra mengajak Zidane untuk segera pulang.
"Sa ae lo nyet!" David menjitak kepala Eric.
"Bisa dapat bogeman lo nanti." Adam tertawa.
"Hati-hati." ucap Farzan dang yang lain bersamaan.
"Emang tadi maksudnya Eric apaan?" tanya Zidane yang sedari tadi tak mengerti apa maksud dari Eric sahabat konyolnya itu.
"Hah? Masak kamu nggak ngerti artinya?" Ternyata Zidane itu orangnya bisa polos juga.
"Enggak. Emang artinya apa?" tanya Zidane lagi sambil memakaikan helm pada Keyra.
Keyra melakukan hal serupa yang tadi dilakukan Eric untuk menjelaskan kepada Zidane. "Ini tuh artinya Sarangheo! Dari Bahasa Korea yang artinya Aku Mencintaimu. Masak kamu baru tau sih?"
"Kalau aku tau, udah dari tadi jarinya Eric aku patahin! Bisa-bisanya ngelakuin itu ke kamu!" Zidane memasang wajah masam.
"Dia kan cuman bercanda!" ucap Keyra.
"Yaudah yuk langsung pulang aja!" ucap Zidane lalu diikuti Keyra yang naik ke atas jok motor belakang.
"Tangannya disini dong!" Zidane menarik tangan Keyra untuk melingkar pada perutnya.
"Modus nih!" goda Keyra.
"Nggakapapa lahh. Lagian modus sama istri sendiri nggak dosa kok!" balas Zidane. Motor Zidane pun melaju meninggalkan area sekolah.
"Kalian mau balik apa tetep disini?" tanya Farzan dengan wajah datar.
"Balik lah" jawab semua serempak.
"Ngapain juga masih disini. Kayak kurang kerjaan aja!" cibir Eric.
"Kan lo emang kurang kerjaan." balas Adam.
"Bully aja terus!" David dan Adam tertawa melihat wajah masam Eric.
Lalu mereka berempat pun pergi menuju rumah masing-masing.
"Senang lihat lo bisa tersenyum tapi sedih juga ketika alasan lo tersenyum itu bukan gue. Gue cuman bisa doain semoga lo bahagia, Ra! Meskipun bahagia lo bukan karena gue!"
Mulai hari ini gue akan berusaha menjauhi lo meskipun itu berat. Tapi gue akan tetap berusaha. Maaf kalau selama ini gue cuman jadi pengecut yang nggak bisa ngungkapin perasaan sendiri ke orang yang di suka. Lo emang pantas bersama Zidane."
"Semoga Zidane bisa melindungi lo dengan baik. Jika suatu hari nanti lo disakiti oleh Zidane, gue akan selalu siap menjadi sandara juga obat hati lo!" gumamnya di balik helm fullfacenya. Tujuannya sekarang adalah bukit di pinggir kota. Karena hanya disitulah dia bisa menjernihkan otaknya dan mengungkapkan semua yang sedang ia rasakan.
__ADS_1